NovelToon NovelToon
Tolong Sayangi Aku

Tolong Sayangi Aku

Status: tamat
Genre:Dunia Masa Depan / Balas Dendam / Ketos / Tamat
Popularitas:11.8k
Nilai: 5
Nama Author: canny***

"Duniaku gelap, tapi aku tidak butuh lampu. Aku hanya butuh seseorang yang tidak memalingkan wajah saat aku memanggil 'Papa'."
Di kediaman Tenggara yang megah, Aurora Alandriana adalah sebuah anomali. Di tengah kesuksesan sang Ayah dan dominasi keempat kakak laki-lakinya—Eros, Gavin, Juna, dan Arvin—Aurora hidup seperti hantu. Baginya, rumah itu bukan tempat berteduh, melainkan sebuah pengadilan yang menghukumnya atas kesalahan yang tidak pernah ia lakukan: lahir ke dunia.
Tiap sudut rumah adalah pengingat akan kebencian. Meja makan adalah tempat penghinaan, dan lorong sekolah adalah tempat ia harus berpura-pura tidak mengenal darahnya sendiri. Terutama Arvin, kakak keempatnya yang paling dekat jarak usianya, yang memilih untuk menjadi perundung paling kejam di sekolah hanya untuk membuktikan bahwa Aurora tidak punya tempat di hidupnya.
Namun, saat sebuah rahasia besar di balik kematian sang Ibu mulai terkuak, dan saat tubuh Aurora yang rapuh mulai mencapai batas kemampuannya untuk ber

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon canny***, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12:

Pagi itu, suasana di SMA Cakrawala terasa berbeda. Kabar tentang Aurora yang muntah darah di hari terakhir MPLS menyebar cepat seperti api di padang rumput kering. Namun, karena pengaruh kekuasaan keluarga Tenggara, pihak sekolah bungkam dan menyebutnya sebagai "kelelahan biasa".

Aurora datang ke sekolah dengan langkah yang lebih lambat dari biasanya. Wajahnya dibalut masker medis, dalih untuk menutupi bibirnya yang mulai membiru dan wajahnya yang pucat pasi. Ia duduk di bangkunya, mencoba mengatur napas yang selalu terasa seperti sedang mendaki gunung tinggi.

Tiba-tiba, sebuah kotak susu cokelat dan roti lapis diletakkan dengan kasar di atas mejanya. Aurora mendongak, terkejut melihat Arvin berdiri di sana dengan gaya angkuh seperti biasa, tangannya dimasukkan ke dalam saku celana abu-abunya.

"Makan," perintah Arvin ketus. "Gue nggak mau lo pingsan lagi dan bikin gue repot harus gendong lo ke parkiran. Berat."

Teman-teman sekelas Aurora berbisik-bisik. Ini pertama kalinya Arvin Tenggara mendatangi adiknya dengan cara yang tidak melibatkan makian atau kekerasan fisik. Namun, perhatian itu justru terasa seperti sasaran tembak bagi Aurora.

"Terima kasih, Kak... eh, maksudku, terima kasih," bisik Aurora, segera meralat panggilannya saat melihat tatapan tajam Arvin.

"Jangan baper. Gue cuma nggak mau nama keluarga Tenggara makin jelek gara-gara lo dikira kurang gizi," ucap Arvin lagi sebelum berbalik pergi. Namun, sebelum benar-benar keluar kelas, ia menatap Bimo yang duduk tak jauh dari sana. "Bim, awasi dia. Kalau dia kenapa-napa, hubungi gue langsung."

Bimo mengangguk, namun Aurora justru merasa ketakutan. Ia tahu, di sekolah ini, perhatian dari Arvin adalah kutukan.

Dan benar saja, di ambang pintu kelas, Kaila Ranisatya berdiri dengan tangan bersedekap, matanya menyipit penuh kebencian menatap kotak susu cokelat di meja Aurora.

Jam istirahat menjadi neraka yang sesungguhnya.

Saat Arvin sedang sibuk latihan basket di lapangan utama, Kaila dan dua orang temannya mencegat Aurora di koridor menuju perpustakaan.

"Wah, wah... lihat siapa yang sekarang jadi 'anak emas' Arvin," ejek Kaila, mendorong bahu Aurora hingga punggung gadis itu menghantam dinding loker.

Brak!

"Aku nggak bermaksud begitu, Kak Kaila. Aku cuma—"

"Cuma apa?! Cuma mau cari muka?" Kaila mencengkeram masker yang dipakai Aurora dan menariknya paksa hingga talinya putus.

"Nggak usah sok lemah pakai masker segala! Lo pikir dengan akting sakit begini, Arvin bakal kasihan sama lo? Gue tahu trik cewek kayak lo, Aurora."

"Kak, tolong... aku benar-benar sesak," rintih Aurora. Ia mulai memegangi dadanya. Rasa nyeri itu kembali datang, lebih tajam dari sebelumnya.

"Halah! Kemarin muntah darah, sekarang sesak napas. Besok apa? Mau mati beneran?!" Kaila tertawa, diikuti teman-temannya. Ia meraih kotak susu cokelat yang dibawa Aurora—satu-satunya pemberian Arvin—lalu menusuknya dengan sedotan dan menyiramkan isinya ke atas kepala Aurora.

Cairan cokelat itu mengalir di rambut, wajah, dan seragam putih Aurora.

"Itu biar lo sadar diri. Arvin itu milik gue, dan keluarga Tenggara nggak pernah anggap lo ada. Lo itu cuma sampah yang nggak sengaja lahir," desis Kaila.

Aurora terdiam. Ia tidak menangis. Ia hanya menatap lantai dengan tatapan kosong. Air matanya sudah kering. Di saat yang sama, ia merasakan jantungnya berdegup dengan irama yang sangat kacau.

Deg... deg-deg... deg...

"Kenapa? Mau nangis?" Kaila mendorong kepala Aurora dengan telunjuknya. "Ayo nangis! Panggil Arvin! Panggil kakak-kakak lo yang hebat itu! Eh, gue lupa, mereka kan benci banget sama lo."

"Sudah... cukup, Kak," bisik Aurora. Suaranya terdengar sangat tenang, ketenangan yang mengerikan. "Kalau Kakak mau aku hilang, Kakak nggak perlu repot. Sebentar lagi... keinginan Kakak mungkin bakal terkabul."

Kaila sempat tertegun melihat sorot mata Aurora yang tidak lagi menunjukkan ketakutan, melainkan kepasrahan yang mendalam. Namun, rasa gengsi membuatnya kembali berteriak.

"Bagus kalau lo sadar diri! Pergi lo dari sini, bau!"

Aurora berjalan menjauh dengan tubuh basah kuyup oleh susu cokelat. Ia tidak menuju kelas, melainkan menuju toilet paling ujung yang jarang dilewati orang. Di sana, ia mengunci pintu dan merosot ke lantai.

Ia terbatuk hebat. Kali ini bukan hanya bercak, tapi gumpalan darah kental keluar dari mulutnya, mengotori lantai toilet putih itu.

Aurora menatap darah itu dengan tangan gemetar. Ia mengambil botol obat dari saku roknya—obat penguat jantung yang dosisnya sudah ia naikkan sendiri secara diam-diam.

"Tuhan... tolong kasih Aurora waktu sedikit lagi," bisiknya sambil menelan pil pahit itu tanpa air. "Aurora cuma mau lihat mereka senyum sekali saja ke Aurora... sebelum Aurora pulang ke Mama."

Di luar, Arvin sedang mencari-cari Aurora karena firasatnya mendadak tidak enak. Ia tidak tahu bahwa di balik pintu toilet yang terkunci, adiknya sedang bertarung dengan sisa-sisa nyawanya yang kian menipis, sementara ia sendiri masih terlalu pengecut untuk mengakui bahwa ia sangat menyayangi gadis kecil yang ia panggil "pembunuh" itu.

1
ArchaBeryl
Terimakasih kak untuk ceritanya
Banyak pelajaran yg bisa kita ambil dari cerita kk
sungguh sangat sedih dan menguras air mata🥹🥹🥹
ArchaBeryl
😭😭😭😭😭🥹🥹🥹🥹
Neneng Lesmana
sedih
ArchaBeryl
😭😭😭😭😭😭😭
ArchaBeryl
Alur ceritanya bagus kak
tapi gak kuat bacanya
soalnya sedih banget 😭😭🥹🥹
ArchaBeryl: Pastinya kak💪💪💪
total 1 replies
ArchaBeryl
sedih pakek banget😭😭😭😭
syina chan
hi
ArchaBeryl
sedih kak🥹🥹🥹🥹🥹
ArchaBeryl
lanjut kak tetap semangat 💪💪💪
ArchaBeryl
lanjut kak penasaran
ArchaBeryl
mana lanjutnya kak
merry
hbs in hdp dgn baik Rora nikmati kekayaan kluarga mu 😄😄😄 ,,, ksh kesempatan buat abng mu Bpk mu yg bodoh Percy takhayul itu wlpun gk mudah ya 🙏🙏🙏
merry
aihh sedih yaa /Sob//Sob//Sob//Sob/kluarga kaya raya tp Rora hrs gmbr di akun rahasia y supaya dpt uang,, emng kluarga latnah ra kluarga mu
merry
harusnya ada 1 palwan setelah in bw Rora pergi dr mrkk krn percm dekt dgn abng y nyata y abng y monster bagi Rora ap Bpk y
merry
bodoh klian tu gk ketulungan,,, skrg nikmati penyesalan klian😄😄😄😄ngurung nenek peot klian percm krn bntr lg juga msk lubang kubur seblm nikmatin hukumm ya,,,
Ridhasulistiasih
jd bingung.. nenek lastri bukannya asisten rumah tangga dan dia sayang sama aurora ya
merry
hati klian gk tergerak,, kalian gk pyn hati nurani ajj ,, bodoh juga sekolah tinggi cm Percy tahayul bgtuan,,, pdhl klo mkr pkai otak aku rsa klian gk bkln menyesal seperti skrg krn klian saudra satu rahim sm mmu msk gk ada hati nurani dikit pun
Ridhasulistiasih
kakaknya yg satu lg kemana thor?? si gavin kok gak diceritain lg??
Ridhasulistiasih: bukan, ituloh dibab awal dijelasin punya kakak 4: eros sisulung yg kaku, gavin si atletis tempramental, juna si jenius yg pendiam dan arvin si pemberontak...nah si gavin kemana? trus yg waktu disekolah ad alumni dtg itu si gavin kan, yg buat aurora dihukum lari keliling lapangan...
total 2 replies
merry
bpk bajingann iblis ajj gk gt x sm ank ya,,, bisa ap si ank kcil sampai bunuh istri mu,, penyesalan mu gk ada gunanya pak
merry
/Awkward//Awkward//Awkward//Awkward/buat lh mrk penyesalan bgtt dh nyiksa adiku sndri klo pun sdr buat aura gk ingt siapa mrk lgg gk ingt itu saudranya mungkin itu lh hukuman terberat buat saudranya Aurora
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!