Memiliki tubuh obesitas ternyata membuat Amanda dibenci orang-orang di sekeliling, keluarga yang selama ini dia percaya. Di saat usianya berusia 10 tahun ibunya pergi meninggalkannya membuatnya hidup bersama sang ayah.
Hidupnya sejak kecil begitu sempurna nyaris tidak pernah merasakan kesulitan, ketika sang ayah menikah dengan teman masa SMA- ya yang sudah memiliki dua Putri. Amanda justru mendapatkan kasih sayang dari ibu tirinya.
Tetapi siapa sangka Amanda menyadari semua itu hanyalah sandiwara ketika dia sudah dewasa. Tubuhnya yang gendut dengan wajah yang jelek, cupu membuat keluarganya jijik kepadanya, kematian ayahnya membuat penderitaan hidupnya semakin bertambah.
Pria yang dia nikahi baru 1 bulan ternyata memiliki hubungan dengan saudara tirinya, dikhianati oleh keluarganya sendiri membuat Amanda nyaris ingin mengakhiri hidup.
Tetapi semangatnya kembali dalam bentuk pembalasan ketika semua berlalu dia datang dengan penampilan yang sempurna bahkan nyaris Tidak dikenali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nonecis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 13 Tantangan
"Ting..."
Gina tiba-tiba mendapat notif pesan.
"Hmmmm, maaf Amanda, aku sepertinya harus kembali ke kantor," ucap Gina
"Baiklah! Terima kasih sudah memberikan tempat untukku," ucap Amanda.
"Aku juga berterima kasih, kamu sudah menemaniku manan," ucap Gina.
"Oke, semoga kita bisa bertemu di lain kesempatan lagi," ucap Amanda.
"Pasti," sahut Gina dengan tersenyum kemudian berdiri dari tempat duduknya dan mengambil tasnya.
Amanda melihat kepergian Gina membuat Amanda menghela nafas.
"Jadi perusahaan sempat bangkrut dan laki-laki itu adalah kekasih dari Maudy, kemudian dia membantu perusahaan dan sahamnya juga ada di perusahaan itu. Baiklah, kalau begitu aku harus mengatur rencana untuk kembali mengambil hak perusahaan itu," batin Amanda merasa bersyukur karena Gina dan dengan begitu dia mendapatkan info yang cukup banyak dari Gina.
Amanda kembali melanjutkan makannya, tiba-tiba saja pandangannya fokus pada suara tawa wanita yang terdengar membuat Amanda memperhatikan dan wanita itu tak lain adalah Maya bersama dengan gengnya tampak mengobrol dengan tawa yang lepas.
Seperti ibu-ibu sosialita pada umumnya, menghabiskan waktu mereka untuk saling pamer dan terlihat dari wajah Maya yang begitu angkuh memamerkan segala yang dia pakai dengan barang-barang branded.
Telinga Amanda kerap kali mendengarkan-rekannya memujinya dan bahkan menyentuh-nyentuh perhiasan yang dikenakan Maya.
"Hah! Tidak menyangka setelah beberapa tahun akhirnya aku bertemu dengan ibu tiriku yang selama ini hanya berpura-pura dihadapan Papa, seolah-olah menjadi wanita berhati malaikat yang memberikan kasih sayangnya kepadaku, lihatlah betapa tidak malunya dia memamerkan semua yang dia pakai yang tak lain adalah milik kedua orang tuaku," batin Amanda dengan tatapan tajam penuh amarah kepada Maya.
Ditengah obrolan dan tawa Maya, ternyata dia menyadari ada sepasang mata yang memperhatikannya membuat Maya tepat melihat ke arah Amanda sehingga mereka saling melihat.
"Siapa wanita itu? Apa dia sedang memperhatikanku saat ini?" Maya kebingungan dengan terus memperhatikan Amanda.
Bukannya menghindari tatapan itu dan justru Amanda terus melihat ke arah Maya.
"Mbak, lalu kapan kita bisa liburan ke Amerika lagi?" salah satu rekannya bertanya membiarkan lamunan Maya dan kembali melihat ke arah teman-temannya.
"Ya, kita akan menyusun rencana dan dalam bulan ini kita akan liburan bersama," jawab Maya.
"Benar, tetapi saya harus izin dulu kepada suami saya," sahut temannya yang disahkan oleh yang lainnya.
Maya kembali melihat ke arah meja di mana Amanda duduk dan ternyata meja itu sudah kosong membuat Maya mengerutkan dahi. Kepala Maya berkeliling melihat di sekitarnya mencari jejak keberadaan Amanda yang ternyata tidak ditemukan.
"Siapa wanita itu sebenarnya? Mengapa aku merasa tidak asing dari sorot matanya, apa aku mengenalnya atau justru dia mengenalku," batin Maya dengan penasaran dan terus melihat di sekelilingnya.
Amanda ternyata sudah memasuki mobil. Amanda terlihat kesal yang berada di dalam mobilnya.
"Mereka semua menikmati hartaku, hidup bahagia dan bahkan tidak ada keadilan atau apa yang aku dapatkan, tidak! kalian tidak akan bisa bahagia terus-menerus di atas penderitaanku. Sudah waktunya kalian mendapatkan balasan atas semua perbuatan kalian," ucap Amanda penuh dengan dendam.
Amanda pada akhirnya menyalakan mobilnya dan meninggalkan tempat tersebut, suasana hatinya menjadi buruk ketika bertemu dengan Maya ibu tirinya.
****
Perusahaan Lexa
Gina saat ini berdiri di depan Egar yang sedang memeriksa dokumen yang baru saja diberikan.
"Bagaimana untuk model produk yang akan dikeluarkan perusahaan? Apa kamu sudah mendapatkan modelnya?" tanya Egar.
"Bukankah. Nona Maudy akan menjadi model dari produk tersebut?" Gina kembali bertanya
"Jika saya menyuruh kamu untuk mencari selain Maudy dan artinya Maudy tidak berpartisipasi dalam produk ini," jawab Egar.
"Baik. Pak, kalau begitu nanti saya akan mencarinya," sahut Gina.
"Kamu cari yang profesional dan sesuai dengan produk yang akan kita pasarkan, model banyak di negara ini dan bahkan sudah sering menjalani industri seperti ini, tetapi untuk yang cocok dengan produk kita sulit ditemukan," ucap Egar.
"Baik. Pak," sahut Gina.
Ceklek.
Pintu ruangan itu terbuka yang membuat kedua orang yang berada di dalam ruangan itu melihat ke arah pintu dan ternyata Reno yang memasuki ruangan tersebut Gina
menundukkan kepala.
"Perusahaan ini memiliki aturan dan seharusnya sebelum masuk ke ruangan wajib untuk mengetuk pintu," ucap Egar dengan penuh sindiran.
"Kita akan menjadi calon ipar, dan bukankah untuk basa-basi seperti itu tidak perlu dilakukan," sahut Reno.
"Saya permisi pak!" Gina memilih untuk keluar dari ruangan tersebut karena urusannya sudah selesai membuat Egar menganggukkan kepala.
Saat berpapasan dengan Reno, Gina tidak lupa menundukkan kepala, Reno juga menyapanya dengan baik.
Ceklek.
Pintu ruangan kembali tertutup.
"Apa kita ada janji sebelumnya?" tanya Egar.
"Bukankah sangat sulit sekali untuk membuat janji dengan pemimpin perusahaan yang baru," sahut Reno.
"Kalau begitu langsung saja katakan apa tujuanmu datang menemuiku?" tanya Egar tidak ingin basa-basi.
"Aku hanya melihat-lihat saja perusahaan ini, tetap saja sama meski sudah dipimpin olehmu apalagi ruangan ini tidak ada yang berbeda sama sekali dan ternyata selera kita sama," jawab Reno.
"Anda salah besar, kita tidak memiliki selera yang sama, di tanganmu perusahaan ini hampir saja bangkrut dan di tanganku perusahaan ini berkembang dengan baik," sahut Egar.
"Jangan terlalu angkuh Egar. Meski saat ini kau yang menjadi direktur di perusahaan ini, tetapi bukan berarti perusahaan ini akan menjadi milikmu. Ingat ini adalah perusahaan keluargaku dan kursi yang kau duduki akan kembali kepadaku!" tegas Reno.
Emir menanggapi dengan santai dan bahkan mengeluarkan senyum tipis.
"Kamu harus banyak belajar dulu dalam bisnis agar kursi ini bisa kembali kepadamu dan tentang masalah kepemilikan perusahaan ini milik siapa itu bukan hal yang penting bagiku, karena di perusahaan ini aku adalah pimpinannya, sahamku berada di tempat ini dan tanggung jawab perusahaan ini menjadi bagianku, masalah ini punya keluarga siapa dan aku pikir jika hanya sebagai seorang menantu dan itu bukan dikatakan sebagai pemiliknya," ucap Egar dengan santai membuat Reno mengepal tangan.
"Saya pikir sudah tidak ada lagi yang perlu dibicarakan, saya sudah memberi kamu kesempatan untuk melihat-lihat perusahaan ini," ucap Egar dengan santai dan benar-benar mengabaikan Reno dengan melanjutkan pekerjaan.
"Tidak akan aku biarkan posisi itu akan tetap menjadi milikmu," batin Reno tangan terkepal.
Karena sudah diabaikan oleh Egar, membuat Reno mau tidak mau meninggalkan ruangan Egar.
Kelalaian yang di lakukan Reno membuatnya kehilangan kepercayaan dari Ibu mertuanya yang akhirnya membuatnya tidak mendapatkan posisi direktur lagi di perusahaan tersebut.
Bersambung....