"Elian sengaja menciptakan neraka, hanya agar ia bisa menjadi satu-satunya surga tempat Lyra bersandar."
Menyembunyikan kecantikan di balik sikap tertutup adalah cara Lyra Anya Cassandra bertahan hidup di SMA Elit Gava. Statusnya sebagai siswi yatim piatu penerima beasiswa menuntutnya untuk tidak terlihat.
Namun, sebuah kotak bekal siang yang sederhana menghancurkan seluruh pertahanannya.
Lyra mendadak menjadi target perundungan yang kejam. Di tengah keputusasaan itu, hanya Elian cowok paling berpengaruh di sekolah yang bersedia menjadi pelindungnya.
Lyra mengira itu keberuntungan, tanpa tahu bahwa Elian sendiri yang menyalakan api neraka demi memaksanya datang kepelukan elian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zayyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SISI GELAP SEBUAH RASA BERSALAH
Rintik hujan tipis mulai membasahi kaca-kaca jendela ruang OSIS yang megah di lantai dua. Di dalam ruangan bernuansa modern dengan interior kayu jati mahal itu, keheningan terasa begitu menekan. Devan Raditya berdiri mematung di dekat meja biliar, jemarinya meremas stik kayu dengan cengkeraman yang tidak keruan. Sepasang mata elangnya yang biasa memancarkan binar nakal khas remaja borjuis, kini meredup konstan, menatap lurus ke arah tumpukan berkas kesiswaan di atas meja kerja Elian.
"El... lo gak ngerasa ini semua udah kelewatan?" tanya Devan dengan nada suara yang berbisik cemas, memecah keheningan ruangan. Gaya rambutnya yang berantakan acak-acakan karena ia terus meremasnya sejak tadi pagi, mencerminkan gejolak rasa bersalah yang mulai menggerogoti isi kepalanya. Ia merapikan kerah kaus hitam mahalnya yang terasa mencekik leher, menanti respons dari sang donatur terbesar sekolah.
Elian Gava Alaric yang sedang duduk tegak di kursi kulit kerjanya tidak langsung menjawab. Pemuda jangkung berwajah simetris itu perlahan meletakkan pulpen emasnya. Jas seragam hitam SMA Elit Gava miliknya terkancing sangat sempurna tanpa ada satu pun lipatan, memancarkan aura dominasi yang mutlak. Rambut hitam legamnya yang berpotongan comma hair membingkai wajah rupawannya yang pucat dan sedingin patung marmer.
Aroma parfum amberwood yang mewah dan hangat menguar pekat dari tubuh Elian, mendominasi seluruh penjuru ruang OSIS yang luas dan mengintimidasi udara di sekitar Devan.
"Kelewatan dalam hal apa, Devan?" tanya Elian dengan nada suara yang berat, rendah, dan teratur, tanpa menunjukkan sedikit pun riak emosi di wajah tampannya yang menawan. Manik mata hitam jelaganya menatap lurus ke arah Devan, tajam dan menembus langsung ke dalam rasa takut sahabatnya.
"Soal Lyra, El! Rumor manipulasi status yang kita sebarin minggu lalu benar-benar bikin mentalnya kena. Tadi pas gue gak sengaja papasan sama dia di depan perpustakaan, dia kelihatan linglung banget. Dia bahkan sempat salah masuk kelas dan kaget pas gue panggil. Gejala Brain Fog yang lo bilang secara klinis itu... gue bisa liat jelas di matanya," jawab Devan dengan ekspresi wajah yang menegang, menyuarakan kecemasannya akan kondisi target mereka yang mulai mengkhawatirkan.
"Itu hanya respons adaptasi sementara terhadap lingkungan barunya, Devan. Dia gadis yang kuat, dia akan bertahan," sahut Elian dengan seutas senyuman asimetris yang sangat tipis dan dingin terukir di sudut bibir tipisnya. Ia menyandarkan punggung tegapnya pada kursi kulit, memancarkan aura sosiopatik yang teramat pekat.
"Tapi dia sendirian sekarang, El! Sahabat-sahabatnya udah buang dia, si Ryzan juga gak bisa dihubungin karena dikurung di Taruna. Gue ngerasa... gue ngerasa kayak monster yang lagi nge bantai anak ayam polos," tanya Devan lagi dengan kening yang berkerut dalam, menuntut setitik belas kasihan dari pikiran sahabat miliardernya yang sakit namun jenius.
"Dia bukan anak ayam yang polos, Devan. Dia adalah satu-satunya warna di dalam dunia abu-abuku. Dan jika untuk memiliki warna itu seutuhnya aku harus mematikan semua cahaya di sekelilingnya, maka aku akan melakukannya tanpa ragu," jawab Elian dengan nada suara yang merendah, teramat intens, dan penuh penekanan yang mengunci kesadaran Devan. Sifat obsesinya yang ekstrem membakar dadanya dengan gairah yang gelap, menghapus seluruh batasan moral demi menjadikan Lyra miliknya seorang diri. Ia menarik kembali tubuh tingginya, lalu memberikan tatapan elang yang menggelap sempurna kepada Devan sebuah penegasan bahwa rencana ini tidak akan pernah dihentikan demi ambisi egoisnya.