NovelToon NovelToon
Married With Teacher

Married With Teacher

Status: tamat
Genre:Romantis / Dosen / Perjodohan / Nikahmuda / Tamat
Popularitas:4.2M
Nilai: 5
Nama Author: seizy kurniawan

PERHATIAN!!!
Jika ingin membaca cerita ini siapkan mental. Takutnya bisa baper stadium akhir dan yang nulis gak tanggung jawab jika bibir kalian gak bisa berhenti ketawa.

Kata orang menjadi cewek cantik itu terlalu beruntung. Karena dipikir banyak yang demen. Tapi apa jadinya jika seorang cewek kaya Ghea Virnafasya yang jutek dan menjadi badgirl di sekolahnya masihlah jomblo.

Tahukah jika kadar kecantikan dan kejutekannya itu terlalu akurat stadium akhir?

Dia, Ghea Virnafasya cewek cantik jomblo abadi yang gak suka pacaran. Dia inginnya langsung menggelar nikahan.

Tapi apa kejutekan dan kenakalannya akan bisa berakhir? Apa Ghea akan sadar dan bertaubat setelah bertemu dengan seorang guru baru yang tampan nya naudzubillah bak aktor Yang yang, mengajar di kelasnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon seizy kurniawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mas Gery

Ghea kini duduk di sofa ruang tamu sembari menautkan jari-jemarinya. Di depannya ada Mama Dian dan Papa Dika. Jangan lupakan jika disana juga ada Pak Gery yang santai menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa. Seolah Ghea sore itu sedang disidang di pengadilan.

"Ghea?" tegur Papa Dika lembut. Dua pasang mata yang ada di ruangan itu menatap Ghea dengan nanar. Terkecuali sepasang bola mata abu-abu yang acuh tak acuh saja sama sekali tidak ingin melihat wajah Ghea.

Pak Gery ternyata masih kesal karena wajahnya kena sembur Ghea. Ini adalah kali keduanya Ghea menumpahkan air minum pada wajah Pak Gery.

Masih ingat kan waktu di bioskop? Itu adalah kali pertama Pak Gery mendapatkan kesialan dari pertemuan pertamanya dengan Ghea. Dan hari ini pun, Pak Gery mendapatkan sial itu, lagi.

"I-iya, Om?" Takut-takut Ghea mendongakkan wajahnya untuk bertemu dengan mata Papa Dika. Ghea semakin kuat meremaas jari-jemarinya yang sudah berkeringat dingin.

"Jadi untuk apa kamu datang kemari?" Papa Dika bertanya setelah beberapa saat ruangan itu hanya keheningan yang tercipta karena orang tua Pak Gery belum berani bertanya untuk apa kedatangannya dan kenapa Pak Gery sampai memarahinya.

Diam beberapa saat, Ghea seolah sedang berpikir mencari diksi yang tepat agar tidak salah mengucapkan sederet kalimatnya. Apalagi ada Pak Gery yang duduk di depan Ghea. Menatap Ghea dengan mata elangnya.

Menarik nafas dalam-dalam, kemudian Ghea hembuskan dengan pelan sebelum membuka suaranya lagi. "A-aku mau minta maaf sama Om Dika dan Tante Dian karena aku yang kabur dari acara makan malam." Rasanya setelah mengucapkan permintaan maaf itu, perasaan Ghea sedikit plong. Anehnya, mata Ghea sempat melirik pada Pak Gery setelah berhasil membuka suara. Walau Pak Gery sendiri hanya memutarkan bola matanya malas.

Oke, gak papa. Ini hanya awalnya saja untuk mendapatkan hati Pak Gery. Pikir Ghea yang tak lepas menatap wajah tampan Pak Gery. Sampai-sampai cewek itu menguluum senyum untuk menahan perasaannya.

"Tapi, alasannya apa? Kenapa kamu malah kabur? Apa kamu gak mau dijodohkan sama Gery?"

"Mau banget aku mah, Tan." jawab Ghea cepat. Padahal mulut Mama Dian masih menganga untuk mengatakan kalimat selanjutnya. Dasar Ghea, giliran mau dijodohin sama Pak Gery aja, jawabnya cepat gak pake gagap. Lah semalam kemana aja, neng? Malah main kabur-kabur aja.

Pak Gery lagi-lagi hanya memutar bola matanya dengan jengah. Sementara Papa Dika tersenyum senang. Begitu juga Mama Dian yang langsung mengatupkan bibirnya. Kemudian menarik kedua sudut bibirnya.

"Kalau mau kenapa kamu malah kabur?" Ah, kenapa Papa Dika bertanya kaya gitu sih? Ini Ghea harus jawab apa coba? Apa jujur aja, kalau Ghea sempat berpikir jika cowok yang akan dijodohkannya adalah cowok yang duduk di samping Mama Dian dan itu bukan Pak Gery.

Tapi malu dong, masa iya Ghea harus jujur?

"Emm … itu, Om … anu, itu, aku …" Nah kalau sudah gagu begini Ghea harus jawab apa coba?

"Om, Tan?"

Menoleh, Ghea, Papa Dika, Mama Dian dan Pak Gery mengarahkan pandangannya pada seseorang yang baru saja nyembul masuk ke dalam rumah.

Ah, penyelamat datang. Pikir Ghea. Ia diam-diam menarik sudut bibirnya, tersenyum menang dalam hati.

Tapi, kenapa penyelamatnya cowok yang semalam duduk di samping Mama Dian?

"Kenapa, Di?" Papa Dika bertanya. Membuyarkan pandangan Adi yang terarah pada Ghea.

"Eh … gak papa, Om. Aku cuma ada perlu aja sama Gery," ujar Adi. Ia menaik turunkan kedua alisnya pada Gery seolah sedang memberinya kode. "Gak sibuk kan, Ger?"

"Nggak!"

"Eh, Gery sibuk, Di. Kan ada calon istrinya. Lagi juga nanti Gery harus anterin calon mantu Tante pulang."

Apa tadi Mama Dian bilang?

Calon istri?

Kenapa rasanya aneh sekali, ya di pendengaran Ghea. Ah, mendadak perut Ghea jadi melilit, ini. Astaga.

Sedangkan Pak Gery kembali memutar bola matanya malas yang justru mendapat gelak tawa dari Adi - sang sepupu.

"Diam, lo. Gak lucu!" sengit Pak Gery melempar bantal sofa yang tepat mengenai wajah Adi.

"Eh, gue tebak. Lo semalam kabur itu, pasti lo nyangkanya gue ya yang bakal dijodohin sama lo?"

Ah, kenapa Adi menebak seperti itu sih, kan Ghea jadi malu. Sumpah demi apa pun itu, Ghea ingin pindah planet saja dari pada di bumi yang terus diejek kaya gini sama penghuninya.

Ghea menunduk. Untuk mengangkat kepalanya saja Ghea tidak berani. Apalagi harus menjawab tebakkan Adi.

Ajaib.

Di sekolah kalau ada yang mencibir Ghea seperti saat ini, ia akan langsung membalasnya dan tidak akan diam saja. Pak Ghani aja kalah apalagi hanya dengan teman-temannya. Itu mah kecil bagi Ghea.

Tapi masalahnya ini berbeda. Gak asyik kan kalau harus bar-bar di depan calon mertua dan calon - suami?

Calon suami?

Pak Gery, calon suami Ghea?

Rasanya aneh, ya? Gak nyangka banget Ghea. Ya ampun Tuhan memang selalu baik pada setiap hambanya yang selalu bersabar. Ya macam Ghea ini.

Sabar dalam menghadapi hukuman Pak Ghani. Eh-

**

Sejak Ghea keluar dari rumah Papa Dika dan masuk ke dalam mobil Pak Gery.

Iya, Mama Dian memaksa Pak Gery untuk mengantar Ghea pulang. Untung saja Papa Dika dan Mama Dian tidak terus bertanya yang aneh-aneh. Mereka hanya ngobrol ringan saja sampai Pak Gery kembali bergabung dengan Ghea dan orang tuanya setelah tadi beberapa saat meeting bersama Adi di ruang pribadi Pak Gery.

"Gak usah lihatin saya kaya gitu!" Keluh Pak Gery yang tak sengaja melihat Ghea dengan ujung matanya - yang terus tersenyum dengan kedua tangan menangkup setiap sisi wajahnya sendiri. Hem, so imut.

"Eh …" seketika Ghea tersentak. Ia mengerucutkan bibirnya. Kemudian kembali duduk dengan posisi menghadap depan. Yang sebelumnya duduk Ghea miring menghadap Pak Gery.

"Dimana rumah kamu?" tanya Gery kala ia sudah masuk gada-gada komplek perumahan Ghea.

Mengernyit heran, lah bukannya Pak Gery pernah jalan-jalan di komplek perumahan itu ya. Waktu Ghea membeli pembalut pada malam hari itu.

"Bukannya Bapak udah tahu, ya?" cewek itu malah berbalik tanya pada Gery. Membuat Gery geram saja.

"Gak tahu, saya."

Ghea mengesah. Ia pikir Pak Gery itu sudah tahu karena pernah menghirup udara malam di komplek perumahan tersebut. Ternyata Pak Gery masih tidak tahu rumah Ghea yang mana. Ah, yasalam.

"Udah deket kok Pak, dari sini." jelas Ghea ia memutar kembali duduknya sembilan puluh derajat menjadi menghadap Pak Gery lagi. Ghea kembali tersenyum menatap wajah tampan itu.

"Pak?" tegur Ghea.

"Hem," gumam Pak Gery.

"Aku masih gak nyangka loh, bisa dijodohin sama kamu. Heuh, andai aja semalam aku gak kabur, aku pasti-"

"Jangan dibahas!"

Kenapa Pak Gery seneng banget sih motong-motong kalimat yang akan diucapkan gue? Benak Ghea berkata.

"Enaknya aku panggil Bapak apa, ya?" tanya Ghea tiba-tiba. Membuat Pak Gery tersedak salivanya sendiri. Untung saja Pak Geri saat itu melajukan mobilnya pelan. Kalau lagi kencang bisa nabrak pohon kencur itu Pak Gery.

"Terserah!" tanpa menoleh pada Ghea sang calon istri.

Ghea mencebik. "Terserah itu apa sih, Pak?" Ghea kembali bertanya dengan wajah jemawa.

"Em ... kalau Mas Gery aja, gimana?"

Uhuk ... uhuk ... uhuk.

TBC

Yang bab ini kaya lempeng aja ya. Gak papa nikmti aja bacanya. wkwkwk

1
Nur Indriana
sing bikin cerita yg ogeb
Nur Indriana
konflik terlalu bertele2 ,gak masuk akal. gini kok cerita ditayangkan
mengecewakam
Nur Indriana
lamban alur cerita, membosankan
Neni marheningsih
syukuri si Gery hajar aja di biar koma si gary
Neni marheningsih
Gery egois...mentingi orng lain tapi ga jaga perasaan istri sendiri... giliran istri nya ada yg perhatian cemburu...makan tuh mua jadi sok pahlawan keluarga sendiri mau di ancurin
Neni marheningsih
baru baca tapi udah emosi....bego semua apa temennya Geri si Adi Chaca Ilham mbok ya berpencar goblog banget
Yensri73
perasaam ghea melulu yg menderita disini, nggak ada habis2nya penderitaannya🥲
it's me oca -off
semangat kk
it's me oca -off
ehm
Zaidah Abd Hamid
best sangatttttyy
Fitri Alika Alda
🤣🤣🤣🤣
♪Lucass;freechs♪
koreksi *Ya Allah
Lu murahan mndingn Lu mati aj
lgian Lu ngpain tlgin si jalang yg bukan bini lu
goblok Lu GHEA wanita jalang malah ditolong
eh jalang gue TABOK lu
Lu tolol atau gmn ghe?
ini lg ibunya jalang jg ngpain Lu ngtur² Gery emgny Lu siapa
ehh GHEA Lu ngapin peduli sm jalang
🌻Ruby Kejora
Karyanya bagus
Sukses bwt karyanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!