kisah seorang dokter internship yang bertemu dengan seorang polisi yang menurutnya sangat menjengkelkan dan terjebak pernikahan dengannya akibat kejadian suatu malam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nad Nanad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 12
"Pak, emang bener ya kalau bapak punya restoran?" Tanya Anna sambil memasukkan barang-barangnya ke dalam koper.
"Iya, tau darimana?" Tanya Dean kembali.
"Dari Mbak Yanti, katanya suaminya manager disana terus pemilik restonya itu bapak." Ucap Anna
"Nama suami mbak Yanti itu siapa? Soalnya manager restoran saya banyak."
"Hmm ... pamer pamer." Ucap Anna sembari mengibaskan tangannya.
"Bukan pamer, tapi cuma mau ngasih tau ke istri sendiri tentang apa yang saya punya dan itu punya kita sekarang." Ucap Dean lagi sembari mengelus puncak kepala Anna.
"Gak usah megang-megang ihh." Anna menepis tangan Dean
Dean hanya menggeleng menghadapi sikap Anna yang sering berubah-ubah, padahal ia akan menceritakan hal lain tentang dirinya, namun sikap Anna sesaat ini tidak mendukung. Baru kemarin ia sedang menikmati waktu berdua dengan bahagia namun ada ada saja yang mengusik keuwuan mereka.
"Udah?" Tanya Dean saat Anna sudah menutup kopernya
Anna mengangguk lalu tersenyum padanya tanda mengiyakan.
"Oke, kalau gitu kita berangkat sekarang!" Ucap Dean lalu berdiri mengambil koper milik Anna.
Mereka berjalan ke ruang tamu yang disana sudah ada orang tua Anna serta Satya dan Bi Ira. Anna dan Dean pun berpamitan kepada mereka. Skip skip
Kediaman Dean.
"Ini kamar kita, nanti saya akan carikan pembantu rumah tangga buat urus semua keperluan disini." Ujar Dean yang membuka salah satu kamar di perumahan yang sudah Anna kunjungi sebelumnya.
Anna menatap sekeliling kemudian mengangguk-angguk,
"Kenapa? Apakah rumah ini terlalu kecil untukmu? Kita bisa pindah ke rumah yang lebih besar kalau kamu mau." Celetuk Dean saat Anna masih memperhatikan keadaan sekitarnya, karena jujur saja sudah dua kali ia kesini tapi belum sempat melihat-lihat isi rumah itu.
"Gak perlu, saya suka rumah ini tidak terlalu luas jadi saya rasa tidak perlu mencari pembantu saya masih bisa mengerjakan semua ini." Jawab Anna dengan mantap.
"Saya tidak mau kamu terlalu kecapean! pulang dari rumah sakit abis itu ngerjain ini itu apa kamu mampu?"
"Kan ada bapak."
"Bisa tidak jangan panggil saya bapak? Saya ini suami kamu bukan bapak kamu." Ujar Dean sambil berjalan ke dalam kamarnya lalu membaringkan tubuhnya di atas ranjangnya.
Anna terlihat berfikir sejenak lalu duduk disamping Dean.
"Hmm ... nanti saya pikirin lagi." Jawab Anna sedikit ragu
Lalu Dean menarik lengan Anna hingga ia terbaring di dekatnya, Anna lalu menoleh ke arah Dean hingga hidung mereka bersentuhan, mata mereka bersitatap. Anna dengan cepat mengalihkan pandangannya ke langit-langit kamar tersebut.
Dean sedikit terkekeh melihat Anna yang salah tingkah.
Lalu ia membawa Anna kedalam pelukannya.
"Kalau saya panggil kamu 'dek' kamu gak keberatan?" Tanya Dean sambil memeluk Anna.
"Terserah bapak, Anna mau bobok dulu! capek." Jawab Anna sambil menyembunyikan kepalanya di dada bidang Dean.
Dean tersenyum, ternyata membuat Anna hangat kepadanya itu sangat mudah. Anna adalah gadis manja, jika ia dimanjakan maka ia akan lebih manja lagi sehingga tidak sulit untuk mendapatkan hatinya.
Dean jadi bisa menghabiskan waktu untuk uwu-uwuan dengan Anna tanpa ada yang menganggu mereka lagi seperti kemarin.
Anna terbangun saat menyadari perutnya berdemo ingin diisi makanan ia mendapati Dean sedang tidur disampingnya.
"Pak! Bangun pak, Anna laper." Ucap Anna membangunkan Dean.
"Eumm ... kamu bisa masak?" Tanya Dean sambil menguap.
Lalu Anna mengangguk antusias mengiyakan.
"Di kulkas kayaknya ada bahan makanan, coba cek dulu." Ucap Dean kembali sambil duduk.
"Oke." Anna kemudian menuju ke dapur untuk memasak.
Pertama-tama ia membuka kulkas untuk mengecek bahan apa saja yang bisa ia masak siang ini ah lebih tepatnya sore. Ia menemukan udang dan daging ayam di dalam kulkas tersebut dan berinisiatif untuk membuat tumis udang kecap saja, itu tidak terlalu sulit baginya.
Meskipun Anna adalah anak manja bukan berarti ia tidak bisa masak, bisa dibilang Anna ini cewek langka:v
Manja tapi bisa masak:v
Tak berapa lama kemudian makanan yang dibuatnya sudah siap dan disajikan di meja makan. Ia kemudian memanggil Dean untuk makan bersama.
Saat ia melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar, ia berpapasan dengan Dean yang ternyata habis mandi, Dean hanya mengenakan kaus oblong dengan celana pendek
serta rambut basah dengan bau shampoo yang menyeruak ke penciuman Anna membuatnya mematung di depan Dean.
"Ekhem." Deheman Dean membuat Anna tersadar dari lamunannya.
"Eh .. pak itu saya mau manggil bapak makan." Ucap Anna sambil menunduk karena gugup.
Dean mengangkat dagu Anna dengan jarinya lalu mendekatkan wajahnya pada Anna.
"Kenapa gugup?" Tanya Dean dengan menaikkan sebelah alisnya.
"Mmm ... saya gak gugup cuma kaget aja." Jawab Anna terbata.
"Hmm ... gak gugup? Beneran?" Tanya Dean kembali sambil sedikit menjauh dari Anna.
"Udah yuk pak makan, saya udah laper." Ucap Anna tak sabaran.
"Saya pengennya makan kamu." Jawab Dean dengan tatapan horor.
"Hah? Bapak kanibal?" Celetuk Anna dengan polosnya:v
"Ah udahlah lupain! Kalau saya jelaskan belum tentu kamu mau." Ucap Dean kembali sambil mengacak-acak rambut Anna dan membuat Anna semakin bingung.
Dean lalu merangkul Anna menuju meja makan dan segera melakukan ritual makannya.
Saat ditengah-tengah aktivitas makannya, Dean terus menatap Anna, Anna yang menyadari itu lalu berusaha mengalihkan pandangannya agar tidak melihat sorot mata tajam itu. Lama-kelamaan dia pun risih terus ditatap seperti itu.
"Kenapa sih pak liatin saya mulu?" Tanya Anna dengan kesal.
"Kamu gak ada niatan gitu buat suapin saya?" Ucap Dean penuh harap.
"Emang tangan bapak kenapa? Gak guna? Kalo udah gak guna ya diamputasi aja sekalian." Ujar Anna dengan ketus, ck moodnya cepat sekali berubah dasar cewek.
Dean hanya diam lalu berusaha menghabiskan makanan di depannya dengan sedikit kesal karena ucapan Anna barusan.
Mereka sama-sama terdiam hingga ritual makan selesai, Dean kemudian mengambil piring kotor miliknya dan juga milik Anna untuk dicuci.
"Biar saya aja pak." Ucap Anna sambil menyambar piring-piring kotor tersebut.
Namun Dean tak menjawab lalu pergi dari sana. Anna heran dengan perubahan sikapnya.
Selepas mencuci piring-piring kotor tersebut, Anna berjalan ke depan dan tak menemukan keberadaan suaminya itu, ia mencarinya di semua sudut ruangan namun nihil ia tidak menemukannya disana.
Ia bingung kemana Dean pergi, apakah ia marah dengan perkataannya tadi? Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar di kepala Anna.
Lalu ia memutuskan untuk mencarinya di luar siapa tau ia sedang nimbrung bersama tetangga-tetangga lainnya sesama abdi negara.
Saat berada di teras, netranya menangkap dua sosok yang salah satunya adalah Dean sedang berbincang dengan seorang wanita muda berseragam polwan yang cukup cantik. Mereka sesekali tertawa bersama, ada rasa sesak dalam diri Anna saat melihat mereka begitu akrabnya.
Matanya memanas ingin menangis sekarang juga
Anna cemburu, ya ia memang cemburu melihat kebersamaan mereka berdua.
Tak tahan dengan itu, Anna berlari masuk ke kamar yang bersebelahan dengan kamar Dean dan menguncinya dari dalam.
To be Continued ...
thor...
knpa g dilanjutin kisahnya Dean sm Anna
👍🤗