NovelToon NovelToon
Matahari Sang Iblis

Matahari Sang Iblis

Status: sedang berlangsung
Genre:Menjadi bayi / Cinta Seiring Waktu / Mafia
Popularitas:15.3k
Nilai: 5
Nama Author: hofi03

Terlahir kembali sebagai Lyra Clarissa Wijaya, cucu tunggal dari keluarga terkaya di dunia, Lyra tidak tumbuh sebagai gadis manja yang lemah. Di balik kecantikannya yang tenang dan elegan, tersimpan jiwa seorang putri bangsawan Vampir dan kekuatan insting Alpha Serigala yang ia bawa dari kehidupan sebelumnya.

Xavier adalah pria paling berbahaya yang ditakuti dunia. Dia dingin, kejam, dan dikenal tidak punya perasaan, tiba-tiba hidupnya yang gelap mendadak jungkir balik. Pria yang tak pernah tunduk pada siapa pun ini, justru rela menyerahkan segalanya untuk gadis kecil nya.

"Mintalah nyawaku, Lyra. Mintalah seluruh dunia ku, asal jangan pernah palingkan matamu dariku, karena tanpamu, duniaku kembali menjadi gelap," bisik Xavier, berlutut di hadapan gadis itu tanpa memedulikan tatapan ngeri para bodyguard nya.

Lyra hanya tersenyum tipis, sebuah senyuman misterius yang membawa sisa-sisa keagungan masa lalunya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CINTA SEORANG IBU

Arkan langsung menempelkan stetoskop, memeriksa denyut nadi, dan melihat pupil mata Lyra, dia menghela nafas nya panjang, ekspresi yang selalu dia tunjukkan setiap kali memeriksa adik sepupunya ini sejak bertahun-tahun lalu.

"Bagaimana, Ar? Apa dia kelelahan? Atau salah makan?" tanya Tuan Steven cemas.

Arkan menghela napas, dia melepaskan stetoskopnya dan menatap ayahnya serta paman-pamannya.

"Secara medis, semua organ Lyra berfungsi normal, jantungnya kuat, paru-parunya bersih. Tapi suhu tubuhnya ini tidak masuk akal. 40,2 derajat," jawab Arkan, menggeleng kan kepala nya.

"Lalu kenapa dia begini terus dari kecil, Bang?! Kamu dokter, masak tidak tahu?!" seru Kenzo yang berdiri di ambang pintu.

Kenzo, Kenzie dan Oliver masih memakai seragam sekolah lengkap, terlihat sangat kacau karena tidak jadi berangkat sekolah.

"Kenzo, aku masuk fakultas kedokteran dan ambil spesialis hanya untuk mencari tahu kenapa Lyra begini, tapi sampai hari ini, tidak ada literatur medis yang bisa menjelaskan demam mendadak yang hilang timbul tanpa infeksi seperti ini," jawab Arkan, menghela nafas nya panjang.

Thomas dan Arin saling lirik, mereka tahu jawaban yang dicari Arkan tidak akan pernah ada di buku kedokteran manapun.

"Mom, tolong berikan dia kompres air hangat terus menerus, aku akan siapkan infus penurun panas yang paling ampuh," ucap Arkan sambil membuka tas medisnya.

"Kek, jangan sedih. Lyra kan kuat," bisik Oliver sambil memegang tangan Tuan Bastian.

Oliver memang yang paling lembut hatinya di antara semua sepupunya yang lain.

"Kakek tidak sedih, Oliver, Kakek hanya marah pada diri sendiri karena tidak bisa menanggung rasa sakitnya," jawab Tuan Bastian lirih.

"Thomas, apa benar ini gara-gara pria Valerius itu? Jika iya, katakan padaku, aku akan buat dia menyesal telah menginjakkan kaki di sekolah Lyra!" ucap Tuan Bastian, menatap Thomas.

"Sudahlah, Pa. Fokus ke Lyra dulu," jawab Tuan Thomas cepat, mencoba mengalihkan pembicaraan.

Di tengah keributan keluarga besar itu, Lyra perlahan membuka matanya, dia melihat wajah-wajah pria pelindungnya, Daddy nya, Kakeknya, Paman-pamannya, dan kakak-kakak sepupunya, semuanya berkumpul di sana dengan wajah penuh kecemasan.

"Kek... Paman... berisik..." gumam Lyra sangat pelan, namun cukup untuk membuat seluruh ruangan mendadak hening.

"Oh, Sayang, kamu sudah bangun? Maafkan Kakek ya, Kakek tidak bermaksud berisik," ucap Tuan Bastian langsung mendekatkan wajahnya, tersenyum lebar meski matanya berkaca-kaca.

"Bang Arkan... jangan suntik..." bisik Lyra lagi saat melihat Arkan memegang jarum infus.

Sisi manja Lyra keluar saat dia sedang sakit seperti ini.

Arkan tersenyum tipis, sangat jarang dia melihat sisi rapuh Lyra.

"Hanya sebentar, Princess, supaya panasnya turun. Tahan sedikit ya?" jawab Arkan, lembut.

Lyra hanya bisa pasrah saat jarum itu masuk ke kulitnya, dia merasa sangat disayangi, namun di sudut hatinya, ada rasa bersalah karena membuat seluruh keluarganya selalu panik dan khawatir dengan diri nya yang sering sakit seperti ini.

Nyonya Arin tidak sanggup lagi menahan air matanya melihat putri tunggalnya meringis saat jarum infus menembus kulit pucat itu. Baginya, setiap tetes air mata Lyra adalah belati yang menghujam jantungnya.

Cup

"Maafkan Mommy sayang... Lyra kuat...Lyra putri kecil Mommy yang paling kuat..." bisik Nyonya Arin, mencium lembut kening Lyra.

Begitu Arkan selesai memasang infus dan merapikan peralatannya, Nyonya Arin segera mengambil alih posisi di samping bantal Lyra, dia mengabaikan tatapan cemas para pria Wijaya di ruangan itu, karena fokusnya hanya satu, yaitu kenyamanan putrinya.

"Sudah, Sayang... sudah selesai. Bang Arkan sudah bantu supaya panasnya turun," bisik Nyonya Arin lembut.

Nyonya Arin mengambil semangkuk air hangat yang sudah disiapkan pelayan, lalu mencelupkan waslap lembut ke dalamnya. Dengan gerakan yang sangat hati-hati, seolah sedang menyentuh porselen paling rapuh di dunia, Nyonya Arin menyeka leher dan lengan Lyra.

"Panas sekali, Thomas... tubuhnya seperti terbakar," ucap Nyonya Arin pelan tanpa menoleh pada suaminya.

Tuan Thomas mendekat, meletakkan tangannya di bahu sang istri.

"Dia kuat, Arin. Lyra kita selalu kuat," ucap Tuan Thomas, meyakinkan istri nya.

Lyra yang masih setengah sadar karena pengaruh demam, mencari-cari tangan ibunya.

Begitu jemari mereka bertautan, Lyra menggenggamnya erat, seolah tangan ibunya adalah satu-satunya kekuatan yang menahannya agar tidak terseret arus rasa sakit yang lebih dalam lagi.

"Mom... jangan pergi..." racau Lyra lirih.

"Mommy di sini, Sayang, Mommy tidak akan ke mana-mana, Mommy akan terus memelukmu sampai panasnya hilang," jawab Nyonya Arin. Ia mencium telapak tangan Lyra berulang kali, menyalurkan seluruh cinta dan kekuatan yang ia miliki.

Nyonya Arin kemudian naik ke atas ranjang yang luas itu, berbaring di samping Lyra dan membawa kepala putrinya ke atas dadanya, dia tidak peduli jika baju tidurnya basah oleh keringat dingin Lyra.

"tidurlah Sayang, Mommy akan menjaga mu," bisik Nyonya Arin, mulai menyenandungkan lagu pengantar tidur yang selalu dia nyanyikan saat Lyra masih kecil.

Suasana ruangan yang tadinya penuh ketegangan karena amarah Tuan Bastian dan kepanikan para sepupu, tiba-tiba menjadi sangat syahdu.

Tuan Bastian yang melihat pemandangan itu hanya bisa menyeka sudut matanya dengan sapu tangan.

"Biarkan mereka, hanya kasih sayang ibunya yang bisa menenangkan Lyra kalau sudah begini," ucap Tuan Bastian, melirik anak-anak nya dan juga cucu-cucu nya.

Sedari tadi Kenzo, Kenzie, dan Oliver berdiri mematung di ujung tempat tidur, mereka yang biasanya berisik dan jahil, kini hanya bisa terdiam melihat betapa rapuhnya adik perempuan mereka dan betapa besarnya cinta bibi mereka.

"Bang Arkan, apa Lyra akan baik-baik saja?" bisik Oliver pada kakaknya.

Arkan mengangguk pelan sambil terus memantau tetesan infus.

"Dia akan baik-baik saja, Selama Mommy ada di sampingnya, Lyra selalu punya alasan untuk segera bangun," jawab Arkan, pelan.

Di dalam pelukan hangat ibunya, Lyra merasa api di dalam tubuhnya perlahan mulai meredup. Aroma parfum Nyonya Arin yang khas, campuran bedak bayi dan mawar, seolah menjadi obat penenang yang lebih ampuh daripada cairan kimia di dalam botol infus itu.

Namun, di tengah rasa nyaman itu, jauh di dalam alam bawah sadarnya, Lyra merasa jiwanya seperti sedang ditarik-tarik, dia merasa seolah ada seseorang di luar sana yang sedang memanggil namanya dengan suara serak yang sangat ia kenali, meskipun ia belum pernah mendengarnya secara jelas.

“Lyra... bertahanlah... aku akan segera menjemputmu...”

Deg

Lyra tersentak kecil dalam dekapan ibunya, membuat Nyonya Arin semakin mengeratkan pelukannya.

"Ssh... tidur, Sayang, Mommy akan terus menjagamu, tidak ada yang boleh menyakitimu selama Mommy masih bernapas," bisik Nyonya Arin, menatap tajam ke arah jendela seolah tahu ada ancaman yang sedang mengintai putrinya dari kegelapan pagi itu.

1
Eka Putri Handayani
gmna nasib Leo dan Aurora ya apa mrk memiliki anak lg setelah Lyra pergi🥺
renjani
yahhh up y ko dikit thor🤭

semangat menulis thor💪
sehat selalu👍👍
Atik Kiswati
lnjt.....
Pa Muhsid
di cerita jasmine, LEO-AURORA Xavier sebagai siapa ya😏😏😏 gak ingat
kaylla salsabella
lanjut😍😍😍
kaylla salsabella
titisan mak jasmine dan ratu Wallace
Rumi Yati
Lanjut thor
Tiara Bella
pembaca penasaran sebenarnya Xavier itu siapa.....
Wulan
tunggu 3 hari lagi Lyra maka kamu Mungkin akan menemukan fakta nya😌😌

semangat terus Thor up next nya 🤗🤗
Muft Smoker
Teka teki akan terbuka seiring berjalan ny waktu lyra ,,


lanjuut kak
kaylla salsabella
lanjut thor😍😍😍😍
kaylla salsabella
wah deddy Thomas apakah dalam bahaya
Queen adzilla👑
kakak kenapa setiap jalan ceritanya selalu ada pria yg gila karna wanitanya,tapi aku srlalu suka sama cerita nya kakak,semangat terus kak bikin novel nya😘
kaylla salsabella
masih penasaran
kaylla salsabella
lanjut
Muft Smoker
ceritany bagus kak
Muft Smoker
lanjuuuut kak ,,

makin penasaran ma klanjutan ny ,,
hubungn lyra dn Xavier di masa lalu tu ap yx ,,
Muft Smoker
mungkin di masa lalu lyra dn Xavier ad hubungn yg Blum selesai bahkan mungkin belum di mulai ,,
tp di masa kini lyra adalah anak dr tuan Thomas dn nyonya arin ,,
meski di dlam raga lyra adalah sosok dr masa lalu ,,
tp Xavier km gx boleh lngsung mngklaim gt aj ,,
krn keluarga lyra gx semua mngerti dg ap yg trjaadi di masa lalu antara tuan Thomas , nyonya arin dn sang nenek mysteriuss sehingga lyra lahhir di tngah keluarga wijaya ,,
Ayu Oktaviana
absen kak.. akhirnya louncing juga👍👍
Atik Kiswati
lnjt. ..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!