Maira, seorang istri yang harus membagi penghasilan nya untuk istri dari kakak ipar nya yang sudah meninggal dunia.
Sang suami dan mertua hanya memanfaatkan uang nya, demi kepentingan mereka semua.
Tidak hanya itu, Suami nya, Azam malah menjalin hubungan dengan kakak ipar nya dengan alasan mau membantu janda kakak nya tersebut.
Mereka semua kelimpungan saat Maira memutuskan untuk tidak mau membantu lagi, dan menyerahkan semua nya pada Azam, suami nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leni Anita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28
Maira dan Arini berdiri tidak jauh di belakang Azam dan Nia, Maira sengaja memasang kamera nya dalam mode On agar siap merekam aksi kedua nya.
Mereka tidak menyadari bahwa saat ini Maira ada di dekat mereka, kedua nya masih berpelukan mesra.
"Mas, aku seneng banget loh, akhir nya kita bisa pergi berdua saja dengan uang istri mu. Sudah cukup lama Maira tidak memberikan aku uang lagi!" Nia berkata pada Azam.
"Kamu sabar ya sayang, nanti aku akan coba bujuk Maira lagi agar dia mau memberikan sebagian gaji nya untuk mu seperti dulu!" Jawab Azam
"Mas, Maira kenapa sih berubah jadi pelit banget? Padahal kan dulu gak gitu?" Nia kembali bertanya pada Azam.
"Entah lah sayang, aku juga tidak tahu kenapa Maira bisa berubah ya. Tidak hanya dengan mu, tapi juga terhadap Mama Dan Lara. Maira menolak memberikan uang bulanan buat Mama dan juga Lara lagi, padahal dulu dia begitu royal sama mereka!" Terdengar suara Azam lagi.
"Mas, kapan kamu akan nikahi aku? Aku udah tidak mau lagi setiap malam harus main kucing - kucing dari istri mu itu!" Nia bertanya dengan nada cemberut.
"Tunggu waktu yang tepat dulu sayang, jika Maira kita menikah maka semua nya bisa kacau!" Azam kembali berkata.
"Mas, kenapa sih kamu takut banget sama Maira? Kan kalau dia tahu lebih baik, wanita mandul itu saja mesti di pertahankan kan!" Omel Nia dengan kesal.
Azam tampak menggaruk kepala nya yang tidak gatal, dia tidak bisa berpisah dari Maira sebab cicilan rumah saat ini di bayar oleh Maira.
'Jelas saja kamu takut ketahuan, mas. Kan cicilan rumah setiap bulan aku yang bayar, jika kita berpisah sekarang maka siapa yanh akan membayar cicilan nya?' Batin Maira di dalam hati .
"Lalu kapan dong kamu akan nikahi aku?" Kembali Nia bertanya.
"Kita tunggu saat Maira tidak ada di rumah!" Jawab Azam lagi.
'Baik lah mas, aku akan memberikan kesempatan itu. Kau bisa menikahi ipar mu secepat nya!' Batin Maira di dalam hati.
Arini menyenggol lengan Maira, memberikan kode pada nya. Maira hanya mengangguk kan kepala nya dan mengajak Arini pergi dari sana.
"Suami mu benar - benar tidak tahu malu, sudah tidak memberikan nafkah dan kini malah berani - berani nya selingkuh di belakang mu!" Arini geram dengan tingkah Azam.
"Biarkan saja mereka menikmati waktu kebersamaan mereka, toh setelah ini apa mereka masih bisa tersenyum bahagia!" Maira berkata dengan santai nya.
"Selanjut nya, apa yang akan kau lakukan Mai?" Tanya Arini lagi.
"Aku akan membuat mas Azam menyadari bahwa tanpa aku, dia dan keluarga nya bukan apa - apa. Dan saat dia menyesali semua nya, aki pastikan aku tidak akan ada lagi untuk mereka!" Jawab Maira.
"Eh Mai, tadi kamu bilang mereka semua keluar bareng. Tapi kok aku gak lihat mertua, ipar, serta keponakan mu?" Tanya Arini heran.
"Entah lah aku juga tidak tahu, tadi nya memang mereka keluar bareng!" Jawab Maira lagi.
"Apa mungkin mereka sengaja memisahkan diri, untuk memberikan waktu pada suami mu agar lebih leluasa bersama Nia!" Tebak Arini.
"Mungkin saja Rin, tapi aku tidak perduli. Ya udah yuk, dari pada bahas mereka kita langsung belanja saja!" Ajak Maira.
"Iya ayuk!" Kedua sahabat itu langsung berbelanja seperti rencana awal mereka datang kemari.
Maira tidak perduli dengan apa yang di lakukan oleh Azam dan Nia, Maira bukan lah wanita bodoh yang akan bersikap bar - bar di tempat umum. Hati nya memang sakit dan terluka atas pengkhianatan suami nya, tapi dia tidak ingin menunjuk kan semua itu di depan orang lain.
Bohong jika dia bilang hati nya tidak terluka, tapi Maira tidak ingin luka itu menjadi kelemahan nya yang akan selalu di manfaatkan oleh Azam dan keluarga nya. Dia akan membuktikan bahwa tanpa Azam, dia akan baik - baik saja.
Setelah puas berbelanja, Maira segera pulang dengan di antar kan oleh Arini. Ketika tina di rumah, Maira melihat Mama mertua nya, Lara dan juga Ayu sudah berada di rumah. Tapi Azam dan Nia tak terlihat batang hidung nya.
"Dari mana saja kamu?" Tanya Mama Wina dengan ketus.
"Mama tidak lihat aku dari mana?" Maira balik bertanya sambil mengangkat paper bag di tangan nya hingga ke depan muka Mama Wina.
"Kamu habis belanja ya? Menghabiskan uang anak ku!" ujar Mama Wina lagi dengan ketus.
"Uang anak Mama? Uang yang mana Ma? Mama denger sendiri kan tadi pagi, mas Azam pinjam uang dari ku 3 juta buat kalian semua jalan - jalan. Jadi Mama tahu sendiri dong, bahwa anak Mam itu tidal punya uang!" Balas Maira cepat.
"Semua uang itu pasti uang anak ku yang kamu kuasai sendiri, dasar wanita tidak tahu diri mana mandul lagi!" Umpat Mama Wina.
"Hello Ma, bangun Ma, bangun, jangan banyak mimpi. Uang gaji mas Azam sudah habis untuk lagian semua. Untuk Mama, Lara, Mbak Nia dan juga Ayu. Jadi uang mana yang Mama bilang uang nya mas Asam, dan satu hal lagi Ma. Kenapa aku belum juga hamil sampai sekarang, sebaik nya Mama tanyakan langsung pada putra kesayangan Mama. Jangan asal tuduh!" Jawab Maira dengan geram.
"Dasar menantu kurang ajar, awas ya akan ku adukan kamu sama Azam. Di cerai kan biar tahu rasa kamu!" Ancam Mam Wina.
"Adukan saja Ma, dan sekarang juga Mama mau minta anak Mama buat ceraikan aku, aku terima dengan senang hati Ma!" Tantang Maira dengan suara lantang.
Maira kini sudah muak selalu mengalah dengan mertua nya, rumah tangga nya dan Azam sudah tidak menemukan lagi kedamaian nya semenjak Mam Wina dan Lara ikut tinggal di rumah mereka. Padahal Mama Wina memiliki rumah sendiri, rumah peninggalan almarhum suami nya.
Hanya saja rumah itu tidak sebesar rumah Azam dan Maira, tapi layak untuk di tempati. Rasa iri dan dengki di hati Mama Wina terhadap menantu nya, telah membuat nya memutuskan untuk tinggal di sini. Dia menganggap bahwa Maira lah yang menguasai gaji anak nya, padahal nyata nya tidak seperti itu.
"Kau memang tidak pantas bersanding dengan Azam, Nia lah yang pantas. Kau hanya lah wanita mandul, dan Nia sudah jelas - jelas dia subur dan bisa memberikan aku cucu!" Teriak Mama Wina dengan suara melengking.
Maira tidak menggubris ucapan mertua nya, dia memilih masuk ke dalam kamar nya. Meladeni wanita itu tidak akan ada habis nya, biarlah dia mau bicara apa saja. Jika waktu nya sudah tiba nanti, Maira pastikan dia akan menangis dan memohon pada Maira. Saat waktu itu tiba, Maira sudah bertekad tidak akan pernah luluh lagi.