NovelToon NovelToon
Sanggana1: Perampok Raja Gagah

Sanggana1: Perampok Raja Gagah

Status: tamat
Genre:Action / Petualangan / Barat
Popularitas:214.1k
Nilai: 4.9
Nama Author: Rudi Hendrik

Joko Tenang didedikasikan oleh ayahnya sebagai pendekar pembela kebenaran di dunia persilatan. Menjadi murid tokoh sakti aliran putih Ki Ageng Kunsa Pari membuatnya memiliki kesaktian pilih tanding.

Namun, penyakit keturunan dari kakeknya menjadi kelemahan terbesarnya sebagai seorang pendekar. Ia akan mengalami kelemahan hingga pingsan jika didekati oleh wanita kurang dari tiga langkah, terlebih jika sampai bersentuhan kulit.

Joko Tenang yang masih remaja turut ambil bagian dalam misi penumpasan gerombolan perampok yang suka menyerang desa, merampok harta, dan menculik gadis-gadis perawan desa. Namun, kelompok perampok itu sangat sulit ditemukan dan ditumpas.

Mampukah Joko Tenang menjalani misi pertamanya dalam dunia persilatan? Temukan jawabannya di novel ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rudi Hendrik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

12. Kegalauan Joko Tenang

Perhatian Ki Ageng Kunsa Pari kini tertuju kepada perilaku Joko Tenang, muridnya. Sejak pulang dari desa hingga siang itu, Ki Ageng melihat muridnya tersebut selalu diam menyendiri. Bila disuruh untuk berlatih, selalu tidak ditanggapi dengan ucapan atau tindakan.

Saat itu Joko duduk di atas sebongkah batu menghadap ke hutan sebelah barat. Kunsa Pari datang menghampiri lalu berdiri menghadap ke arah yang sama.

“Wajar bila seusia kau sudah memikirkan suatu masalah, tapi tidak wajar jika kau selalu berdiam diri tanpa mau berbicara sedikit pun. Berpuluh-puluh tahun yang lalu, di masa muda dulu, jika aku alami suatu masalah berat, aku tidak pernah berdiam diri seperti ini. Apa masalahmu, hah?”

“Aku membuat seorang perempuan menangis.”

“Kalau masalahnya hanya karena kau membuat seorang perempuan menangis, lalu kau menyesalinya, itu berarti kau menyukainya. Dalam arti khusus kau mencintainya,” kata Kunsa Pari.

“Apa, Guru?” tanya Joko seraya mendongak memandang wajah gurunya yang tetap lurus memandang hijaunya hutan belantara.

“Itu tandanya kau menyukainya atau mencintainya, atau kau ingin dia menjadi kekasihmu,” ulang Kunsa Pari.

“Bukankah hal seperti itu dilarang oleh Guru?” koreksi Joko.

“Sejak kapan aku melarang hal yang seperti itu?” balik tanya sang guru.

“Guru pernah mengatakan bahwa hal seperti itu bisa melahirkan anak-anak tanpa ayah,” jelas Joko dengan kening mengerut serius.

“Itu berbeda. Yang kau maksud itu adalah memperkosa. Jika mencintai, itu yang dianjurkan di dunia ini agar kedamaian tercipta. Jika ada seorang perempuan, kemudian kau paksa dia dengan cara menikmati tubuhnya, itu sungguh luar biasa dilarang. Itulah yang namanya memperkosa. Jangan sampai, jangan sampai kau melakukan hal bejat seperti itu. Jangankan menikmati tubuh perempuan secara paksa, mencoba menikmati kulitnya sedikit saja, itu sudah tercela. Laki-laki seharusnya menjadi pelindung kulit kaum perempuan dari tangan kotor laki-laki. Sebab, mata laki-laki itu sangat mudah tergiur jika melihat kulit perempuan. Untuk urusan perempuan, laki-laki ada dua jenis. Pertama, laki-laki yang tidak sedikit pun menghargai kesucian yang dimiliki perempuan. Kedua, laki-laki yang menghormati kesucian perempuan....”

“Aku tidak begitu mengerti yang Guru bicarakan,” keluh Joko memotong penjelasan mantap dan berapi-api dari gurunya.

“Tidak apa-apa, tidak apa-apa. Pemuda bening sepertimu memang perlu proses bertahap untuk memahami urusan tentang perempuan seperti ini. Di mananya yang tidak kau paham?” kata Kunsa Pari.

“Gambaran menikmati tubuhnya, Guru. Apakah menikmati itu maksudnya memakan kulit dan dagingnya?” tanya Joko dengan mimik mengerenyit, agak tergidik membayangkan jika seorang lelaki memakan kulit dan daging perempuan.

“Menyentuh. Menyentuh kulitnya saja, itu sudah termasuk arti menikmati. Apa lagi sampai mencicipi dengan bibir dan lidah, itu sudah sungguh keterlaluan. Lelaki seperti itu, moncongnya harus dihajar agar tidak berani-berani lagi,” kata Kunsa Pari yang membuat Joko manggut-manggut.

“Tapi, bukankah aku sudah menyentuhnya,” membatin Joko dalam ketermanggut-manggutannya. Lalu tanyanya lagi kepada sang guru, “Lalu kesucian perempuan itu bentuknya seperti apa Guru? Agar aku bisa menghargai kesucian itu. Lalu, bagaimana cara menghargai kesucian itu?”

“Kesucian perempuan itu adalah batasan. Jika kau menyentuh kulitnya, berarti kau telah melanggar batasan, sama artinya kau telah melanggar kesuciannya. Jika kau menyentuh lebih jauh lagi, itu artinya kau telah menghancurkan kehormatan seorang perempuan,” jelas Kunsa Pari.

“Tapi Guru, seorang perempuan telah menyatakan cintanya kepadaku, membuatku ingin memilikinya. Dan aku telah menyentuhnya, bahkan memeluknya,” ucap Joko lemah dengan wajah menunduk.

“Apa?!” seru Kunsa Pari terkejut. “Kau sampai memeluknya?”

“Gadis itu jatuh dari atas dan menimpaku, sehingga kami berpelukan, bertabrakan wajah. Aku menyentuhnya guru, aku telah melanggar kesuciannya,” ujar Joko dengan nada sedih.

“Hehehe!” Kunsa Pari yang awalnya gusar, mendadak tertawa terkekeh.

Tawa itu membuat Joko mendongak dan memandangi wajah tua gurunya yang tertawa seraya memandangnya.

“Itu namanya kecelakaan, hal yang tidak dikehendaki, kejadian yang tidak disengaja. Jika demikian kondisinya, itu bukan kategori merusak kehormatan dan kesucian seorang perempuan. Kesalahan tidak disengaja seperti itu bisa dimaklumi. Hehehe!” kata Kunsa Pari.

“Tapi yang jadi masalahnya, mendadak aku berubah lemah, kehilangan seluruh tenaga dan hampir mati dengan sendirinya, setelah bersentuhan dengan gadis itu, Guru,” kata Joko, masih memandangi wajah gurunya.

Ekspresi tawa Kunsa Pari mendadak berubah mengerut, menunjukkan bahwa orang tua sakti itu berpikir serius.

“Apakah kau berani mendekati perempuan?” tanya Kunsa Pari dengan tatapan serius.

“Tidak. Aku hanya berani jika jaraknya hanya tiga langkah. Kurang dari itu, aku bisa gemetar dan berkeringat,” jawab Joko lemah lalu kembali memandang ke arah hutan.

“Kondisi yang kau alami itu, setidaknya lebih baik, karena bisa mencegahmu untuk melakukan pelanggaran kesucian seorang perempuan. Namun, pada dasarnya lelaki ditakdirkan berdampingan dengan perempuan, tetapi melalui jalur yang disahkan....”

“Jalur apa itu, Guru?” tanya Joko memotong.

“Pernikahan. Pernikahan adalah kunci yang dibenarkan untuk menyentuh seorang perempuan yang dipilih, karena dengan pernikahan, seorang lelaki memiliki si perempuan dan sebaliknya, si perempuan memiliki si lelaki. Yang artinya, meski apa yang kau alami saat ini jika berdekatan dengan perempuan adalah baik bagimu, tapi kau pun harus bisa menghilangkan sifat takut itu, karena suatu masa nanti kau akan membutuhkan untuk memiliki seorang perempuan yang kau cintai,” ujar Kunsa Pari.

“Baik, Guru, aku paham,” kata Joko akhirnya. Ia lalu bangkit berdiri, tapi tidak pergi.

“Pergilah ke desa. Minta maaflah kepada gadis yang tidak sengaja kau sentuh itu. Jika kau mencintainya, maka lindungilah dia!” perintah Kunsa Pari.

“Baik, Guru!” jawab Joko dengan senyum senang.

“Beri makan dulu Jokeng!” suru Kunsa Pari.

“Kan ada Goceng, Guru,” kilah Joko. “Aku pergi dulu, Guru.”

“Joko...!”

Sebelum Joko berlari pergi, seseorang tiba-tiba memanggil dari jarak yang agak jauh. Joko dan Ki Ageng Kunsa Pari berpaling ke belakang. Keduanya melihat Gujara datang bersama Joko Tingkir dan Parsuto. Tampak Parsuto berjalan terpincang dengan bantuan tongkat kayu.

Melihat kondisi Parsuto, Joko Tenang merasa heran. Kedatangan Gujara dan Tingkir adalah hal yang tidak mengherankan, tapi membuat bertanya-tanya jika melihat Parsuto. Sebab, terakhir bertemu ia masih sehat bugar. Joko pun segera berlari menyongsong kedatangan mereka.

“Apa yang terjadi denganmu, Par? Sampai bengkak seperti ini wajahmu,” tanya Joko setelah tiba di depan Parsuto. Ia menyentuh wajah lebam Parsuto dengan tangan kanannya.

“Aw! Jangan pegang-pegang!” pekik Parsuto.

“Para perampok telah membunuh Bira, Joko,” ujar Parsuto.

“Apa?” kejut Joko, tapi kemudian dia berubah terkekeh. “Kau jangan mencandaiku dengan kondisimu yang seperti ini.”

“Benar, Joko. Semalam gerombolan Perampok Raja Gagah menyerang desa, membakar rumah penduduk, menjarah harta, dan menculik para wanita,” tandas Tingkir.

“Apa yang terjadi, Gujara?” tanya Kunsa Pari yang baru tiba kepada mereka, meski ia sudah mendengar apa yang dikatakan oleh Joko Tingkir.

“Perampok Raja Gagah menyerang desa semalam, Ki Ageng,” jawab Gujara. “Selain sadis, ternyata mereka bekerja cepat dan sulit diatasi jika jumlah kami sedikit.”

“Mereka juga menculik Curaina, Limarsih dan Kusuma Dewi, Joko,” kata Parsuto.

“Apa?!” pekik Joko dengan nada lebih tinggi dari keterkejutan sebelumnya. “Mereka menculik Kusuma Dewi?!”

“Juga Limarsi dan Cucur!” tandas Tingkir.

Terlihat wajah tampan belia berbibir merah Joko menunjukkan kemarahan yang tinggi. Sepuluh jemari tangannya mengepal kuat.

“Guru! Para perampok itu menculik gadis yang mencintaiku, Guru. Kita harus cepat menyelamatkannya!” kata Joko kepada Kunsa Pari dengan nada setengah berteriak.

Perkataan Joko yang berbunyi “gadis yang mencintaiku” membuat Joko Tingkir dan Parsuto agak terkejut, lalu saling pandang tanpa dialog. Itu berarti, salah satu dari ketiga gadis sahabat mereka yang diculik oleh Perampok Raja Gagah telah menjalin hubungan dengan Joko tanpa sepengetahuan mereka.

“Apakah Joko dan Limarsih sudah menjadi sepasang kekasih? Bukankah Limarsih adalah kekasihku?” membatin Joko Tingkir.

“Tenang, Joko. Seorang pendekar tidak boleh menuruti emosi dan kemarahannya dalam waktu sekejap. Tindakan harus dilakukan jika emosi sudah bisa terkendali. Jika kau bertindak di saat emosimu berada di ubun-ubun, itu tidak baik dan justru akan merugikan,” kata Kunsa Pari menasehati. “Yang kita hadapi bukan satu orang, tapi banyak orang dan sangat berbahaya. Terlebih, kita belum tahu di mana mereka berada. Jika hanya mengandalkan apa yang kalian miliki, itu tidak cukup untuk menyelamatkan para gadis kalian.”

“Kita memang kekurangan kekuatan. Perampok Raja Gagah semalam menyerang desa dengan cara yang berbeda dari yang sering aku dengar. Mereka menyerang seperti setan. Aku hanya bisa membunuh beberapa anggota mereka dan gagal mengorek keterangan. Seorang anggotanya yang berhasil aku lumpuhkan, lebih memilih mati dari pada membocorkan lokasi sarang mereka,” ujar Gujara.

“Tapi aku harus meminta maaf kepadanya, Guru!” kata Joko terdengar agak merengek.

“Joko, siapa sebenarnya yang kau maksud itu?” tanya Tingkir penasaran.

“Tidak akan aku beri tahu, nanti kau malah mengincar gadisku,” kata Joko.

“Aku harus tahu, siapa yang sangka gadis yang kau cintai itu adalah gadisku!” kata Tingkir dengan nada agak tinggi dan ekspresi serius.

Agak terkejut Joko mendengar kata-kata Tingkir. Sementara Parsuto hanya diam memandangi kedua Joko itu. Kunsa Pari dan Gujara jadi beralih kepada Joko dan Tingkir.

“Ini bukan urusan remeh jika dua sahabat dan dua pendekar muda berebut perempuan. Ini harus segera dituntaskan daripada mengganggu jalannya misi penyelamatan,” kata Gujara.

“Tingkir, siapa nama gadis yang ingin kau selamatkan?” tanya Kunsa Pari.

“Limarsih, Ki Ageng,” jawab Tingkir mantap yang membuat sepasang mata Parsuto agak melebar.

“Kau, Joko?” tanya Kunsa Pari lagi.

“Kusuma Dewi, Guru,” jawab Joko pelan, masih menyimpan kesal. Jawaban Joko kian membuat Parsuto terkesiap dalam diamnya.

“Dan kau, anak muda?” tanya Kunsa Pari kepada Parsuto.

“Eee... anu....” Parsuto jadi gelagapan, tak disangka jika ia juga ditanya. Sebab, sejak dulu hatinya tertarik dengan Limarsih dan Kusuma Dewi. Parsuto memang lebih lama bersabat dengan kedua kakak beradik itu, dibandingkan Joko yang baru beberapa hari lalu kenal keduanya. Sementara Tingkir baru kenal kemarin.

“Cucur!” seru Joko dan Tingkir bersamaan, menyebut sebutan baru bagi Curaina, anak Ki Lurah.

Parsuto tidak bisa berkata apa-apa lagi, ia hanya tersenyum kuda. Mau tidak mau, ia hanya punya misi untuk menyelamatkan Curaina, anak Ki Lurah.

“Daripada tidak ada,” kata Parsuto dalam hati.

“Kita harus bergerak, Guru. Kekurangan kekuatan tidak boleh menjadi alasan bagi kita untuk bergerak lambat atau tidak sama sekali!” kata Joko Tenang tiba-tiba penuh semangat, hingga-hingga yang lainnya terpana terkejut.

“Hehehe!” Kunsa Pari akhirnya terkekeh. Lalu pujinya, “Itu baru muridku.”

“Aku setuju, Paman. Menyelamatkan kehormatan para gadis itu adalah misi mulia!” sahut Tingkir pula.

Gujara hanya mengangguk seraya tersenyum.

“Mari kita ke gubuk,” ajak Kunsa Pari lalu berjalan lebih dulu menuju gubuk reot yang ada. (RH)

1
Muhamad Yasri
Luar biasa
Ling Kun menghilang
wkwkwk jantungnya Joko sabar Joko😂
Om Rudi: terima kasih
total 3 replies
Ling Kun menghilang
kasian siapa yang perduli nya itu untuk minta tolong
Hadijah Nadia
👍👍👍👍👍🌹🌹🌹🌹🌹
❤️⃟Wᵃfѕ⍣⃝✰ʀᴏs•§͜¢•ˢ⍣⃟ₛ ✰͜͡𝔳᭄
wah joko yg menyelamatkan kusuma ya. keren
❤️⃟Wᵃfѕ⍣⃝✰ʀᴏs•§͜¢•ˢ⍣⃟ₛ ✰͜͡𝔳᭄
waduh kusuma dewi beraksi. ngga bahaya ta buat dia
❤️⃟Wᵃfѕ⍣⃝✰ʀᴏs•§͜¢•ˢ⍣⃟ₛ ✰͜͡𝔳᭄
wkwkwk kebayang adegannya kaya apa😂😂
❤️⃟Wᵃfѕ⍣⃝✰ʀᴏs•§͜¢•ˢ⍣⃟ₛ ✰͜͡𝔳᭄
anak manusia masa anak setan ih
❤️⃟Wᵃfѕ⍣⃝✰ʀᴏs•§͜¢•ˢ⍣⃟ₛ ✰͜͡𝔳᭄
berani juga si parsuto sm centeng ki lurah.. awas hati2 nanti kena hajar kau
❤️⃟Wᵃfѕ⍣⃝✰ʀᴏs•§͜¢•ˢ⍣⃟ₛ ✰͜͡𝔳᭄
wah tdi beli monyet,sekarang lagi nawar burung. mau buat kebun binatang ya
❤️⃟Wᵃfѕ⍣⃝✰ʀᴏs•§͜¢•ˢ⍣⃟ₛ ✰͜͡𝔳᭄
emangnya apa yg lagi di cari sih joko..
❤️⃟Wᵃfѕ⍣⃝✰ʀᴏs•§͜¢•ˢ⍣⃟ₛ ✰͜͡𝔳᭄
jaman dulu ki lurah punya tukang pukul.. kok sekarang ngga ya
❤️⃟Wᵃfѕ⍣⃝✰ʀᴏs•§͜¢•ˢ⍣⃟ₛ ✰͜͡𝔳᭄
buat apa joko membeli monyet..?
❤️⃟WᵃfMita◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ℘ℯ𝓃𝓪
sungguh kasihan siapa yang kelak dapat menumpas Rombongan biaadab ini?
❤️⃟WᵃfMita◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ℘ℯ𝓃𝓪
sadeees ini rombongan raja gagah
❤️⃟WᵃfMita◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ℘ℯ𝓃𝓪
gerombolan ini sangat licin susah dibasmi dan ditangkap ya
❤️⃟WᵃfMita◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ℘ℯ𝓃𝓪
Hmm nama pangeran yang Unic
❤️⃟WᵃfMita◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ℘ℯ𝓃𝓪
ini pasti gerombolan perampook
❤️⃟Wᵃfѕ⍣⃝✰ʀᴏs•§͜¢•ˢ⍣⃟ₛ ✰͜͡𝔳᭄
nah hanyut kan bolanya. mainnya jangan di pinggir sungai ya..jd ngga masuk ke kali tuh bola
❤️⃟Wᵃfѕ⍣⃝✰ʀᴏs•§͜¢•ˢ⍣⃟ₛ ✰͜͡𝔳᭄
nah..kena temennya kan bolanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!