Kanaya "Naya" Larasati (24) adalah seorang ilustrator buku anak yang berjiwa bebas, sedikit ceroboh, dan sangat anti pada aturan yang kaku. Hidupnya jungkir balik ketika neneknya yang sedang sakit keras memiliki satu permintaan terakhir: melihat Naya menikah dengan cucu sahabat lamanya.
Dhandy "Dhan" Abimanyu (29) adalah seorang CEO perusahaan properti yang dingin, gila kerja, gila kebersihan (clean freak), dan hidupnya terjadwal hingga ke menit. Bagi Dhan, pernikahan adalah sebuah kontrak bisnis untuk menenangkan keluarganya agar ia bisa fokus bekerja.
Ketika dua kutub yang berlawanan ini dipaksa tinggal di bawah satu atap apartemen mewah di Jakarta Selatan, "Perang Dunia Ketiga" pun dimulai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12: Celana Dalam Berbaris Rapi dan Robot yang Rusak
Rabu pagi. Matahari bersinar cerah, secerah wajah Kanaya Larasati yang baru saja bangun dari tidur panjangnya.
Naya meregangkan tubuhnya. Tulang-tulangnya berbunyi krek pelan. Dia meraba dahinya sendiri. Dingin. Pusing di kepalanya sudah hilang, dan rasa mual di perutnya sudah berganti menjadi rasa lapar yang ganas.
"Sembuh!" sorak Naya pelan.
Dia menoleh ke samping. Sisi kasur di sebelahnya kosong dan rapi. Sprei ditarik kencang tanpa kerutan sedikit pun, seolah tidak pernah ada manusia (baca: Dhandy) yang tidur di sana semalam.
Ingatan Naya agak kabur. Dia ingat Dhandy menyuapinya bubur. Dia ingat merengek minta jangan ditinggal. Lalu... samar-samar dia ingat aroma citrus dan musk yang menenangkan, serta sesuatu yang hangat dan kokoh yang dia peluk seperti guling raksasa.
"Mimpi kali ya?" gumam Naya. "Mana mungkin si Kulkas mau dipeluk-peluk. Paling dia tidur di sofa."
Naya turun dari kasur dengan semangat. Dia melirik kotak Lapis Surabaya di nakas. Target terkunci. Sarapan.
Namun, saat Naya hendak melangkah ke kamar mandi, langkahnya terhenti. Dia memandang sekeliling kamarnya. Ada yang aneh.
Sangat aneh.
Kemarin, sebelum dia tumbang karena demam, kamarnya adalah kapal pecah. Baju-baju kotor berserakan di lantai, tisu bekas ingus di mana-mana, gelas kotor di meja rias, dan tas belanjaan yang belum dibongkar isinya tumpah ruah.
Tapi pagi ini?
Lantai marmer itu berkilau bersih. Tidak ada sampah tisu. Gelas kotor sudah lenyap. Tas belanjaan sudah rapi di sudut.
Dan yang paling mengerikan... pintu lemari pakaiannya sedikit terbuka, memperlihatkan isinya yang tertata... terlalu rapi.
Naya mendekat dengan perasaan was-was. Jantungnya berdebar kencang.
Dia membuka laci paling atas. Laci pakaian dalam.
"HAAAAH?!"
Teriakan Naya menggema sampai ke ruang tamu.
Di dalam laci itu, koleksi pakaian dalam Naya—mulai dari yang katun polos bergambar beruang, sampai yang renda-renda (bawaan seserahan)—tersusun rapi. Sangat rapi. Dilipat menjadi bentuk kotak-kotak kecil yang presisi, disusun berdasarkan gradasi warna dari nude, pink, sampai hitam. Jarak antar lipatan bahkan terlihat konsisten, mungkin diukur pakai penggaris.
Naya menutup mulutnya dengan tangan, wajahnya memerah padam sampai ke leher.
Hanya ada satu tersangka di apartemen ini yang memiliki obsesi kerapian tingkat dewa seperti ini.
"MAS DHANDYYYY!"
Dhandy sedang duduk di meja makan, menikmati espresso paginya sambil membaca berita saham di iPad. Dia sudah mandi, wangi, dan rapi dengan kemeja putih yang digulung sesiku.
Mendengar teriakan namanya yang bernada histeris itu, Dhandy tidak tersedak. Dia hanya meletakkan cangkirnya dengan tenang.
Hitung mundur, batin Dhandy. Tiga... dua... satu...
Naya muncul dari lorong kamar dengan wajah semerah kepiting rebus dan rambut yang masih acak-acakan. Dia menunjuk-nunjuk ke arah kamar dengan jari gemetar.
"Mas... Mas masuk kamar saya?!" tuduh Naya, suaranya naik satu oktaf.
"Selamat pagi juga, Naya. Syukurlah demam kamu sudah turun, suaramu sudah kembali cempreng," sapa Dhandy santai, tidak menoleh dari iPad.
"Jangan alihkan topik! Mas beresin kamar saya?!"
"Lebih tepatnya, saya melakukan fumigasi dan sterilisasi area bencana," koreksi Dhandy. "Saya tidak bisa tidur nyenyak mengetahui ada tumpukan tisu bekas penuh bakteri dan baju kotor yang terfermentasi di ruangan sebelah."
"Tapi... tapi..." Naya gagap karena malu. "Mas nyentuh... itu? Laci paling atas?"
Dhandy akhirnya menoleh. Wajahnya datar, tanpa ekspresi malu sedikit pun.
"Laci pakaian dalam?" tanya Dhandy blak-blakan.
Naya menjerit tanpa suara, menutup wajahnya dengan kedua tangan. "Mas Dhandy mesuuuum!"
"Apa yang mesum?" Dhandy mengerutkan kening, terlihat tersinggung. "Saya melipat kain. Bagi saya, itu sama saja dengan melipat sapu tangan atau kaos kaki. Bedanya hanya luas permukaan dan elastisitas karet pinggang."
"Itu privasi, Mas! Itu... celana dalem! Ada gambar beruangnya lagi!" Naya ingin menangis rasanya. Image-nya sebagai wanita dewasa (yang coba dia bangun di depan Dhandy) hancur lebur.
"Oh, yang gambar beruang itu bahan katunnya sudah agak melar. Saya sarankan dibuang dan ganti baru," komentar Dhandy dengan nada analitis murni. "Yang renda hitam dari seserahan Mama itu lebih berkualitas. Harusnya kamu pakai yang itu."
"AAAARGH! DIEM!" Naya melempar bantal sofa ke arah Dhandy.
Dhandy menangkap bantal itu dengan satu tangan, refleksnya luar biasa.
"Naya, dengar," Dhandy meletakkan bantal itu di kursi sebelahnya. Dia berdiri, berjalan mendekati Naya yang masih menutupi wajah.
"Saya suami kamu. Secara teknis dan hukum. Melihat atau memegang pakaian dalam istri sendiri bukanlah tindakan kriminal, apalagi mesum," jelas Dhandy logis. "Saya melakukannya karena kamu sakit, dan Asisten Rumah Tangga harian baru datang besok. Saya tidak tahan melihat berantakan. Jadi, daripada saya stres, saya bereskan. Paham?"
Naya mengintip dari sela-sela jarinya. "Beneran Mas nggak... ngerasa aneh?"
"Aneh kenapa?"
"Ya... kan itu... intim."
Dhandy terdiam sejenak.
Sebenarnya, Dhandy bohong. Saat melipat benda-benda mungil berenda itu semalam, telinganya panas dan jantungnya berdetak tidak karuan. Dia harus merapal tabel periodik unsur kimia berkali-kali supaya otaknya tidak melantur ke mana-mana. Tapi tentu saja, dia tidak akan mengakui itu di depan Naya. Harga diri CEO dipertaruhkan.
"Saya sudah biasa menghadapi situasi krisis. Anggap saja itu manajemen logistik," jawab Dhandy diplomatis.
Naya menurunkan tangannya, menatap Dhandy curiga. Tapi melihat wajah Dhandy yang datar seperti tembok, Naya akhirnya menghela napas pasrah.
"Ya udah. Makasih. Lain kali jangan sentuh lagi. Biarin berantakan."
"Tidak janji. Kalau berantakan melebihi ambang batas toleransi saya, akan saya bakar," ancam Dhandy.
"Kejam!"
"Makan," Dhandy menunjuk meja makan. "Saya sudah potongkan Lapis Surabaya pesanan kamu. Dan segelas susu hangat."
Mata Naya langsung berbinar melihat piring kecil berisi tiga potong kue lapis legit berwarna kuning-cokelat itu. Rasa malunya menguap, digantikan oleh nafsu makan.
"Yeay! Spikoe!" Naya berlari ke kursi makan, duduk, dan langsung menyomot sepotong kue.
Dia menggigitnya. "Hmm! Enak banget! Lembut, manis, kismisnya pas!"
Dhandy duduk kembali di kursinya, memperhatikan Naya makan dengan lahap. Sudut bibirnya berkedut sedikit.
"Pelan-pelan. Nanti tersedak."
"Mas mau?" Naya menyodorkan potongan kuenya yang sudah digigit.
Dhandy menatap kue bekas gigitan itu dengan tatapan horor. "Itu bekas air liur kamu. Kontaminasi silang."
"Ih, jijikan banget sih. Kita kan udah nikah. Ciuman aja boleh, masa makan bekas gigitan nggak boleh?" celetuk Naya asal.
Hening.
Naya tersedak kuenya sendiri. Uhuk!
Dia baru sadar apa yang baru saja dia ucapkan.
Dhandy menatapnya intens. "Kamu... mau ciuman?"
Wajah Naya memerah lagi, kali ini lebih parah dari insiden celana dalam. "Eng-enggak! Maksudnya... secara teori! Secara hukum! Kan Mas bilang tadi kita suami istri sah!"
Dhandy bersandar di kursinya, melipat tangan di dada. Tatapannya menjadi jahil—sesuatu yang baru bagi Naya.
"Secara teori, benar," kata Dhandy pelan. "Tapi di kontrak kita Pasal Pamungkas, dilarang jatuh cinta. Tidak ada pasal larangan kontak fisik, sih."
Naya menelan ludah. Kenapa suhu ruangan jadi panas?
"Ta-tapi kan kita sepakat profesional!" Naya membela diri panik.
Dhandy berdiri, mengambil tisu, lalu mencondongkan tubuhnya ke arah Naya melintasi meja. Wajahnya mendekat.
Naya mematung. Dia mau ngapain? Dia mau nyium gue beneran? Ya Tuhan, napasnya wangi kopi.
Dhandy semakin dekat. Naya memejamkan mata erat-erat, bibirnya gemetar.
Dhandy tersenyum miring. Dia mengusap sudut bibir Naya dengan tisu.
"Ada remah kue," bisik Dhandy.
Naya membuka mata. Dhandy sudah menarik diri kembali, berdiri tegak dengan wajah puas karena berhasil mengerjai istrinya.
"Pikiran kamu yang mesum, Naya," kata Dhandy sambil membuang tisu itu ke tempat sampah. "Habiskan makanannya. Saya mau berangkat kerja. Kamu istirahat hari ini. Jangan keluyuran."
Naya melongo. Sialan. Gue dikerjain.
"Mas Dhandy nyebelin! Robot rusak!" teriak Naya sambil melempar remah kue ke arah Dhandy (yang tentu saja tidak kena).
Dhandy hanya melambaikan tangan tanpa menoleh, berjalan menuju pintu keluar. "Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam! Hati-hati di jalan! Awas nabrak tiang listrik!"
Pintu tertutup.
Dhandy berdiri di koridor apartemen, menunggu lift. Dia menyandarkan punggungnya ke dinding, lalu menghembuskan napas panjang yang sejak tadi dia tahan.
Dia memegang dadanya. Jantungnya berdetak kencang sekali.
Saat wajahnya dekat dengan wajah Naya tadi... dia nyaris—benar-benar nyaris—khilaf untuk mencium bibir gadis itu yang belepotan kue.
"Fokus, Dhandy. Fokus," gumamnya pada diri sendiri, memijat pelipisnya. "Dia pasien baru sembuh. Jangan ambil kesempatan."
Tapi kemudian dia teringat ekspresi Naya yang malu-malu dan pipinya yang merah.
Dhandy tersenyum lebar. Senyum yang benar-benar lepas, tanpa ada yang melihat.
"Lucu," bisiknya.
Di dalam apartemen, Naya masih duduk bengong memegang Lapis Surabaya.
"Dia tadi senyum nggak sih pas bersihin bibir gue?" tanya Naya pada udara kosong. "Atau gue halusinasi efek obat?"
Naya mengunyah kuenya dengan agresif.
"Awas aja lo, Mas. Gue bales nanti. Liat aja, gue bakal bikin lo bertekuk lutut dan memohon cinta gue!" tekad Naya dramatis, meski dalam hati dia tahu... mungkin dia yang akan bertekuk lutut duluan kalau Dhandy terus-terusan bersikap manis-tapi-nyebelin begini.
Naya mengambil ponselnya, membuka grup WhatsApp sahabat-sahabatnya.
Naya: GUYS! EMERGENCY! LAKI GUE NGLIPETIN CELANA DALEM GUE!
Sisil: HAH?! Demi apa?! Rapi nggak?
Naya: Rapi banget anjir! Kayak origami!
Tia: Itu namanya suami idaman, Nay! Pertahankan! Langka itu spesies kayak gitu!
Naya tertawa membaca balasan teman-temannya. Dia melihat sekeliling apartemen mewah yang dingin itu. Anehnya, hari ini tempat ini terasa sedikit lebih hangat. Sedikit lebih... rumah.
Mungkin karena ada jejak Dhandy di setiap sudutnya—termasuk di laci pakaian dalamnya.
...****************...
Bersambung....
Terima kasih telah membaca📖
Jangan lupa bantu like komen dan share❣️