NovelToon NovelToon
A DEAL WITH COLD PROFESSOR

A DEAL WITH COLD PROFESSOR

Status: tamat
Genre:Dosen / CEO / Dijodohkan Orang Tua / Romansa / Nikah Kontrak / Roman-Angst Mafia / Tamat
Popularitas:14.2k
Nilai: 5
Nama Author: Mikaelach09

Namanya Sekar Senjani Paramitha-gadis berparas lembut yang tengah menapaki tahun terakhir kuliahnya di sebuah universitas ternama di ibu kota. Namun, menjelang akhir perjalanannya, hidup justru berbalik arah. Sang ayah terjerat mabuk dan judi, meninggalkan luka yang tak kasatmata, sementara sang ibu yang rapuh harus berbaring di rumah sakit akibat hipertensi yang kian memburuk.

Di tengah hari-hari yang penuh sesak dan nyaris tanpa cahaya, hadir seorang lelaki dengan tatapan teduh sekaligus menyimpan misteri-Althaf Arsakha Dirgantara. Ia menawarkan sebuah kesepakatan pernikahan: pernikahan tanpa cinta, hanya ikatan di atas kertas, namun dengan konsekuensi yang tidak bisa Senja bayangkan.

Kegundahan pun menyeruak di hati Senja. Sebab lelaki itu bukan hanya orang asing... melainkan dosennya sendiri.

Akankah Senja menerima tawaran pernikahan yang bisa menyelamatkan keluarganya, meski harus mempertaruhkan masa depannya sendiri? Atau menolak, dan menyaksikan hidupnya runtuh perlahan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mikaelach09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB SEBELAS

Tanpa peringatan, bibir Althaf menekan bibirku.

Aku terkejut. Mataku membelalak, tubuhku menegang. Tidak ada kelembutan di sana. Tidak ada kasih sayang. Hanya ada desakan yang kasar, penuh amarah, seolah ia ingin menghukumku dengan caranya sendiri.

Aroma alkohol begitu pekat menyergap inderaku, bercampur dengan hangat napasnya yang terburu-buru. Gelas yang tadi ia letakkan di meja masih meninggalkan bau pahit di lidahku ketika ciumannya memaksa masuk.

Tanganku refleks mendorong dadanya, namun genggamannya di pinggangku begitu kuat. Aku tak bisa ke mana-mana. Tubuhku seakan terperangkap dalam kurungan besi, membuat dadaku sesak dan sulit bernapas.

Air mataku jatuh deras. Ciuman itu membuatku semakin hancur. Bibirku terasa perih, hatiku lebih perih lagi.

Kenapa, Mas… kenapa sampai begini?

Aku bukan merasa dicintai, aku merasa dilukai. Getaran amarah dan kepedihan yang ditumpahkannya lewat ciuman itu menusuk sampai ke tulang sumsumku.

Aku berusaha menggeleng, berusaha melepaskan diri, namun semakin aku menolak, semakin kuat ia menahanku. Suara isak kecil lolos dari tenggorokanku, tertelan dalam benturan bibir yang dipenuhi rasa sakit.

Akhirnya, dengan sisa tenaga yang kupunya, aku menekan dadanya sekuat-kuatnya. Tubuhku bergetar, nafasku tersengal, wajahku basah oleh air mata.

Ciuman itu bukan lagi sekadar sentuhan bibir—itu adalah luka. Luka yang akan meninggalkan bekas jauh lebih dalam daripada sekadar rasa sakit di tubuh.

Althaf masih menatapku dengan mata merah dan sendu, entah karena amarah, entah karena pengaruh alkohol. Napasnya berat, dadanya naik turun, tangannya masih erat menahan pinggangku seakan aku akan kabur jika ia lepaskan.

“Kenapa, Senjani…” suaranya pecah, nyaris berbisik, “…kenapa kamu selalu bikin saya gila begini?”

Aku ingin menjawab, ingin membela diri, tapi suaraku tercekat oleh gumpalan isak di tenggorokan. Air mataku jatuh lagi, membasahi wajahku yang kini hanya sejengkal dari wajahnya.

Tanpa memberi kesempatan padaku untuk mengelak, Althaf menarik tubuhku lebih rapat lagi. Aku merasa terperangkap—antara marah, takut, tapi juga sakit hati mendengar kata-katanya.

“Mas, tolong… jangan seperti ini…” lirihku, hampir tak terdengar.

Namun bukannya melemah, genggamannya semakin erat. Dalam satu tarikan kasar, Althaf menyeretku menuju kamar, langkahnya berat namun pasti. Aku meronta, tapi rontaanku kalah kuat. Di dalam diriku ada suara kecil yang ingin menolak, namun ada juga luka besar yang membuat kakiku seakan lumpuh, tidak mampu menolak sepenuhnya.

Entah bagaimana aku sudah berada di kamar Althaf. Nafasku masih tersengal, jantungku berpacu begitu cepat hingga hampir menyakitkan. Begitu pintu tertutup, tubuhku langsung terdesak pada permukaannya yang dingin. Bayangan Althaf menjulang di hadapanku, sorot matanya redup namun membara—seolah menahan badai yang sebentar lagi pecah.

Tanpa aba-aba, bibirnya menempel pada bibirku. Tergesa, keras, dan penuh dengan emosi yang sulit kuterjemahkan. Ada amarah di sana, ada kecemburuan, ada luka—tapi di balik semuanya aku bisa merasakan sesuatu yang jauh lebih dalam.

Aku tercekat. Tubuhku menegang, tidak siap menerima desakan yang begitu tiba-tiba. Namun saat ciumannya semakin menuntut, lidahnya menyapu bibirku seolah memaksaku membuka diri, aku tak lagi mampu melawan. Ciuman Althaf terasa vagai sengtan listrik ketika bibirnya menghisap bibirku. Ciuman Althaf keras.  Tanpa ampun, dan menuntut. Membuai bibirku untuk membalas ciumannya.

Apa malam ini… aku benar-benar akan menjalankan kewajibanku sebagai seorang istri?

Pertanyaan itu bergema di kepalaku, membuatku semakin gugup. Dengan amatir aku mencoba membalas ciumannya, kaku dan canggung, seolah takut melakukan kesalahan. Namun justru karena itu, aku mendengar suara geraman tertahan keluar dari dada Althaf. Suara rendah yang membuatku merinding, membuat lututku hampir lemas.

Ciumannya semakin dalam. Kini bukan sekadar amarah, tapi juga kerinduan yang meledak-ledak. Nafas kami saling bertubrukan, hangat dan memburu. Tangannya merayap ke wajahku, menangkup pipiku dengan lembut meski gerakannya bergetar. Jemarinya seakan takut aku menjauh, takut aku lenyap dari hadapannya.

Aku memejamkan mata, membiarkan diriku larut dalam hangatnya dekapan Althaf. Jantungku berdentum kencang, berpacu dengan detak dadanya yang kurasakan jelas saat tubuhnya semakin erat menempel padaku. Seolah dunia mengecil, menyisakan hanya kami berdua dalam ruang penuh gejolak ini.

Bibir Althaf perlahan turun, menelusuri pipiku hingga tiba di leher. Sentuhan lembut itu membuat tubuhku bergetar hebat. Setiap hisapan pelan di kulitku menimbulkan sensasi aneh yang belum pernah kurasakan sebelumnya, seperti gelombang halus yang terus menjalar hingga ke ujung jemariku.

“Mas…” lirihku nyaris tak terdengar, seakan suaraku sendiri tercekik oleh desiran yang tak mampu ku kendalikan.

Althaf mengangkat wajahnya sebentar, menatapku dengan mata yang berkilat penuh emosi. Ada luka di sana, ada amarah, tapi juga kerinduan yang begitu dalam. Tatapannya membuatku merasa seakan aku adalah satu-satunya yang ia butuhkan malam ini.

Tangan besarnya perlahan turun dai pipiku, tanpa aba-aba tangannya masuk ke dalam kemeja longgar yang aku kenakan, tangannya menyentuh payudaraku lembut yang  membuat tubuhku semakin bergetar tak  karuan,  hangatnya kulitnya berpadu dengan debaran jantungku yang semakin tak menentu. Nafasnya berat, membelai wajahku, sebelum akhirnya bibirnya kembali menemukan bibirku. Kali ini lebih dalam, lebih mendesak, namun tetap ada kelembutan yang menahan amarahnya agar tak meluap.

“Saya menginginkanmu malam, Senjani…,”

...***...

Pagi ini aku berangkat lebih cepat dari biasanya. Ada sesuatu yang membuat langkahku terasa canggung, seolah-olah ada beban yang menempel di dadaku. Aku bahkan tak berani menatap wajah Althaf. Rasa malu—atau mungkin takut—membuatku memilih berbohong pada Mbok Mirna, berdalih aku ada janji sarapan dengan teman di kampus, padahal sebenarnya aku hanya ingin menghindar.

Bayangan semalam masih begitu jelas di kepalaku. Semuanya terjadi begitu cepat, terlalu tiba-tiba. Dalam keadaan sadar atau tidak, aku dan Althaf akhirnya melewati batas itu. Untuk pertama kalinya, aku resmi menjalankan kewajibanku sebagai seorang istri.

Tapi caranya… terasa tergesa, penuh desakan. Althaf seakan diburu oleh sesuatu yang tak kumengerti. Dan aku… aku hanya bisa diam, pasrah, tubuhku kaku seperti kayu, meski jujur ada bagian dari diriku yang ikut larut dalam hangatnya pelukan itu. Aku menikmati, tapi sekaligus merasa asing.

Yang paling membuatku bimbang adalah kenyataan bahwa aku sama sekali tak tahu apakah Althaf juga merasakannya, atau dia hanya melampiaskan sesuatu yang menekan batinnya. Aku terlalu amatiran, terlalu canggung—mungkin hanya terlihat seperti perempuan bodoh yang tak tahu harus berbuat apa.

Saat semua usai tertidur pulas di sampingku. Tanpa satu kata pun. Tanpa menoleh padaku. Sementara aku duduk dalam gelap, mengumpulkan helai-helai pakaian yang tercecer di lantai. Pipi panas, bukan hanya karena malu, tapi juga karena aku teringat bagaimana kemeja tipis yang kupakai semalam sempat dirobek dengan kasar oleh tangannya.

Aku bertanya dalam hati… apakah itu bisa disebut bercinta, jika tak ada cinta yang mendasarinya?

Di kampus, langkahku terasa ringan di luar, tapi hatiku berat luar biasa. Aku mencoba menutupi semuanya dengan senyum kecil pada Layla dan Revan yang sudah duduk di tangga fakultas. Namun dalam benakku, bayangan semalam terus berputar, menghantui setiap helaan napas.

Setiap kali aku memejamkan mata, aku masih bisa merasakan desakan Althaf, caranya memelukku, cara bibirnya mendesak tanpa memberi ruang untukku bernapas. Itu bukan kelembutan… lebih seperti ledakan emosi yang memaksa masuk ke dalam tubuhku. Dan aku… aku membiarkan semuanya terjadi, padahal hatiku tak pernah benar-benar siap.

"Senja, lo nggak apa-apa?" suara Layla menyentakku dari lamunan. Aku buru-buru menggeleng, memaksakan senyum. "Gue cuma kurang tidur," jawabku singkat. Padahal bukan kurang tidur yang membuat mataku sembab, tapi tangisan lirih yang tak bisa kucegah ketika aku memandangi punggung Althaf yang terlelap semalam.

Sejenak aku ingin menceritakan semuanya pada Layla atau Revan—tentang betapa asingnya aku dengan peranku sendiri sebagai seorang istri, tentang betapa kosongnya aku meski sudah menyerahkan tubuhku. Tapi lidahku kelu. Ada perasaan malu, juga takut. Bagaimana jika mereka meniliku lemah? Atau lebih buruk… murahan?

Beberapa menit kemudian, kami sudah sampai di kelas. Aku meletakkan tas di meja, berusaha menenangkan diri, tapi jantungku tetap berdegup tak karuan. Revan dengan santai ikut duduk di sampingku. Aku sontak menoleh ke arahnya dengan ekspresi penuh tanya.

“Loh, Van… lo kan nggak ambil mata kuliah Pak Alif?” tanyaku lirih, tak bisa menyembunyikan keheranan.

Revan ikut menatapku bingung, lalu menoleh pada Layla yang duduk dua baris di depan. Seolah mengerti, Layla langsung menoleh ke arah kami.

“Oh iya, gue lupa bilang. Pak Alif kan istrinya baru lahiran, jadi beliau cuti. Dan dosen yang ambil jam pagi ini… ya siapa lagi kalau bukan Pak Althaf,” ucapnya dengan nada ceria, seakan itu kabar menyenangkan.

Kata-katanya membuat tubuhku menegang seketika. Jantungku berdetak lebih cepat, keringat dingin membasahi telapak tanganku. Aku sengaja datang lebih awal pagi ini, berharap tidak bertemu dengannya. Tapi rupanya semesta berkonspirasi untuk mempertemukan kami di ruangan ini, di depan banyak orang.

Tak lama, suara pintu kelas berderit. Suara langkah sepatu terdengar tegas menyusuri lantai. Althaf masuk dengan kemeja hitam slim fit yang melekat pas di tubuhnya, ditambah celana bahan rapi yang membuat wibawanya semakin terpancar. Rambutnya tertata rapi, wajahnya serius tanpa senyum. Seketika suasana kelas berubah hening, seolah semua orang larut dalam aura yang ia bawa.

Deg!

Aku buru-buru menunduk, berusaha menyembunyikan wajahku. Namun Revan yang duduk di sampingku sempat menangkap perubahan ekspresiku. Ia menatapku penuh curiga. Pipiku terasa panas, wajahku memerah tanpa bisa kucegah.

“Lo sakit, Jani?” tanyanya khawatir sambil mendekat, bahkan tangannya sempat terulur untuk menyentuh keningku.

Refleks aku menepisnya halus, bergeser sedikit menjauh. “gue nggak apa-apa kok… cuma kurang tidur aja,” jawabku cepat, berusaha setenang mungkin meski suaraku bergetar.

Aku memberanikan diri menatap ke depan kelas. Saat itu, pandangan mataku langsung bertabrakan dengan mata Althaf. Tatapan hitamnya tajam, penuh tekanan, seolah menembus dinding yang selama ini berusaha kutegakkan. Nafasku tercekat, dadaku semakin sesak.

Althaf tidak mengalihkan pandangan. Ia tetap menatapku dalam, sampai akhirnya tangannya bergerak meraih ponsel di meja dosen. Dengan wajah tanpa ekspresi, ia mengetik sesuatu.

Beberapa detik kemudian, ponselku di meja bergetar pelan. Aku menunduk cepat, membuka pesan yang baru masuk.

Mas Althaf:

Temui saya di ruangan saya setelah mata kuliah selesai.

Deg! Tanganku refleks meremas sisi meja. Suara detak jantungku semakin keras, hampir menyamai suara jarum jam di dinding kelas. Aku menggigit bibir, mencoba menenangkan diri, tapi tubuhku gemetar halus.

Revan menoleh lagi, menatapku penasaran. “Lo beneran nggak apa-apa, Jani?” tanyanya pelan.

Aku hanya menggeleng, tak sanggup berkata banyak. Pandanganku kembali jatuh ke layar ponsel, pada pesan singkat itu. Kata-kata Althaf terasa seperti perintah, tak bisa ditawar.

Di detik itu, aku sadar. Setelah kuliah ini selesai, aku tak lagi bisa lari. Aku harus berhadapan langsung dengan Althaf.

1
BORED
lovyu.. ❤️
BORED
tidak ada pelakor disini.. 🌚
BORED
lagi 🌚
BORED
jangan ada konflik lagi 🥺
BORED
jangan ada konflik lagi ya 🥺
BORED
apdet banyak2 🦖
BORED
semoga ga ada perselingkuhan
BORED: kalo ada.. aku cabut 😑
total 1 replies
Mochimo
Lanjutttt kakkk, makin seruuu..
Ria Ismail
Nextttt kak
Ria Ismail
Wawww menikah juga akhirnya
Ria Ismail
Sepertinya seruu
Roxy-chan gacha club uwu
Thor, aku hampir kehabisan kesabaran nih, kapan update lagi?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!