Seorang pemuda bernama Rendi Irawan yang baru saja lulus dari sekolah menengah atas hanya bisa pasrah pada saat sebuah mobil truk yang kehilangan kendali menabraknya pada saat perjalanan pulang menuju rumah kontrakannya. Awalnya ia sudah pasrah akan keadaan yang menimpanya dan hanya bisa melihat truk tersebut yang perlahan menuju ke arahnya sampai akhirnya truk tersebut menabrak dan melindas hingga kepalanya hancur, namun sebuah keajaiban terjadi, sebelum ia benar-benar mati, tiba-tiba saja sebuah tangan bercahaya menarik rohnya hingga melintasi ruang dan waktu dan masuk kedalam tubuh seorang pemuda yang terdampar di atas batu dalam sungai, sampai akhirnya sebuah suara aneh terdengar di telinganya
DING!!!! Sistem Beladiri Terhebat telah menemukan player terpilih, tekan tombol YA jika ingin melanjutkan penyatuan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aras507, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 12. Keterkejutan Mei Lan
Pufffff
Sesaat sebelum ia bertanya kepada sistem, Rendi juga sedang menegak sebotol air minum yang sedari tadi ia bawa, dan pada saat mendengar jawaban sistem itu, seketika itu juga ia menyemburkan air tersebut keluar dari dalam mulutnya karena terkejut.
"Sialan!! Bukannya ini hanya informasi biasa, bagaimana bisa kau memungut biaya untuk informasi seperti ini, terlebih lagi aku juga harus mengorbankan 10 poin sistem selain 10 koin ku." Umpat Rendi keras yang seketika membuat Mei Lan menyadari kehadirannya.
Melihat Rendi yang mengumpat membuat Mei Lan terkejut dan seketika mengubah ekspresinya menjadi waspada. Sementara Rendi yang melihat ekspresi wajah Mei Lan nampak mengerutkan dahinya.
"Ada apa? Mengapa kau malah menatapku seperti itu?. Tanya Rendi kebingungan melihat ekspresi wajah Mei Lan.
Mei Lan sendiri sebenarnya tidak akan bersikap seperti ini jika saja Rendi tidak melihatnya melatih ilmu pedang aliran air, karena ilmu pedang tersebut merupakan alasan mengapa banyak orang yang mengejarnya bahkan sampai masuk kedalam hutan giok ini.
Informasi yang dibawa oleh Mei Lan dari ibukota sebenarnya adalah informasi rahasia tentang jurus ketiga teknik pedang aliran air yang baru saja ia dapatkan dalam acara lelang, dan tentunya jurus tersebut saat ini berada di tangannya dan ia ingin memberikannya pada kepala keluarganya yang sekaligus merupakan salah satu tetua dari sekte mata air jernih.
Sayangnya pada saat Mei Lan dan kakak seperguruannya melakukan perjalanan pulang, rombongan mereka malah bertemu dengan para gerombolan perampok macan hitam yang tentunya juga menginginkan salah satu jurus dari teknik pedang tingkat bumi yang ada pada Mei Lan saat ini.
Pada akhirnya terjadilah pertempuran antara kedua kelompok dan membuat rombongan Mei Lan terpojok. Meskipun kekuatan yang dimiliki oleh kelompok Mei Lan cukup kuat, namun mereka tetap saja tidak dapat mengimbangi kekuatan para perampok yang jumlahnya sangat banyak itu.
Hasilnya Mei Lan terpaksa melarikan diri atas perintah kakak seperguruannya yang mengorbankan diri untuk menahan para perampok, sayangnya ia tidak bisa menahan sepenuhnya dan membuat Mei Lan dikejar oleh 10 orang perampok macan hitam yang 5 diantaranya berhasil ia bunuh dan 5 orang lagi berakhir di tangan Rendi.
Mei Lan masih menatap Rendi dengan ekspresi wajah yang sama sebelum berkata. "Kau tidak berniat mencuri ilmu pedang yang hanya di kuasai oleh sekte mata air jernih dan keluarga Gu kan?" Ucapnya sambil memegangi gagang pedangnya.
Rendi yang mendengar itu tentu saja terkejut, sekarang ia tau mengapa gadis ini bersikap begitu waspada terhadapnya, ternyata hanya masalah teknik pedang aliran air.
"Haihh.... Pantas saja kau menatapku seperti itu, tenang saja.... Aku tidak seperti orang-orang yang mengejar dan menginginkan teknik ini." Jawab Rendi dengan ekspresi tenang menghiasi wajahnya.
Namun jawaban tersebut malah semakin membuat Mei Lan waspada, bahkan kali ini ia sudah mulai mengarahkan senjatanya pada Rendi.
"Apa maksud perkataanmu itu, bagaimana mungkin kau mengetahui kalau aku memiliki informasi lain tentang teknik pedang aliran air." Ucap gadis itu sambil terus waspada pada sekitarnya, ia takut kalau Rendi merupakan salah satu dari kelompok perampok macan hitam yang juga menginginkan teknik pedang itu.
Selain itu yang paling membuat Mei Lan lebih waspada adalah aura yang dipancarkan oleh Rendi kini terlihat lebih kuat dari dirinya, di dalam pikirannya pun itu adalah sesuatu yang sangat aneh karena tidak mungkin ada seorang ahli beladiri yang dapat meningkatkan kekuatannya dalam sekejap kecuali ia mengkonsumsi sebuah tanaman obat tingkat tinggi.
Rendi kembali menghela nafasnya sambil berkata, "Sepertinya kau berpikir terlalu banyak, seandainya aku ini menginginkan teknik pedangmu, maka aku tidak perlu repot-repot merawat dan memberikanmu pil penyembuh terlebih dahulu." Jawab rendi sambil berjalan mendekat.
Sementara Mei Lan nampak menurunkan kewaspadaannya setelah mendengar jawaban itu, selain itu ia juga sudah menyarungkan pedangnya kembali.
Rendi hanya menggeleng kepalanya sambil berjalan ke arah gua. "Dasar wanita, untuk apa aku mencuri ilmu pedang aliran air, lagi pula teknik pedang aliran air itu aku sudah menguasainya sebelum kita bertemu, dan sekarang aku malah menguasai lebih banyak jurus darimu, bahkan ketua sekte mu sekalipun." Batin Rendi sambil menggelengkan kepalanya.
Sesampainya di dalam gua, Rendi kemudian mengeluarkan daging monster badak yang sebelumnya ia bawa, dan tentu saja itu langsung membuat Mei Lan terkejut bukan main bahkan sampai menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
"Rendi!!! Ini..... Bukankah ini monster badak besi bercula pedang, bagaimana kau...." Mei Lan sampai tidak bisa berkata apa-apa melihat Rendi dengan santainya memotong daging tersebut kemudian memanggangnya di atas perapian.
"Orang ini.... bagaimana mana mungkin ia bisa mengalahkan seekor badak besi bercula pedang seorang diri, sepengetahuanku dari kulitnya yang sepenuhnya berubah perak, badak ini setidaknya sudah mencapai puncak tingkat 5 dan sedikit lagi naik ke tingkat 6, kekuatan tempurnya bahkan bisa membunuh 3 bahkan 5 orang petarung menengah sekalipun, apa mungkin dia sudah berada di tingkat Petarung Ahli?" Mei Lan membatin sambil menatap Rendi begitu dalam.
Di dalam pikirannya terbesit sebuah keinginan untuk meminta bantuan dari pemuda itu, namun hatinya menjadi sedikit dilema karena beberapa saat yang lalu ia bahkan baru saja menodongkan pedang dan menuduh pemuda itu sebagai pencuri ilmu pedang.
Sementara di pihak Rendi sendiri, ia sebenarnya tidak menganggap serius apa yang baru saja terjadi itu, wajahnya terlihat tenang dan terus melanjutkan memanggang daging di depannya, tak lama kemudian ia pun menyodorkan sepotong daging panggang yang telah matang kepada Mei Lan.
"Ini bagian mu, kau tidak akan mau duduk diam dan hanya melihatku makan seorang diri bukan." Ucap Rendi sambil tersenyum manis membuat ada sebuah gejolak berbeda di hati Mei Lan saat melihat itu.
"Dia......" Selama beberapa detik ia terdiam sebelum membuang jauh-jauh pikirannya barusan sambil meraih daging panggang itu dan menyantapnya. Sama seperti Mei Lan, Rendi juga mulai menyantap daging panggangnya setelah menempatkan 2 potong daging panggang lainnya di atas perapian.
"Daging ini rasanya sangat hambar, aku penasaran apakah di dalam toko sistem menjual bahan-bahan atau bumbu dapur atau tidak ya?." Batin Rendi sambil diam diam membuka toko sistem.
Walaupun sebenarnya ia tau kalau Mei Lan tidak dapat melihat layar hologram di hadapannya, akan tetapi ia tetap tidak ingin terlihat melakukan hal aneh dan membuat gadis itu curiga padanya. Sementara di sisi lain Mei malah sedang memikirkan cara agar Rendi mau membantunya.
"Jika benar Rendi adalah seorang petarung ahli, kemampuan beladiri yang ia miliki pastinya berada di atas kemampuan Feng Gege." Batin gadis itu sambil mengingat kakak seperguruannya yang saat ini mungkin sudah tewas ditangan para perampok macan hitam.
Hatinya tiba-tiba merasakan kemarahan pada saat mengingat kembali kejadian yang menimpanya 2 hari yang lalu itu, padahal dalam perjalanan pulang itu tidak ada satupun orang yang mengetahui identitas mereka karena sudah melakukan penyamaran yang sangat baik. Namun entah bagaimana caranya para perampok tersebut malah berhasil menemukan mereka serta membawa kelompok yang cukup untuk melumpuhkan seluruh anggota sekte mata air jernih yang ikut bersamanya.