Ketika cinta telah menemukan tempatnya untuk berlabuh, tak ada siapapun yang mampu mengurai tautan yang terjalin antara dua insan manusia. Sesakit apapun hati yang tersayat karena luka, takdir tetap menjalankan kuasanya.
~Jangan melihatku dari apa yang nampak, karena tak semua yang indah memiliki kesempurnaan. Aku sangat mencintaimu, namun aku harus membangun benteng yang tinggi karena sakit yang telah kau ciptakan~ Aaliya
~Meski kau bukan yang pertama di hatiku, tapi aku mencintaimu dengan segenap jiwaku. Aku takkan pernah melepasmu dan membiarkanmu terbang begitu saja, karena hati ini telah kau genggam dan kaulah satu-satunya yang memiliki. Maaf maaf dan maaf yang mampu ku ucap~ Abian
Apa yang sesungguhnya terjadi antara Aaliya dan Abian? Silahkan baca dan nikmati karya ini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mega.ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bercerita
.
Aaliya sudah sampai di depan rumah susunnya, dia memarkirkan sepedanya di lantai dasar bangunan itu. Sesaat ia berniat menemui Bu Fatma, namun ia urungkan karena kejadian tadi cukup merubah suasana hatinya.
***
Beberapa jam sebelumnya
"Ibu, apa aku boleh minta tolong?" Tanya Aaliya pada Bu Fatma.
"Katakanlah."
"Aku ingin Ibu memasak lebih banyak untuk makan siang, aku akan membawanya sebagian untuk temanku," Jelas Aaliya.
"Teman? Kau sudah punya teman rupanya."
"Ibu, jangan meledekku," Aaliya melipat kedua tangannya kesal, "aku juga manusia biasa, lihatlah aku sudah punya teman sekarang."
"Pria atau wanita?"
"Apakah itu penting?" Aaliya mencoba menghindari pertanyaan Bu Fatma.
"Tentu saja itu penting."
"Pria," jawab Aaliya cepat.
Bu Fatma nampak kaget, dia tak menyangka gadis kesayangannya ini memiliki teman yang cukup dekat hingga mau mengiriminya makan siang, dan lagi seorang pria.
"Sejak kapan kau berteman dengan seorang pria, Aaliya," nada bicara Bu Fatma cukup khawatir.
"Ibu, jika ibu terus bertanya lalu kapan mulai memasaknya? Aku tidak ingin terlambat mengirimkan makanan itu, Bu," mohon Aaliya.
"Baiklah, Ibu akan memasak sesuai permintaanmu, tapi dengan satu syarat."
"Apa itu?"
"Kau harus menceritakan tentang teman priamu itu pada Ibu."
"Baiklah, akan ku ceritakan nanti sepulang dari sana."
***
Di sisi lain Abian sedang termenung, dia belum mau melanjutkan pekerjaannya setelah makan siangnya bersama Aaliya tadi.
Kedatangan gadis itu cukup membuat Abian khawatir. Sebagai pria dewasa, hanya dari tatapan mata ia mampu memahami sesuatu. Perlakuan Aaliya hari ini cukup membuktikan kekhawatirannya, tatapan itu mengharap lebih, mendamba sesuatu.
Abian berharap pemikirannya salah dan gadis itu hanya menganggapnya teman, tak lebih. Dia tak mampu jika harus ada wanita yang akan tersakiti lagi.
.
.
.
Aaliya kurang bersemangat kerja hari ini, pria itu sudah mengambil porsi yang cukup banyak dalam pikirannya. Suapan yang ia terima dari tangan kekar pria itu masih bisa ia rasakan nikmatnya, tatapan teduhnya masih bisa ia rasakan hangatnya. Ah, sungguh baru kali ini Aaliya rasa mendamba, mendamba kehangatan, kenyamanan dan kehangatan.
Akhirnya dia putuskan untuk menceritakan semuanya pada Bu Fatma sepulang kerja nanti. Beliau pasti sudah berpengalaman dalam hal seperti ini, ia akan meminta penjelasan akan apa yang ia rasakan.
***
Keesokan harinya
Seperti biasa Aaliya menghabiskan waktu makan siangnya di rumah Bu Fatma.
"Kau tidak lupa dengan janjimu kan, Aaliya?" Tanya Bu Fatma.
"Tentu tidak, Ibu. Tak perlu mengingatkan, tanpa diminta pun aku pasti akan bercerita pada ibu," Aaliya menghela nafas, "Karena tak ada siapapun selain Bu Fatma dalam hidupku saat ini."
"Jangan bersedih, Ibu selalu di sini untukmu," Bu Fatma memeluk Aaliya dan mengusap kepalanya penuh kasih sayang.
"Nah, sekarang ceritakan siapa pria itu," Ucap Bu Fatma setelah melepas pelukannya.
"Namanya Abian, Bu,"
"Dimana dia tinggal?" Tanya Bu Fatma
"Di bangunan belakang, bangunan yang belum selesai itu, bu."
Bu Fatma nampak mengernyitkan dahinya heran.
"Ibu, Abian bekerja disana dan tinggal disana juga, kami bertemu secara tidak sengaja saat aku sedang bersepeda dan menabraknya," Aaliya menjelaskan, "Sejak saat itu kami beberapa kali bertemu dan berbincang-bincang, hanya itu saja."
"Saat pulang dari pasar malam itu kamu habis bertemu dengannya?"
"Iya, itu pertama kalinya kita bertemu secara sengaja dan mengobrol."
Bu Fatma nampak sedang berpikir, bagaimanapun juga beliau sudah seperti orang tua bagi Aaliya. Perubahan sikap anak gadisnya ini bisa dirasakan dalam beberapa hari terakhir. Bu Fatma ingin lebih tahu siapa Abian, karena ini pertama kalinya Aaliya mau membuka hati pada seorang pria dan ia tak mau gadis kesayangannya sampai salah langkah.
.
.
.