Tiara adalah istri pendiam yang selalu dihina Bima karena hanya memiliki toko roti kecil dan belum bisa memberi anak. Saat Bima berselingkuh dan merendahkannya, Tiara diam-diam bangkit membangun usaha hingga sukses besar. Ketika hidup berbalik—Tiara naik, Bima jatuh—lelaki itu menyesal dan ingin kembali.
Namun Tiara yang sekarang bukan lagi wanita yang bisa diinjak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nanaxu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12 BAB. 12Perang Batin
"Maaf Pak, Bu Tiara tidak ada, lagi ke toko cabang." Ucap karyawan toko dengan nada meminta maaf.
Wajah Bima seketika meredup. Ia sudah jauh-jauh datang, berharap bisa menyelesaikan masalah genting yang melilitnya. "Jam berapa pulang?" Tanya Bima memastikan, suaranya terdengar tidak sabar.
Karyawan itu menggeleng lemah. "Saya tidak tahu, Pak. Biasanya kalau sudah ke cabang, Bu Tiara tidak akan kembali lagi ke toko ini hari ini."
Bima menghela napas panjang, kekecewaan jelas terpancar. Ia hanya ingin bertemu Tiara karena ada misi penting yang harus ia selesaikan. Jika tidak, Lolita—pemilik istrinya tempat Bima bekerja—pasti akan murka. Padahal, urusan ini sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan Tiara secara langsung, melainkan kebutuhan mendesak Bima untuk menyelamatkan restoran Lolita.
Ia melihat sekeliling toko, berharap ada petunjuk, namun nihil. Bima akhirnya memutuskan untuk pulang. Ia akan kembali besok pagi. Hari ini adalah hari yang kelam bagi Bima. Ia kelimpungan. Kerugian restoran Lolita sudah di ambang kehancuran, dan Bima, sebagai manajer yang bertanggung jawab, merasa terdesak. Sebenarnya, ia ingin meminjam uang dalam jumlah besar untuk menyuntikkan dana ke restoran Lolita yang kembang-kempis. Tiara adalah satu-satunya harapan yang terlintas di benaknya, entah mengapa. Ia tak punya pilihan lain selain bersabar hingga esok hari.
Sementara Bima sibuk bergelut dengan masalah keuangan yang mendera, di belahan dunia lainnya, di Singapura, suasana penuh kehangatan sedang tercipta. Seorang ibu dan anak sedang melepas rindu setelah sekian lama tak berjumpa. Wilona menyambut anak gadisnya, Ainun, dengan begitu antusias, pelukan hangat terjalin erat di tengah hiruk pikuk kota.
"Mama rindu sayang. Bagaimana pekerjaanmu, apakah kamu baik-baik saja?" Tanya Wilona, tatapan matanya memancarkan rasa sayang dan kerinduan yang mendalam.
Ainun tersenyum, merasakan kehangatan yang hilang. "Aman kok. Ibu di sini gimana kabarnya? Apakah baik-baik saja?"
"Tentu, sayang. Di sini Ibu hidup lebih baik." Ucap Wilona. Walaupun kata-kata itu terucap dengan tegas, jauh di lubuk hatinya, Wilona merasa bersalah. Ia merenungkan keputusannya di masa lalu. Apakah dia egois karena memilih jalannya sendiri tanpa memikirkan perasaan Ainun?
Namun, ia selalu meyakinkan diri bahwa perpisahan itu jauh lebih baik. Ainun bisa mengerti keadaannya saat ini. Wilona yakin, rumah tangga yang diwarnai kehadiran orang ketiga tidak akan pernah membawa kebahagiaan sejati.
Keduanya berada di pusat perbelanjaan terbesar di Singapura, menghabiskan waktu, uang, dan kerinduan yang tertumpuk. Wilona, yang memang seorang konglomerat, lagi memilih tas mewah untuk putrinya. Harganya sudah pasti setara dengan harga sebuah mobil. Setelah puas berbelanja tas dan berbagai barang mewah lainnya, mereka berencana untuk segera pulang ke rumah.
Sambil berjalan santai, Wilona memulai pembicaraan serius yang sudah ia siapkan. "Ainun, saya akan memperkenalkan kamu sama anak sahabat Ibu. Dia baik, ganteng, dan seorang pengusaha muda."
Ainun diam sejenak, langkahnya terhenti. Ia tak pernah terpikir jika ibunya akan langsung menjodohkannya seperti ini. Padahal, ia sedang menjalin kasih dengan teman SMA-nya terdahulu, Ferro namanya.
"Bu, Ainun sudah punya pacar, ituloh anaknya Bu Ambar." Ainun mencoba mencari pengertian ibunya, berharap Wilona membatalkan niat perjodohan itu.
Wilona tersenyum simpul, matanya penuh siasat. "Hanya kenalan, Ainun. Kan siapa tahu cocok." Wilona berkilah, padahal niatnya sudah bulat: ia akan menikahkan putrinya dengan anak sahabatnya. Wilona memang kurang menyukai Ferro karena menurutnya ia kurang sopan dan visi hidupnya tidak jelas.
Akhirnya, Ainun menyetujui saran ibunya. Siapa tahu cocok, kenalan belum tentu akan berjodoh, pikirnya menenangkan diri.
Perang Batin di Ruangan VIP
Hari yang dijanjikan tiba. Ainun dipoles oleh ibunya sendiri, yang ternyata jago dalam urusan make-up. Ainun tidak masalah, toh ini hanya sebuah perkenalan, bukan lamaran.
Sementara itu, di sebuah restoran mewah, ruangan VIP telah di-booking atas nama Albert. Ia tidak tahu menahu apa rencana Mommynya, ia hanya mengikuti perintah. Yang ia tahu, Margaretha, Mommynya, akan makan malam bersama sahabatnya, dan Albert diminta untuk menemani.
"Albert, kamu sudah booking restoran?" Teriak Margaretha dari balik telepon.
"Sudah, Mom. Sama Om Baim," jawab Albert santai.
Margaretha hanya tersenyum simpul. Memang tidak ada yang tahu apa niat tersembunyi wanita konglomerat itu. Ia tahu anak semata wayangnya itu susah sekali mengenal wanita manapun. Ia ingin pertemuan kali ini tidak gagal.
Sesampainya di restoran, Albert masuk terlebih dahulu. Margaretha meminta izin untuk membeli sesuatu di toko emas terdekat sebelum menyusul.
Albert membuka pintu ruangan VIP. Di sana, seorang wanita muda sudah duduk di salah satu kursi
"Nona, Anda salah ruangan. Ini ruangan sudah ku-booking," Ucap Albert dengan suara datar. Wanita yang dipanggil Ainun itu hanya terpaku di kursinya.
Albert menjentikkan jarinya di depan wajah Ainun yang mematung. Di mata Ainun, Albert terlihat seperti Harimau yang menyeramkan.
"Ehh, sa... Saya... Itu... Anu..." Ainun gugup, matanya berkeliaran. Situasi semakin mencekam karena tidak ada orang lain di ruangan itu selain mereka berdua.
Albert menatapnya dengan tajam, tanpa senyum sedikit pun, membuat Ainun semakin ketakutan. Apakah benar aku salah masuk ruangan? Batin Ainun. Pegawai restoran tadi mengarahkannya ke ruangan ini, lho. Ia mencoba menelpon ibunya beberapa kali, tetapi tidak ada respon. Kepanikan membuatnya hampir menangis. Ia tidak pernah berada dalam situasi yang membuatnya merasa setakut dan segugup ini.
"Bagaimana? Kamu keluar sendiri, atau saya panggil satpam yang akan menyeret kamu keluar?" Albert kembali bersuara, kali ini dengan nada yang lebih dingin.
Ainun ingin segera keluar. Ia baru saja menyentuh gagang pintu ketika tiba-tiba pintu itu terbuka dari luar. Refleks, Ainun berteriak keras.
"Jangan seret aku! Aku bisa keluar sendiri!" Teriaknya, suaranya sedikit bergetar.
Margaretha dan Wilona yang baru masuk saling tatap, tidak mengerti mengapa Ainun terlihat sangat ketakutan.
"Ainun, kamu kenapa? Bukannya kalian bercerita, malah kamu lari," Ucap Wilona, bingung melihat putrinya.
"Ternyata ini ulah Momi," Geram Albert, meskipun wajahnya menunjukkan ia sedang berusaha keras menahan tawa. Ia tak marah, tapi ia berusaha sok jual mahal.
"Albert! Kamu apain Ainun sampai ketakutan begitu?!" Margaretha menampar lengan Albert.
"Ampun Momi, saya tidak tahu," Albert mengaduh kesakitan karena cubitan keras dari Mommynya.
"Kenalkan, ini Albert, anak Tante Margaretha," Ucap Wilona.
"Albert, ini Ainun, anak Tante Wilona."
Keduanya disuruh berkenalan, namun yang terjadi adalah mereka malah saling tatap dengan pandangan permusuhan. Entah apa yang ada dalam pikiran mereka masing-masing.
"Albert," Albert mengulurkan tangannya, mencoba bersikap sopan.
"Ainun," jawab Ainun, namun ia tidak menyambut tangan Albert yang mengambang di udara.
"Dasar wanita gila, dia pikir aku suka sama dia," Maki Albert dalam hati, tangannya langsung ditarik.
"Laki-laki songong, kau pikir aku suka sama kamu," Maki Ainun dalam hati, tatapannya tidak lepas dari Albert.
Mereka saling memaki dalam diam, sementara dua sahabat—Margaretha dan Wilona—asik bernostalgia. Albert dan Ainun menjadi obat nyamuk yang sedang perang batin sengit.
"Apa sih menariknya ini cewek? Bukan tipeku sama sekali," Albert membatin dengan nada meremehkan, tapi matanya tidak bisa berpaling dari Ainun. Aneh, kan?
Selesai makan, mereka bertukar hadiah perkenalan. Albert memberikan bingkisan warna pink sementara Ainun memberikan bingkisan warna gold kepada Albert. Keduanya tentu tahu bukan mereka yang membeli hadiah itu, melainkan orang tua mereka yang mengatur semuanya. Namun, mereka cukup penurut. Walaupun begitu, jangan lupa, mereka sampai saat ini masih perang batin dan saling mencibir dalam hati. Pertemuan pertama ini, walau penuh ketegangan, telah berhasil mempertemukan dua insan dengan takdir yang mungkin sudah tertulis.