Sofia Anastasia terlahir dari luka, tumbuh dalam sunyi, dan hidup untuk memberi terang bagi jiwa-jiwa yang hancur. Ia bukan hanya seorang wanita-ia adalah pelipur lara, penawar duka, namun diam-diam menyimpan luka yang tak pernah sembuh di hatinya sendiri.
Dalam perjalanan hidupnya, Sofia bertemu cinta sejatinya, Ryanda Prasetya-seorang prajurit tangguh yang terluka oleh masa lalu, namun menemukan cahaya di tatapan mata Sofia. Cinta mereka bukan kisah biasa. Ia ditempa oleh perpisahan, doa, pengkhianatan, dan pengorbanan yang melampaui logika manusia.
Ketika ajal dan kehidupan menari di batas tipis kelahiran, Sofia memilih menyerahkan nyawanya demi hidup sang buah hati. Keputusannya membungkam semua tangis, menyisakan duka dalam dada sang suami yang kini harus membesarkan putra mereka seorang diri.
Dua puluh satu tahun kemudian, sang putra-Letda Adhiyaksa Putra-berdiri gagah di halaman Istana Merdeka, menerima penghargaan tertinggi sebagai perwira lulusan terbaik TNI Angkatan Laut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon khalisa_18, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kopi pahit di balkon Sofia
Sudah tiga hari berlalu sejak Sofia mengurung diri di kamarnya. Tak sepatah kata pun ia lontarkan pada siapa pun, bahkan pada ibunya yang saban hari mencoba mengetuk pintu dengan lembut dan sabar. Pandangannya kosong, tatapannya jauh. Ia lebih banyak melamun daripada berbicara. Novel yang biasa menjadi pelariannya kini hanya menjadi saksi bisu dari hatinya yang rapuh.
Aaryan—lelaki yang seharusnya menjadi pelabuhan terakhirnya—menghilang bagaikan ditelan bumi. Tak ada kabar. Tak ada pesan. Tak juga suara.
Dari balkon kamarnya, Sofia menyesap kopi yang mulai dingin. Pandangannya tertuju pada halaman batalion tak jauh dari rumahnya, tempat di mana Haedar—sosok yang diam-diam menghuni hatinya—sedang duduk bersama rekan-rekannya, tertawa, bercanda, terlihat sangat bahagia.
Senyum kecil menghiasi wajah Sofia. Ia bahagia melihat Haedar tertawa. Aneh. Di saat jiwanya nyaris runtuh, senyum Haedar justru menjadi satu-satunya pelipur lara.
Ia kembali ke lembaran novelnya. Pena sudah ia genggam, namun otaknya buntu. Tak ada kalimat yang mampu ia tuliskan. Tangannya hanya mengguratkan lingkaran tak berarti di atas kertas, seiring denyut sakit di pelipisnya yang kian menjadi. Migrainnya kambuh lagi—hal yang sudah ia kenal sejak sekolah menengah.
Dulu, penyakit itu sering membuatnya absen. Ia dianggap pembual. Pemalas. Bahkan teman terdekatnya pun perlahan menjauh, hingga akhirnya benar-benar membuangnya. Hanya karena ia terlalu sering tak masuk sekolah. Mereka tidak tahu, atau tak mau tahu, bahwa Sofia sempat nyaris mati karena GERD yang parah. Wali kelasnya pun tak peduli. Karena itulah, Sofia tak datang ke acara perpisahan SMA-nya. Ia lulus dalam diam. Ia pergi tanpa pamit. Ia menghilang seperti debu, seperti yang selalu dilakukan semua orang terhadapnya.
Ia tersenyum miris mengingat semua itu.
"Memanusiakan manusia itu memang sulit," gumamnya, lirih namun tajam.
Tanpa sengaja, sikunya menyenggol sebuah buku. Bruk! Sebuah suara berat terdengar dari bawah.
"Aww!"
Sofia langsung menunduk dari balkon, dan betapa terkejutnya ia ketika melihat buku diary-nya—yang selama ini menjadi wadah rahasia hatinya—jatuh tepat di atas kepala Haedar.
"Tunggu, bukannya tadi dia di batalion? Kenapa sekarang ada di sini?"
Haedar berdiri, mengusap kepalanya, lalu memungut buku itu. Dan, di situlah segalanya berubah. Buku itu terbuka—halaman yang ia baca berisi ungkapan hati Sofia. Tentang dia. Tentang cinta yang Sofia simpan rapat selama ini. Tentang pilihan Sofia untuk tetap bersama Aaryan demi kebahagiaan pemuda itu, meski hatinya hancur berkeping.
Langkah kaki Sofia menuruni tangga begitu cepat, jantungnya berdebar seperti genderang perang. Ia harus merebut buku itu sebelum semuanya terbuka... namun sudah terlambat.
SREK.
Haedar menutup buku itu dan menyerahkannya kembali tanpa berkata sepatah pun. Wajahnya berubah. Beku. Seolah waktu berhenti. Sofia mengambil buku itu, lalu pergi tanpa menoleh.
Dari jauh, ibu Sofia—Bu Aynur—menatap heran melihat Haedar berdiri mematung di bawah terik matahari.
"Kurang hitam, berdiri di sana segala?" selorohnya.
Haedar tersadar. "Bukan, Kak. Tadi cuma agak pusing, makanya berdiri. Siapa juga yang mau dijemur."
"Siapa tahu kemarin kurang gosong," jawab Bu Aynur sambil tertawa.
"Eh, Kak Sofia mana?"
"Ya di kamar. Masa anak gadis cantik dijemur siang-siang? Bisa menghitam anakku."
"Haedar mau ketemu sebentar."
"Iya, tapi tiap hari ketemu mau bahas apa sih?" tanya Bu Aynur curiga.
"Kriteria calon suaminya," jawab Haedar enteng.
"Ada-ada aja," gumam ibunya sambil berlalu.
Haedar naik ke lantai dua. Lorongnya sepi. Semua kamar di lantai itu kosong, kecuali satu: kamar Sofia. Kamar yang katanya selalu harum, sampai-sampai Zayn pun lebih suka tidur di situ ketimbang di kamarnya sendiri.
Haedar berdiri di depan pintu itu. Menarik napas. Mengetuk pelan.
Tok... tok...
Kriet...
Pintu terbuka.
Sofia berdiri di hadapannya. Diam. Membeku. Mereka saling memandang, namun tak saling sapa. Sofia tahu Haedar sudah membaca isinya. Ia bisa melihatnya dari sorot matanya. Mata yang dulu penuh tawa kini penuh gejolak tak terucap.
"Boleh om masuk?" tanya Haedar. Ia masih memanggil dirinya “om”—mengingat statusnya sebagai sepupu sang ibu.
Sofia hanya mengangguk dan memberi jalan. Haedar melangkah masuk, lalu berkata, "Kita bicara di balkon saja."
Mereka duduk berdampingan. Sunyi. Hanya suara angin dan daun-daun yang bergerak di kejauhan.
"Aku sebenarnya nggak berniat ngomongin ini sekarang. Tapi... nasi sudah jadi bubur," ujar Haedar, suaranya datar.
Sofia menunduk.
"Kita... saling suka, Ay," ucap Haedar akhirnya.
Jantung Sofia serasa berhenti berdetak. Ia tidak pernah menyangka kalimat itu akan keluar dari mulut Haedar.
"Sejak pertemuan pertama kita, rasa itu sudah ada. Tapi aku tahu... keluarga kita nggak akan pernah setuju."
Sofia tetap diam. Dadanya sesak.
"Aku tahu kamu memilih Aaryan bukan karena cinta, tapi karena kamu kasihan. Kamu ingin dia bahagia. Mungkin... untuk terakhir kalinya."
"Om..." bisik Sofia, nyaris tak terdengar.
"Sofia, denger ya. Seberapa pun kamu berusaha, sekuat apa pun kamu bertahan, Aaryan... tetap akan pergi."
Sofia menatapnya tajam.
"Om sadar nggak, apa yang om katakan barusan?" suaranya bergetar, antara marah dan terluka.
"Kamu bisa bilang ke Aaryan bahwa kamu nggak mencintainya, dan kamu bisa mengakhirinya," ujar Haedar.
Sofia mengepalkan tangan, rahangnya mengeras.
"Lalu? Setelah itu apa? Aku langsung jatuh ke pelukanmu? Kita memulai hubungan baru di atas penderitaan Aaryan?"
"Itu yang terbaik, Sofia."
Sofia tertawa. Tawa pahit. Sinis. Mata yang tadinya sendu kini menyala marah.
"Om tahu apa tentang terbaik? Om pikir ini semudah membalikkan telapak tangan? Om pikir hidup cuma soal siapa yang kita cintai? Ini tentang tanggung jawab. Tentang janji. Tentang rasa kemanusiaan!"
"Sofia—"
"Enggak! Om itu egois. Om cuma mikirin rasa cinta om sendiri. Om bahkan tega menyuruhku meninggalkan Aaryan di saat seperti ini! Dia sedang sakit, dan yang om pikirkan hanyalah: bagaimana caranya agar aku bisa jadi milik om!"
Haedar terdiam. Tak sanggup menjawab.
Sofia berdiri. Matanya basah, tapi bukan karena lemah. Melainkan karena kecewa.
"Aku kira... om orang yang paling bijak yang pernah aku kenal. Tapi ternyata, om juga bisa serendah ini."