ARC 1 - Reruntuhan Kuno Dimensi ~ END
Sekte Qingyun adalah salah satu dari sekte-sekte besar di benua itu. Murid-muridnya berbakat, dengan kekuatan mereka masing-masing mereka berlomba-lomba untuk menjadi lebih kuat mencapai puncak di sekte itu.
Namun, ada seseorang yang tak bisa melakukan semua itu... Yun Zhi namanya, dia memiliki tubuh yang begitu lemah, membuatnya tak bisa berkultivasi seperti yang lain. Sampai pada akhirnya ia ditemukan dengan wanita cantik yang akan membuatnya lebih kuat.
Ini akan menjadi perjalanan panjangnya, yang terlemah menjadi yang terkuat.
BUAT YG MAU NANYA "KAPAN MC-NYA OP?" MCNYA OP DI BAB 20AN!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chizella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12: Kristal Ungu, Bunga Teratai Pink, dan Pedang Immortal
Tianqiong berjalan pelan di tengah hiruk-pikuk pasar Kota Wanjiae. Langkahnya tenang, nyaris tak meninggalkan jejak, seolah udara sendiri yang menopangnya. Gaunnya berkibar ringan diterpa angin sore yang mulai dingin, sementara sinar matahari yang telah condong ke barat menyinari wajahnya dengan semburat keemasan yang lembut.
Langit telah berubah warna—jingga keemasan menggulung pelan di cakrawala, pertanda bahwa malam akan segera menjatuhkan tirainya. Bayang-bayang bangunan memanjang, dan suara kehidupan yang semula bising kini mulai melambat, seperti sebuah lagu yang mendekati akhir nada.
Tianqiong tetap berjalan, melewati kios-kios yang perlahan menutup lapaknya, melewati lentera-lentera yang mulai dinyalakan satu per satu. Dalam langkahnya yang anggun, ia kembali ke tempat perpisahannya dengan Yun Zhi, titik temu tanpa kata yang tak pernah disepakati namun selalu dirasakan.
Di sana, duduk seorang pemuda muda dengan pakaian berdebu oleh perjalanan, memegang tusukan makanan yang masih mengepul hangat. Ia tampak santai, namun di matanya terpancar semacam kelegaan saat melihat Tianqiong datang mendekat.
"Aku kembali. Kau sudah lama menungguku?" tanya Tianqiong dengan nada santai, namun senyumnya menyiratkan sedikit perhatian.
"Tidak. Aku juga baru saja selesai lelang, saking banyaknya barang bagus membuatku bingung harus memilih yang mana."
"Begitu. Baiklah, ayo kembali dan perlihatkan apa yang kau dapat."
Yun Zhi mengangguk ringan. Mereka lalu berjalan berdampingan, menyusuri jalanan kota yang kini mulai bermandikan cahaya lentera. Jalan-jalan yang tadinya ramai kini terasa lebih tenang, namun tak kehilangan keindahannya. Lentera-lentera gantung berayun lembut, mengirim cahaya kekuningan yang hangat ke wajah-wajah pejalan kaki. Bau rempah dan arang masih tersisa di udara, menyatu dengan aroma malam dan desir angin lembut.
Langit telah digantikan oleh malam sepenuhnya. Di atas sana, bulan tergantung dengan anggun, dikelilingi bintang-bintang kecil yang berkerlip bagai serpihan kristal. Kota Wanjiae, dalam damainya malam, tampak seperti lukisan yang diam, hidup hanya dalam bisikan.
Mereka akhirnya tiba di penginapan yang sama seperti sebelumnya. Dengan satu gerakan ringan dan tanpa suara, Tianqiong membuka pintu kamar mereka. Suasana di dalam masih hangat, diterangi oleh cahaya lilin kecil yang bergetar lembut di sudut ruangan.
Yun Zhi duduk di kursi dekat jendela, menatap keluar sejenak sebelum mengalihkan pandangan ke dalam kamar. Sementara itu, Tianqiong beristirahat di atas ranjang empuk, lalu mengeluarkan sesuatu dari cincin penyimpanannya—sebuah batu kristal berwarna ungu pekat, yang tampak memancarkan kilau misterius meski tanpa cahaya langsung.
"Lihatlah ini. Ini barang bagus yang kutemukan."
Yun Zhi menoleh. Matanya menatap kristal itu, lalu menyipit pelan. Aura aneh yang menyelubungi batu tersebut terasa, tak terlalu kuat, namun cukup untuk membuat tubuhnya bereaksi secara alami.
"Memang kelihatan bagus. Apa fungsinya?" tanyanya dengan nada tenang.
"Bagimu ini tidak berguna. Tapi bagiku, ini adalah harta karun tak ternilai. Yah, singkatnya benda ini bisa membantuku memulihkan sedikit kekuatanku, agar seperti dulu. Karena diriku yang sekarang hanya menampung sedikit kekuatan saja, dan itu tidak cukup untukku," jelas Tianqiong.
Ia mengangkat batu itu tinggi di atas kepalanya, seperti sedang mempersembahkan sesuatu yang suci kepada langit. Gerakannya anggun, namun juga mengandung kekuatan tertentu. Tubuhnya bergoyang halus, dan cahaya dari kristal ungu itu memantul di kulit halusnya, memberikan siluet yang nyaris seperti ilusi.
Yun Zhi menatap sejenak, lalu menghela napas.
"Aku tidak akan menanyakan dirimu yang dulu. Tapi kalau kau yang sekarang sekuat ini, kira-kira dirimu yang dulu berada di Ranah apa yah."
"Hehe. Coba tebak." Tianqiong tersenyum, senyumannya mengandung godaan dan rahasia yang tak terucap.
"Soul Formation? Spirit King? Atau... Dao Comprehension?"
"Bukan semua itu, yah untuk sekarang kau tidak perlu tau itu. Akan kuberitahu nanti, oke?"
Yun Zhi mengangguk, sedikit terdiam, menyimpan rasa ingin tahu yang tak bisa ia wujudkan dalam kata.
"Baiklah kalau begitu."
Tianqiong menyimpan kembali kristal ungu itu ke dalam cincinnya. Ia lalu menatap Yun Zhi, sorot matanya kini lebih hidup, dipenuhi rasa penasaran yang tulus.
"Jadi, apa yang kau dapat dari lelang hari ini?" tanyanya.
"Aku hanya mendapatkan dua benda saja."
Dengan satu gerakan lembut, Yun Zhi menyapukan tangannya, memanggil dua benda dari cincin penyimpanan miliknya. Yang pertama adalah sebuah pedang—bilahnya ramping, tak terlalu panjang, berwarna hijau terang yang berkilau dalam cahaya lilin. Garis-garis putih berkilat mengalir dari ujung bilahnya seperti aliran petir yang membeku. Yang kedua adalah bunga berwarna pink pucat, bentuknya menyerupai teratai dengan kelopak yang nyaris tembus cahaya.
"Yang ini adalah Pedang Penebas Langit. Tak tau kenapa pedang ini begitu kuat, Tubuh Tertinggi juga langsung bereaksi saat pedang ini muncul." Yun Zhi memutar-mutar pedang itu perlahan, memperhatikan setiap lekuk ukirannya yang halus dan kesan tua yang melekat di logamnya.
"Kalau itu tentu saja. Kelihatannya pedang ini termasuk Pedang Immortal."
"Pedang Immortal?"
"Pedang Immortal adalah pedang yang dibuat oleh seseorang dari zaman dahulu. Kemungkinan kultivator dengan Ranah tertinggi. Namun bukan berarti kemampuannya akan sama seperti saat pertama kali dibuat. Meski kekuatannya sudah berkurang, tetap saja ini menjadi senjata yang kuat pada zaman sekarang," jelas Tianqiong sambil memperhatikan pedang itu, lalu menggeser pandangannya ke arah Yun Zhi yang masih memutar bilahnya.
"Begitu. Jadi pedang ini begitu kuat. Kalau begitu tidak salah aku mengambilnya."
Tianqiong berdiri. Langkahnya pelan, suaranya nyaris tak terdengar saat ia mendekat. Matanya jatuh pada bunga teratai pink yang masih tergeletak di atas meja.
"Lalu yang ini." Jarinya menunjuk lembut ke arah bunga itu. "Kelihatannya juga akan berguna."
"Untuk apa?"
"Sayangnya, untukmu tidak berpengaruh. Benda ini akan berguna untukku."
"Setidaknya beritahu aku fungsinya."
"Sama seperti kristal tadi, memulihkan sedikit kekuatan. Meskipun efeknya lebih sedikit, tapi tetap saja ini benar-benar berharga."
"Kalau begitu, ambil saja."
"Kau yakin memberikan ini begitu saja?"
"Apa maksudmu? Bukankah selama ini aku selalu dibantu olehmu. Benda yang tidak berguna untukku, bukankah akan lebih bagus kalau bisa digunakan untukmu."
Wajah Tianqiong sedikit berubah. Sekilas, ekspresinya menunjukkan keterkejutan yang jujur. Sorot matanya melembut, ada sesuatu yang bergerak perlahan di balik dinding emosinya. Namun seperti awan yang cepat berlalu, ekspresi itu segera hilang, digantikan oleh ketenangan yang biasa.
"Oh... baiklah kalau begitu."