Adila Dimitri... Kesucian yang sudah terenggut, tidak mengubahnya menjadi wanita lemah. Mandiri, kuat, berani dan tidak takut dengan apapun, sudah menjadi slogan dalam hidupnya.
"Hidup ini pilihan, apapun yang membuatmu sedih, tinggalkan...!!!
Apapun yang membuatmu tersenyum, pertahankan...!!!"
Aditya Putra Wiriaatmaja... kehilangan cinta karena kondisi yang membuatnya tidak bisa bertahan.
"Aku bukannya tak mau merelakan kepergianmu, aku hanya menyesali kelemahanku memperjuangkanmu untuk tetap disisiku. Aku belajar tulus untuk mencintai meski tak harus memiliki, belajar ikhlas merelakan meski harus kehilangan...!!"
Pertemuan yang diawali dengan drama settingan yang Adila ciptakan, membuat mereka terjebak dalam kondisi yang tidak nyaman, hingga akhirnya takdir mempertemukan mereka kembali dalam kondisi yang jauh berbeda.
Akankah sifat absurd Adila mampu meluluhkan hati Aditya yang menyukai wanita sederhana dan anggun seperti mantan kekasihnya dulu???
Sequel dari ❤Cinta Yang Hilang❤...
Pantengin terus di semua partnya👌👌
Happy reading💋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HeniNurr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan Kedua
Pagi sekali Adira sudah berkemas. Melihat dirinya didepan cermin dengan dress selutut yang membentuk lekukan tubuhnya, tapi terlihat pas tidak terlalu ketat. Rambut digulung ke atas dengan membiarkan beberapa helai yang dibiarkan menjuntai. Make-up minimalis, sepatu flat berbahan rajut, terlihat sangat manis.
Bertolak pinggang, memutar kepala kekiri dan kekanan kemudian berbalik melihat punggung. Oke.... penampilan yang sopan untuk berkunjung ke kantornya Adira pagi ini.
Mengambil tas selempang berukuran mini, Adila melongokan kepalanya di kamar Adira. Dia masih tertidur pulas. Semalaman dia terus mengingau karena suhu badannya yang sangat panas. Tapi saat menjelang subuh, suhu badannya kembali normal.
Adila menuruni tangga, selintas melihat kamar Papahnya yang kosong tak berpenghuni, Adila berdecak. Dengan kondisi Adira yang sakit, Papahnya seakan acuh tidak pernah peduli.
"Mbok... Mboook.."
Tergopoh-gopoh Mbok Karni datang dengan membawa sapu ditangannya.
"Iya Non?"
"Aku mau ke kantornya Dira dulu, ngasiin surat sakit. Tolong jagain Dira ya, telepon aku kalau ada apa-apa."
"Iya Non.
"Jangan lupa obatnya, aku simpan di laci kamar."
"Iya Non."
Adila melangkah menuju pintu utama, dan saat pintu terbuka sebuah mobil masuk kehalaman rumah.
Dimitri dan Dona keluar dari dalam mobil, saling melempar senyuman dengan tangan bertaut satu sama lain.
Adila menggeram dalam hati. Tak ingin melihat kebersamaan mereka yang over romantis, Adila melenggang menuju mobil kesayangannya yang terparkir tak jauh dari mobil Dimitri.
"Adila..."
Adila tak menghiraukan panggilan Dimitri.
"Adila..." Suara Dimitri semakin mengeras.
Membiarkan pintu mobil yang baru dia buka, Adila berbalik melihat Dimitri yang berjalan mendekat dengan Dona yang mengekor dibelakangnya.
"Kamu mau kemana sepagi ini?"
"Ke kantor Dira."
"Mau apa?"
Pertanyaan bodoh.... Adila mendengus kesal.
"Memberikan ini." Adila menunjukan amplop persegi panjang berwarna putih bertuliskan Rumah Sakit Pelita Medika yang ia dapatkan atas bantuannya Radit.
Dimitri mengambil surat itu dan membukanya, kemudian memberikannya lagi.
"Dira sakit?"
Adila tersenyum sinis," Bukannya Papah tahu kalau Dira sakit?"
"Kemarin dia hanya demam biasa." Jawabnya enteng.
Jawaban Dimitri menyulut kemarahan Adila yang sedari malam ia tahan.
"Tahu apa Papah tentang Dira.... selama ini Papah nggak pernah peduli kan sama Dira, walau Dira sakit parah sekalipun, apa mungkin Papah mau membatalkan acara saaangattt penting itu?"
"Jaga bicaramu Adila." Sentak Dimitri.
"Apa aku salah?"
"Papah lakuin itu untuk urusan bisnis, dan itu semua untuk kalian."
"Untuk kami atau untuk istri kesayangan Papah?" Lirik Adila kepada Dona.
"Adila...." Suara Dimitri menggelegar keras dengan mata merah menyala.
"Pah sudah... tenang sayang." Dona mengelus lengan Dimitri.
"Dia itu anak kurang ajar."
"Iya aku memang anak kurang ajar, karena itu hasil didikan Papah sendiri."
Plaaaakk....
Tamparan keras mendarat di pipi Adila.
Adila meraba pipinya yang terasa panas. Adila menatap tajam Dimitri, tak ada sedikitpun penyesalan yang terlintas dimata itu, dan Dona, samar melengkungkan bibir tersenyum puas.
Adila berlari, keluar menuju gerbang rumah, meninggalkan mobil yang awalnya akan dia pakai untuk melakukan kegiatannya pagi ini.
Adila melambaikan tangan saat sebuah taxi datang melintasinya. Kemudian ia masuk dan duduk di kursi penumpang.
"Ke gedung perkantoran Wirrbel Pak."
"Baik Mbak."
Tamparan itu masih menyisakan panas dipipinya. Saat ia merabanya kembali, cairan merah melekat di jari tangannya, darah.
Adila menggenggam darah itu, tersenyum kecut. Perih disudut bibirnya, tak seperih hati yang ia rasakan saat ini. Bukan hanya sekali tetapi sudah berulang kali. Air matanya pun sudah kering untuk menangisi hal yang sudah biasa dia terima.
Selang dua puluh menit, taxi itu berhenti.
"Sudah sampai Mbak."
"Makasih Pak."
Adila turun dengan membayar argo yang sudah tertera disana.
Menatap gedung tinggi yang menjulang didepannya, ia mengela nafas dalam-dalam, menepis semua perasaan sakit yang mendera hatinya sekarang ini, demi Adira.
Sebelum melangkah Adila merogoh bedak yang selalu dia bawa kemana-mana, menepuk perlahan di tanda merah lima jari dipipi yang kini sudah berubah menjadi lebam.
Setelah dirasanya cukup, dengan langkah tegap Adila masuk ke gedung perkantoran itu.
"Selamat pagi Mbak."
"Selamat pagi, ada yang bisa saya bantu?"
"Saya ingin memberikan surat keterangan sakit atas nama Adira Dimitri."
"Karyawan?" Tanya Receptionist itu.
"Bukan Mbak, anak magang."
"Mbak bisa titip saja disini, nanti saya sampaikan kebagian HRD."
"Oh iya terima kasih banyak Mbak."
"Sama-sama."
Adila yang sudah berbalik, kembali memutar badannya melihat Receptionist itu.
"Mbak boleh numpang ke toilet nggak?"
"Boleh."
Receptionist itu mengarahkan tangannya kedalam gedung," Mbak jalan lurus saja, kemudian belok kanan, nah toiletnya ada di ujung sebelah kiri."
"Terima kasih Mbak."
Adila berjalan dengan tangan diatas perut, menahan kantung kemih yang semakin berat dengan seiring kakinya melangkah.
Saking terburu-burunya, ia tidak melihat tanda kuning yang bertuliskan Cauvation. Naas, lantai yang basah terinjak sepatu flatnya yang licin.
"Awas Mbak..." Cegah OB yang sedang mengepel disana.
"Aaaah..."
Adila memejamkan mata bersiap menahan sakit sekaligus malu dengan tatapan penghuni gedung yang ada disana. Tapi....
Bukannya terjatuh dilantai, Adila merasakan ada seseorang yang menyangga tubuhnya.
Eh....
Perlahan Adila membuka mata. Tatapan mereka bertemu, tanpa kedip, tanpa berpaling, tanpa helaan nafas sedikitpun.
Pria ini....
Adila memutus pandangan, berdiri dan menundukan wajah, tak ingin bersitatap lagi.
"Terima kasih."
"Iya." Jawab pria itu.
Adila menarik bola mata tanpa sedikitpun menaikan wajahnya.
"Saya permisi."
Tanpa menunggu jawaban, Adila berjalan melewati pria itu. Namun langkahnya melambat saat berpapasan dengan pria berwajah datar dengan tatapan yang sangat mematikan. Pria yang sama, yang ia temui di rumah si Tuan yang barusan membantu dirinya.
Adila mengaduh dalam hati, kantung kemihnya pun mendadak kosong, ikut menguap bersamaan dengan keringat dingin yang mengucur dibelakang punggungnya.
Gerak langkah yang cepat, Adila segera menjauh dari sorotan kedua pria yang terus menatapnya tanpa henti. Ia harus segera pergi dari gedung yang membuat dadanya terasa terhimpit batu karang.
Ojeg... ojeg...ojeg... gumamnya dalam hati. Adila membuka aplikasi ojeg online seraya kakinya melangkah keluar. Tempat tujuannya yang kedua adalah kantor agencynya yang tak seberapa jauh dari kantor ini.
Tak butuh waktu lama, motor jenis matic dengan pengendara berjaket hijau berhenti pas didepannya.
"Mbak Adila."
"Iya Mas."
Adila menerima helm yang diberikan tukang ojeg itu dan langsung naik dibelakangnya.
"Ngebut ya Mas."
"Kalau pengen ngebut pegangan Mbak."
"Kalau pegangan dapet diskon?"
"Ya nggak dong Mbak."
"Ya udah jangan banyak ngatur, cepet jalan."
"Aduh si Mbak galak bener."
Dalam perjalanan Adila tak hentinya memikirkan pria tadi. Alisnya, matanya, hidungnya, bibirnya....tampan. Adila menghirup udara dalam-dalam, semua pesona itu pernah ia rasakan dalam satu malam. Bahkan wangi parfumnya pun sama dengan parfum yang dia pakai waktu kejadian malam itu, bau yang sangat memabukan. Semburat senyum tersungging dibibirnya.
"Mbak.... Mbak.... sudah sampai."
Adila merasakan guncangan dipipinya
Astaga...
Tak sadar kepalanya sudah bersandar dipunggung tukang ojeg itu.
Iiih.... Adila bergidik.
"Katanya nggak mau pegangan, tapi kok senderan." Celetuk tukang ojeg itu.
Adila turun, membuka helm dan memberikannya dengan sedikit keras. Mendelikan mata.
"Nggak usah GR."
"Nyaman ya Mbak nyender di punggung saya."
Adila mengangkat sedikit ujung bibirnya," Iya kayak senderan di batu nisan, bau kemenyan." Ledeknya.
"Kuburan dong saya."
"Nah itu tahu."
"Ah si Mbak."
"Nih..." Adila memberikan satu lembar uang lima puluh ribu.
"Nggak ada kembaliannya Mbak."
Adila berbalik meninggalkan tukang ojeg,"Ambil aja lumayan buat beli bunga kuburan."
Tukang ojeg itu tertawa, dikira besok aku mati gitu..
"Makasih Mbak."