Azelia Jhonson gadis periang berusia 17 tahun, duduk di bangku sekolah menengah kelas sebelas, di usianya yang muda dia terlalu menjadi gadis ceroboh yang selalu mengalami hal-hal tak terduga dalam hidupnya, hingga dia bertemu dengan seorang pria bernama Andrew, semua berubah drastis dalam kehidupannya.
Dia lah Andrew Tan, pria satu sekolah dengan Azelia Jhonson bahkan mereka satu kelas, sifatnya berbeda dengan Azelia namun takdir mempertemukan mereka dengan cara-cara yang unik lebih tepatnya sebuah kesialan bagi keduanya bisa bertemu.
Karena kehendak sang nenek dan kakek mereka harus terjebak dalam pernikahan yang rumit, mulai dari pacaran palsu hingga perjodohan yang berakhir dengan pernikahan.
Kedekatan mereka berawal dari rumah yang bersebelahan,membuat keduanya terjebak dalam masalah yang lebih sulit.
Kisah cinta mereka akan di bumbui dengan persahabatan dan juga persaingan yang begitu mendebarkan, jadi tetap stay ya bersama author.
Mari kita simak kisah mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dipta Erna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ultimatum
Pov Author
James dan Zelia tiba di rumah mereka, suasana rumah yang sepi karena para penghuninya sibuk bekerja, Zelia dan James sudah terbiasa seperti itu.
"Bruuuk!" James melepaskan tangannya yang dia gunakan untuk memapah Zelia, alhasil gadis itu jatuh terduduk di lantai ruang tamu.
"Aduh James!" teriak Zelia kesakitan memprotes kelakuan kakaknya itu.
"Jalan sendiri!" ucap James dingin tanpa melihat ke arah Zelia,dia kemudian melangkah ke lantai dua menuju kamarnya.
"James kenapa sih cuek gitu ke aku?" teriak Zelia agar James mendengarnya, pria itu telah meninggalkan Zelia sendiri.
Tak ada jawaban dari James dia tetap melangkah pergi menuju kamarnya, untung saja kedua orang tua mereka kini tidak di rumah, Zelia tidak bisa mengadu pada mereka.
"Kakak Jahanam!" teriak Zelia kesal merutukki James, dia berdiri dan tertatih melangkah menuju kamarnya.
"Ah sial kenapa kamarnya di lantai atas sih!" gerutu Zelia menahan nyeri di lutut dan pinggangnya.
Sedangkan James sedang berbaring di kamarnya, dia sedang kesal dengan Andrew, entah kenapa James tak suka melihat Zelia dekat dengan pria itu, sepertinya mereka mempunyai dendam lama yang pernah terjadi, tapi James tak ingat apapun tentang pria itu.
Setengah jam kemudian Zelia baru sampai di kamarnya, dia menyumpahserapahi kakaknya yang tega meninggalkan dia di ruang tamu.
Baru saja mendudukkan tubuhnya di sofa kamar, Zelia mendengar suara handphonenya berbunyi, dia mencoba meraih benda pipih itu yang terletak tak jauh dari tempatnya duduk.
"Nenek?" ucap Zelia heran bercampur malas untuk mengangkatnya, satu panggilan tak di jawab gadis itu hingga satu pesan masuk, dia membacanya.
Nenek potong jatah bulananmu jika tak mau menjawab telepon nenek.
Isi pesan dari neneknya, wanita paruh baya itu tahu jika Zelia sengaja tak mengangkat teleponnya.
"Aah," Zelia mendengus kesal.
Panggilan masuk kembali ke handphonenya, Zelia dengan cepat menggeser tombol hijau yang tertera di layarnya.
Halo Zelia! Suara nyaring terdengar di seberang, Zelia bahkan harus sedikit menjauhkan handphonenya dari telinga gadis itu.
Apa sih nek teriak-teriak! Balas Zelia kesal.
Kapan kesini sama pacar kamu? Kamu gak lupa kan?
Jedeerr pertanyaan neneknya membuat Zelia seperti tersambar petir, dia harus beralasan apa kali ini.
Em nek Zelia belum bisa datang ke rumah nenek, kaki Zelia sakit. Hanya itu alasan yang bisa Zelia katakan kali ini semoga saja neneknya percaya, toh memang kakinya sedang sakit.
Nenek tidak mau tahu, nenek beri satu hari besok kamu datang ke sini dengan pacar kamu atau kamu segera menikah dengan pria pilihan nenek!"
Glek, Zelia menelan ludahnya dengan kasar,dia tak bisa berkata-kata apapun lagi mendengar titah sang nenek.
Zelia! Sang nenek kembali memanggilnya.
Iya nek, Zelia usahain bisa datang besok!
Zelia terpaksa mengiyakan agar sang nenek tak lagi mengganggunya, kemudian dia menutup telepon terlebih dahulu dan menonaktifkan simcardnya.
"Dasar nenek bawel," ucap Zelia kesal sambil membaringkan tubuhnya di ranjang dan memejamkan matanya sejenak, dia membuang handphonenya ke sembarang tempat.
Hingga malam tiba Zelia baru terbangun dari tidur siangnya, tubuh Zelia rasanya enggan untuk meninggalkan ranjang favoritnya itu, dia tengah bermalas-malasan di atas ranjang, hingga suara langkah seseorang terdengar di balkon kamarnya.
"Siapa sih jam segini di balkon kamarku," ucap Zelia penasaran, tapi dia teringat bahwa belum membuka pintu ke arah balkon sama sekali, lalu dari mana suara langkah kaki itu masuk dan ke balkon kamarnya, Zelia bangun dari tempat tidur, dengan menahan nyeri lukanya dia pelan-pelan melangkah, di ujung meja belajarnya ada sebuah tongkat kasti, dia juga mengambilnya, berjaga-jaga kalau itu maling.
Kakinya mengendap-endap dan saat sampai di pintu penghubung balkon dan kamarnya Zelia mengintip siapa yang berada di luar.
"Tak ada orang," Zelia membuka pintu saat sebelumnya memastikan tidak ada siapapun.
"Apa aku salah dengar ya?" batin Zelia heran.
Tiba-tiba sebuah tangan menutup mulutnya dari samping, Zelia tak sempat berteriak, tubuh mereka sangat dekat bahkan Zelia mampu merasakan deru napas pria itu.
"Umm umm umm!" Zelia hanya bisa berbicara namun tertahan di mulut saja, dia ketakutan setengah mati.
"Sstt diam! ini aku Andrew," ucap Andrew pada Zelia, pria itu melepaskan tangannya dari mulut Zelia, begitu juga sedikit menjauh dari tubuh gadis itu.
"Kamu ngapain ke sini!" Zelia mendelik tak percaya pria itu nekat memanjat tembok pembatas rumah kami.
"Aku dari tadi nelpon kamu tapi gak aktif, jadi terpaksa lewat sini!" ucap Andrew.
Zelia lalu teringat dengan simcardnya yang dia nonaktifkan karena menghindari kebawelan neneknya.
"Ada apa?" tanya Zelia.
"Kakek meminta keluarga kita bertemu besok, gimana nih?" ucap Andrew sedikit gelisah.
"Hah, nenekku juga meminta aku mengajakmu ke rumahnya, gimana dong?" kini Zelia ikut bingung.
"Ya udah kita ketemu aja besok ke rumah nenekmu, sekalian aku bawa kakekku ke sana!" beberapa saat kemudian Andrew memberi ide gilanya.
"Hei itu ide gila, kita hanya berpura-pura pacaran kenapa harus mempertemukan keluarga kita!" protes Zelia tak terima dengan yang di ucapkan pria di depannya itu.
"Ya udah kalau kamu mau tetap dijodohin sama pria itu!" Andrew sedikit memperingatkan Zelia bagaimana awal mereka memainkan sandiwara ini.
"Hei kamu nyebelin banget sih, sama kayak kakakku!" ucap Zelia kesal.
Tok tok tok, suara pintu kamar Zelia di ketuk.
"Zelia makan malam dulu nak!" ucap mommy dari depan pintu kamar.
Zelia dan Andrew gugup seketika mendengar seseorang berada di depan kamar.
"Iya mom," Zelia berteriak.
"Eh itu mommyku, kamu cepetan pergi dari sini, nanti ketahuan!" ucap Zelia pada Andrew sambil mendorong-dorong tubuh pria itu.
"Iya-iya aku pergi!" Andrew dengan cepat memanjat tembok pembatas agar bisa kembali ke kamarnya.
Zelia merapikan rambutnya sesaat setelah memastikan Andrew sudah tak terlihat dari kamarnya.
"Zelia," panggil sang mommy pada Zelia, gadis itu sedikit terkejut dengan keberadaan mommy nya yang tiba-tiba berada di belakangnya.
"Mom," ucap Zelia berbalik menghadap sang mommy.
"Kamu ngapain malam-malam di sini, dingin loh?" ucapnya.
"Eh nggak kok mom, nyari udara segar aja," Zelia mencari alasan yang tepat agar tak di curigai.
"Ya udah ayo makan malam dulu!" ajak sang mommy, Zelia menurutinya, kemudian mereka menuju ke meja makan, di sana tampak James dan dadynya sedang menunggu Zelia.
"Dad," sapa Zelia namun dia enggan menyapa James, karena masih kesal dengan kejadian tadi siang.
"Zelia sayang ayo makan," ajaknya.
"Iya dad," Zelia duduk di samping mommy nya sedangkan James duduk di samping dady mereka, hanya suara sendok dan garpu yang saling bertemu terdengar di antara mereka, Zelia yang biasanya banyak bicara kini tiba-tiba diam seribu kata, membuat orang tua mereka saling menatap heran.