Kisah cinta dua orang insan yaitu seorang pria irit bicara dan tampan/ sang pemilik perusahaan terbesar nomor satu dengan seorang sekertaris cantik yang memiliki sifat manja.
"Asisten Han, apakah kamu menemukan wanita yang ku cari selama ini?" Tanya Bian.
"Belum, Tuan Bian," Sahut Han.
"Yasudah, keluar lah. Satu lagi, selalu cari informasi tetang wanita itu sampai dapat," Kata Bian.
"Baik, Tuan," Sahut Bian.
Dukung ceritanya ya!
HAPPY READING...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Fitrianingsih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keluar Kota
Satu minggu kemudian, aktifitas di kantor sama seperti biasanya. Bian sangat senang dekat dengan Zena, tetapi berbeda dengan Zena, ia risih karena Bos nya yang terkadang usil dan ngeselin baginya.
Di dalam kantor utama BYW. Zena dan Bian sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Ditengah-tengah kesibukannya, Bian berkata pada Zena.
"Zena," Panggil Bian.
"Iya, Pak," Sahut Zena. Ia menyahut tanpa melihat ke arah Bian.
"Dua hari lagi, saya harus ke luar kota untuk menemui Klien," Tutur Bian.
"Yasudah, pergilah Pak," Sahut Zena seraya mengetik Keyboard leptopnya.
"Bukan saya saja yang pergi, tapi kamu juga," Ucap Bian dengan santai.
"Oooh," Sahut Zena tanpa sadar akan ucapannya. Tiba-tiba ia tersadar.
"Apa?" Pekik Zena.
"Zena, bisakah suara mu di pelankan sedikit?" Tanya Bian dengan ketusnya.
"Maaf, Pak. Saya harus ikut dengan anda, Pak?" Tanya Zena.
"Iya," Sahut Bian dengan cuek.
"Saya tidak mau, Pak," Ucap Zena.
"Kamu kan sekertaris ku. Kamu harus ikut dengan ku saat ada urusan pekerjaan," Tutur Bian.
"Jika tau seperti ini, kemarin aku tidak jadi jadi mendaftar kerja sebagai sekertaris," Gerutu Zena.
"Jangan mengomel!!" Tutur Bian.
"Eh, heheh. Tidak kok, Pak," Sahut Zena.
"Di kota mana kita akan pergi, Pak?" Tanya Zena.
"Kota Bali," Sahut Bian.
"Berapa hari, Pak?" Tanya Zena.
"Sampai urusan pekerjaan selesai," Tutur Bian.
"Menginap disana, Pak?" Tanya nya lagi.
"Kenapa kamu seperti Wartawan. Bertanya tidak ada habisnya," Ucap Bian malas.
"Heheh," Zena hanya tertawa.
"Iya, kita menginap disana," Tutur Bian.
"Disana kita nginapnya dimana, Pak?" Tanya Zena.
"Stop!. Jangan bertanya lagi, ok," Sahut Bian dengan nada kesal.
"Hmm," Ucap Zena.
Mereka pun melanjutkan pekerjaan mereka berdua sampai selesai. Saat waktu pulang, mereka pun pulang kerumah masing-masing.
*****
Di kediaman keluarga Bagaskara, Zena meminta Izin pada orang tuanya bahwa ia akan pergi ke Bali.
"Ayah, Bunda. Dua hari lagi aku akan pergi ke Bali," Tutur Zena.
"Ngapain kamu kesana?" Tanya Bram.
"Ada urusan pekerjaan, Ayah. Aku disana sampai urusan pekerjaan selesai," Sahut Zena.
"Kamu pergi dengan Bos mu?" Tanya Raka.
"Iya, Kak," Sahut Zena.
"Apakah kalian mengizinkan?" Tanya Zena.
"Kalau Bunda, ya terserah kamu saja. Asalkan kamu bisa menjaga apa yang harus kamu jaga sebelum kamu menikah," Sahut Ninda. Bundanya Zena.
"Ayah, juga mengizinkan mu," Sahut Bram.
"Kakak juga mengizinkan mu, Jika Bos mu macam-macam pada mu, bicara saja pada Kakak," Imbuh Raka.
"Terimakasih, Ayah, Bunda, Kakak. Aku akan mengingat apa yang kalian katakan," Sahut Zena seraya tersenyum sumringah.
Bram, Ninda dan Raka mengangguk dan tersenyum. Mereka bertiga bahagia jika Zena juga bahagia.
Disisi lain, Bian juga berbicara masalah ia akan pergi ke Bali.
"Pa, Ma. Dua hari lagi aku akan ke Bali untuk menemui Klien," Tutur Bian.
"Yasudah. Kamu pergi dengan siapa?" Tanya Dirga.
"Hanya aku dan Zena saja," Sahut Bian.
"Asisten Han tidak ikut?" Tanya Siska.
"Tidak, Ma," Sahut Bian.
"Kenapa tidak ikut?" Tanya Siska lagi.
"Selama aku pergi ke Bali. Han harus menghandle pekerjaan ku di kantor kita. Jadi Han tidak ikut," Tutur Bian.
Dirga dan Siska mengangguk paham.
*****
Dua hari kemudian, Bian dan Zena sudah janjian bertemu pukul 08.30 wib di Bandara Seokarno-Hatta. Bian pun sampai duluan di Bandara itu.
"Zena kemana ya?" Gumam Bian.
Beberapa menit Zena pun sampai di Bandara.
"Maaf, Pak. Saya lama datangnya," Ucap Zena dengan nafas ngos-ngosan.
"Kenapa kamu lama sekali datangnya?" Tanya Bian dengan ketus.
"Saya tadi kesiangan, Pak". Sahut Zena. Ia merilekskan kan nafasnya.
"Hmm," Sahut Bian.
"Belum ketinggalan pesawat kan, Pak?" Tanya Zena.
"Belum," Sahut Bian.
"Ayo kita masuk, sebentar lagi pesawat akan berangkat," Tutur Bian. Zena membalas dengan anggukan.
*****
Didalam pesawat, Bian dan Zena duduk bersebelahan.
"Akhirnya, tidak terlambat juga," Gumam Zena.
"Makanya kalau tidur jangan seperti orang mati," Celetuk Bian.
"Suka hati lah," Sahut Zena dengan ketus.
"Dasar keras kepala!!" Ucap Bian. Zena hanya mendengus kesal.
Setelah itu, Bian dan Zena tidak ada yang berbicara sedikit pun. Perjalanan mereka dari kota J ke kota Bali lebih kurang dua jam.
Tetapi, sebelum mereka sampai ke tujuan. Zena tertidur di dalam pesawat.
"Hmm, dasar tukang tidur," Celetuk Bian seraya melihat Zena yang sedang tidur pulas.
Bian pun meletakkan kepala Zena di pundaknya.
"Sedang tidur saja kamu cantik, Zena," Batin Bian seraya melihat wajah Zena yang masih tertidur.
"Tetapi, apakah aku bisa memiliki mu dengan fobia ku ini?.Jika kamu tahu aku memiliki penyakit yang aneh, pasti kamu jijik dengan ku," Batinnya lagi.
Beberapa jam kemudian Pesawat telah Landing. Mereka pun sampai ke Bandara Internasional Ngurah Rai di kota Bali.
"*Zena, bangunlah. Kita sudah sampai*,' Tutur Bian pada Zena.
"Iya, Pak," Sahut Zena.
Ia pun membuka matanya dengan perlahan, setelah mulai bangkit dari tempat duduknya.
*****
Setelah itu, mereka pergi ke Villa keluarga Wirawan, yaitu Villa milik Bian juga.
Beberapa menit, mereka pun sampai di Villa itu.
"Pak, ini Villa Bapak?" Tanya Zena.
"Kenapa?" Bian bertanya balik.
"Ck ck, bagus banget, Pak. Megah, bak istana," Sahut Zena. Ia sangat cengang melihat Villa yang dimiliki oleh Bian yang berada di dekat pantai. Villa yang sangat besar dan memiliki 3 lantai serta halaman yang luas.
"Sudah lah, ayo masuk!" Titah Bian. Kemudian, Zena pun mengiyakannya.
Mereka pun telah masuk kedalam Villa itu. Bian mendudukkan tubuhnya di sofa big size yang berada di lantai satu.
"Pak, kamar saya dimana?" Tanya Zena.
"Dilantai dua, sebelah kamar ku," Tutur Bian.
"Pintu pertama, kedua atau ketiga, Pak?" Tanya Zena lagi.
"Kedua," Sahut Bian dengan singkat. Zena pun mengangguk paham.
Zena menuju kamar nya. Beberapa langkah, Bian buka suara.
"Kamu mau kemana?" Tanya Bian.
"Mau ke kamar lah, Pak," Sahut Zena dengan enteng.
"Kamu tidak butuh kunci?" Tanya Bian dengan malas.
"Untuk?" Tanya Zena seraya menautkan alisnya.
"Astaga, kamu bodoh amat sih, Zena. Kamu sudah lulus S1 masih saja pemikiran mu dangkal," Tutur Bian. Sedangkan Zena semakin tidak paham.
"Ini kunci untuk membuka pintu kamar mu," Tutur Bian. Ia meletakkan kunci kamar itu di meja depan sofa.
"Oh iya, Pak. Heheh," Sahut Zena. Ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal karena menahan malu.
Zena pun mengambil kunci kamar itu dari atas meja. Kemudian, Zena mengambilnya, lalu buru-buru naik ke lantai dua seraya membawa satu kopernya. Zena pun sampai ke dalam kamar nya.
"Ah, lelah sekali," Gumam Zena. Lalu, ia merebahkan tubuhnya di atas kasur yang empuk. Lalu, ia memejamkan matanya.
Tiba-tiba, terdengar suara teriakan dari luar kamar Zena. Sehingga membuatnya membuka matanya dan duduk di kasur itu.
*
*
*
*
*
Like, coment, vote
Dukung terus ceritanya...
Bersambung...
maap ya thor bukan mau menggurui cuma sebagai pembaca jujur agak terganggu sedikit dengan cara penulisannya. tapi buat ceritanya mah menarik kok thor👍 semangat!!