Suami Bajinganku Tersayang.
Aku tak menyangka pertemuanku yang tak sengaja dengan Leon, lelaki romantis dan super tampan itu adalah awal dari kisah hidupku yang nelangsa.
Betapa tidak, di umurku yang baru menginjak 18 tahun aku sudah di tinggalkan kedua orang tuaku akibat kecelakaan tunggal dijalan tol.
Kedua orang tuaku hangus terbakar di dalam mobil, sedangkan aku bisa diselamatkan dari kecelakaan maut itu.
Dialah Leon Maleva, pahlawan yang menyelamatkan hidupku sekaligus menjadi suamiku kelak.
Dibalik sikapnya yang manis dan romantis tersimpan sejuta rahasia yang terpendam.
Bisakah aku hidup bahagia dengannya?
Karya ini kolaborasi dari Yoevanca, Fery Tamaki, Tiyan Wijayanti & Nenk triska Zeka
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yoevanca, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 12 - Mencarimu
Sang surya sudah menyapa bumi saat lelaki pemabuk itu tersadar dari tidurnya. Kepalanya masih terasa berputar efek alkohol yang dia tenggak dengan begitu banyak. Dia masih berbaring belum berani untuk bangun, karena dia tahu tenaganya belum sepenuhnya pulih untuk menyangga tubuhnya sendiri.
Dia adalah Leon Maleva, lelaki kaya raya yang kerap hilang akal karena napsu birahinya. Tak terhitung berapa banyak wanita yang diajaknya berkencan. Tapi tak masalah karena mereka melakukannya atas dasar simbiosis mutualisme.
Leon memijit pelipisnya untuk meringankan rasa tegang pada kepalanya.
"Ivanka." Leon teringat pada wanita itu.
Setelah agak mendingan lelaki itu beranjak dari tempatnya berbaring. Dengan pakaian yang acak-acakan dan jalan yang masih sedikit sempoyongan, Leon berjalan menuju kamar Ivanka. Dia berharap Ivanka sudah kembali dan berada di dalam kamarnya.
"Ivanka! Kamu sudah kembali kan?" teriak Leon saat dia sudah berhasil membuka pintu kamar adik angkatnya itu.
Leon berjalan lebih jauh ke dalam kamar dan menyapukan pandangannya ke setiap sudut ruangan mencari-cari keberadaan Ivanka. Dia memeriksa ke kamar mandi namun dia tak juga menemukan wanita yang ia cari. Leon berjalan ke arah ranjang dimana tempat dia telah melakukan aksi bejadnya. Selimut, bantal, guling semua berhamburan dan acak-acakan. Leon meraih bed cover dan menariknya dengan penuh amarah.
"Ivanka, maafin kakak! Kakak sungguh-sungguh tidak sengaja!" teriak Leon dengan histeris.
Seketika pandangan mata Leon terpaku pada noda darah yang tertinggal pada sprei yang membungkus spring bed berukuran king size yang sehari-hari digunakan Ivanka untuk melepas penat. Rasa penyesalannya semakin menjadi-jadi.
"Aku sudah merusaknya. Aku sudah meniduri adik angkatku sendiri, maafkan aku, Ivanka." teriaknya dalam hati.
Leon jatuh terduduk di atas lantai, air mata penyesalannya jatuh berlinangan. Dia mencengkeram rambutnya dengan kedua tangan kuat-kuat dan menjambak rambutnya sendiri. Dia pukuli kepalanya berkali-kali dengan kepalan tangannya.
"Laki-laki breng*sek! Laki-laki baji*ngan! Terkutuk hidupmu, Leon! Kamu seperti hewan yang nggak punya perasaan! Hanya napsu, napsu dan napsu yang ada di otakku!!" Leon merutuki dirinya sendiri.
"Kemana aku harus mencarinya sekarang? Ivanka, pulanglah! Kembalilah padaku, Sayang. Kakak mohon!" Leon Maleva berteriak-teriak dengan histeris.
Leon mengamuk. Dia mengambil botol parfum yang tergeletak pada meja rias Ivanka dan melempar cermin dengan botol yang terbuat dari kaca tersebut. Dan, "Pyar!" Suara cermin yang luluh lantah dan kepingannya berhamburan kemana-mana. Leon melihat pantulan dirinya dari kaca yang terkoyak sebagian tersebut.
"Brengsek! Laki-laki baji*ngan lu, Leon!" Leon mengumpat, dia menunjuk-nunjuk cermin dihadapannya dengan jari telunjuknya. Mata lelaki itu memerah, urat-urat di wajahnya menonjol saking memuncak amarah yang dia rasakan untuk dirinya sendiri.
Tidak puas sampai di situ, kini giliran vas bunga yang tidak punya salah dan dosa apapun yang menjadi incaran kemarahannya. Vas yang berisi air dan beberapa tangkai bunga mawar putih itu dia lempar membentur tembok. Dan Leon berhasil memporak-poranda kondisi kamar Ivanka menjadi persis seperti kapal pecah. Berantakan dan mengenaskan!
Leon memegang kepalanya dengan kedua telapak tangan, lelaki itu frustasi. Dia berjalan ke sana kemari seperti orang kebingungan. Tidak dihiraukannya pecahan-pecahan kaca yang siap melukainya kapan saja. Dengan kaki telanjang Leon berpijak ke sana kemari hingga tidak sadar telapak kakinya tertusuk serpihan kaca dengan cukup dalam dan menyebabkan darahnya tercecer di atas lantai. Namun Leon tidak bergeming, dia abaikan rasa nyeri yang menjalar. Dia terus memeras otaknya untuk berpikir bagaimana caranya dia menemukan Ivanka.
Leon memencet tombol yang disediakan di tiap kamar, tombol itu berfungsi untuk memanggil asisten rumah tangga dan asissten Leon lainnya tanpa harus kesusahan berteriak ataupun keluar kamar. Yang saat ini dia hubungi adalah Tama. Tanpa menunggu lama lelaki itu meluncur ke tempat dimana bosnya itu berada.
"Ya amplop! Bom Hiroshima dan Nagasaki ternyata nyasar sampai kemari," komentar Tama saat dia melihat keadaan kamar Ivanka yang berantakan. Lelaki itu berjalan perlahan-lahan karena takut pecahan kaca menembus sepatu vantovelnya.
"Tuan, ada apa ini?" tanya Tama saat jaraknya sudah dekat dengan bosnya berdiri.
"Cari Ivanka secepatnya! Sebar fotonya di seluruh sudut kota! Beri imbalan seratus juta rupiah bagi siapa pun yang bisa menemukannya!" perintah Leon dengan tegas.
"Memang kemana Nona pergi, Tuan? Dan apa yang terjadi?" Tama penasaran. Lelaki itu memang harus selalu tahu apapun yang terjadi pada Leon. Akan tetapi, meski melihat bosnya dalam keadaan khawatir dan kacau, Tama masih bisa bersikap santai dan tenang.
"Aku sudah menyakitinya," jawab Leon tidak secara gamblang menjelaskan.
Rasa penasaran Tama kian menjadi. Menyakiti dalam hal apa yang bosnya maksud? Hingga akhirnya lelaki itu melihat noda darah yang sudah mengering di sprei yang berwarna putih tersebut.
"Tuan, apa itu darah perawan Nona Ivanka?" tanya Tama dengan ragu-ragu.
"Hmm..." sahut Leon singkat.
"Astaga! Anda baji*ngan sekali, Tuan," cela Tama dengan santainya seolah tanpa rasa takut kalau bosnya ini akan marah. Tama menggeleng-gelengkan kepalanya karena tidak menyangka bosnya akan hilang akal seperti ini.
Leon yang tadi berdiri membelakangi Tama kini berbalik badan, dia mengambil bantal yang ada di dekat ia berdiri dan melemparkannya tepat di muka asissten pribadinya tersebut.
"Tidak perlu kamu jelaskan! Aku sudah tahu kalau aku ini baji*ngan!" sentak Leon karena kesal.
"Syukurlah kalau anda sadar, Tuan. Hanya saja burung anda yang suka tidak sadar diri!" Tama masih bisa mencela Leon.
"Sekali lagi kamu bicara, maka bukan hanya bantal yang terbang mengenai wajahmu yang pas-pasan itu tapi juga kursi rias ini!" bentak Leon. Dia sudah bersiap-siap untuk mengangkat kursi kecil yang terbuat dari kayu jati untuk dia lempar ke arah Tama.
"Yassalam, galak amat! Ampun, Tuan. Saya hanya bercanda!"
"Cepat lakukan apa yang aku perintahkan! Atau aku potong adik kecilmu yang tidak seberapa itu menjadi tujuh bagian!" bentak dan ancam Leon dengan galak.
Ya elah, udah kecil dipotong jadi tujuh lalu istriku nanti dapat apa? Pikir Tama.
"Baik, Tuan. Siap laksanakan!" Tama memberi sikap hormat, "Tapi kaki anda berdarah, Tuan. Biar aku obati dulu." ucap Tama.
"TIDAK PERLU!" teriak Leon hilang kesabaran, "Aku tidak suka kakiku disentuh oleh lelaki!" sahut Leon sambil berteriak.
"Saya pun tidak suka menyentuh kaki lelaki, Tuan. Saya masih normal hingga sekarang," balas Tama.
"Aku hitung sampai tiga kalau kamu masih ada di sini maka aku tidak segan untuk memecatmu sekarang juga!" ancam Leon. Dia tahu itu adalah ancaman yang paling ampuh untuk mengusir Tama dan membungkam mulut asistennya yang terlewat cerewet itu.
"Ba~baiklah, Tuan. Saya akan segera mencari Nona Ivanka." Tama pun pergi sebelum bosnya ini semakin murka.
Sementara itu Leon masih terdiam di kamar Ivanka, hasratnya untuk bekerja pun hilang. Dia cancel semua pekerjaan yang harusnya dia selesaikan hari ini. Dia amat sangat frustasi karena terus dihantui rasa bersalah. Terlebih rasa rindu pada Ivanka kini turut datang menghampiri hatinya.
"Kamu harus kembali, Vanka. Apapun caranya, kamu hanya boleh bersamaku saja. Aku janji itu," kata Leon dengan lirih.
🌴🌴🌴🌴🌴🌴🌴
Jangan lupa like, komen, dan vote setelah membaca.
Bagi yang belum menekan tombol favorit ❤️ di tekan ya supaya kamu bisa dapat notifikasi kalau novel ini up.
ya iyalah gila, kan kepalanya ngebentur, pasti geser dikit lah.
g ada dewasa2 nya....
kejam bngt......🤣🤣🤣🤣🤣😂😂
Aku kemari ngapain😭