Cerita Dewasa‼️
Bayangan gelap menyelimuti wanita bernama Sarah. Suaminya, Bagas Aryanaka, mengalami kecelakaan tunggal dan berakhir hilang ingatan. Parahnya lagi, yang lelaki itu ingat hanyalah seberkas memori indah bersama mantan kekasihnya-adik kandung Sarah yang bernama Farah.
Hal tersebut menjadi kesempatan bagi sang ibu mertua untuk turut mengusirnya karena dianggap sebagai wanita pembawa sial.
Demi membalaskan dendam dan menuntut hak anaknya. Ia pun memutuskan untuk menyamar sebagai pembantu di rumah keluarga Aryanaka. Sarah berjuang untuk menyembuhkan amnesia Bagas dengan terus berada disisi pria itu, sekaligus, melancarkan aksi liar dengan menggoda sang mantan suami.
Apakah Bagas akan kembali?
atau malah keduanya akan semakin lepas kendali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lady Matcha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12 Suratih Pergi
Siapa sebenarnya Thalia? Begitulah yang kini kian hinggap dalam benak dan pikiran Bagas Aryanaka. Jaksa ternama ibu kota yang seharusnya tengah sibuk mengurus dokumen perkara di kantornya itu, saat ini malah lebih memilih mengurus pencarian identitas lengkap dari Thalia—si pembantu baru kediaman Aryanaka.
Sejak adegan mi instan di dapur rumahnya pada malam hari tepat satu minggu yang lalu, Bagas menjadi selalu terngiang dengan sosok Thalia. Bukan terpesona, lebih tepatnya ia semakin menaruh curiga. Karena sampai saat ini, baik Raska maupun bawahan yang lainnya belum berhasil mendapatkan identitas lengkap dari Thalia.
Tentu akan lebih mudah jika ia bertanya langsung kepada orangnya, tapi ia ragu Thalia akan menjawab dengan jujur. Bahkan pertanyaannya tentang mi instan minggu lalu, masih belum terjawab. Saat itu Thalia hanya terlihat kaget, lalu terdiam dan langsung pamit begitu saja.
Bagas merasa geram. Tapi untuk saat ini ia tidak bisa serta merta memaksa Thalia, karena perempuan itu adalah orang yang telah menolong sang bunda—juga menjadi pelayan ekslusif kesayangan ibunya.
Masih sibuk dalam lamunannya, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu. Bagas yang saat ini duduk santai sambil menghadap kaca besar ruang kerjanya, dengan nada datar langsung saja menyuruh orang diluar sana untuk segera masuk.
"Paling juga Raska," pikir Bagas.
Namun, ternyata dugaannya salah. Bukan sang asisten yang datang, melainkan sosok wanita yang telah melahirkan dan membesarkannya, yaitu Suratih.
Bagas mengernyit heran, merasa aneh dengan fakta ibunya itu mau repot-repot mengunjunginya ke kantor. Sang bunda memang terbilang jarang datang ke kantornya, mungkin hanya beberapa kali saja, itu pun hanya untuk membahas tentang rencana pernikahannya dengan Farah.
Bagaimanapun Suratih sampai saat ini masih tidak suka dengan pekerjaan Bagas sebagai jaksa. Ia lebih suka jika anaknya mau mengambil tanggung jawab penuh mengurus perusahaan properti keluarga mereka. Tapi karena anaknya itu sangat susah diatur, Suratih pun akhirnya menyerah. Toh ternyata tidak ada salahnya juga putra semata wayangnya itu menjadi jaksa. Apalagi kini namanya telah dikenal baik oleh masyarakat luas, dan akhirnya ia pun kecipratan pamor juga.
"Bunda? Tumben kesini Bun, ada apa?" tanya Bagas seketika sambil memerhatikan ibunya yang kini telah mengambil duduk pada sofa panjang yang berada di ruang kerjanya.
Menaruh tas mahalnya di meja, Suratih pun menjelaskan alasan kedatangannya. "Ya, langsung aja Bagas. Bunda tuh mau bilang sama kamu kalau bunda bakalan ada project bisnis bareng temen-temen bunda di Thailand."
Berdiri dari kursi kekuasaannya, Bagas menghampiri bundanya itu dan ikut mengambil posisi duduk—berhadapan dengan ibunya yang saat ini tampak sudah lebih segar sejak tragedi penculikan yang menimpanya beberapa minggu lalu.
"Memang Bunda ada project apa Bun? Katanya bunda mau santai - santai aja dirumah. Bahkan dari tahun kemarin juga udah gak handle perusahaan 'kan."
Wanita dengan rambut hitam tersanggul itu pun tersenyum menatap anaknya. "Bunda tuh sebenarnya udah diajakin dari lama tau, tapi masih males aja. Nah, sejak penculikan waktu itu tuh bunda ngrasa kepikiran terus nak. Jadi kayaknya bunda harus cari kegiatan deh biar gak stres. Lagian project-nya juga nyantai kok, collab bikin restoran di Thailand."
Mengetahui ibunya ternyata masih memikirkan kejadian penculikan itu, membuat Bagas merasa bersalah. Selain daripada ia yang belum berhasil menemukan pelaku kejahatan tersebut, ia juga belum bisa menjadi anak baik yang bisa selalu mendampingi bundanya.
"Maafin Bagas ya bun. Bagas bukannya nemenin bunda, malah Bagas sibuk sampai gak ada waktu disaat bunda lagi butuh Bagas."
"Aduh Bagas, gak papa kok. Bunda oke-oke aja. Makanya nih bunda mau cari kegiatan biar lebih produktif, mumpung ada kesempatan dan banyak temennya juga," balas Suratih mencoba menenangkan.
Alasan yang diberikan bundanya itu memang patut Bagas terima. Sudah sewajarnya ibunya melakukan kegiatan yang dapat membuat dirinya jauh lebih rileks agar bisa melupakan tragedi mengerikan yang sebelumnya ia alami. Maka dari itu, Bagas pun segera menyetujui rencana sang bunda.
Namun sebelumnya, ia kembali memastikan terkait bisnis yang akan ibunya lakukan itu. "Aku setuju aja sih Bun, yang penting berdampak positif buat bunda. Oh iya, memang project-nya bareng siapa saja dan berapa lama Bun? Biar Bagas siapkan nanti untuk keperluan akomodasinya."
Sambil bersandar pada bagian belakang sofa, kini Suratih tampak lebih santai. Kemudian ia pun menerangkan lebih detail kepada Bagas. "Bareng sama temen-temen kuliah bunda dulu Gas. Nah, untuk waktunya, gak lama kok, cuma enam bulan aja."
Hanya enam bulan katanya? Bukankah itu termasuk lama untuk orang yang baru saja mengalami insiden mengerikan?
"Bunda serius? memang harus selama itu?" tanya Bagas memastikan.
Suratih sudah menduga bahwa Bagas sepertinya akan cukup keberatan, apalagi dirinya baru beberapa hari kembali ke rumah dan sekarang ia malah ingin pergi. Kalau saja bukan karena ancaman dari para cecenguk yang telah menculiknya itu, ia juga segan untuk pergi dan membiarkan mereka leluasa berada di kediamannya.
Belum lagi kini ia harus repot-repot berakting untuk meyakinkan Bagas. Sungguh menyebalkan.
"Ya, karena banyak yang perlu diurus nak. Bunda disana pokoknya sampai restorannya opening dan setidaknya cukup stabil."
"Memang gak bisa nyuruh orang aja gitu Bun? Toh kita punya banyak uang buat bayar mereka."
Bagas tampak masih keberatan dan mencoba membuat ibunya memikirkan kembali rencananya. Namun, sesuai skenario awal yang telah diberikan kepadanya—Suratih pun tetap kekeh dengan keputusannya itu.
"Bagas, kalo bunda nyuruh orang, sama aja bunda gak jadi produktif dong. Lagian ini kan barengan sama temen-temen Bunda disana. Masa bunda mau lepas tangan gitu aja. Gak enak dong sama yang lain," terang Suratih meyakinkan.
Sebenarnya Bagas agak tidak setuju dengan rencana bundanya itu. Semenjak kejadian naas dimana sang bunda diculik dan dicelakai oleh orang-orang tidak dikenal, Bagas menjadi semakin protective dan khawatir. Ia takut kejadian seperti itu bisa terulang kembali.
Namun tampaknya ibunya itu memang sudah sangat ingin pergi dan teguh dengan pendiriannya. Maka mau tak mau Bagas pun hanya bisa mendukungnya. "Hmm, ya sudah terserah bunda aja. Tapi untuk jaga-jaga bakal ada lima bodyguard yang ikut bunda ke Thailand."
Suratih tersentuh dengan kepedulian Bagas terhadapnya. Putranya itu memang terbaik dan luar biasa menyayanginya. Kini ia menjadi semakin bersalah karena telah berbohong demi menutupi tingkah buruknya selama ini.
Ia hanya berharap gangguan yang datang sebentar lagi, tidak akan berhasil menembus pertahanan kediaman Aryanaka dan tidak akan mampu mengembalikan ingatan anaknya itu. Sudah cukup dahulu ia sering berselisih paham dengan Bagas hanya karena membela wanita sial bernama Sarah itu.
Walaupun kini ia harus bekerjasama dengan mantan menantu udiknya itu, tapi dalam benak terdalamnya tentu saja ia berdecih tidak sudi. Tidak apa ia harus pergi untuk sementara waktu, karena ia yakin Sarah tidak akan pernah berhasil dengan rencananya itu.
"Oh iya, bunda mau berangkat kapan?"
...****************...
KEDIAMAN ARYANAKA
"Malam ini."
"Hah? Malam ini banget mbak?" tanya seorang remaja yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga disana.
"Iya Mentari, makanya sekarang cepetan bantu aku beresin barang-barang nyonya," ujar sosok perempuan berambut cepol bernama Marni.
Mentari menghela napas, kemudian mereka pun segera naik ke lantai dua untuk menjalankan perintah yang diberikan. Beberapa menit sebelumnya ada telfon dari tuan mereka yang mengatakan bahwa nyonya Suratih akan bertolak ke negara Thailand untuk kepentingan bisnis malam ini hingga enam bulan kedepan.
Mereka tentu merasa terkejut, karena Nyonya mereka baru saja pulang dan baru beberapa hari berdiam diri dirumah setelah tragedi penculikan yang menimpanya. Entah apa yang nyonya mereka itu pikirkan. Marni dan Mentari hanya bisa pasrah menjalankan tugas dadakan tersebut.
Dilain sisi, ada seseorang yang mengintip pembicaraan mereka dari balik tembok tidak jauh dari sana. Tampak sosok perempuan berambut hitam gaya cepol memakai baju pelayan berwarna hitam sepanjang lutut lumayan ketat, dan tertutupi oleh apron putih yang cukup kotor karena terkena cipratan makanan serta beberapa bekas debu dan tanah.
Tampak disana ia tersenyum senang dan terkekeh pelan, "Akhirnya."