Kedua orang tuanya meninggal berbarengan, tiga adik kecilnya terancam kelaparan, Adeline Dewi dipaksa untuk mencari pekerjaan dengan gaji yang lebih instan daripada sekedar 'pendamping bayaran'. Memang dasar semprul, ia nekat menjadi ART di rumah konglomerat memalsukan foto di ijazah dengan dokumen dari calon kandidat sebelumnya yang ia tipu.
Tujuan utama Adeline, mencuri dan balas dendam.
Sedikit-sedikit barang mewah yang tampaknya tak terpakai, ia ambil dan ia jual. Syukur-syukur dapat perhiasan.
Tapi aksinya ketahuan oleh pemilik rumah, Argan Atmorajasa. Salah Adeline sendiri, dengan seenaknya mencium laki-laki itu di depan teman-teman Argan. Sudah pasti pria itu langsung menandai Adeline.
Tapi, ada alasan kuat kenapa di usia 36 Argan masih melajang. Dan saat tahu alasannya, membuat Adeline ingin mundur saja rasanya.
Di lain pihak ia juga diganggu oleh Dewa, Si Kepala Bodyguard dengan pesona luar biasa. Ia menyimpan sejuta misteri, apakah termasuk rahasia Adeline juga?!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Septira Wihartanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
She's a Hero
Itu memang acaranya Venezio Grup, Perusahaan multinasional milik Keluarga Atmorajasa. Semua yang hadir di sana dalam rangka menjalin relasi bisnis dan hubungan kerjasama berbasis cuan.
Namun, kali ini bukan lagi Argan yang jadi bahan perhatian.
Sejak rombongan mereka turun dari mobil, semua mata tertuju ke arah seorang wanita anggun berparas menawan. Ia begitu menarik perhatian dengan tubuh tinggi dan postur idealnya.
Adeline menggunakan celana kain berwarna putih dan atasan berenda yang manis. Sangat cocok untuk acara di tepi danau semacam ini, walau pun danau-nya ya danau buatan.
Adeline reflek memeluk lengan Argan yang besar dan kuat lalu tersenyum semanis mungkin ke arah kamera.
Sementara Argan dengan jengah berusaha menyingkirkan Adeline sejauh mungkin.
“Jangan peluk-peluk, risih!” gerutu Argan.
“Gue nih mau nolongin lu, Ganteng! Biar nama baik lo terjaga. Atau lebih baik lo peluk aja tuh si Dewa. Kayaknya dia jiper sendirian aja.” Bisik Adeline sambil mengarahkan tangan Argan ke arah pinggang langsingnya.
“Dia memang harus sendiri Mbak Adeeee, biar dia bebas bergerak.”
“Sendirian ya... kira-kira kemana nih rutenya?” Adeline menatap sosok Dewa yang menghilang di antara kerumunan. “Siapa tahu kan bisa diselingi.”
“DI...selingi?” tanya Argan merasa aneh.
“Di selingi adegan mesra di tengah pekerjaan.” Gumam Adeline sambil memanjangkan lehernya mencari keberadaan Dewa. Pria itu benar-benar sudah menghilang entah kemana. Cepat sekali pergerakannya.
Argan langsung merinding mendengar penuturan Adeline barusan.
Adeline mendengus sebal karena sekarang dia hanya berdua dengan si tuan muda congkak bertinggi 2 meter. Di sekeliling mereka memang banyak bodyguard lainnya sih, tapi tetap saja Adeline lebih nyaman kalau Dewa ‘terlihat’. “Jadi misi gue adalah deket-deket lo, sedekat mungkin, agar mengacaukan jarak pandang sniper. Oke? Kalau perlu kita peluk-pelukan-“
“Nggak. Nggak bisa dan Nggak mau. Mending gue peluk Dewa aja.” Sahut Argan tegas.
“Ya udah gue tinggal laporan ke Dewa kalau lo nggak ngikutin alur-“
“Nggak usah ngadu, kuntiiiii!” geram Argan sambil menarik Adeline mendekat.
Akhirnya Mereka berdua terpaksa dekat-dekatan sambil melempar senyum palsu.
“Ini siapa Pak Argan? Kalau boleh tahu.” Tanya salah seorang pengusaha sambil menatap Adeline.
“Nama saya Ade. Saya asistennya Argan, Pak. Dia Boss saya di... kantor.” Sahut Adeline ramah. Adeline tidak sepenuhnya berbohong, kan? Dia Asisten Rumah Tangga, dan rumah Argan adalah kantornya Adeline.
“Asisten? Saya pikir calonnya Pak Argan.”
“Doakan saja semua lancar ya Pak, Saya terbiasa main ganda.” Adeline menatap si pengusaha di depannya memakai mode ani-ani. Ya gimana dia sudah terbiasa begitu. Nggak bisa ngeliat yang keren, mahal dan pengusaha, langsung ia bagi-bagi kartu club lewat tatapan matanya.
“Main ganda? Jadi saat bersama Pak Argan kamu juga bisa bersama...”
“Maksudnya, saya bisa kerja rangkap-rangkap, gitu ih! Gimana sih bapak khihihi!” potong Adeline.
“Oooh hahahah! Sampai kaget saya. “ desis si pengusaha yang kini menatap Adeline penuh arti.
Padahal memang maksud Adeline ya seperti yang dikira si bapak itu.
“Dia asisten merangkap parasit. ” Sahut Argan dengan pandangan sinis. Argan melanjutkan langkahnya menuju podium
“Amoeba dong gue, khehehe.” Adeline mengikuti Argan
Namun bukan Adeline kalau diam-diam saja. Karena di ujung sana dia melihat beberapa target empuk. Ibu-ibu dengan perhiasan mewah dan beberapa tas Hermes yang dibiarkan terbuka. Hermes memang susah dikaitkan karena sifat penutupnya memakai kunci gesper, bukan resleting, jadi sebagian wanita malas menutupnya secara rapat.
Kebetulan, Adeline memang memilih celana dengan kantong yang agak dalam agar bisa... you know lah!
“Lo ke podium sendiri kan ya?” tanya Adeline ke Argan.
“Iya lah, lo nggak usah ikutan, lo kan tipe cewek yang femes dikit bisa-bisa flexing kemana-mana. Bahaya.” Gerutu Argan.
Tanpa Argan ketahui, terkenal adalah salah satu hal yang dihindari Adeline. Karena saat ini bukanlah waktunya terkenal. Ke-famousan- hanya akan membuat rencananya berantakan dan membatasi geraknya. Semua akan tahu siapa dia sebenarnya.
Jadi Adeline berjalan ke arah kerumunan sosialita. Berniat mencuri 1-2 perhiasan dan mungkin selembar dua lembar kartu kredit. Jangan banyak-banyak atau mereka bisa curiga.
**
Sementara itu, Dewa tiba di atas tower apartemen bagian tengah. Ada 4 tower dengan pemandangan ke danau buatan tempat peresmian komplek mewah di bawah sana.
Dari awal kedatangan ia sudah melihat beberapa orang yang tingkahnya mencurigakan.
Dari atas, Dewa bisa melihat Argan memulai pidatonya.
Namun di tower ini... tak ada siapa pun.
Dewa langsung sadar kalau ini adalah pengalih perhatian, agar ia menjauh dari Argan. Saat ia menyadari kalau sudah tak mungkin lagi untuk turun ke bawah, sebuah peluru melesat menyerempet betisnya.
“ARGHH!!” serunya kesakitan.
Ia jatuh dan reflek langsung mencari tempat sembunyi.
Ia raih senapan laras panjang dari punggungnya.
Dengan gemetaran menahan sakit, ia mengintip dari balik dinding dan dapat melihat penembaknya mencoba melarikan diri dari gedung sebelah kanan.
Dewa membidik si penembaknya.
Belum sampai ia tarik pelatuknya.
DORR!!
Suara tembakan dari gedung sebelah kirinya, gedung yang berseberangan.
Dewa langsung terpaku menyadari yang terjadi. Lagi-lagi ia dijebak. Ada dua sniper yang mengincar Argan, dan sialnya Dewa hanya fokus pada salah satunya. Ia tertipu.
Argan di bawah sana... tanpa pengawasannya.
Dan bunyi tembakan yang tadi, positif, menuju ke arah bawah gedung. Ke arah Argan yang berdiri di samping Danau.
Dewa mengintip dari balik dinding, dan seakan dalam gerakan slow motion, Argan sedang dalam keadaan tertembak dan jatuh ke danau.
Ia bisa melihat Adeline berlari dari ujung sana menghampiri Argan.
Lalu wanita itu juga terjun masuk ke danau.
Setidaknya, Dewa harus mendapat ‘mangsa’ kali ini. Jadi ia bidik senapannya ke si penembak yang kedua yang tadi menembak Argan, di gedung sebelah Kiri.
“DOR!”
Kena
Dan secepat kilat ia bidik ke arah gedung sebelah kanan. Si sniper lawannya sedang berusaha berlari ke arah pintu tangga darurat dan berlari di antara torent air.
“DOR!!”
Kena lagi.
Dan Dewa pun tanpa memedulikan rasa sakit di betisnya, ia lari secepat kilat sekuat tenaganya ke lantai bawah.
**
“Ohokk Ohokk!!” Adeline tiba di pinggir danau sambil terbatuk-batuk. “Gila berat banget badan lo sih Boss!!” seru Adeline kesal.
Namun Argan tidak merespon dan tetap terbaring tak sadarkan diri di sebelahnya.
Adeline panik.
Ia memeriksa luka Argan yang mengalirkan darah segar.
Luka tembak di bahu sebelah kanan.
“Gawat!!” desis Adeline.
Orang-orang langsung panik, beberapa Bodyguard menghampiri Adeline sambil berteriak-teriak.
“Pak! Pak Argan!!” seru Bodyguard 1 sambil mengguncang-guncangkan badannya.
Argan tetap tidak merespon.
“Ambulans! Polisi!” seru si Bodyguard ke yang lain.
“Langsung aja angkut ke Rumah Sakit!” seru yang lain.
“Sebentar!!” seru Adeline. Ia menunduk ke arah dada Argan, berusaha mendengarkan detak jantungnya.
Tidak ada.
Lalu ia periksa nafas Argan dengan cara mendekatkan telinganya ke mulut dan hidung Argan.
Tidak ada angin yang berhembus dari hidungnya.
Ia pun memeriksa denyut nadi di bagian sisi leher Argan.
Ada denyut, tapi amat sangat lemah. Sangat samar.
Oke Elin, ayo ingat-ingat RJP waktu di Prancis dulu. Ingaaat, Ingaaat. Tekanan, Jalur Udara, bernafas. Adeline berbicara ke dirinya sendiri.
Adeline pun menghela nafas menenangkan dirinya, lalu memosisikan dirinya berlutut di samping leher dan Bahu Argan. Ia letakkan salah satu telapak tangannya di bagian tengah dada Argan, dan memosisikan telapan tangan yang lain di atas tangan pertama. Ia pastikan posisi sikunya lurus dan bahu tegak lurus di atas tangan.
Kompresi. Tekan. 1-2 tekanan per 1 detik. Adeline mengingat-ingat instruksi dari pelatih Pemadam Kebakaran, yaitu salah satu pacarnya saat ia di Prancis.
Tentu saja dulu itu saat ia diajari, ia dalam posisi yang eksotis, mereka tanpa pakaian sehelai pun dan bersiap untuk sesi bercinta, Adeline iseng minta diajarkan CPR atau bahasa Indonesianya, RJP (Resusitasi Jantung dan Paru). Tidak ia kira ilmunya akan terpakai saat ini.
Setelah sekitar 100 tekanan. Tubuh Argan belum merespon. Adeline menjepit hidung Argan dan menempatkan mulutnya ke mulut Pria itu. Ia berikan udara dari mulutnya sebanyak dua kali sambil melihat apakah dada Argan terangkat seperti orang bernafas atau belum. Ternyata belum.
Ia memperbaiki posisi tubuh Argan kalau-kalau jalur pernafasan di leher pria ini tersumbat. Kembali Adeline lakukan RJP, ia kembali memberikan pernafasan buatan, untuk yang kedua kalinya. Masih tidak ada respon.
“Dewa!!”
Adeline mendengar jeritan Dewa dari arah seberang.
“Bangun, Boss Bego!! Lemah banget lo ketembak sekali doang masa bisa mati sih?! brengsek!!” seru Adeline sambil menampar pipi Argan berusaha mengembalikan kesadaran pria itu.
“Wa! Dewa!!” Dewa pun datang dan menjatuhkan dirinya di samping Argan sambil mengguncangkan tubuh pria itu.
Adeline kembali memberikan pernafasan buatan, Dan lalu ia tekan lagi dada Argan dengan kekuatan tubuhnya.
Tekanan ke 50...51...52...
Ohokk!! Ohokk!!
Tubuh Argan tersentak dan terbatuk hebat.
Air mengalir keluar dari mulutnya.
“Wa? Dewa lo bisa denger gue??” seru Dewa sambil membantu Argan menyeimbangkan dirinya.
“Gan?” desis Argan sambil berpegangan ke lengan Dewa.
“Astaga...” Adeline menjatuhkan dirinya ke rerumputan sambil menengadahkan kepalanya, berusaha mengatur nafasnya.
Lega sekali rasanya...
Tuhan masih memberikan Argan kesempatan hidup yang kedua, atau ketiga? Entahlah...
Tapi Lalu Adeline menegakkan kepalanya. Lalu mengingat hal yang barusan terasa ganjil.
“Tunggu...” desisnya sambil memicingkan mata.
Sementara Dewa membantu Argan berdiri untuk berjalan ke tempat yang aman.
“Tadi dari arah sana, Pak Dewa manggil Argan dengan nama Dewa, dan saat sadar si Argan manggil Dewa pakai ‘Gan’?”
Lalu adeline mengernyit.
“Ah! Delulu kayaknya gue. Mungkin aja itu ketuker-tuker pas lagi panik...” ia pun mengibaskan tangannya di depan hidungnya sendiri.
Sebuah tangan besar menariknya dari duduknya sampai Adeline berdiri. “Lo ikut kita, cewek gila!!” geram Argan sambil menariknya. “Lo juga harus diperiksa!”
“Bukan gue yang nembak lo, Boss!” protes Adeline.
“Lo kan tadi terjun ke danau nangkep gue! Siapa tahu ada piranha nyangkut di tenggorokan lo!” sahut Argan.
Oh, maksudnya diperiksa kesehatan yaaa, Adeline pun senyum-senyum sendiri.
Syukurlah hari ini semua berakhir baik. Ambulance baru saja datang di sana dan ...
Wait...
Adeline pun menghentikan langkahnya di samping Ambulance.
Sedetik kemudian senyumnya pun menghilang. Adeline merasa sangat lemas.
Sekali lagi, ia menyadari kebodohannya yang amat sangat.
“Adoooh goblooookkk... huhuuuu!” isaknya kesal.
Harusnya ia biarkan saja Argan mati tenggelam tadi, tujuannya ke rumah itu kan memang untuk membunuh Argan. Ngapain juga ia malah bertaruh nyawa menolong pria itu sampai melakukan RJP pula. Ciuman nggak langsung itu sih!
“Begoooo bego!” keluh Adeline sambil membentur-benturkan dahinya ke jendela kaca ambulance.
“Pusing ya Mbak Ade? Coba diperiksa dulu sama petugas.” Dewa menghampirinya dengan Khawatir.
“Gue cewek bego... guee ceweeek begooooo... Eeergghhh!!” serunya Adeline kesal dengan dirinya sendiri.
“Kamu nggak bego kok. Kamu ini pahlawan.” Dewa mengusap rambut pirang Adeline yang basah kuyub.
“Anji... Hueeeee!!” dan Adeline pun terisak karena kesal. Tak sanggup ia mengomel lagi.
Tapi Dewa memeluknya sambil mengusap punggungnya.
“Saya sangat berterima-kasih atas tindakan kamu barusan. Kamu pemberani. Hebat kamu.”
“Sialan... lagi keringetan aja wangi banget sih lo.” Keluh Adeline sambil membenamkan wajahnya di dada Dewa.
Kesempatan dalam kesempitan ceritanya.
gasss🔥🔥🔥🔥👌