NovelToon NovelToon
Jalur Baru

Jalur Baru

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Hantu
Popularitas:643
Nilai: 5
Nama Author: David Purnama

Karena jalan yang lama sudah tidak bisa digunakan. Maka dibuatlah jalan yang baru. Sebuah jalur baru untuk para pemudik yang selalu rindu ingin pulang ke kampung halaman.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon David Purnama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menuju Malam

Rest Area KM *xxxx*A

14:00

"Silahkan yang mau turun",

"Mau ke toilet atau ngopi-ngopi... ",

"Atau yang mau sholat sekalian",

"Istirahat empat puluh lima menit ya... ",

"Aku isi bensin dulu... ",

Bono menurunkan semua penumpang yang berjumlah enam orang.

Cuaca benar-benar panas tidak karuan.

Mereka semua langsung mengantri untuk membeli minuman dingin pereda keletihan.

"Biar aku ambilkan sekalian",

"Biar aku saja pak",

Davis mengulurkan tangan untuk bertukar peran dengan Kristo yang meski sudah tua mau membantu yang lain.

Sambil menenggak sebotol air putih itu Davis memiliki waktu untuk memperkenalkan diri kepada teman-teman satu perjalanannya yang sudah terlebih dahulu saling mengenal nama.

"Mukanya kenapa biru begitu om?",

Tanya Lukas dengan polos.

"Kemarin waktu main bola aku kepleset sampai keluar lapangan, lalu jatuh menghantam batu",

Davis pun asal jawab tanpa perlu memikirkan kebenaran atau kebohongan.

Yang penting bisa memberikan pengalihan supaya menutup kecurigaan yang berlanjut.

Sesudah keluar dari tempat toko oleh-oleh. Mereka berpencar.

Rama, Dinda dan Lukas pergi ke kamar mandi. Disusul oleh Nali.

Kristo pergi ke mushola.

Davis yang hanya membawa apa yang menempel di badan. Tidak berbekal apa-apa pergi mencari tempat makan.

Sementara itu di antrian SPBU akhirnya Bono sampai di depan operator setelah sepuluh menit menunggu.

"Isi penuh ya mbak... ",

"Baik pak, dimulai dari kosong ya... ",

"Oya mbak, kalau jalur yang baru bener lewat sini kan ya?",

"Betul pak",

"Masih jauh mbak?",

"Masih jauh sekali pak... ",

Selesai mengisi bahan bakar bersubsidi. Bono langsung ke tempat ibadah untuk menunaikan sholat yang mau ia jamak.

Selepas berdoa Bono ke tempat makan yang baru saja Davis keluar dari sana.

Bono tidak terlalu fanatik dengan santap berat. Puas baginya sekedar secangkir kopi, kue camilan dan mengepulkan asap.

Bono adalah orang yang menghargai ucapan dan waktu.

Sudah empat puluh lima menit berlalu sejak ia dan rombongan penumpang yang dibawanya turun di rest area yang ada beberapa pohon rindang yang meneduhkan ini.

Bono segera kembali ke mobil yang tidak ia kunci.

"Mari pak Kristo, kita akan melanjutkan perjalanan",

Bono melihat lalu mengajak Kristo yang sedang duduk-duduk di bawah pohon besar yang rimbun.

Kristo hanya mengangguk.

Bono berjalan tanpa menghentikan langkah kakinya.

Sampai di mobil Bono sedikit tersentak.

Semua penumpang sudah siap berada di dalam mobil untuk melanjutkan perjalanan yang masih jauh.

Rama, Dinda, Lukas, Nali, Kristo dan Davis.

Kristo yang baru saja bertemu Bono di bawah pohon besar yang rimbun ternyata sudah ada di dalam mobil.

Memang bukan sebuah hal yang wajar. Sangat aneh.

Tapi bagi Bono yang sudah sering mengalami hal semacam ini. Jadi tidak terlalu mengagetkan.

"Mari kita berangkat pak sopir",

Kata Kristo dengan begitu ramah.

"Siap pak Kristo, mari kita gas lagi",

"Semuanya sudah lengkap ya, tidak ada yang ketinggalan",

Beberapa saat kemudian ketika sudah keluar dari rest area.

"Kamu kenapa Bono?",

Davis membaca kerut wajah teman disebelahnya yang sedikit berubah.

Waktu Bono kembali melihat ke bawah pohon besar yang rimbun. Tidak ada siapa-siapa di sana.

"Tidak ada apa-apa",

Tidak hanya Bono yang menyembunyikan perasaan getir sebab dari apa yang mereka dapatkan beberapa saat yang lalu di tempat peristirahatan roda-roda besar.

Itulah kenapa para penumpang yang ada di bangku belakang semuanya memilih diam dan merahasiakan.

Rama dan Lukas masuk ke toilet pria.

Dinda menunggu di luar.

"WC untuk perempuan yang sebelah mana ya?",

Seorang wanita yang mengenakan kerudung hitam dan baju yang serba merah-merah bertanya kepada Dinda yang sedang sendirian.

"Toilet perempuan yang sebelah sana",

Dinda yang baru saja keluar dari kamar mandi wanita langsung menunjukkan arahnya.

"Terimakasih",

Balas perempuan itu lalu pergi meninggalkan Dinda menuju ke tempat toilet perempuan.

"Sudah mah, ayo kita sekarang ke mushola",

"Tadi mamah bicara sama siapa?",

Pertanyaan itu keluar dari mulut Rama yang baru saja keluar dari kamar mandi bersama Lukas.

"Tadi ada ibu-ibu tanya toilet perempuan",

"Ibu-ibu siapa?",

"Tadi ada ibu-ibu pakai baju merah-merah",

Rama yang sama sekali tidak melihatnya langsung tertegun mendengar jawaban istrinya.

Dinda berbicara sendiri. Itulah yang sebelumnya Rama lihat.

Ketika di tempat wudhu mushola Rama bertanya kepada anaknya.

"Adek, tadi adek lihat mamah bicara sama siapa?",

"Adek lihat yah",

"Ada ibu-ibu pakai baju merah-merah",

Rama yang menjadi satu-satunya yang tidak bisa melihat ibu-ibu yang memakai baju serba merah-merah bungkam seribu bahasa.

Tapi semuanya menjadi jelas ketika mereka serombongan kembali bergerak meneruskan perjalanan yang masih jauh.

Baru beberapa saat meninggalkan rest area. Rama melihat sosok ibu-ibu yang memakai baju serba merah-merah.

Di seberang jalan yang berlawanan dengan menampakkan wajah yang sangat marah.

Nali yang sepanjang perjalanan lebih sering memakai headset juga tidak luput dari mengalaminya.

Nali kembali ke toko oleh-oleh setelah selesai melakukan ibadah.

Nali berniat membeli roti buat jaga-jaga kalau nanti perjalanan lewat jalur baru ini memakan waktu yang lebih lama dan menembus tengah malam.

"Sudah kak, ada yang mau ditambakan lagi?",

"Isi ulang pulsanya sekalian kak",

Seorang kasir melayani pembayaran.

"Sudah itu saja",

"Tidak sekalian koreknya kak?",

Nali terkejut pertanyaan itu keluar dari mulut karyawan toko yang sedang berhadapan dengannya.

Pasalnya dari keranjang belanja yang Nali taruh di atas meja kasir keluar sebungkus rokok menthol.

Dimana Nali tidak pernah merasa memasukkannya.

Nali juga bukan seorang gadis menthol atau pun seorang perokok.

"Aku tidak membeli itu",

Kristo juga merahasiakan keanehan yang terjadi di rest area.

Bahkan kakek itu melihatnya dari sejak awal mobil mereka masuk ke tempat yang sedang banyak kendaraan.

Kristo melihat sosok anak kecil yang telanjang sambil melompat-lompat.

Di bawah sinar matahari yang terik di atas atap sebuah kendaraan besar yang sudah terlebih dahulu terparkir.

Sama sekali tidak masuk akal.

Kristo memilih langsung membuang muka.

"Sudah mulai malam",

"Perasaan dari tadi jalannya sama terus Bon",

"Sebentar lagi juga kelihatan",

"Tenang saja, aman",

"Kita tidak akan tersesat",

Davis hanya memendam keresahannya di dalam lubuk hati.

Semenjak keluar dari rest area terakhir.

Mobil mereka selalu melaju sendiri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!