Mimpi seorang Hasna adalah sembuh dari penyakit yang dia derita dan karena mimpinya itu membutuhkan banyak uang, Hasna pun pergi ke ibu kota untuk mencari uang disana, walau izin dari sang ayah tidak dia dapatkan.
Mungkin karena berangkat tanpa izin dari sang ayah, Hasna yang berada diibukota telah salah memilih kawan, dan berakhir dengan dia yang malu untuk pulang walau hanya bertemu keluarga apalagi sang Ayah yang dulu bersikeras melarangnya pergi.
Dan Kini Dunia Hasna semakin rumit manakala seseorang yang dia sukai hadir kembali dihidupnya, yang sudah tidak berharap akan mendapatkan pasangan, karena kesalahannya dulu yang membuatnya merasa tidak pantas untuk siapapun terutama Burhans yang begitu baik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ade Diah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ungkapan Hati
"Tidak sah? oh kamu mau yang sah? tapi kalau yang sah, apa kamu mau cuman ku beri maskawin uang lima ratus ribu?" dan seketika Hasna menatap Hans dengan rasa jengkel yang semakin besar dan Hans hanya menanggapinya dengan senyuman yang manis menurut Hasna.
Hans yang sudah memberikan senyum pada Hasna, kini beralih menatap langit yang kebetulan sore itu terlihat sangat biru dan dia pun berkata " Sudah jangan marah!! aku hanya bercanda, tapi untuk ungkapan cintanya aku tidak bercanda Na, aku suka sama kamu dari dulu, dari pertama aku melihatmu dan semakin menyukaimu, setelah Nabila selalu memuji kelebihanmu" dan Hans menjeda ucapannya sambil melihat Hasna sekilas untuk melihat raut wajahnya Hasna.
Seyelah memastikan raut wajah Hasna seperti apa atas kejujurannya Hasn pun melanjutkan ucapannya lagi sambil kembali menatap langit sore itu "dan baru sekarang aku punya keberanian untuk mengungkapkan perasaanku ini, aku tahu dan sudah menduga jika kamu akan menolak perasaanku, jadi tadi aku hanya ingin memperjelas apakah dugaanku itu benar atau tidak dan sepertinya benar iya kan?" ucap Hans yang kini beralih menatap Hasna yang masih menatap langit sore hari itu.
Hasna tetap fokus pada langit sore itu walau baru saja sebuah pertanyaan diucapkan Hans untuknya, jujur Hasna bukan ingin mengabaikan ucapan Has, tapi dia merasa bingung dengan perasaannya yang kini sudah menaruh hati pada Hans, tapi tidak bisa dia ungkapkan karena banyak alasan.
Hans yang tidak mendapat jawaban langsung berkata "Ya sudah ayo pulang!" dan Hasna langsung mengalihkan pandangannya pada Hans yang kekeh ingin mengantarnya lagi.
"Burhan... aku lagi nunggu jemputanku, jadi kalau kamu mau pulang, ya sudah pergi sana!" ucap Hasna yang memanfaatkan situasi agar dia tidak perlu menjawab perkataan Hans yang tadi.
"Dia tidak akan menjemputmu lagi" jawab Hans
"Ngawur," balas Hasna.
"Iya, dia tidak akan menjemput atau mengantar kamu lagi, karena tadi pagi aku bilang sama tukang ojek langganan kamu, kalau mulai saat ini dia tidak perlu mengantar dan menjemput kamu, karena... aku yang akan melakukannya."
"Dasar gila, pantesan dari tadi dia gak datang-datang" ucap Hasna kesal.
"Aku memang gila pacar... gila karena mencintai kamu" ucap Hans dan seketika mata Hasna langsung mendelik pertanda tidak suka dengan ucapan Hans.
Hasna yang sudah hampir kehabisan kesabaran langsung mengusap wajahnya lalu berkata "Ya sudah, ayo pulang" itu keputusan diambil Hasna agar bisa pulang dan tidak terus berurusan dengan Hans yang membuat tekanan darahnya meningkat.
"Baikal ayo" balas Hans dan dia langsung naik keatas motornya dan Hasna yang melihat hal itu berkata " ini yang terakhir"
"Tidak, ini permulaan, karena tukang ojek kamu sudah aku kasih uang agar dia tidak menjemput atau mengantarmu lagi" jelas Hans
"Pantas saja dia nurut, sampai benar-benar tidak menjemputku" balas Hasna.
"Iya lah, uang berkuasa diatas segalanya" balas Hans dan Hasna yang ingin tahu berapa Hans memberikan uang pada ojeknya berkata "Berapa uang yang kamu berikan pada-nya?"
"Seribu" jawab Hans dan Hasna berkata "Satu juta maksudnya?"
"Iya seribu-ribu, sudah cepat naik, nanti aku dimarahi kakak kamu kalau kamu pulang telat" ucap Hans dan Hasna berpikir itu hanya sebuah candaan padahal hal itu benar karena Hans pernah meminta izin pada kakak dari Hasna untuk menjemput juga mengantar Hasna.
"Kenapa belum naik?" tanya Hans karena Hasna belum naik juga dan Hasna kini malah menatap motornya dengan sangat tajam.
"Tas kamu kemana?" ucap Hasna setelah lama terdiam.
"Ketinggalan di kelas" jawab Hans, padahal ditinggal dikelas.
"Lah terus gak ada yang jadi penghalang badan kita?"
"Iya gak ada, maaf... tapi kali ini aja besok-besok ada" ucap Hans dan Hasna tentu saja menolak untuk naik dan dia kini malah berlari kearah warung setelah berkata "Tinggu sebentar" dan Hans tentu saja hanya bisa melihat Hasna yang pergi kewarung terdekat dan tidak lama Hasna keluar dengan sebuah benda yang Hans tahu guna benda itu untuk apa.