"Aku memang bukan cinta pertamamu, tapi aku akan menjadi cinta terakhirmu."
Syabilla, nama gadis yang bicara itu. Dan Dhuha, nama pria yang tertegun setelah mendengar apa yang dia katakan.
"Aku seorang duda."
"Iya aku tahu."
"Aku duda dua kali."
"Iya aku juga tahu hal itu."
"Aku sangat jahat, dahulu..."
"Iya, aku tahu semua tentangmu di masa lalu."
"Lantas, kau masih mau menjadi istriku?."
"Iya."
"Kenapa?."
"Karena kata ayah dan ibu kau pria yang baik."
Sejenak Dhuha terdiam, kemudian....
"Baiklah, karena kau sudah tahu siapa aku dan bagaimana masa laluku, mari kita menikah."
Di balik cadar putih itu Syabilla tersenyum. Sementara Dhuha, pria itu kembali diam. Dia tak tahu bagaimana ekspresi para keluarga setelah mendengar kesepakatan mereka, sebab dia buta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Be___Mei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menguntai kasih
Menyentuh wajah sang istri untuk yang pertama kalinya, Dhuha tak menyangka dia akan berada sedekat itu dengan Syabilla. Pada awal perjodohan mereka, Dhuha sangat yakin akan menolak secara halus wanita ini. Tapi..."Aku memang bukan cinta pertamamu, tapi aku akan menjadi cinta terakhirmu" Dhuha kehilangan keteguhan saat itu juga, keyakinannya patah hingga akhirnya menepis keinginan untuk melangkah mundur.
"Matamu sepertinya indah."
"Tentu."
Segurat senyuman tipis terbit di wajah Dhuha, ternyata wanitanya cukup percaya diri.
"Cukup mancung, meskipun kecil."
Syabilla tersenyum saat jemari Dhuha singgah pada hidungnya"Nggak semua yang besar itu memuaskan."
"Syabillaaaaaa."
"Iya banggggg" sahutnya seolah tanpa beban.
Bermula dari melepaskan kerudungnya, menyentuh rambut panjang indah Istrinya, hingga kini menyentuh bibir ranum Syabilla. Dhuha merasa sudah cukup untuk malam ini. Hah?!. Sudah cukup?.
Alih-alih menghabiskan waktu meneguk manisnya bercinta, dua insan yang telah sah ini menyudahi interaksi yang mereka sebut perkenalan, dan memilih tidur dengan tenang malam itu.
Memiliki suami yang sangat tampan, tentu Syabilla sangat bahagia, sebab cintanya memang telah jatuh kepada Dhuha sejak pandangan pertama. Sebenarnya, perlu pemikiran yang matang hingga akhirnya dia menawarkan diri kepada sang suami malam itu, sayangnya Dhuha menawarkan untuk berkenalan terlebih dahulu dengannya. Bukan Syabilla namanya kalau mudah jatuh dalam kesedihan, baginya itu bukan sebuah penolakan, mengingat sedari awal masih ada bayangan wanita lain dalam hati suaminya.
Bersabar, ini adalah waktunya untuk melatih kesabaran. Mencintai wanita dari masa lalu itu teramat dalam, Syabilla yakin cinta yang dalam itu pasti akan dia dapatkan juga dari Dhuha, suatu saat nanti.
"Syabilla" lembut sekali, suara itu membuat Syabilla bergerak namun tak jua membuka mata.
"Syabilla....,ini sepertiga malam kan?" ujarnya, dan kali ini seraya mengusap pipi Syabilla.
Kebiasaan bangun di waktu saat ini untuk beribadah, merayu dan mengadu kepada sang khalik, juga memohon ampun atas segala dosa-dosanya, Dhuha seolah tak memerlukan alarm lagi untuk mengingatkan diri.
Alih-alih menjawab, Syabilla berbalik dan memeluk erat suaminya, hingga kembali genderang di dalam dada Dhuha bertalu-talu.
"Hangat banget!"
Tingkah Syabilla yang menghidu aroma tubuhnya, membuat Dhuha hampir kehilangan akal. Pertahanannya hampir goyah, ditambah aroma wangi istrinya, Dhuha tak menyangka wanita ini sangat menarik hati.
"Glek!" salah satu hal tersulit adalah berperang dengan diri sendiri. Di saat dirinya menawarkan perkenalan dahulu kepada sang istri, kenapa saat ini gejolak di dalam dada sangat tidak tertahankan. Hembus nafasnya mulai berat, sedangkan sang jantung sudah gonjang-ganjing sejak tadi dan kini semakin menjadi.
Pertanyaan Dhuha tak mendapat jawaban, dia justru mendapat pertanyaan konyol dari Syabilla"Bang... yakin nggak mau balas pelukan Syabill?" hanya berjarak beberapa senti dari lehernya, sungguh godaan seorang wanita sangat berbahaya. Hembusan nafasnya sukses membuat bulu halus tubuh meremang.
"Berbahaya?. Dhuha, dia istrimu, halal untuk kamu sentuh" begitulah suara hati Dhuha saat ini.
Pukul dua dini hari, netra monolid lelaki ini mengerjap berkali-kali demi memenangkan diri. Lagi dan lagi dia kesulitan menelan air ludah.
"Sebentar saja, nggak butuh waktu lama" bisik hatinya lagi. Andai dia dapat mengendalikan gejolak sang hati, sayangnya kini Syabilla telah memenuhi pikirannya.
"Bang..."
"Maaf Syabilla, sepertinya abang nggak bisa berkenalan lebih lama denganmu."
Sempat terkejut namun Syabilla dibuat lebih terkejut saat Dhuha menyentuh bibirnya.
"Bismillah, Allahumma jannibnaassyyaithaana wa jannibi syaithoona maarazaqtanaa."
Doa itu!. Syabilla tersenyum tipis saat mendengarnya.
.
.
.
.
.
Sebentar saja?. Haish! Dhuha salah besar. Instingnya seolah tumpul hingga lupa waktu, terlebih Syabilla dengan senang hati menyerahkan jiwa dan raganya saat itu. Hingga kejadian memanen di ladang pahala berjalan cukup lambat. Alhasil mereka melewatkan sholat malam di malam pertama mereka. Ckckckck!.
Pagi ber-embun tiba. Semilir angin pagi menghantarkan aroma dedaunan yang mengingatkan pada masa kanak-kanak Syabilla. Juga irama khas kediaman Dhuha akhirnya didengar Syabilla. Suara ayam, sapi dan kambing. Cicit anak-anak ayam tak ketinggalan bak paduan suara yang menyambut kedatangan Syabilla di kediaman itu.
"Masya Allah, begini pagi di kediaman ini."
Tanpa sadar sudut bibirnya terangkat naik, tersenyum menikmati keindahan alam. Melalui jendela dapur, sejauh mata memandang hamparan rumput hijau dengan ujung pepohonan rindang, sepertinya dia akan sangat betah tinggal di sini.
Cukup lama Syabilla terdiam memandangi sekitar, dia hampir melupakan suami tampannya. Berbeda dengan Syabilla yang sedang berada di dapur, Dhuha tengah berada di pekarangan depan. Bukan hanya sendiri, dia bersama kakek Sa'ad di sana.
"Bagaimana?."
"Bagaimana, apanya kek?."
"Menikah."
"Beginilah."
"Beginilah bagaimana?."
Sebuah tawa, Dhuha tak bisa menahan diri. Dari suaranya sepertinya kakek Sa'ad kesal padanya.
"Ini baru satu hari kakek, saya belum bisa memberikan penilaian."
Membuang muka seraya melipat kedua tangan di dada"Cih!. Bilangnya nggak mau menikah lagi, nyatanya nggak begitu."
"Maaf, kakek. Pernikahan ini terjadi karena perjodohan."
"Kenapa nggak bilang kalau dijodohkan kamu akan menerima!."
"Kakek..."
"Saya jadi bingung harus kepada siapa menyerahkan keponakan saya!."
Dhuha kehabisan kata-kata, dia hanya bisa meminta maaf lagi dan lagi pada kakek Sa'ad.
"Sudahlah, nggak perlu terus meminta maaf. Istri kamu lebih cantik dari keponakan saya, saya akui itu."
Cantik, sudah beberapa orang yang mengatakan Syabilla cantik, padahal dia memakai cadar. Teringat saat menyentuh mata wanita itu tadi malam, apakah dia semenarik itu hingga matanya pun mampu membuat orang mengatakan dia cantik?.
Langkah kaki kecil Syabilla mengantarkannya pada kakek Sa'ad dan Dhuha. Dia pun mendekat dan ikut menyapa kakek Sa'ad. Dia juga menawarkan minuman padanya.
"Teh hangat boleh juga."
"Kalau abang, mau minum apa?."
"Teh hangat juga, boleh."
Senyum hangat kakek Sa'ad di balas senyuman pula oleh Syabilla, terlihat dari kedua matanya yang menyipit.
"Periang."
"Dia?."
"Siapa lagi?. Pantas saja kamu bersedia menjadi pendampingnya."
"Ah kakek bisa saja."
"Jujurlah nak Dhuha, saya sangat tau keteguhan hati kamu untuk nggak menikah lagi."
"Hemm, bisa dibilang seperti itu, kek. Pertama kali bertemu saya suka mendengar suaranya."
Kakek Sa'ad memainkan telunjuk di depan Dhuha"Naahhh, jadi kamu jatuh cinta padanya sejak awal."
"Hehehe, entahlah kek. Saya nggak bisa menjelaskannya."
"Memang kenapa suaranya?."
"Tegas dan lugas, itulah dia."
Kakek Sa'ad tersenyum dengan kepala menggeleng"Dasar anak muda. Hanya dari suara sudah bisa jatuh cinta. Aneh."
"Kakek..."
"Sudah, sudah. Dia sudah berjalan kemari."
Menoleh ke arah suara langkah kaki Syabilla, Dhuha dapat melihat bayangan wanitanya yang berjalan semakin dekat.
"Ya Allah, Maafkan diri ini. Bahkan bayangannya pun membuat hamba semakin cinta."
Benar apa yang dikatakan kakek Sa'ad, Syabilla memanglah gadis yang hangat dan ceria. Bukan hanya minuman, dia juga membawa kue dan menyuguhkannya pada mereka berdua. Dia juga mengajak kakek Sa'ad untuk sarapan bersama, namun sayang kakek Sa'ad menolak tawaran itu.
"Maaf, untuk kali ini tawaran kamu kakek tolak. Kakek yakin ada istri yang sedang mengolah sarapan untuk kakek saat ini di rumah."
"Harus kamu tau, istri kakek sedikit galak. Apalagi kalau masakannya nggak kakek makan."
"Kakek..."
"Apa? kamu mau mengadu pada nenek?."
"Enggak, tapi sudah Dhuha rekam." sahut Dhuha tertawa.
"Lihat! dia nakal kan!. Anak-anak muda di sini memang suka melihat kakek diomelin nenek, apalagi suami kamu ini, nak Syabill."
Syabilla tersenyum, ternyata suaminya juga bisa bercanda"Syabilla minta maaf untuk itu ya kek."
"Nanti, Syabilla akan balas kenakalan dia pada kakek."
Tangan kanan mengangkat gelas tehnya, tangan kiri mengacungkan jempol kepada Syabilla"Bagus, kalau begini kan enak. Jadi kita bisa berteman."
"Siap!. Kakek teman pertama Syabill di sini!." Mendengar dari suaranya, kakek Sa'ad dan Syabilla melakukan tos!. Dhuha yang sejak tadi tertawa kelain arah jadi semakin tertawa lebar.
"Ya Allah, tuan ketawanya lebar banget. Apakah menikah sebahagia ini, To?."
Dua orang terdekat Dhuha menyaksikan interaksi mereka dari depan pagar.
"Entahlah, kamu nanya sama orang yang belum pernah menikah!."
To be continued.
Selamat membaca. Salam anak Borneo.
Keren banget Kakak Author, novel yang luar biasa bikin perasaan campur aduk..
Tokoh2nya, alurnya & semua2nya bagus pokoknya 🥰
Untung zaman sekarang, orang2 udah pd berpikir logis..
Walaupun dulu Dhuha sama Mama Jelita kejam, tapi sekarang mereka sudah bertobat dan berubah jauh lbh baik..