NovelToon NovelToon
Fajar Untuk Embun

Fajar Untuk Embun

Status: tamat
Genre:Cinta pada Pandangan Pertama / Cintapertama / Cinta Seiring Waktu / Cinta Murni / Tamat
Popularitas:44.3k
Nilai: 5
Nama Author: Melisa ekprisa

belum di revisi


Tolong baca nya jangan di lompat!


SEKUEL SAYEMBARA JODOH

kisah anak-anak Dira dan Juna.


"Sampai sekarang aku masih mencintaimu, Bun."

"Kakak jangan gila! Aku ini calon adik iparmu!"

"Apa kamu mencintai Angkasa?" tanya Fajar.

Embun pun menjawab sambil membuang muka. "Ya. Aku mencintainya! Puas?"



Embun tidak pernah menyangka dipertemukan kembali dengan Fajar--seseorang yang datang dari masa lalu. Lelaki yang sangat mendambakan dirinya. Akan tetapi, Embun harus meninggalkan Fajar sebab begitu banyak tekanan yang dia hadapi. Tembok mereka cukup tinggi.

Saat ini Embun sudah bersama dengan pria lain. Pria yang memiliki kedekatan cukup erat dengan Fajar, yang menjadi pilihan ayahnya.

Lalu, bagaimana dengan Fajar? Cinta yang dia simpan rapat-rapat kini kembali bergejolak setelah pertemuannya. Akankah dia menyimpan cinta itu untuk selamanya? Atau justru berjuang untuk mendapatkan cintanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melisa ekprisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ancaman dua papa

Embun masih berkutat di depan laptop. Banyak tugas yang harus dia selesaikan. Sedangkan papanya ada pertemuan dengan klien. Embun memandang video euforia menjelang ulang tahun Kinara. Apalagi berita berhembus kalau Fajar akan bertunangan di acara itu. Langkahnya meninggalkan laptop menuju ke jendela kamar. Langit malam seakan jadi pengobat rasa gundahnya. Tadi Kinara meminta dia sebagai pendamping. Kenapa harus dia? kenapa bukan keluarganya. Atau papanya.

Embun pun teringat bagaimana hari-harinya penuh dengan bunga-bunga bermekaran di hatinya. Perlakuan Fajar yang super romantis. Perlakuan Fajar yang di damba semua wanita. Belum lagi dia mendapatkan ultimatum dari beberapa senior. Mereka yang tidak suka kedekatan Fajar dan Embun.

Embun melihat mobil papanya sudah masuk garasi. Dia memilih tetap berada di kamar. Lintang masuk ke kamar sambil membawa beberapa makanan. Katanya oleh-oleh dari papa Trias. Gadis itu tetap asyik melahap makanannya.

"Kak,"

"Iya," Embun menjawab tanpa menoleh kearah adiknya.

"Benar kakak punya pacar?" Lintang membulatkan matanya ketika di balas anggukan Embun.

"Astaga. Aku pikir kakak anak yang paling patuh sama papa. Ternyata pelanggaran juga." tawa lintang lepas. Puas karena kakaknya tidak ada bedanya.

"Sudah ketawanya,"

"Belum, kalau cowok kakak tidak senasib dengan Ridho. Kakak lupa papa tidak peduli kalau harus masuk penjara. Bagi dia kepentingan kita lebih utama. Aku nggak tahu kenapa Alhamdulillah Ridho di kasih efek jera. Biar dia tahu rasa."

"Cuma kakak masih bingung. Keluarga Ridho kok Dian saja. nggak ada coba tuntut papa gitu. Secara anaknya di buat kritis juga. Kebanyakan orangtua anaknya benjol sedikit saja sudah lapor polisi." ucap Embun.

"Ya kekuatan papa lah, di bantu sama bos nya itu." jawab Lintang. "Apa sih yang tidak bisa papa lakukan. Tameng nya prioritas kita. Tapi kalau sampai segitunya bukan prioritas lagi namanya. Obsesi!"

"Jadi Ridho keadaannya bagaimana sekarang?"

Lintang hanya menaikkan bahunya. Dia juga sudah tidak respect sama Ridho. Bisa-bisanya pemuda itu berani buat macam-macam pada salah satu teman sekolahnya. Walaupun dia tahu temannya tidak salah. Malah ridho yang mengincar gadis itu duluan. Itu dia buktikan saat memakai nomor temannya.

Obrolan mereka terhenti saat papa Trias masuk ke kamar anak gadisnya. Lintang yang tadi hendak keluar ikut di minta tetap di kamar. Lintang menurut saja. Dia juga penasaran apa yang akan di bicarakan papa dan kakaknya.

"Ada apa, Pa?"

"Papa mau bahas hubungan kamu dengan Fajar. Bisa?" kata Papa Trias dengan mimik serius.

"Bisa." Jawabnya memindahkan posisi duduk di samping Lintang.

"Bun, papa tahu kamu sedang di mabuk asmara. Papa juga pernah muda. Tapi masalahnya ada lah kamu berada di tengah hubungan orang lain."

"Maksudnya apa, Pa?"

Trias pun menceritakan kalau Marcel Papanya Kinara datang ke kantor. Trias pun kaget saat Marcel menjelaskan hubungan Embun dan Fajar.

"Anak saya Kinara, dari kecil sangat mencintai Fajar. Bahkan dia pernah meminta jika dewasa mau nikah sama Fajar. Dan anak saya terpaksa mengalah demi Embun. Sebagai seorang ayah hati saya sakit sekali. Demi temannya dia rela berkorban." kata Marcel penuh haru.

" Apakah ini ada hubungannya dengan anak saya?" Trias masih belum paham maksud Marcel.

"Tentu, makanya saya menemui anda. Tolong bilang ke anak anda jangan goda calon anak saya. Lelaki yang di cintai anak saya. Anda seorang ayah kan? Pasti ingin membahagiakan anaknya kan? Begitu juga saya."

"Maaf pak Marcel. Anak saya tidak pernah menggoda calon anak bapak. Tapi justru lelaki ini yang terus mengejar anak saya. Jadi ...." Trias belum selesai bicara, Marcel langsung menjeda karena ada telepon.

Trias menatap tamunya dengan sinis. Tentu dia akan memberi perhitungan pada Fajar terkait Embun. Baginya permasalahan utama adalah Fajar, bukan putrinya. Trias pun akhirnya menghubungi salah satu anak buahnya.

"Saya minta kamu kasih pelajaran pada pemuda itu. Saya sudah ambil nomor handphonenya dari ponsel Embun. Tinggal kalian lacak di mana keberadaannya."

" Baik, Pak." kata anak buah Trias.

Trias menutup teleponnya. Sesekali menyunggingkan senyuman ketika Marcel kembali menemuinya. "Jangan main-main sama saya, Fajar." batin Trias.

"Oh ya, saya harus kembali ke kantor. Saya bisa memberikan apa yang kamu mau jika kita saling membantu." kata Marcel.

"Oke, Saya janji akan menjauhkan mereka. Saya juga tidak setuju hubungan mereka. Apalagi si Fajar kalau datang tidak punya rasa sopan. Dia sering menggoda anak saya. Saya juga tidak tahu bibit bebet bobot anak itu. Ya kalau anda mendaulatnya jadi menantu silahkan. Saya juga setuju, tapi tidak buat anak saya."

"Ternyata seleramu tinggi juga. Baiklah saya harap anda memegang ucapan. Saya tidak mau dengar adanya kekalahan dalam hal apapun." Trias dan Marcel berjabat tangan.

Kembali ke masa sekarang.

Embun pun cukup kaget setelah mendengar cerita dari papanya. Tentu versi Trias berbeda dengan aslinya. Sebisa mungkin Trias mencoba menjelekkan Fajar di depan Embun.

"Papa cuma tidak mau kamu di permainkan sama dia. Ingat jika dia mencintai kamu, apapun yang terjadi dia akan di pihakmu. Tapi jika dia tidak tegas memilih antara kamu dan Kinara. Itu tandanya dia cuma main-main sama kamu. Papa juga tidak akan diam saja kalau hal itu terjadi." kata Trias.

"Sebelum kamu sakit mending lupakan pemuda itu. Percayalah sama papa." sambung Trias.

...****...

Sore itu, Fajar baru saja menyelesaikan bimbingan kuliah sekalian menggantikan salah satu dosen mengisi mata kuliah.

Suasana kampus sepi karena para mahasiswa sudah bubar. Hanyalah tinggal sekuriti yang asik minum kopi dan menghisap rokok di kala santai mereka di pos.

Fajar melangkah lesu ke parkiran. Hari ini cukup melelahkan baginya. Tenaganya seakan habis tak tersisa. Bayangannya hanya ingin cepat sampai rumah lalu mandi dan istirahat.

Sesampainya di parkiran, Fajar langsung mengeluarkan kendaraan roda duanya. Menyalakan mesin motor dan mulai keluar dari area parkir yang sepi itu.

Fajar melambaikan tangan ketika melewati pos satpam. Pintu di buka dan kemudian langsung di tutup kembali. Fajar memposisikan kaca spionnya. Kemudian dia menoleh ke suatu sudut ketika di rasa ada seseorang yang memperhatikannya.

Tak ada siapapun.

Fajar tak menemukan sosok itu yang tadi nampak di kaca spion.

"Mungkin perasaanku saja." Fajar menghela napasnya. Mencoba mengeluarkan sisa tenaga untuk mengarungi perjalanan pulangnya sore ini.

Baru sekian meter, tiba-tiba Fajar mendengar deru kendaraan roda dua lain yang berada tepat di belakang motornya.

Wrengg!

Deru mesin yang memekakkan telinga serta asap knalpot kelabu langsung memenuhi udara. Fajar melirik dari kaca spionnya. Hingga dia mempercepat laju tunggangannya itu.

Akan tetapi, dengan cepat dirinya sudah di apit dua kendaraan bermotor dengan suara yang cempreng itu.

"Turun Lo! seru pria yang berada di atas motor dengan jari yang menunjuk ke arah Fajar.

Fajar awalnya memutuskan untuk tidak menghentikan laju kendaraan. Akan tetapi, motor lainnya tiba-tiba menghadang di depan.

"Astaga! Siapa mereka ini?" batin Fajar, seraya menginjak rem mendadak.

"Siapa kalian dan mau apa menghadang jalanku!" tegur Fajar tegas. Meskipun nyalinya ketar-ketir, dia berusaha untuk tidak menunjukkan ketakutannya.

Sang pengemudi motor yang menjegalnya pun turun dan tanpa ba-bi-bu langsung melepaskan pukulan ke arah fajar.

Buk!

Fajar sedikit oleng ketika wajahnya terkena pukulan telak. Tubuhnya terhuyung ke belakang. Akan tetapi kakinya fakta menyeimbangkan posisinya hingga tak jadi jatuh. Dengan cepat Fajar membalas serangan tiba-tiba barusan.

Buk buk!

Pukulan demi pukulan pun di arahkanya untuk membela diri. Dua pria tak di kenal ini menggunakan masker di wajahnya. Serangan mereka yang bersamaan hampir membuat Fajar kewalahan. Hingga ...

Beberapa motor dan juga warga di seberang jalan meneriaki dua pria yang menyerangnya.

"Woyy! Ngapain kalian!"

Ketika warga berdatangan, pada penyerang itu langsung kabur dengan kendaraan roda dua mereka. Fajar menghela napas lega, setidaknya dirinya belum sampai mengalami luka yang serius.

Fajar pun mengangguk dan berterima kasih pada warga yang berniat menolongnya itu.

Fajar kembali melanjutkan perjalanannya di hari yang hampir senja itu. Sambil tiduran meringis merasakan nyeri pada pelipisnya yang sempat terkena pukulan.

Masa tenang itu tak lama. Fajar tersentak ketika dia menyadari ada kendaraan roda empat yang mengekor di belakang motornya.

"Siapa lagi sih mereka? Kenapa banyak sekali penghadang jalanku hari ini," gumam Fajar heran. Seperti ada yang mendalangi semua kejadian yang dia alami barusan. Fajar curiga jika ini semua bukan kebetulan atau niat jahat dari penjahat amatir.

Fajar menaikkan laju kendaraannya. Dia tak peduli lagi dengan batas kecepatan. Fajar hanya ingin segera menghindari bahaya yang kemungkinan besar sedang mengintainya itu.

Namun nahas, bemper depan mobil tersebut berhasil mengenai ban belakangnya hingga, Fajar tak mampu mengendalikan motornya. Fajar tersungkur jauh dari kendaraannya itu.

Bruukkk!!

Meskipun memakai helm, Fajar dapat merasakan nyeri di beberapa bagian tubuhnya. Dia berusaha bangkit dengan cepat dan meraih motornya lagi. Namun, orang-orang yang berada di dalam mobil lebih dulu keluar dan menghajarnya tanpa ampun.

"Arggg!" Fajar mengerang ketika perutnya menerima tendangan hingga ulu hatinya sakit bukan main. Fajar langsung terbatuk dengan seteguk darah yang keluar dari mulutnya.

"S–siapa kalian! Kenapa memukuliku!"

Tak ada jawaban seperti apa yang di harapkan Fajar. Para pria asing itu yang berpakaian seperti preman kembali menyerangnya. Jumlah mereka sekitar lima orang kali ini.

Tentu saja hal itu tidak sebanding dan adil bagi Fajar. Dimana dirinya sama sekali tidak memiliki kemampuan berkelahi maupun ilmu bela diri. Sehingga, tubuhnya pun menjadi sasaran empuk bagi para penyerang itu.

Hentikan!" Fajar yang sudah tidak kuat lagi menerima setiap pukulan dan tendangan di tubuhnya memohon. Agar serangan bertubi-tubi itu di hentikan.

Hingga tubuhnya ambruk, ke atas aspal. Para preman itu masih bernapsu menyerangnya.

"To–long." Dengan sisa tenaganya, Fajar mengeluarkan suara. Ketika dalam pandangan kaburnya dia melihat bayangan seseorang menghampirinya.

"Apa yang terjadi padanya?"

"Sepertinya kejahatan jalanan atau entahlah. Ayo, kita bawa dia kerumah sakit. Lukanya cukup parah," ucap Marcel. Ayah dari seorang wanita yang merupakan calon istri pilihan keluarga Fajar.

...*****...

"Ya Allah, Nak. Siapa yang melakukan ini sama kamu?" kata Dira panik melihat putranya babak belur.

"Kayaknya begal, Ma. Mungkin dia mau merampok. Soalnya aku juga tidak kenal sama mereka." kata Fajar.

" Aak kan bisa bela diri. Kenapa tidak melawan?"

"Aduh, Teteh. Aak kan juga kaget di serang tiba-tiba. Mana pas di depan kampus pula." Fajar kembali meringis kesakitan saat Tari mengoles obat luka di dahinya.

"Ckckck .... kalau Kasa di sini pasti dia sudah ngetawain Aak tuh." sahut Tari.

"Oh, Ya emang Kasa sama siapa di rumah?"

"Ya sama Vano lah. Emang siapa lagi. Kan dari dulu kalau di rumah nggak ada orang Vano yang nemenin." sahut Tari.

"Udah, Teh." Dira meminta putrinya menghentikan pengobatan di wajah Fajar. " Kita keluar saja. Biarlah Aak istirahat." Ajak Dira. Tari pun menuruti permintaan mamanya. Dia pun akhirnya memilih membuatkan air jahe untuk sang kakak.

"Ma, kayaknya itu Kinara deh." Kata Tari saat mengintip di balik jendela rumah kontrakan Kakaknya.

"Iyakah sama siapa?" Dira begitu gembira saat mendengar nama Kinara.

"Sama temannya, perempuan juga." kata Tari.

"Di buka dong pintunya,"

Tari membukakan pintu untuk calon kakak iparnya. Tentu sambutan mamanya lebih heboh dari dirinya.

Fajar yang keluar dari kamar mendadak di tuntun lagi sama Mentari.

"Aak di sini saja. Ada Kinara datang ke sini." Tari masih menahan ke sini.

"Dia mau ngapain?" Tanya Fajar.

"Ya, jenguk Aak dong. Gimana sih calon suaminya ini!"

"Aku bukan calon suami Kinara." kata Fajar.

Suara Kinara terdengar nyaring membuat Fajar enggan menampakkan diri. Tapi lebih kaget dia melihat gadis yang mengikuti Kinara. Jantungnya sedikit bergetar, sekali lagi dia merasa senang.

"Sudah tiga hari kita tidak bertemu. Aku rindu sama kamu." batin Fajar.

Embun memandang euforia kebahagiaan antara Dira dan Kinara. Ada rasa minder berada di tempat ini. Tiba-tiba dia menoleh pandangan ke arah Fajar. Mereka saling melempar pandangan. Lagi-lagi ucapan papanya berputar di otaknya.

"Lupakan Fajar. Dia bukan buat kamu, Bun. Cuma Kinara yang diakui menantu di keluarga mereka." batin Embun.

1
Jong Nyuk Tjen
betul , fajar jd laki2 ga gentle , ga pernah klarifikasi kl embun itu sebetulnya pacar yg d cintai ny , bknny s kinara
Jong Nyuk Tjen
lama2 sebel am s kinara , serigala berbulu domba , d depan embun n fajar baik bnget seolah olah mendukung hubungan mereka tp d blkng ny mah mw aj d jodohin am fajar ckckckck
Jong Nyuk Tjen
bagus kyny nih ceritanya , lanjut ah bacany
mama Al: anaknya sayembara Jodoh kak
total 1 replies
Lina Zascia Amandia
Keren, lanjutkan...
mama Al: mampir kak sudah bab baru
total 1 replies
Elisabeth Ratna Susanti
like plus iklan 👍
Elisabeth Ratna Susanti
keren banget ada hutan kenangan 😍
Dewi Payang
tuh kan....
Dewi Payang
Curiga... ortu Doni tdk setuju klo Lintang cacat
Dewi Payang
Ngeri juga dendamnya...
Dewi Payang
cepatan Lin....
Dewi Payang
Aduh, aku jadi ikutan takut
Dewi Payang
jomblo ngenes ya🤭
Lina Zascia Amandia
Bukankah Pekalongan itu di Jawa Tengah. Dan lagi Taufik Hidayat asli orang Bandung bukan orang Lembang. Maaf hanya meluruskan saja ya Kak.
mama Al: kan cerita nya mereka jalan-jalan keluar Lembang.
total 1 replies
Spyro
Happy ending. Stelah melalui banyak rintangan dan peristiwa ya Mbun.

Terimakasih author buat cerita kerennya 😍😍 Walau masi penasaran sama ending kisah Darren dan Reva, juga jodohnya Lintang 😁
Spyro
Sebenarnya dari dlu udah bahagia Om. Para orang tua aja yg gk ngerti 😐
Spyro
Wah Taufik Hidayat, atlet idola anak 90-an 😁😁
Spyro
Sebelum menghrap rujuk, mendingan kamu bersihin nama Embun dari hati sama kepala kamu Ren! Percuma rujuk kalau masi keinget Embun. Kasihan Reva
mama Al: nah iya bener
total 1 replies
Spyro
Lah, dia cemburu toh 😂
Spyro
Lah kok nyalahin Bening? Yg ngejar2 sama naksir kan bukan Embun tp kakamu!! Semua yg menimpa kkmu, ya kesalahan dia sendiri lah. Punya istri di sia2!!
Spyro
Wah obsesinya ke Panca melebihi ke Fajar. Serem bgt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!