Renita Rakhwati Putri, Gadis yang sudah siap menikah, namun tak kunjung ada laki-laki yang datang kepada nya. Hingga akhirnya, adiknya yang telah memiliki pasangan berniat untuk menikah muda.
Namun niat adik nya terhalang restu sang ayah. Karena ayah dari Renita masih percaya hal-hal kuno, dan menganggap adik yang menikah melangkahi kakak nya adalah suatu aib yang sangat memalukan dan melanggar adat.
Renita akhirnya di paksa menikah secepat nya, karena laki-laki calon suami sang adik sudah tidak mau menunggu lama lagi. Renita harus berkorban menikah cepat dan kilat demi sang adik.
Cerita lengkapnya akan temen-temen baca di naskah novel Ini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noktafia Diana Citra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 12
" Kak Re ?. Tolong buka pintunya kak". Sudah dua hari kak Renita tidak juga keluar dari kamarnya. Aku sangat khawatir.
" Tokkkk... tokkk.... tokk". Aku mengetuk pintu kamar kak Renita. Tapi tidak juga ada jawaban dari dalam sana.
Aku harus ke ayah, barang kali ayah punya kunci serep kamar kak Renita. Aku benar-benar khawatir. Maafkan Adelia kak, seandainya waktu itu Adelia tidak keluar mengantarkan minuman untuk Kak Rendy.
" Ayah, apa ayah punya kunci serep pintu kamar kak Renita ?". Aku bertanya pada ayah yang sedang santai di ruang tamu.
" Untuk apa ?!. Kamu tidak usah ngurusin kakak kamu itu. Biarkan saja semau dia mau mengurung diri seberapa lama".
" Adelia ha...hanya khawatir ayah. Kak Renita ngga keluar kamar. Dan tidak ada suara ayah".
" Biarkan !! anak itu cuman bikin susah keluarga. Udah nggak laku, sekarang malah ngurung diri kayak orang idiot !!".
" Ayah....". Belum sempat aku berbicara, ayah sudah meninggalkan ku begitu saja. Jujur, aku sakit mendengar perkataan ayah untuk kak Renita.
Aku harus bagaimana ?. Kenapa ayah bisa sekejam itu mengatakan kata-kata kasar yang tak pantas untuk putri sendiri ?. Oh, aku harus meminta bantuan ibu. Ibu pasti tahu dimana kunci serep kamar kak Renita. Perasaan ku tidak enak. Aku menuju ke tempat ibu biasa duduk untuk membaca majalah favorit nya. Benar saja, ibu memang sedang duduk dan asyik membaca majalah langganan nya.
" Ibu ... ?".
" Ya Adel, ada apa ?".
" Ibu, Adel mau minta bantuan ibu". Aku berkata dengan hati-hati.
" Bantuan apa ?". Tanya ibu dengan mimik penasaran.
" Ibu, Adel butuh kunci serep kamar kak Renita. Perasaan Adel tidak enak Bu. Sudah dua hari kak Renita tidak juga keluar kamar Bu. Apa ibu tau dimana kunci serep kamar kak Renita ?".
" Hmm... ada. Tapi tolong jangan bilang ke ayah, kalau ibu yang kasih tau ya. Ibu sebenarnya juga sudah khawatir. Tapi lagi-lagi ayah menolak untuk membuka pintu kamar Renita, sampai dia memang keluar sendiri dari kamar nya".
" Adelia janji ibu. Sekarang dimana kunci nya bu ?!. Cepat ibu, Adel sudah tidak enak sekali perasaan nya bu, hiks... hiks..hiks.. ". Aku sudah tidak kuat menahan air mataku. Aku sangat menyayangi kak Renita. Kak Renita sangat dekat denganku.
" Kunci nya ada di kotak samping lemari hias del, kamu cari saja kunci yang bertuliskan TG02. Tolong kasih tau ibu gimana keadaan Renita ya. Ibu sama sekali tidak diperbolehkan oleh ayah untuk mencemaskan Renita. Ibu berusaha untuk tenang, dan mengalihkan pikiran ibu tentang Renita dengan membaca majalah ini. Tapi nyatanya dari tadi ibu juga tidak fokus".
" Ba... baik ibu. Adelia pamit ambil kunci nya dulu ibu".
Aku berlalu dari ibu. Aku memang melihat wajah sendu dan kecemasan pada ibu. Tapi ibu berusaha untuk menutupi nya dan berusaha untuk tetap tenang. Aku yakin, ibu juga sangat terpukul dengan sikap ayah yang sangat kejam dengan kak Renita. Padahal kak Renita juga sama seperti aku dan kak Zaskia serta adikku Safira. Kak Renita sama-sama putri ayah. Tapi entah kenapa, aku sering melihat tatapan benci dan aura emosi dari ayah untuk kak Renita. Aku bahkan tidak habis pikir dengan kak Renita, meskipun kak Renita sering dimarahi ayah, tapi kak Renita selalu patuh pada ayah, bahkan tidak pernah sekalipun kak Renita membela diri. Entah kenapa kak Renita begitu sangat kuat dan sabar.
Aku mencari kunci dengan tulisan TG02. Lumayan susah, karena ternyata semua kunci serep rumah ini di jadikan satu dalam kotak ini. Ada banyak sekali kunci di kotak ini, aku harus memilah satu persatu. Sekitar tiga menita berlalu, akhirnya aku menemukan kunci yang dimaksud ibu. Kunci TG02 sudah di tangan. Aku segera merapihkan kotak dan kunci-kunci itu lagi. Aku tidak ingin ayah marah, karena melihatku mencari-cari kunci kamar kak Renita.
" tekkk....". Pintu kamar kak Renita berhasil aku buka. Aku langsung mencari-cari keberadaan kak Renita. Di tempat tidur nya tidak ada. Di kolong tempat tidur nya pun tidak ada. Kemana kak Renita pergi ?.
" Astaghfirullah.... !!! ya Allah !!. Toloooonggg.... ibuuu !!!! Kak Zaskiaaaas !!! Tolooooong....!!!". Aku berteriak histeris melihat badan kak Renita yang tergeletak tak berdaya di samping lemari, di pojok.
Aku melihat tubuh kak Renita sangat dingin, wajah nya sangat pucat sekali. Benar-benar seperti mayat. Aku langsung bergegas memeriksa denyut nadi pada pergelangan kiri tangan kak Renita.
" Alhamdulillah ya Allah, denyut nadi kak Renita masih ada". Aku masih menangis melihat keadaan kak Renita yang sangat mengenaskan.
" Adeliaaaa !!!!. Ada apa Adel !! Kak Renita kenapa ?!!". Aku melihat kak Zaskia yang ikut histeris melihat aku yang sedang menangis sambil memeluk tubuh kak Renita.
" Kak tolong kak !! bawa kak Renita ke rumah sakit sekarang juga kak ....!!! hiks... hiks...hikks !!".
" Innalilahi !!! Renitaaaaaa !!! Ya Allah nak, kamu kenapa Renita !! ". Kali ini ibu yang masuk kedalam kak Renita dan langsung berteriak dan menangis.
" Ibu ayah mana ibu ??!!!. Kak Renita harus segera di bawa ke rumah sakit !!".
" Ayah pergi ?!! ibu tidak tau kemana ?!!".
" Ayok cepat angkat tubuh kak Renita !! Kak Zaskia sudah siapkan mobil dan supirnya".
Tubuh kak Renita di bopong oleh aku, ibu, dan kak Zaskia, serta supir mobil yang sudah aku suruh untuk mengantarkan kami ke rumah sakit. Aku tidak tahu kemana ayah pergi. Ayah begitu kejam pada kak Renita. Bahkan ayah tidak perduli bagaimana keadaan kak Renita. Sepanjang perjalanan, aku, ibu dan kak Zaskia menangis, terus memegang tangan kak Renita yang kaku dan sangat dingin.
" Kak Renita .... !!!, yang kuat kak !!. Maafkan Adelia kak !!. hiks... hiks.. hiks... ". aku terus menangis dan meminta maaf pada kak Renita. Aku tidak kuat melihat tubuh kak Renita yang begitu kaku dan pucat.
" Adel, istighfar del !!". Kak Zaskia menenangkan aku yang sudah mulai tidak bisa mengontrol diri.
" Kak Zaskiaaaa !!, gimana dengan kak Renita kak !!.. hiks... hiks.. hiks....!! Adelia takut kak, takuttt !!".
" Ibu ?!!. Apa ibu sudah menghubungi ayah ?!". Aku mendengar kak Zaskia bertanya pada ibu.
" Sudah, tapi tidak ada jawaban Zaskia ". Aku melihat wajah ibu yang begitu sedih. Ibu juga masih menangis, dan terus mengusap dengan lembut kepala kak Renita.
" Ayah keterlaluan !!!. Bisa-bisanya ayah malah pergi dari rumah !!. Hiks... hiks... hiks...". Ucapku dengan kesal.
" Zaskia, kabari adikmu Safira, untuk tidak pulang kerumah dulu, suruh Safira kerumah Bu lik Indah dulu, dan jangan bilang tentang keadaan Renita padanya". Ibu menyuruh kak Zaskia untuk mengabari Safira yang memang belum pulang dari sekolah.
" Baik ibu ".
" Hiks... hiks... hiks...". Aku masih saja terus menangis. Hingga akhirnya kami semua sampai di rumah sakit terdekat. Kak Renita langsung dibawa oleh tim medis memasuki ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD). Sepanjang menunggu kami tidak pernah berhenti berdoa dan terus menangis. Sedang ayah, masih belum bisa dihubungi. Entah kemana ayah pergi. Di saat salah satu putrinya sedang sekarat, ayah malah pergi dari rumah entah kemana.
" Ya Allah, selamatkan lah kak Renita ku. Hiks... hiks... hiks... ". Doaku lirih.
Belum apa" banyak bawangnya 😭
sukses
semangat