Cover by @Iqbald26
Nadya Rahman seorang gadis yang menikah dengan duda beranak dua yang berprofesi sebagai dokter.
Kevin Fadila seseorang yang berkepribadian introver, dingin dan bersikap semaunya tanpa memikirkan perasaan orang lain.
Keputusannya menikahi Nadya adalah untuk menjadi ibu pengganti bagi anak Kevin,apakah Kevin menerima pernikahan ini sampai akhir atau dia tetap bertahan dengan keegoisannya.
jangan berharap ada pelakor dan pebinor dicerita ini, siapkan tisu dan selamat membaca.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pipit fitriyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kesepakatan Pranikah
Setelah keduanya sepakat dan menandatangani surat perjanjian, maka dokter Kevin memutuskan agar pernikahan dilakukan secepatnya, dan Nadya pun menyetujuinya. Menurut Nadya keputusan yang dibuat saat ini adalah murni pilihan sendiri, apa yang dia lakukan adalah solusi terbaik. Apalagi yang diharapkan dari dunia yang kejam ini, selain mengikutinya.
"Baiklah kita sudah sepakat dengan perjanjian ini, saya memutuskan pernikahan ini akan dilakukan secepatnya, tepatnya 1 Minggu dari sekarang, lebih cepat lebih baik,"ucap Kevin
"dok, saya punya permintaan,"
"Apa itu, katakan saja?"
"Saya ingin pernikahan ini dilakukan sesederhana mungkin, dan sebelum pernikahan itu terlaksana saya ingin mengajak dokter berjarah ke makam kedua orangtua saya. Saya tidak punya siapapun lagi yang akan dimintai doa restu, saya hanya punya mereka yang sudah tiada," sahut Nadya dengan perasaan sedih.
Bu Iin pun memeluk Nadya dan menenangkan nya.
"Baik, permintaan mu tidak sulit saya akan mengabulkannya. Satu lagi, saya tidak akan menutupi pernikahan ini, dan sayapun tidak akan mengumumkannya. Saya harap kamu pun begitu, agar kedepannya kita tau batasan. Saya suami kamu dan kamu istri saya, kita tetap menjalankan kesepakatan sampai selesai,"
"Baik, dok"
"Dan setelah pernikahan ini, kamu langsung pindah kerumah saya, bawa barang secukupnya saja. Rumah yang kamu tinggali saat ini sudah saya beli, rumah itu saya berikan sebagai mahar pernikahan,"
Seketika Nadya terdiam, Nadya bertanya-tanya bukankah rumah yang ia tinggali akan diambil alih oleh pemiliknya, tapi kenapa Kevin bisa membelinya.
"Tapi, dok. Rumah itu akan diambil pemiliknya, kenapa dokter bisa membelinya?"
"Itu mudah bagi saya Nadya, saya sudah tau ceritamu dari Bu Iin, begitupun tentang rumah itu, kebetulan sekolah yang menjadi tempat orang tuamu bekerja adalah milik kerabatku. Kepala sekolah itu, sangat mengenal keluarga ku. Jadi kami membuat kesepakatan, agar dia bisa menjual rumah itu kepada saya"
Lagi-lagi Nadya terdiam, takdir macam apa yang sedang mempermainkannya.
"Tapi dok, apa tidak berlebihan bahkan kita belum menikah, namun dokter sudah memberikan rumah itu untuk saya?"
"Tidak Nadya, bukankah dalam sebuah pernikahan ada sebuah mahar yang diberikan. Rumah itu saya berikan sebagai maharnya, lagi pula itu adalah tempat satu-satunya yang kamu miliki. Tempat itu menyimpan banyak kenangan dengan kedua orang tua mu bukan?"
Entah Nadya harus bersikap apa, saat ini perasaannya campur aduk, antara senang karena bisa mempertahankan rumah dan kenangan didalamnya, lalu sedih karena dia harus menggadaikan hidupnya dengan pernikahan main-main.
"Terima kasih dok, karena telah memberikan rumah itu untuk saya. Saya berjanji akan mengasuh anak dokter dengan baik, saya akan berusaha menjadi ibu sambung yang menyayangi mereka sepenuh hati,"ucap Nadya dengan mata berkaca-kaca.
"Baik, saya pegang kata-kata mu. Besok saya akan membawa mu bertemu dengan orang tua saya, kemudian setelahnya saya akan mengunjungi pusara orang tuamu,"
"Apa tidak terlalu cepat, dok?"
"Tidak. Saya ingin segera terbebas dari tuntutan orang tua saya. Ketika kita bertemu mereka, bersikap sewajarnya saja, tidak harus berlebihan ataupun kaku, pokoknya kita bisa melakukan semuanya, kecuali yang tertulis dalam perjanjian. Hal itu untuk menutupi kecurigaan orang tua saya, kita bisa lakukan seperti berpegangan tangan atau sekedar saling bicara,"
"Ya sudah saya mengikuti apa yang sudah dokter rencanakan,"
***
Keesokan harinya kevin menjemput Nadya kerumahnya, Karena hari ini Kevin akan memperkenalkan Nadya kepada orangtuanya.
"Nadya saya sudah di depan rumah kamu." pesan WhatsApp Kevin
"Baik dok, saya segera keluar."
Selang beberapa waktu Nadya pun keluar, dia menggunakan pakaian sederhana yang menggambarkan dirinya, seorang yang apa adanya dan tidak berlebihan. Nadya tampak anggun, dengan hiasan makeup yang tipis dan terlihat natural. Kevin memperhatikan dari kejauhan, penampilan Nadya amat meyakinkan dan tidak dibuat-buat, satu kata yang keluar natural ,"Kevin meyakini orang tuanya tidak akan mencurigai bahwa pertemuan kali ini adalah sebuah settingan.
"Kita berangkat sekarang," ucap Kevin tanpa basa-basi.
"Baik, dok,"
"Saat bertemu orang tua saya, pasti mereka akan bertanya banyak hal kepada kamu, jawab saja apa adanya, jangan terlalu dibuat-buat agar kamu juga nyaman dan tidak gugup. Saya tidak akan terlalu mendoktrin, kamu pasti tahu apa yang harus kamu lakukan, kamu harus meyakinkan mereka kalau kamu calon istri saya,"
"Saya paham, dok"
"Kamu tidak perlu takut, orang tua saya sangat bijaksana, dan saya yakin mereka akan menerima kamu,"
Jika orang tuamu bijaksana, kenapa kamu tidak mewarisi sifat mereka?.
****
Perjalanan memakan waktu 45 menit untuk sampai di kediaman orang tua Kevin. Nadya membawa buah tangan, dia membuat brownies resep Nadya dan ibunya sewaktu masih ada dulu.
"Assalamu'alaikum, Ma, Pa" ucap salam kevin yang diikuti Nadya dibelakangnya.
"Wa'alaikumussalam, tumben pagi-pagi sudah kesini?" sahut Mama dan Papa yang tengah asik menonton TV.
Seketika orang tua Kevin terdiam, dia melihat kearah belakang Kevin, ada seorang wanita yang mengikutinya.
"Nak, kamu bawa siapa itu?"tanya Mama mencari tahu
"Ohh ini, dia calon ibu dari anak-anakku, Ma, Pa" sahut Kevin dengan senyuman
Kedua orang tua Kevin terkejut dengan apa yang dikatakan anaknya. Bukankah dia sempat menolak untuk menikah lagi? banyak hal yang dipikirkan oleh kedua orangtuanya.
Kemudian Nadya menyalami kedua orang tua Kevin dengan lembut dan sopan. Keduanya sangat menyukai sikap Nadya.
"Assalamu'alaikum, Om, tante" sapa Nadya dengan senyuman
"wa'alaikumussalam, kamu cantik sekali, Nak"sahut Mama Kevin dengan pujian
"Alhamdulillah,Tante juga cantik,"
"Ahh sudah-sudah, perempuan kalo Sudah saling memuji tidak akan ada habisnya, Ma. Tamunya dipersilahkan duduk dulu dong," Ucap Papa dengan candaannya.
Mereka sudah duduk, tak lupa bibi menyiapkan teh dan juga kue brownies yang Nadya bawa, mereka sangat menyukainya.
"Jadi apa maksud kamu membawa perempuan kerumah, Kev?," Tanya Papa disela obrolannya
" Kevin ke sini ingin memperkenalkan Nadya kepada kalian, dan sekaligus ingin meminta doa restu"
"Ohh nama gadis cantik ini Nadya?"ucap Mama Kevin
"Iya mah, namanya Nadya "
"Apa kamu serius, Kev. Kamu tidak sedang membohongi kami kan?" tanya Mama penuh curiga.
"Tidak, Ma. Aku serius bahwa dia adalah calon istriku,"
"Benar, Nad. yang diucapkan Kevin?"
"Benar Tante beberapa waktu yang lalu Mas Kevin melamar ku, dan meminta aku jadi ibu dari kedua anaknya,"
"Jadi kamu sudah tau, kalau Kevin seorang duda yang mempunyai anak?"
"Sudah Tan, Mas Kevin sudah menceritakan semuanya,"
"Dan kamu menerimanya, Nad?"
"Iya Tan, aku bersedia menjadi ibu sambung untuk anak-anak Mas Kevin,"
Mama Kevin terharu dengan ucapan Nadya, nampaknya Nadya sangat cocok untuk menjadi ibu dari cucu-cucunya.
"Usiamu berapa, Nak?"tanya Papa Kevin.
"Usiaku masih 21 tahun, Om"
"Wahh masih muda ya, kamu masih kuliah atau sudah berkerja?"
"Keduanya Om, saya kuliah sambil bekerja,"
"Baiklah, kami tidak ingin berbasa-basi terlalu banyak. Kami ingin segera menemui orang tuamu, dan memintamu untuk menjadi menantu kami," ucap Papa dan Mama Kevin penuh antusias.
***
pokoknya bikin si Kevin bucin akut😏