Gadis tomboy itu dipaksa ibunya untuk mengikuti sekolah tari. Ia pun bersikeras menolaknya karena tidak mempunyai minat di bidang itu. Tapi akhirnya sang gadis jatuh hati kepada guru tarinya sendiri.
Seiring berjalannya waktu ia pun mengerti mengapa ibunya meminta menari. Namun, perasaan terhadap sang guru tari ternyata harus tersimpan di dalam hati. Lalu apakah ia mampu mendapatkan cintanya nanti?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gaharu Wood, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mengajak Bicara
Tak lama seorang pria pun masuk ke dalam kelas tari. Ialah Jim yang baru datang hari ini. Saat itu juga Mira terkejut melihatnya.
Dia ingin menari denganku?!
Mira pun tak mengerti mengapa Jim ingin menjadi pasangan tarinya. Sontak anak-anak sanggar yang lain merasa heran melihatnya.
Jim tersenyum kepada Mira. "Mari kita menari bersama, Mira."
Sontak Mira pun menundukkan pandangannya. Mira malu ditatap oleh Jim terlalu lama. Kontak mata yang terjadi seolah mendebarkan jantungnya.
Satu jam kemudian...
Latihan hari ini telah selesai. Anak-anak sanggar pun segera bergegas berganti pakaian. Dan Mira kedapatan terakhir. Ia akhirnya menunggu giliran di kelas tari. Namun, rupanya Jim mendekati. Tak tahu ada apa gerangan ia mendekati gadis itu hari ini.
"Mira."
"Ya?"
"Boleh aku duduk di sini?" tanya Jim kepada Mira.
Mira pun melirik ke arah kanan dan kiri. Ia khawatir teman-teman sanggar melihatnya. "Em, tidak enak di sini, Pak. Eh, Kak. Nanti teman-teman melihatnya." Mira tampak keberatan Jim duduk di dekatnya.
Jim mengangguk. Ia tampak mengerti keresahan Mira. "Baiklah. Bagaimana selepas berganti pakaian saja? Kau mau minum es dawet bersamaku? Tak jauh dari sini ada kedai es dawet." Jim ternyata ingin mengajak Mira berbincang bersama.
Mira mengangguk pelan. Ia akhirnya mengiyakan. Jim pun tersenyum kepada Mira lalu beranjak pergi. Ia meninggalkan Mira sendiri di kelas tari. Keduanya akan segera berganti pakaian untuk ke kedai bersama. Saat itu juga Mira terpana melihat Jim. Ia tak menyangka Jim akan mengajaknya mengobrol hari ini.
Belasan menit kemudian di kedai es dawet...
Mira akhirnya harus janjian terlebih dahulu dengan Jim karena tak enak jika pergi bersama ke kedai. Jim pun datang lebih dulu dengan menaiki motor besarnya. Sedang Mira menyusul Jim dengan berjalan kaki. Dan kini ia baru sampai di kedai yang dimaksud. Tampak Jim yang melambaikan tangannya ke Mira. Mira pun segera menuju tempat Jim berada.
"Kau ingin pesan apa? Di sini ada mochi yang enak sekali." Dan ternyata Jim baru ingin memesannya.
"Em ...," Mira pun memikirkannya. Ia melihat-lihat ke sekeliling kedai yang masih tampak asing baginya.
"Aku ikut saja, Kak." Dan akhirnya Mira menyamakan pesanannya dengan Jim.
Jim mengangguk. Ia kemudian pergi ke meja pesanan. Jim memesan dua gelas es dawet bersama satu pack mochi yang enak. Ia lalu kembali ke meja untuk berbincang bersama Mira. Ia duduk di hadapan Mira lagi.
"Sepertinya ada yang berubah ya?" selidik Jim ke Mira.
Sontak Mira pun tersedak udaranya. "Ehem! Maksud Kak Jim?" Mira pura-pura tak mengerti.
Jim memiringkan kepalanya untuk melihat Mira. Ia kemudian tersenyum lagi. Mira pun jadi salah tingkah sendiri. Ia memalingkan pandangannya dari Jim.
"Kau lebih cantik dari hari biasanya."
Dan saat itu juga jantung Mira berdetak lebih keras dari biasanya. Pujian Jim kepadanya meluluhkan hatinya. Mira pun jadi malu seketika. Ia bingung harus berkata apa.
"Em ... ini ...." Mira tampak bingung harus menanggapi apa.
Jim pun memerhatikan Mira yang tidak bisa bicara. Ia merasa gadis itu sangat lucu di matanya.
Gadis ini salah tingkah sendiri. Apakah dia baru pertama kali mengenal lelaki?
Jim pun bertanya-tanya sendiri. Ia penasaran dengan Mira, anak didik tarinya sendiri.