Setelah putus dari Jevano Gautama Abraham, Alyssa Roseana Navier berusaha melupakan sang mantan dengan lari dari kota Bandung ke Surabaya.
Jevano memutuskan hubungan mereka yang sudah terjalin 4 tahun lamanya begitu saja karena bosan dan jujur tentang perselingkuhannya. Sampai akhirnya setelah 3 tahun berlalu mereka kembali bertemu.
Alyssa bekerja sebagai seorang sekretaris di perusahaan besar milik ayah Jevano yang baru saja bertemu dengan anaknya setelah sekian lama, hingga saat itu perusahaannya di percayakan kepada Jevano dan membuat Alyssa menjadi sekretaris pribadinya.
Akankah cinta mereka bersemi kembali? Atau Alyssa akan mengundurkan diri? Bisa kah Alyssa bertahan dengan rasa sakit hatinya menghadapi Jevano?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cxafixe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kepergok
Alyssa mengerjapkan matanya berkali-kali, ahh setelah tadi pagi mengatasi Jevano yang rewel abis ternyata energinya terkuras habis dan ketiduran. Bukan karena itu juga sebenarnya, tapi karena Jevano sampai siang ini masih tertidur di pangkuannya.
Ditatapnya wajah pria itu lekat-lekat sambil menaruh telapak tangannya di kening Jevano. Masih demam, Namun tidak separah tadi pagi. Perlahan Alyssa menggeser tubuhnya dan menggantikan pahanya dengan bantal, namun saat gadis itu akan turun dari kasur, Jevano menahan tangannya dengan lembut. "Mau kemana Alyssa?"
Alyssa yang merasakan genggaman itu menghela napas pelan. "Mau keluar, pegel."
"Ikutttt, saya tidak mau meninggal dalam keadaan mengenaskan sendirian di apartemen," ucapnya.
Alyssa mengernyitkan dahinya, kok bisa ya sudah semakin dewasa tapi Jevano masih se—Clingy ini kalau sakit? Lalu apa saat dia tidak ada apakah seperti ini juga pada Gistara? Membayangkannya saja membuat hati Alyssa tergores. Namun masih bisa dia atasi.
"Mau ke dapur cari makanan yang bisa dimakan, Tuan istirahat saja." Alyssa berusaha bicara dengan biasa saja.
"Jangan lama-lama ya, kita tidak akan tau kapan saya akan pingsan," pintanya.
Alyssa berdecak. "Iya."
Setelah mengatakan itu Alyssa benar-benar meninggalkan Jevano dan keluar dari kamarnya. Tentulah dia ingin membersihkan diri juga, baru setelah itu makan.
30 Menit berlalu, setelah selesai membersihkan diri Alyssa ke luar dari kamarnya menuju dapur, namun baru saja dia akan menyalakan kompor, bell berbunyi.
Mau tidak mau dia harus menunda dulu rasa laparnya dan membukakan pintu apartemen tanpa berpikir panjang. Betapa kagetnya dua orang yang kini saling bertatapan itu.
"Alyssa?"
Alyssa membulatkan matanya tak percaya. "Pa—Pak Endru ... " Oh sial kenapa dia ceroboh sih, sudah jelas kalau atasannya ini adalah orang tua Jevano. Apa yang akan beliau pikirkan saat mendapati anaknya membawa seorang wanita ke dalam apartemennya. Apalagi mereka belum menikah dan apa ini?
"Kenapa bisa ada di sini, Jevano mana?" Tanya Endru.
"Emm ... Tuan Jevano di kamarnya, Pak. Sedang sakit," ucap Alyssa pelan. Sangat pelan, bahkan nyalinya ciut detik ini juga. Seperti ketangkap basah sedang berbuat macam-macam oleh orang tuanya.
Sejujurnya ada banyak pertanyaan dalam benak Endru, tapi mendengar kalau anaknya sakit, dengan segera dia harus menemuinya. "Saya ke kamar Jev dulu ya, nanti kita bicara."
Glek ...
Alyssa seolah tidak dapat menelan air liurnya, semuanya tertahan di kerongkongan. Seketika rasa laparnya berganti dengan cemas, namun bagaimana juga? Alyssa tidak bisa berbuat apa-apa selain mengangguk pasrah dan membiarkan Endru menemui Jevano.
Alyssa melirik ke arah pintu yang mulai tertutup, lalu dia berlari ke arah kamarnya dan menenggelamkan dirinya di kasur. "Ahhh bodoh banget kamu Alyssa, apa coba nanti yang Pak Endru pikirkan. Oh jangan sampai nanti aku dipecat gara-gara ini. Aduhhh gimana ya, nanti Pak Endru mau bicara apa? Aaaaaaaaaa!!"
Alyssa berteriak di dekapan bantalnya. Serius ini dia panik sekali. Seharusnya dia tidak di sini, kan? Seharusnya juga dia sekarang mencari tempat lain. Apa dia kabur saja ya sekarang.
"Ahhh engga, itu namanya lari dari masalah. Oke tenangin diri kamu Alyssa, kamu harus hadapi. Apapun yang terjadi kamu udah berjalan sejauh ini jadi udah pasti kamu bisa laluin itu semua. Iyaa ini bukan hal buruk toh kamu di sini juga gak ngapa-ngapain." Alyssa berusaha memberikan dirinya afirmasi positif. Ya setidaknya dengan begitu dia bisa lebih sedikit tenang.
.
.
.
"Jev."
Mendengar panggilan itu Jev mengubah posisinya menjadi duduk. Kalau di depan Alyssa dia bisa mengeluarkan sisi kenakananya, tapi tidak di hadapan ayahnya. Dia harus bisa terlihat seperti orang yang kuat. "Dad."
"Bagaimana keadaanmu?" Tanya Endru seraya duduk di pinggiran kasur.
"I'm oke, hanya demam sedikit. Sudah biasa." Jevano berkata dengan sok, padahal sejujurnya dia merasa kalau tubuhnya tidak berpijak di bumi sekarang.
"Sudah Daddy bilang lebih baik kamu tinggal bersama kami di rumah. Bundamu juga senang kalau kamu tinggal bersama kami."
Jevano bukan tidak mau sebenarnya, dia baru kehilangan sang ibu dan sekarang harus menerima ibu lain dalam hidupnya tentu itulah hal berat untuk Jevano. Bagaimana bisa dia menggantikan ibunya dengan ibu yang lain.
"Nanti akan saya dipikirkan." Tentulah itu adalah jawaban ter-aman untuk sekarang.
Endru mengerti apa yang membuat Jevano belum ingin tinggal bersamanya. Dia juga paham apa yang dipikirkan oleh anaknya, jadi dia berusaha untuk tidan memaksa Jevano. Karena sekarang bersama putranya saja Endru sudah sangat beruntung.
Terjadi keheningan dalam beberapa saat, sampai akhirnya Endru teringat pada Alyssa yang dia temui saat di luar tadi. "Jev, boleh dad bertanya sesuatu?"
"Silahkan."
"Ada hubungan apa kamu dengan Alyssa, Nak?" Tanya Endru menyelidik. Tentulah dia khawatir apa anaknya ini begitu nakal dengan membawa lawan jenisnya ke apartemen? Karena kalau soal Alyssa dia sudah jauh lebih lama mengenal sekretaris sekaligus orang yang dia sudah anggap seperti anak sendiri itu.
"Dia sedang mencari tempat tinggal, jadi saya membawa Alyssa ke sini."
Endru mencoba mencerna perkataan anaknya. Ya bagaimana tidak, mereka baru mengenal tapi kenapa Jevano bisa sepeduli ini. Padahal kalau dilihat dari kepribadian, Jevano nampak seperti orang yang cuek.
Melihat tatapan ayahnya Jevano lumayan takut juga sebenarnya, tapi ya dia bisa menetralisir itu karena wajah coolnya. "Kalian baru—"
"Dia mantan kekasih saya."
Endru masih terdiam, masih mencoba mencerna apa yang Jev katakan. Tanpa sadar Jev jadi menceritakan tentang dirinya dan Alyssa dulu. Bagaimana mereka bisa jadi seperti ini dan bagaimana Alyssa bisa sampai di Surabaya karena ulahnya. "Kami tidak melakukan apapun, itu karena saya masih peduli saja."
Kaget? Bukan kaget lagi, bagaimana bisa bumi menjadi sesempit ini untuk mempertemukan Jevano dengan Alyssa. Benar-benar tidak masuk akal kalau ditelusuri. Namun ada semburat senyum terpancar dari bibir Endru, ini pertama kalinya mereka berdua bicara panjang lebar seperti ini. Sebagai ayah dan anak tentunya.
Dia sih tidak masalah Jevano menyukai siapa, akan menikahi orang seperti apa atau ingin mencari jodoh yang bagaimana, itu nomor sekian. Dia senang karena Jevano mulai terbuka padanya. Dia bisa merasakan menjadi ayah untuk Jevano dan itu membuatnya sangat bahagia.
"Kenapa tidak kamu katakan saja mengenai kamu yang menyelamatkan dia saat dulu dari rumor aneh-aneh?"
"Ahh, Dad. Terlalu pecundang untuk mendapatkan seorang gadis dengan cara seperti itu. Saya harus mendapatkan hatinya lebih dulu baru saya jelaskan." Iya itu kenapa Jevano tidak memberitahu Alyssa secara blak-blakan. Dia ingin Alyssa mencintainya lagi karena perjuangannya. Bukan karena dia memberi alasan ini itu. Meskipun jelas, tapi dia pernah menyakiti Alyssa dan itu harus dia bayar dengan perjuangan.
Bukankah wanita selalu butuh validasi? Di saat diperjuangkan mereka, mereka akan merasa dicintai seseorang dan mereka bahagia. Itu yang ingin Jevano berikan pada Alyssa. Kebahagiaan yang pernah dia renggut paksa dari Alyssa beberapa tahun lalu.
Endru tersenyum, dia merasa bangga dengan Jevano. Meskipun keras kepala, dia memang menurun gennya yang tidak pantang menyerah. "Bagus, itu baru namanya gentleman." Endru menepuk bahu putranya bangga, selain Endru juga itu berdampak pada Jevano.
Begini ya rasanya mempunyai seorang ayah?