Ini adalah novel religi pertamaku. Banyak banget yang butuh perbaikan sana sini. jika ada yang tidak sesuai, othor terima banget masukannya.
Tiba-tiba dilamar oleh seorang Ustad, membuat Arin berpikir dan melakukan berbagai cara untuk membatalkan pernikahan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danie A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 12
Ibu dan Bapak saling pandang. Harusnya berita yang aku bawa ini membuat mereka tercengang. Tapi kenapa Bapak dan Ibu terlihat biasa saja?
"Gimana Pak, Bu? Bapak sama Ibu bakal batalin lamaran Mas Huda ke aku, kan? Pokoknya aku nggak mau nikah sama penipu itu!" ujarku terus mengatakan hal yang sama berulang-ulang.
"Kamu jangan gagal bah dulu, Arin! Huda nggak pernah nipu siapa pun. Soal ini, Bapak sama Ibu sudah tahu," ungkap ibuku membuat manik mataku membulat lebar.
Apa maksudnya ini? Bapak dan Ibu sudah tahu? Tapi kenapa Bapak sama Ibu nggak ngasih tahu aku? Bapak sama Ibu tahu kalau ternyata Huda itu cuma berniat mencari istri kedua?
"Bapak sama Ibu tahu dari mana? Bapak sama Ibu tahu kalau ternyata Mas Huda cuma cari istri kedua? Bapak sama Ibu rela aku dijadiin istri kedua?" tanyaku mendramatisir keadaan.
"Jangan ngomong ngawur kamu ini! Dengerin dulu apa kata Bapak! Sebelum kamu menuduh yang nggak-nggak sama Huda, harusnya kamu selidiki dulu kebenarannya," sahut Bapak. "Soal anak yang kamu lihat di foto ini, memang benar kalau ini anaknya Huda. Tapi ini bukan anak kandungnya Huda," ungkap bapakku.
"Bapak tahu dari mana? Bisa aja kan mereka ngarang cerita?" seruku kesal.
"Bapak percaya sama Ustadz Wahab. Ustadz Wahab sendiri yang cerita ke Bapak waktu ketemu kemarin. Ustadz Wahab bilang, kalau Huda mengangkat anak dari kakaknya yang sudah meninggal. Anak yang kamu lihat itu sebenarnya keponakannya Huda. Tapi karena orang tuanya sudah meninggal, jadi diangkat anak sama Huda," terang bapakku.
Aku tak pernah menyangka akan ada cerita dramatis seperti ini dibalik berita bagus yang aku harap bisa membuat pernikahanku dan Huda hancur. Kupikir Huda benar-benar membohongiku mengenai statusnya. Tapi kenapa semuanya jadi begini?
"Udah jelas? Nama anaknya itu Riski. Kenapa Huda mau mengangkatnya sebagai anak? Karena Riski punya trauma semenjak orang tuanya meninggal. Dan Riski ini kan juga masih keluarga dari Ustadz Wahab. Jadi nggak ada salahnya juga kan kalau Huda mengangkatnya sebagai anak?" timpal ibuku ikut memberikan penjelasan.
Aku masih terlihat syok dan tidak percaya. Aku harap ini semuanya mimpi. Aku harap Huda hanyalah duda yang sedang mencari ibu untuk anaknya. Tapi semuanya tidak berjalan sesuai dengan keinginanku.
"Kok malah jadi gini sih, Wir?" bisikku pada Wirda yang saat ini tengah duduk di sampingku. Kulihat sekilas wajah temanku itu. Aku masih terkejut dengan penjelasan dari orang tuaku. Tapi Wirda justru memperlihatkan ekspresi yang lain. Wajahnya seperti menunjukkan kelegaan luar biasa.
"Gimana, Arin? Kamu udah puas? Bapak nggak suka kamu cari gara-gara kaya gini! Kamu tadi nuduh Huda apa? Huda cari istri kedua? Huda tukang tipu? Lain kali hati-hati kalau cari informasi," tegur bapakku.
Aku benar-benar malu. Aku hanya bisa menundukkan kepala tanpa mengucapkan apa pun. Sementara, ibuku sibuk tertawa cekikikan setelah melihat kebodohanku.
"Udah, Pak! Salah kita juga belum bilang sama Arin. Arin pasti syok banget waktu lihat calon suaminya jemput anak kecil," cetus ibuku.
"Biarin aja, Bu! Biar Arin nggak seenaknya kayak gini! Harusnya kan dia bisa nanya baik-baik dulu ke kita? Kenapa tahu-tahu langsung minta batalin lamaran begitu?" omel bapakku. "Asal kamu tahu ya, Arin! Huda itu pria baik-baik. Keluarganya juga terkenal, terpandang, ustadz yang disegani di wilayah Magelang. Kamu malah seenaknya ngatain dia penipu dan ngira dia cari istri kedua."
semangat up nya thor 💪💪💪