Apakah yang harus Risya lakukan ketika dia mengetahui suaminya telah bertunangan dengan wanita yang di jodohkan oleh kedua orang tua sang suami? Sementara dirinya sedang mengandung benih alvin, atasannya di kantor sekaligus lelaki yang dia nikahi atas fitnah sang ayah tiri yang hampir saja merenggut kehormatannya pada saat Ibunya meninggal di desa kelahirannya.
Pada saat Risya memutuskan untuk meninggalkan suaminya, demia bakti sang suami pada kedua orang tuanya. Ternyata Risya mengetahui kalau tunangan suaminya itu bekerja sama dengan musuh suaminya untuk menghancurkan hidup suaminya.
Dilema cinta di hadapi oleh Risya saat itu. Apakah dia akan mengalah ataukah memperjuangkan kebahagiaannya sendiri bersama anak dan suami yang telah membuat dirinya kembali merasakan cinta setelah patah hati gara-gara Abid, sang mantan kekasih di masa lalu.
Yuk baca selengkapnya dan jangan lupa favorit, like, vote, gift nya ya, thanks you. Love sekebon tetangga buat kalian semua para reader tercinta
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur hapidoh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Risya kemudian memanggil Alvin untuk sama-sama memakan mie instan yang sudah dia masak tadi.
" Wah, cepat sekali matang. Terima kasih, ya?" Alvin kemudian duduk di meja makan bersama dengan Risya.
Walaupun hanya makanan sederhana. Karena mereka sedang lapar makanan itu terasa begitu nikmat dan lezat.
Apalagi Risya yang telah membuatkan untuknya Alvin benar-benar sangat bahagia.
" Maafkan aku karena aku cuma bisa memberikanmu makan mie instan ini untukmu Tuan Alvin. Semoga besok pagi, setelah aku ke pasar untuk berbelanja bahan makanan aku bisa memaksakan yang lainnya untuk Tuan Alvin!" Risya tersenyum kepada Alvin.
" Apa kau lupa kalau kita sudah menikah? Tolong kalau kita ada di rumah, kau tidak usah memanggilku Tuan lagi. Panggil saja aku Alvin, Risya. Itu jauh lebih menyenangkan untuk aku." ucap Alvin sambil membersihkan mulutnya dengan tissue setelah selesai makan mie instan buatan Risya.
Risya kemudian membereskan meja dan langsung mencuci peralatan yang tadi digunakan untuk mereka makan malam.
" Tidurlah dulu, aku akan mencuci dulu peralatan makannya. Supaya besok sudah bersih semuanya." Risya kemudian membersihkan meja makan dan langsung mencuci semuanya.
Alvin begitu bahagia melihat Risya yang begitu rajin. Saat Alvin hendak tidur tiba-tiba ponselnya berdering dan ternyata itu adalah dari Shilla, calon istrinya.
" Ada apa Shilla?" tanya Alvin terdengar malas untuk menjawab panggilan telepon itu.
" Kamu ke mana aja sih, Alvin? Kamu ingat tidak? Sudah seminggu lebih kamu tidak datang menemuiku. Aku Rindu denganmu." ucap Sheilla dengan suara manjanya
Alvin menghela nafas berat." Aku baru saja pulang dari luar kota dan sangatlah sekali aku ingin tidur. Selamat malam!" Alvin pun langsung menutup panggilan telepon dan mematikan ponselnya agar tidak diganggu lagi oleh Sheilla.
Risya yang mendengar percakapan Alvin berpura-pura tidak mengetahui semuanya.
Alvin langsung membaringkan tubuhnya di atas ranjang yang ada di dalam kamar Risya.
Risya hanya menatap apa yang dilakukan oleh Alvin di kamarnya. Tetapi dia juga tidak berani untuk mengganggu Alvin yang sedang tidur.
Akhirnya setelah menyelesaikan semua pekerjaannya, Risya kemudian tidur di sofa yang ada di ruang tamu.
Pada tengah malam, ketika Alvin terjaga dan ingin mengambil air minum di dapur. Alvin terkesiap ketika melihat Risya yang sedang tidur nyenyak di sofa.
" Kita ini istri suami istri. Tetapi kenapa kau masih juga menjaga jarak denganku? Apakah kau setakut itu dengan ayahku sampai tidak mau mengakui pernikahan kita berdua?" monolog Alvin yang merasa sedih ketika melihat Risya yang tertidur di sofa karena kasur yang ada di kamarnya dia gunakan untuk tidur.
Karena takut Risya terbangun. Alvin pun lalu memindahkan Risya ke kamarnya dengan sangat hati-hati sekali. Agar Risya tidak terjaga. Kalau Risya terjaga dan tahu dirinya yang memindahkan Risya ke dalam kamar, maka hal itu bisa gawat sekali. Risya pasti akan marah melihat Alvin yang kini malahan tidur di sampingnya.
Setelah membaringkan tubuh Risya di atas ranjang. Alvin kemudian membaringkan tubuhnya di samping Risya yang begitu lelap tertidur. itu karena Risah yang benar-benar sudah lelah setelah perjalanan yang jauh.
" Ternyata Risya sangat cantik sekali wajah Risya bersinar seperti rembulan malam. Walaupun dalam keadaan tidur seperti sekarang, akan tetapi kecantikannya tidak berkurang sama sekali." Alvin terus memandang wajah Risya tanpa bosan.
Beberapa kali Alvin terus menguap karena rasa kantuk yang luar biasa.
Sehingga akhirnya Alvin pun jatuh tertidur karena terlalu lelah. Tanpa mereka sadari, tubuh mereka yang merasakan kedinginan malam secara otomatis mencari kehangatan dari orang yang berada di sebelahnya..
Alvin dan Risya, tanpa mereka sadari malah saling berpelukan satu sama lain dalam ketidak sadaran mereka yang sedang terlelap tidur. Alvin bahkan mencium kening Risya karena kebetulan wajah Risya yang mendongak ke atas dan langsung mengenai bibir Alvin yang memeluk tubuhnya dengan erat sekali.
Keesokan paginya Alvin yang pertama kali bangun. Akan tetapi dia langsung menutup matanya kembali. Ketika melihat Risya yang mulai bergerak dan membuka matanya.
" Eh, kenapa aku bisa berada di sini perasaan aku tadi malam tidur di sofa yang ada di ruang tamu. Apa... Apakah aku pindah kemari? Ya ampun! Ini sungguh memalukan sekali. Bagaimana bisa aku malah tidur di dalam pelukan Tuan Alvin?" Risya berniat untuk bangkit dan meninggalkan Alvin yang sedang tertidur.
Akan tetapi Alvin yang sedang pura-pura tidur saat ini, dia malah mengeratkan pelukannya kepada Risya sehingga Gadis itu tidak bisa berkutik di dalam cengkramannya.
" Aiya!! Bagaimana ini? Kalau Tuan Alvin nanti bangun dan melihatku ada di sini, oh Tuhan! Ini benar-benar sangat memalukan!" Risya kemudian berusaha keras untuk melepaskan diri dari Alvin yang sepertinya tidak berniat untuk melepaskan Risya dari pelukannya.
Alvin mengulet untuk meregangkan ototnya yang kaku setelah semalaman tidur dengan memeluk Risya.
" Selamat pagi," ucap Alvin sambil tersenyum ketika dia melihat Risya yang ada di dalam pelukannya dan terus menatap ke arahnya.
Risya terlihat gugup melihat Alvin yang pertama kali dia lihat, saat dirinya membuka mata. 'Ya ampun! Apakah ini rasanya memiliki seorang suami? Pertama kali bangun tidur malah melihat wajahnya yang begitu tampan. Sungguh menyenangkan!' Batin Risya yang merasa begitu bahagia karena memiliki keberuntungan itu.
" Eh, Selamat pagi istriku. Apa kau tidak mau bangun?" tanya Alvin sambil mempermainkan rambut Risya yang menghalangi pipinya.
Risya bahkan sampai merona wajahnya diperlakukan begitu manis oleh Alvin yang merupakan atasannya di kantor.
" Istriku? Tuan Alvin, apakah kau benar-benar menganggapku sebagai istrimu?" tanya Risya pada Alvin seperti tidak percaya dengan pendengarannya sendiri.
" Kenapa Risya? Apakah kau mau mengingkari pernikahan kita berdua yang sudah disaksikan oleh seluruh warga desa yang ada di kampung halaman ibumu?" tanya Alvin sambil mengerutkan keningnya.
Sejujurnya Alvin merasa benar-benar sangat kecewa karena Risya tidak mau mengakui pernikahan mereka berdua.
Padahal Alvin benar-benar sangat excited dengan status barunya sebagai seorang suami dari Risya yang selama hampir satu bulan ini sudah menarik perhatiannya.
Risya adalah gadis sederhana yang tidak terlalu mencolok seperti sekretaris lainnya yang selalu berusaha untuk menggoda atasan mereka demi fasilitas dan menaikan status kehidupan mereka.
Akan tetapi Risya berbeda. Selama menjadi sekretaris CEO, Risya tidak pernah mencoba satu kali pun untuk menggoda Alvin.
" Anda harus ingat Tuan. Kalau anda sudah dijodohkan oleh Pak Zaenal dengan Sheilla. Selama ini Pak Zaenal sebagai atasanku selalu memperlakukanku dengan baik. Aku tidak mau menghancurkan rencana dan juga impian dari ayahmu yang menginginkan Sheilla sebagai menantunya!" ucap Risya sambil menundukkan kepalanya.
Risya menyembunyikan wajahnya di dalam dada pejal milik Alvin yang tanpa dia sadari telah menjadi tempat favoritnya.
Risya sendiri tidak mengerti. Kenapa dia merasa begitu nyaman tidur di dalam pelukan Alvin saat ini?