NovelToon NovelToon
Kedai Kopi Berondong

Kedai Kopi Berondong

Status: tamat
Genre:Berondong / Tamat
Popularitas:18.4k
Nilai: 5
Nama Author: Jibril Ibrahim

Menjadi tua itu pasti, tapi menjadi dewasa adalah pilihan!

Ketika seorang wanita dihadapkan pada dua pilihan, satu pria dewasa yang menolak tua dan satunya lagi pria muda yang sok dewasa…

Mana yang akan dipilih?

"Meskipun tuaan elu, kan belum tentu matinya duluan elu!" kata pria yang lebih muda.

Aku memilih pria yang lebih tua!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jibril Ibrahim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dibutuhkan Kedewasaan Untuk Memahami Orang Dewasa

Awan gelap telah tersibak dan kelihatannya sebentar lagi akan lenyap tanpa meninggalkan hujan.

Nathan berbelok ke jalan raya menuju pusat kota. Jam di dasbor mobilnya menunjukkan pukul 19:58.

Nathan membelokkan mobilnya ke tempat parkir yang luas di pekarangan sebuah mall dan meluncur perlahan di antara deretan mobil mencari tempat kosong. Tapi tempat parkir itu penuh sekali, hingga ia terpaksa parkir di pinggir jalan.

Kami keluar dari mobil dan setelah Nathan menguncinya kami berjalan melintasi tempat parkir itu menuju bioskop, melangkah di bawah kerlap-kerlip lampu teras mall di belakang barisan orang-orang yang tertawa dan mengobrol memasuki bioskop itu.

Di dalam suasana gelap dan hangat serta berbau apak, aku tersandung di gang, pelan-pelan mataku menyesuaikan diri dengan kegelapan. Nathan menangkapku sebelum aku jatuh.

Bagus! omelku dalam hati. Cara jitu untuk menimbulkan kesan. Sekarang dia tahu kau kikuk!

Kami duduk di deretan belakang. Sebentar-sebentar aku melirik Nathan, terlalu tegang untuk memusatkan perhatianku pada film yang sedang diputar.

Mata Nathan yang tajam bercahaya dalam sorot lampu layar film yang berkedip-kedip. Ekspresinya tetap serius meskipun film itu lucu.

Sekitar pertengahan film, Nathan mendekatkan wajahnya ke wajahku dan berbisik, "Kamu suka film ini?" Mata rubahnya seakan memerangkapku. Saat balas menatap ke dalam matanya, aku merasa terhipnotis.

"Nggak terlalu," jawabku sambil memaksa diri untuk segera memperbaiki sikapku.

Pasti dikiranya aku benar-benar bego, pikirku suram. Biasanya aku begitu cuek, kenapa di depan dia aku begitu kikuk, begitu sok imut!

"Kita keluar aja, yuk!" ajaknya, tiba-tiba berdiri dan tersenyum meyakinkanku.

Beberapa saat kemudian, kami sudah kembali berada di luar.

"Kita ke pantai aja, yuk!" Nathan mengusulkan. "Di sana lebih tenang. Kita bisa ngobrol!"

"Yakin mau ke pantai malem-malem begini?" tanyaku. "Maksud aku, mau pulang jam berapa kalo kita berangkat jam segini?"

Tempat itu terletak cukup jauh di perbatasan kota. Salah satu tempat terindah sekaligus tempat kencan favorit anak muda.

"Gak pulang juga gak apa-apa," bisiknya sambil menggenggam pergelangan tanganku dan menarikku ke arah mobil.

Jantungku spontan meletup-letup. Bisa kurasakan wajahku berubah warna.

Nathan melajukan mobilnya dalam kecepatan yang sangat tinggi.

Bulan bersinar terang dengan gumpalan-gumpalan awan yang membayang seakan bergerak mengikuti, menuntun kami.

Dan akhirnya kami sampai di suatu tempat terpencil di tepi laut. Mesin dan lampu mobil pun dimatikan.

"Nah," kataku. "Sekarang kita mau ngobrolin apa?"

Nathan tidak menjawab, tapi malah menarik tanganku dan menggenggamnya, lama sekali.

Aku mulai khawatir tanganku berkeringat karena sensasi rasa panas merebak dari dalam dadaku. Sekujur tubuhku serasa berdenyut-denyut.

Nathan tidak mengatakan apa pun. Dan itu memang tak perlu. Mata rubahnya sangat intens, sangat menghipnotis. Mata itu mengatakan segalanya.

Nathan menarikku mendekat.

Wajahnya terlihat sangat tampan dalam cahaya bulan yang melayang rendah.

Kedua tangan Nathan menyibakkan rambutku ke belakang bahuku. Kemudian mendekatkan wajahnya ke wajahku. Kedua tangannya merayap turun ke punggungku, satunya meluncur ke pinggangku.

Aku melihat mulutnya menuju mulutku dan tahu apa yang akan dilakukannya.

Aku tahu dia akan menciumku.

Dan aku ingin sekali dicium pria itu.

Dan sebelum aku menyadarinya, Nathan tahu-tahu sudah menciumku. Keras, panas dan lapar.

Aku sampai terengah-engah dan agak pusing dimabuk kenikmatan.

Dan…

Segala sesuatu yang berada di luar rengkuhan Nathan menghilang.

Nathan tiba-tiba menghentikan ciumannya.

Aku menatapnya. Aku tahu pria itu bisa melihat gairah dalam mataku.

"Maaf," pria itu berbisik parau. Tercekat oleh gairahnya yang meluap-luap.

Setidaknya itulah yang aku yakini.

Aku bisa merasakan getaran gairahnya ketika ia mencoba menarik dirinya menjauh sambil terengah-engah, lalu menghempaskan punggungnya ke sandaran jok, mencoba meredakan napas dan juga… hasratnya.

Aku mendesah berat dan tertunduk. Lututku masih gemetar dan jantungku masih berdegup kencang.

Sebagai pria santun—aku tahu—Nathan tersengat oleh rasa hormat, dan aku menyukainya meski sebagian dari diriku memberontak menuntut pelepasan.

Dia menjagaku! pikirku semakin kagum.

"Maaf, aku kebawa suasana," ungkapnya setelah sejenak terdiam.

"Gak papa," jawabku tercekat.

Nathan mendesah lagi, kemudian melirikku dan memaksakan senyum.

Aku membalas senyumnya.

Dia meraih tanganku lagi dan menggenggamnya seperti tadi. Tapi tidak mengatakan apa-apa. Hanya mengusap-usap punggung tanganku dengan ibu jarinya.

Untuk sesaat, tidak satu pun dari kami tahu apa yang harus dilakukan. Sampai Nathan terkekeh sambil menggoda, "Aku gak tau mana yang bikin kamu kecewa," katanya sambil mengusap-usap punggung tanganku lagi dengan ibu jarinya. "Tapi ini terlalu cepet!"

Aku tertunduk sambil mengulum senyumku.

Aku setuju!

Tapi aku terlalu malu untuk menanggapinya. Aku tahu aku tak bisa menutupi perasaanku. Jadi aku tidak berani mengangkat wajahku.

Pada akhirnya, kami hanya bermobil di sepanjang pesisir dan berjalan pulang.

Sepanjang perjalanan, Nathan berhenti berkali-kali di ATM. Tapi selalu keluar dengan raut wajah muram. Yang mesinnya rusak, lah! Yang tutup, lah! Yang tidak bisa, lah!

"Kamu belum makan malem, ya?" tanyanya sedih.

"Gak apa-apa, aku udah makan kudapan di gereja," jawabku menenangkannya.

Ternyata dia ingin menarik uang untuk makan malamku! pikirku prihatin.

"Kamu bawa uang kes nggak?" tanyanya.

"Bawa," jawabku cepat-cepat, berusaha bersikap riang. "Kamu mau pake?"

"Kalo boleh!" katanya malu-malu.

"Pake aja!" kataku sambil membuka bagian depan tas tanganku yang khusus untuk pergi ke gereja, di dalamnya hanya ada Alkitab.

"Sebenernya aku gak masalah gak makan malem, aku bisa makan di rumah. Tapi pergi bawa cewek kan gak lucu gak ditraktir makan malem!" tuturnya berusaha melucu.

Aku menyodorkan lima lembar uang pecahan seratus ribu.

Tapi Nathan hanya mengambil tiga lembar, "Besok siang aku ganti," katanya sambil mengayunkan uang itu di sisi wajahnya. "Sekarang aku udah bisa traktir cewek!" kelakarnya.

Aku hanya tersenyum seraya tertunduk, memasukkan kembali sisa uang yang tidak diambil Nathan ke tempatnya semula.

Nathan menjalankan mobilnya lagi dengan laju pelan sambil menyisir setiap tempat untuk mencari tempat makan.

Setelah makan malam, dia langsung mengantarku pulang. Dan mengirim beberapa pesan setelah ia sudah sampai di rumah. Meminta maaf soal uang yang dipinjamnya dan juga soal sikapnya yang menurutnya kurang ajar. Setelah itu dia mengucapkan terima kasih dan selamat beristirahat.

Keesokan harinya, aku bangun kesiangan dan tidak pergi ke gereja untuk ibadah pagi.

Siangnya Nathan datang ke kamar kost-ku untuk mengganti uang yang dipinjamnya. Dan memberi tambahan dua ratus ribu untuk bekalku selama beberapa hari, katanya dia akan sibuk dan tidak akan bisa sering-sering datang seperti biasa.

Kemudian mengecup keningku sebelum pergi.

Sikapnya itu, membuatku merasa dimiliki dan dilindungi.

Dia mungkin tidak mengatakan apa pun mengenai hubungan kami. Dia memang tidak bicara soal komitmen. Tapi kami sudah sama-sama dewasa. Sudah tak butuh kata jadian!

Apa yang dilakukannya setelah malam itu, sudah lebih dari cukup untuk mewakili kata-kata, "Kita jadian!"

1
Vlink Bataragunadi 👑
ih makasih ya thor, ceritanya simple,sangat membumi tp tetap menarik ♡
༄ᴳᵃცʳ𝔦εᒪ࿐: Makasih apresiasinya, Kak!
total 1 replies
Vlink Bataragunadi 👑
tuh kaaan sudah kudugong....
Vlink Bataragunadi 👑
ih baik2 ya orang nyaaa, jadi terharu....
Vlink Bataragunadi 👑
astagaaaaaa edaaaan si Nathaaan bangkeeeeeeee
Vlink Bataragunadi 👑
aduh Galang lu ditipu habis2an kah?
Vlink Bataragunadi 👑
what?!!! dih! bangun Galatia lo cm dimanfaatin doaang eleeh
Vlink Bataragunadi 👑
laaah jangan2 di cuma numpang makan doang >_<
Vlink Bataragunadi 👑
wkwkwk sa ae lu knalpot Damri
Vlink Bataragunadi 👑
makjlebbbbb ≧∇≦
Vlink Bataragunadi 👑
lg musim ama brondong skrg mah wkwkwk
Vlink Bataragunadi 👑
nah loooo,,, cemburu tuh
Vlink Bataragunadi 👑
awas perangkap syaiton, galang ^o^
Vlink Bataragunadi 👑
kurang apaaa coba dia Galatiaaa ♡(∩o∩)♡
Vlink Bataragunadi 👑
acie cieeee ni berondong meresahkaaan wkwkwwk
Vlink Bataragunadi 👑
kynya ini Rere deh...
ArlettaByanca
simple....tp asiik
༄ᴳᵃცʳ𝔦εᒪ࿐: makasih apresiasinya, Kak!
total 1 replies
kiri_kanan
ceritanya seru cm sayang kependekan😁😁
༄ᴳᵃცʳ𝔦εᒪ࿐: Terima kasih atas apresiasinya, Kak!
total 1 replies
NA_SaRi
Ji, gw pen baca ini, tp blm sempat🤧
Sulaiman Efendy
👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Sulaiman Efendy
CERITANYA BAGUS,, SAYANG PART NYA PENDEK, BUAT TU RERE NIKAH DGN GALATIA, DN BUAT SI NATHAN DITANGKAP .
༄ᴳᵃცʳ𝔦εᒪ࿐: Makasih, Kak... apresiasinya.
Waktu ongoing, novel ini gak ada yang baca. Jadi gak semangat nulisnya... 😁
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!