Menikah dengan teman sendiri? Tak pernah aku bayangkan sebelumnya.
Dulu kami saling bermusuhan. Em, no! Bukan bermusuhan. Lebih tepatnya berteman, bersahabat, tapi jarang sekali kita bisa akur.
Dan sekarang kami harus terlibat dalam suatu pernikahan.
Tidakk!!
Rumah tangga yang bagaimana yang akan kami jalani nanti?
Apa rasa sayang sebagai teman bisa berganti menjadi rasa sayang sebagai suami?
Tolong! Tolong katakan padaku kalau ini hanya mimpi!
Katakan padaku ini tidak nyata!
- Carissa Amalina -
Harus tinggal satu atap dengan perempuan yang bawel dan cerewet tak pernah terbayangkan olehku.
Kami berteman sejak kecil. Walaupun tidak bermusuhan tapi juga jarang akur.
Kami lebih banyak berdebat, tak ada yang mau mengalah. Apa jadinya kalau dikumpulkan didalam satu rumah?
- Raka Putra Wibawa -
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dhessy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TTM 12
Berbeda dari hari biasanya, hari ini Rissa terlihat lebih sumringah. Wajahnya berseri dan terlihat ceria. Efek kasmaran yang melanda dirinya. Sejak kemarin perlakuan Raka kepada dirinya begitu manis. Berbeda dari biasanya yang lebih sering membuat Rissa merasa kesal.
"Percaya. Pengantin baru bawaannya pengen senyum terus, ya, Bu?" Goda Gendis saat keduanya akan melakukan briefing sebelum operasi.
"Bisa diam enggak?" Jawab Rissa salah tingkah.
"Ciyee.. nanti harus cerita loh, Ris.."
"Enggak..!!"
Rissa melenggang begitu saja meninggalkan Gendis yang masih saja penasaran dengan bab baru dari cerita cinta Raka dan Rissa. Kedua sahabatnya yang sekarang menjadi suami istri itu.
Setelah selesai melakukan operasi, Rissa mengecek ponselnya. Barangkali sang suami mengiriminya pesan. Namun nihil. Tak ada satupun pesan atau panggilan dari Raka untuknya.
Rissa menghela napas pelan. Ia mencoba berpikir positif. Barangkali Raka sedang sibuk atau masih dalam perjalanan.
Tak ingin memikirkan hal itu, Rissa memilih kembali fokus pada pekerjaannya.
🌷🌷🌷
Rissa memarkirkan mobilnya di halaman rumahnya tepat pukul setengah tujuh malam. Keadaan rumah masih gelap menandakan bahwa Raka belum sampai rumah. Sebenarnya jam kerja Rissa sudah selesai sejak pukul empat sore. Namun ia memilih datang kerumah orangtuanya terlebih dahulu. Selain karena pasti Raka juga belum pulang, ia juga merasa rindu kepada orangtuanya dan juga adiknya.
Dengan langkah lesu Rissa berjalan mendekati pintu rumahnya lalu membukanya dengan kunci duplikat yang selalu ia bawa.
Aroma masakan tercium kuat dari arah dapur. Rissa berpikir, mungkinkah dapurnya akan berbau masakan sedangkan penghuninya saja tidak ada? Tiba-tiba bulu kuduk Rissa berdiri. Merasa horor dengan keadaan rumahnya.
Rissa mencoba mengenyahkan pikirannya yang tak tentu arah. Mungkin tetangga sebelah sedang memasak, pikirnya mencoba menenangkan pikirannya sendiri.
Namun pikirannya kembali tak tenang ketika melihat lampu dapur menyala terang dan berbagai masakan yang masih hangat terhidang di meja makan.
"Ini siapa yang masak?" Gumamnya tak tenang. "Masak iya ada keong emas yang mengerjakan semuanya saat rumah kosong?" Pikirnya konyol.
"Aaaaa..." Rissa memekik saat merasakan ada sepasang tangan kekar memeluknya dari belakang.
"Sssstt... Jangan teriak-teriak."
"RAKA!!!" Rissa memekik kencang. Tubuhnya reflek berbalik dan mendapati Raka tengah tersenyum tanpa rasa bersalah. "Ngagetin..."
Raka tertawa pelan. "Maaf. Baru pulang?" Tanyanya.
Rissa belum menjawab karena masih sibuk meredakan debaran jantungnya karena terkejut. Berulangkali ia menarik napas dan menghembuskannya sampai ia merasa lega.
"Habis dari rumah Papa sama Mama. Kamu kenapa udah pulang?"
"Nggak suka aku pulang cepat?"
"Ish... Nggak gitu.."
Raka kembali tertawa. "Aku nggak jadi ke Semarang."
"Kenapa?"
"Lagi nggak pengen jauh dari kamu."
Rissa mencebik mendengar ucapan Raka yang hanya Rissa anggap sebagai gombalan saja.
"Nggak percaya?" Tanya Raka.
"Enggak!" Jawab Rissa cepat.
"Kenapa? Aku serius, loh.."
"Kalau serius kenapa seharian ini nggak ada kabar?"
Senyuman Raka mengembang sempurna. Ucapan Rissa menandakan bahwa seharian ini Rissa menunggu pesan atau telepon darinya.
Raka mendekatkan wajahnya hingga kini hanya berjarak beberapa senti saja dengan wajah Rissa. "Kamu kangen?" Ucapnya pelan. Hembusan napasnya terasa hangat menerpa wajah Rissa.
"Eng-enggak.." sialnya, lidah dan ekspresi wajahnya tak bisa di ajak kompromi. Lidahnya bilang tidak, namun wajahnya merona. Malu mengakui bahwa memang ada sedikit rindu yang melanda hatinya kala tak ada satupun pesan atau panggilan Raka mampir ke ponselnya.
"Kalau enggak kenapa nunggu kabar dari aku?"
"Em.. soalnya.. soalnya, itu..." Rissa semakin gugup. Apalagi Raka tak berkedip sama sekali saat memandangnya.
"Soalnya apa?"
Bola mata Rissa bergerak gelisah menghindari tatapan mata Raka. "Soalnya.."
Merasa gemas sendiri, Raka membungkam bibir Rissa dengan bibirnya sehingga membuat Rissa terkesiap tak siap menerima ciuman Raka yang begitu mendadak.
"Mandi dulu sana!" Perintah Raka saat ia sudah melepas ciumannya bertepatan dengan adzan isya' yang sudah berkumandang.
"Aku udah mandi, ya!"
"Iya gitu?"
"Beneran, ih."
Raka tertawa kecil. "Ya udah, aku ke masjid dulu."
Rissa mengangguk dan tersenyum. Ia menghembuskan napas lega setelah Raka keluar dari ruang makan dan keluar untuk pergi ke masjid.
Sungguh, berada di dekat Raka membuat jantung Rissa bekerja lima kali lipat lebih cepat dari biasanya. Semoga ia tak terkena serangan jantung di usia muda.
🌷🌷🌷
Setelah acara makan malam dengan makanan hasil masakan ibu mertua Rissa, Raka dan Rissa duduk berdampingan diatas sofa dan menonton tayangan televisi yang sebenarnya tak ada satupun yang di minati oleh pasangan pengantin baru itu.
Baik Raka maupun Rissa larut dalam pikiran mereka masing-masing. Rissa yang merasa begitu deg-degan dengan kode yang sempat di minta Raka pagi tadi sebelum berangkat. Sedangkan Raka merasa bingung harus dari mana untuk memulai semuanya.
"Rissa.." panggilan Raka pada Rissa memecahkan kesunyian diantara keduanya. Rissa ke arah Raka menoleh tanpa menjawab.
"Malam ini kita pindah kamar atas, ya?"
Dua minggu tinggal bersama, Raka dan Rissa masih tidur terpisah di dua kamar yang ada dilantai bawah. Sedangkan kamar utama di lantai atas di biarkan begitu saja tidak di tempati.
"Kan belum di bersihin, Ka."
"Udah aku bersihin tadi."
"Niat banget, ya, Pak?" Seloroh Rissa diiringi tawa kecil dari bibirnya.
"Iya, dong. Barang-barang kamu juga harus kamu pindah ke atas."
"Punya kamu udah dipindahin?"
"Udah, dong."
"Kenapa punyaku nggak sekalian coba?"
"Enak di kamu, dong, nggak kerja apa-apa."
"Perhitungan banget sama istri."
Rissa bersedekap dan mengerucutkan bibirnya. Matanya kembali menatap layar televisi meskipun tayangannya tak menarik sama sekali.
"Ngambek, Bu?" Raka mencolek-colek lengan Rissa.
"Bodo amat!" Sungut Rissa kesal.
Rissa memekik pelan saat tiba-tiba saja Raka menarik pinggangnya dan membuat Rissa jatuh di pelukan Raka. "Bu dokter kalau lagi ngambek tambah cantik aja," celetuk Raka.
"Gombal banget, sih." Rissa berucap seolah ia tak suka. Padahal dalam hatinya ia merasa berbunga dikatakan ia cantik meskipun sedang marah.
Ahh.. semudah itu hati wanita bisa merasa bahagia. Hanya dengan pujian-pujian kecil saja bisa membuat wanita melayang.
"Rissa..." Raka memanggil pelan.
"Ya?" Jawab Rissa.
"Malam ini... Bolehkah?"
Dengan kepala yang masih bersandar di dada bidang milik Raka, Rissa mengangguk pelan membuat senyuman Raka mengembang sempurna.
Malam itu menjadi malam terpanjang dan terindah bagi keduanya. Tak ada keterpaksaan dalam diri mereka. Kesunyian malam menjadi saksi dimana kedua manusia yang telah halal itu memadu kasih. Keduanya saling tersenyum mengagumi keindahan satu sama lain.
Dengan ikhlas, Rissa menyerahkan harta yang ia jaga selama dua puluh tujuh tahun kepada kekasih halalnya.
Suatu kebanggaan juga bagi Raka karena dirinyalah orang pertama yang mendapatkan sesuatu paling berharga dari Rissa.
🌷🌷🌷
Rissa melirik jam dinding yang menunjukkan pukul setengah empat pagi. Ia mencoba menggerakkan tubuhnya namun tubuhnya terasa berat. Jelas saja, Raka yang tertidur pulas disampingnya menjadikan dirinya bak guling hidup. Tangan dan kaki Raka mengunci tubuh Rissa membuat Rissa sulit bergerak.
Matanya menelisik wajah Raka yang tertidur pulas di sampingnya. Guratan wajah terpatri begitu sempurna. Rissa berpikir pantas saja dulu Raka disukai banyak wanita. Karena memang wajah Raka yang benar-benar tampan. Kemana saja dia sampai tak sadar bahwa Raka ternyata begitu menawan.
"Pagi..." Sapa Raka dengan suara seraknya. Khas orang bangun tidur.
Raka tersenyum saat ia membuka matanya, yang pertama kali ia lihat adalah wajah cantik Rissa saat bangun tidur. Cantik alaminya seorang wanita.
"Hmm.." Rissa bergumam sebagai jawaban. "Aku mau mandi, Raka. Tangannya lepas dulu."
Raka melirik jam dinding. "Baru jam segini udah mau mandi? Dingin, Rissa... Mending tidur dulu.." Raka kembali merebahkan kepalanya dan memejamkan matanya tanpa melepas pelukannya pada tubuh Rissa.
"Aku mau ke kamar mandi dulu, lepasin... Awh..!" Rissa merintih karena merasakan sesuatu yang tidak nyaman di bawah sana.
"Jangan banyak gerak dulu kenapa, sih, Ris? Masih sakit, kan?" Raka terlihat khawatir namun juga setengah menggoda Rissa.
"Gara-gara kamu, sih!"
"Kok aku? Kan kamu juga iya-iya aja semalam."
"Udah, ah, ngeselin kamu, mah."
"Ngeselin tapi kamu suka, kan? Iya, kan? Semalam enak, kan? Ciyeee yang udah buka segel..."
"Rakaaaa!!!" Rissa merasa malu dan menyembunyikan wajahnya di dada Raka.
Menjelang pagi, keduanya kembali memadu kasih mengulang sesuatu yang baru dalam hidup mereka. Keduanya larut dalam keindahan dalam suatu pernikahan yang tak akan pernah ada habisnya.
🌷🌷🌷
🙈🙈🙈
usia 27 udah jadi spesialis kandungan .
wah Rissa termasuk jenius nii.