bagaimana jika saat izana yang berjalan dengan santai tiba tiba di sergap? dia dipaksa untuk ikut dan setelah dia bangu, tiba tiba tubuhnya menjadi seorang wanita, tidak lama kemudian izana menemukan pemuda yang adalah anggota Toman, dia menguji coba serum yang dia temukan hingga membuat pemuda itu juga sama seperti nya.
"wanita cantik" takemichi
"apa kau lihat lihat!?" izana
"garang sekali" takemichi
"kau sekarang sama denganku" izana
"hah?" takemichi nge-lag
"waaaaaa kau jahat sekali izana!!" takemichi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sit nur Aisyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
my ice cream fell
Pertemuan ini, sungguh membuatku seperti bermimpi.
.
.
.
.
Setelah hari yang cukup melelahkan, kedua gadis itu berjalan pulang dengan santai.
Izana yang dulunya selalu dipenuhi rasa dendam kini mulai fokus pada sekolah dan masa depannya. Bahkan, akhir-akhir ini ia lebih sering menghabiskan waktu bersama Takemichi daripada memikirkan hal-hal lain.
Takemichi yang menurutnya sangat imut juga menjadi salah satu alasan mengapa hari-harinya terasa lebih menyenangkan.
Setelah seharian penuh belajar, kini keduanya berjalan beriringan sambil menikmati es krim yang mereka beli di pusat perbelanjaan.
Awalnya mereka hanya berniat melihat-lihat, tetapi karena Takemichi terus merengek dengan jurus andalannya, Izana akhirnya mengalah dan membelikannya es krim.
"Ne, ne, Izana."
Takemichi menatap es krim milik Izana dengan penasaran.
"Punyamu rasa apa?"
"Kenapa warnanya hijau?"
"Oh, yang ini rasa matcha."
Izana menjilat sedikit es krimnya.
"Bukankah punyamu malah ada tiga rasa?"
Takemichi mengangguk cepat.
"Um!"
"Enak sekali!"
Pipinya memerah karena dinginnya es krim.
"Hihi."
"Terima kasih untuk hari ini, Izana."
Izana hanya tersenyum kecil.
Kemudian ia menggandeng tangan Takemichi dan menariknya agar berjalan lebih cepat.
"Ayo segera pulang."
"Sudah cukup malam."
"Un."
Takemichi menurut saja.
Mereka berjalan melewati sebuah gang yang terkenal sebagai tempat berkumpulnya para berandalan.
Namun keduanya sama sekali tidak khawatir.
Terutama Izana.
Bagaimanapun juga, ia bukan orang yang mudah dikalahkan.
"Michi."
Izana melirik es krim yang masih dipegang Takemichi.
"Es krimmu belum habis?"
"Cepat habiskan."
"Sesampainya di rumah, kau harus mencuci tangan dan kakimu."
"Setelah itu periksa PR-mu lagi lalu tidur."
"Mengerti?"
"Um."
"Aku mengerti."
Takemichi tersenyum patuh.
BRUK!
Tiba-tiba seseorang menabraknya.
Es krim yang dipegang Takemichi langsung jatuh ke tanah.
Takemichi menunduk.
Menatap es krimnya yang kini sudah tidak bisa dimakan lagi.
"Michi?"
Izana langsung menghentikan langkahnya.
"Eh?"
"Kau tidak apa-apa?"
Namun Takemichi masih menatap es krim itu.
Beberapa detik kemudian—
"Es krimku..."
Matanya mulai berkaca-kaca.
"Hiks..."
"Hiks..."
Izana langsung membeku.
Sementara orang yang menabrak Takemichi mulai panik.
"Eeeeh?!"
"Maaf!"
"Maaf sekali!"
"Tadi aku sedang melihat ponsel dan tidak memperhatikan jalan!"
Izana langsung menatap tajam pemuda itu.
"Kau menabrak adikku."
"Tanggung jawab."
"Belikan dia es krim baru dan ganti semuanya."
"Eh?"
Pemuda itu berkedip beberapa kali.
Lalu ia memperhatikan wajah kedua gadis itu.
"Zanami?"
"Michiko?"
"Kalian masih di sini?"
Izana mengernyit.
"Ah..."
"Kau siapa?"
"Aku masih belum mengenalmu."
Pemuda itu tertawa canggung.
"Perkenalkan."
"Namaku Yushiro Nanami."
"Panggil saja Shiro."
"Oh ya."
"Aku akan membelikan es krim baru untuknya."
"Jadi tolong maafkan aku, ya."
Ia menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal.
Entah kenapa ia merasa gugup berada di depan dua bintang sekolah.
Bagaimanapun juga, Izana dan Takemichi saat ini adalah dua murid paling populer di sekolah.
Banyak yang mengagumi kecantikan mereka.
"Baiklah."
Izana tersenyum miring.
"Kalau begitu segera belikan adikku apa yang dia mau."
Dalam hati, Izana malah merasa diuntungkan.
Lumayan.
Ada yang bisa dimanfaatkan.
"Kalau begitu ayo."
Shiro tersenyum.
Aura berkilau imajiner seolah muncul di sekelilingnya.
...⚪⚪⚪...
Beberapa saat kemudian...
Mereka bertiga berjalan sambil mengobrol santai.
Takemichi kini kembali ceria setelah mendapatkan es krim pengganti.
Namun tak lama kemudian, mereka melihat kemacetan di depan jalan.
Suara klakson bersahut-sahutan.
Banyak orang berkumpul di satu titik.
Izana mengernyit.
"Permisi."
"Ada apa di sana?"
Ia bertanya kepada salah satu pengendara motor.
"Oh."
Pria itu menoleh.
"Sepertinya ada bentrokan antar geng."
"Kalau saya boleh menyarankan, jangan mendekat."
"Apalagi kalian perempuan."
"Katanya mereka sangat brutal."
"Bahkan beberapa waktu lalu ada korban jiwa dalam bentrokan seperti ini."
Takemichi dan Izana saling berpandangan.
"Oh."
"Begitu ya."
"Terima kasih informasinya."
Izana mengangguk sopan.
Lalu ia menggandeng Takemichi.
"Ayo pergi, Chi."
"Un."
Namun...
Meski berkata begitu, rasa penasaran Izana mulai muncul.
"Aku akan mengantar kalian pulang."
Shiro ikut berbicara.
"Kalau pulang sendirian sekarang mungkin berbahaya."
Namun Izana tetap melangkah menuju arah kerumunan.
"Eh?"
"Eh?!"
"Tunggu!"
Shiro langsung mengejar mereka.
...⚪⚪⚪...
Semakin dekat mereka berjalan, semakin jelas suasana kacau di sana.
Banyak orang terkapar.
Suara teriakan memenuhi udara.
Dan di tengah kekacauan itu...
Berdiri seorang pemuda dengan tatapan kosong khasnya.
Tubuhnya tegak.
Namun aura yang dipancarkannya terasa hampa.
Seperti seseorang yang kehilangan tujuan hidup.
"Bukankah itu Mikey?"
Izana membelalakkan mata.
"Kenapa dia menjadi seperti ini?"
"Lalu..."
"Kakucho juga ada di sana."
Takemichi ikut memperhatikan.
"Kaku-chan terlihat berbeda."
"Dia hanya mengikuti Mikey dari belakang."
"Dan ada banyak sekali orang yang tumbang."
"Izana..."
"Apa yang harus kita lakukan?"
Izana terdiam.
Kemudian menatap kerumunan itu dengan serius.
"Sebenarnya kita tidak boleh terlibat."
"Tapi kalau ini terus berlanjut, akan semakin banyak yang terluka."
Ia menarik napas panjang.
"Kurasa kita harus menghentikannya."
Takemichi mengangguk.
"Haih..."
"Baiklah."
"Ayo."
Keduanya langsung berjalan menuju pusat keributan.
Sementara Shiro membeku di tempat.
"O-oi..."
"Ada apa dengan mereka berdua?!"
...⚪⚪⚪...
Di sisi lain...
"Mikey."
Seorang pemuda dengan bekas luka di dahinya berdiri di sampingnya.
"Setelah ini apa yang harus kita lakukan?"
Mikey tidak menjawab.
Tatapannya tetap kosong.
Tak lama kemudian, seorang pemuda lain mendekat sambil membawa pipa besi.
"Mikey."
"Semuanya sudah ditumbangkan."
"Sebelumnya..."
"Apakah pertarungan ini ada hubungannya dengan dua gadis itu?"
tanya Sanzu.
Mikey tetap diam beberapa saat.
Lalu akhirnya membuka mulut.
"Kakucho."
"Sanzu."
"Koko."
"Ran."
"Rin."
"Mochi."
"Shion."
"Mucho."
"Habisi semuanya."
"Aku lelah."
"Serahkan pada kami."
Sanzu menyeringai.
Mikey berbalik menuju motornya.
Namun saat hendak menaikinya—
BUGH!
Sebuah tendangan meluncur ke arahnya.
Untungnya Mikey berhasil menahan serangan itu.
"Sial."
Refleksmu masih bagus, Mikey."
Suara yang sangat familiar terdengar.
Mata Mikey langsung membesar.
"Izana..."
Tanpa memedulikan siapa pun, Mikey berjalan cepat menghampiri gadis berambut perak itu.
Lalu—
BRUK!
Ia langsung memeluk Izana erat.
Tubuh Izana sedikit terhuyung.
Tatapan datarnya langsung berubah kesal.
"Aku mencarimu, Kak..."
Suara Mikey bergetar.
Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, emosinya terlihat jelas.
...⚪⚪⚪...
Di kejauhan...
"Heeeeeeh?!"
Shiro memegangi kepalanya.
"Wanita tercantik sekolah dipeluk berandalan paling brutal?!"
Jiwanya seolah keluar dari tubuh.
Air mata imajiner mengalir deras.
...⚪⚪⚪...
Tak lama kemudian, Takemichi ikut menghampiri mereka.
Melihat Izana yang hampir tidak bisa bergerak karena dipeluk Mikey, Takemichi langsung bertindak.
"Lepaskan Izana, Mikey-kun!"
"Dasar anak bandel!"
Tanpa ragu ia menjewer telinga Mikey.
"Ita! Ita! Ita!"
"Sakit!"
Mikey langsung meringis.
Ia mencoba melepaskan tangan Takemichi dari telinganya.
Di mata orang-orang sekitar, kedua gadis itu benar-benar terlihat seperti malaikat tanpa sayap.
Kecantikan mereka membuat banyak orang terpaku.
"Sakit..."
rengek Mikey.
Kesadarannya perlahan kembali.
Izana yang melihat itu hanya berusaha menahan tawa.
Namun tiba-tiba—
BRUK!
Seseorang lagi memeluknya dari belakang.
Wajah orang itu langsung tenggelam di lekukan bahu dan lehernya.
"Hm?"
Izana berkedip bingung.
Siapa lagi kali ini?
.
.
.
.
.
...-TO BE CONTINUED-...
makasih ya kak udah up banyak
hore kakak up
makasih ya kak udah up
up nya jangan lama lama ya kak
semangat ya kak