NovelToon NovelToon
My Sexy Bodyguard

My Sexy Bodyguard

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Anak Lelaki/Pria Miskin / Romansa
Popularitas:225.2k
Nilai: 5
Nama Author: V Lestari

Tidak mudah menjadi seorang putri dari pengusaha kaya raya yang terkenal. Terlebih lagi jika pengusaha itu adalah pengusaha yang menjalankan bisnisnya di dunia hitam sekali pun. Dunia yang setiap harinya harus bermain dengan obat-obatan terlarang, hingga peredaran senjata api ilegal.

Hal itulah yang terjadi pada Alika Tiffany Raendra. Bukan hanya pihak berwajib yang sering mengincarnya agar dapat menangkap sang ayah, tetapi musuh ayahnya pun kerap kali ingin mencelakakannya, sehingga sang ayah meminta beberapa bodyguard untuk mengawasi Tiffany.

Siapa sangka Tiffany malah jatuh cinta pada salah satu bodyguard bertugas untuk menjaganya, bodyguard itu bernama Rama. Walau pada awalnya mereka kerap bertengkar, tetapi Tiffany akhirnya balik mengejar Rama dan bertekad untuk mendapatkan cinta dari Rama.

Akan tetapi, saat akhirnya Rama mulai tersentuh dengan ketulusan dari Tiffany, sebuah musibah datang.

Apakah musibah itu?
Dan apakah Tiffany dan Rama dapat melewati musibah tersebut?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon V Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

APRIL MOP

Suara napas Rama terdengar semakin keras, dadanya naik turun dengan susah payah, membuat Tiffani dan Mona semakin panik. Tidak lama kemudian, suara napas Rama melemah, lalu menghilang, diiringi dengan kepala Rama yang jatuh terkulai di atas meja dan tidak lagi bergerak.

Wajah Tiffani menegang, ia pucat dan ketakutan setengah mati. Tangannya gemetar saat menyentuh wajah Rama yang masih terasa hangat. Dan di saat ia hampir menangis, Rama tiba-tiba saja membuka mata, berdiri dan berteriak April Mop.

Tiffani dan Mona terkejut, bahkan Adam yang berada di luar ruang makan pun ikut terkejut begitu mendengar suara teriakan dari dalam ruang makan. Adam mengantongi kembali ponselnya dan segera berlari menuju ruang makan. Setibanya di ruang makan ia melihat Rama berdiri sambil tertawa.

Adam menghampiri Rama dan meremas kerah kemeja pria itu. "Apa yang barusan?" tanya Adam. "Aku pikir kamu keracunan?"

Rama menahan tawa. "Kamu kena juga, Dam? Padahal aku hanya bercanda. Ayolah, jangan terlalu tegang. Hari ini kan awal bulan April, seharusnya kalian tidak ada yang tertipu. Dasar payah."

"Sialan kamu, Rama. Aku sudah panik setengah mati!" Adam melayangkan tinju ke punggung Rama, yang hanya dibalas Rama dengan ledekan dan suara tawa yang terdengar begitu keras.

"Tentu saja kamu panik, karena setelah aku mati, maka kamulah yang selanjutnya harus mencicipi makanan nona kita."

Mona bergabung dengan Adam, memukuli punggung Rama sambil mengomel. "Nakal kamu, ya, bisa-bisanya kamu membuat kita semua panik. Ih, dasar kamu ini!" jerit Mona.

Rama hanya tertawa, dan membiarkan Mona dan Adam menghajarnya habis-habisan. Para pelayanan di ruang makan juga ikut tertawa melihat tingkah Rama yang bagi mereka sangat lucu, tetapi tidak dengan Tiffani. Bukannya tertawa Tiffani malah menangis, dan suara isaknya yang mulai terdengar membuat tawa para pelayanan terhenti, begitu juga dengan Mona dan Adam yang langsung berhenti memukuli Rama dan beralih memandang Tiffani.

"Fan, dia tidak mati. Kenapa kamu menangis?" ujar Mona, dengan hati-hati, karena ia tidak biasa melihat Tiffani menangis. "Dia hanya bercanda, lihatlah dia masih sehat bahkan."

Tiffani tidak mengatakan apa-apa. Ia diam saja dan hanya menatap tajam ke Rama.

"Maaf, aku hanya bercanda dan ...." Rama menghentikan ucapannya, karena Tiffani tiba-tiba saja berbalik pergi meninggalkan ruang makan.

"Kejar dia!" seru Adam.

Rama langsung berlari keluar ruangan, menyusul Tiffani yang ternyata sudah tiba di teras. Rama mempercepat larinya dan refleks menarik pergelangan tangan Tiffani agar gadis itu menghentikan langkah.

"Tunggu, Nona."

Tiffani menyentak tangan Rama dari pergelangan tangannya. "Lepas!" bentak Tiffani.

Rama segera menjauhkan tangannya dari Tiffani. "Maaf."

Tiffani melanjutkan langkah menuju mobil yang telah disiapkan di halaman depan, ia tidak berusaha untuk tetap tinggal dan mendengar semua ocehan Rama tentang racun dan tentang April Mop.

"****, dia ini ribet sekali," keluh Rama, lalu kembali menyusul langkah Tiffani, sementara Mona dan Adam juga telah muncul di teras dan mengikuti Rama.

Tiffani membuka pintu mobil dan bersiap untuk masuk ke dalam, tetapi Rama tiba tepat waktu dan kembali menutup pintu mobil yang terbuka.

"Anda marah padaku?" tanya Rama, sebelah tangannya berada di pintu mobil, dan sebelahnya lagi menahan tangan Tiffani agar tidak membuka pintu mobil. "Anda harus bicara padaku sebelum Anda pergi ke kampus. Aku hanya bercanda, dan aku juga sudah minta maaf, 'kan?"

Tiffani berusaha menyentak tangan Rama dari tangannya seperti sebelumnya, tetapi tidak bisa. Kali ini Rama memeganginya dengan kuat.

Tiffani menghela napas, ia tahu jika ia tidak bisa pergi jika Rama terus menahannya, karena tubuh lemahnya tidak sebanding dengan tubuh Rama yang kuat dan berotot.

"Aku hanya bercanda. Aku sungguh tidak bermaksud untuk membuat Anda khawatir. Apa Anda tidak punya selera humor sehingga tidak bisa diajak bercanda."

Tiffani tersenyum miring. "Kamu pikir yang barusan kamu lakukan itu lucu? Kamu pikir hal semacam itu bisa dijadikan lelucon, hah?!"

"Tapi--"

"Aku panik tadi, dan aku khawatir jikalau kamu memang keracunan dan kamu benar-benar mati. Apa kamu tidak tahu bagaimana perasaanku saat melihatmu sekarat. Aku ketakutan, Rama, aku takut! Dan dengan santainya kamu bangun, lalu berteriak April Mop!" Tangis Tiffani semakin menjadi.

Rama merasa bersalah melihat Tiffani menangis hingga sesegukan. Meski begitu ia tidak mau mengalah. Toh Tiffani juga pernah menipunya dengan cara yang sama kejamnya. Saat itu Tiffani berpura-pura telah diculik. Apa Tiffani tidak berpikir bahwa saat itu dirinya pun panik.

"Tapi Anda seharusnya tidak usah menanggapi serius, dan jika Anda menganggap serius yang barusan itu, seharusnya Anda tidak usah marah padaku. Toh aku pernah Anda bohongi juga. Apa Anda lupa kalau kemarin Anda berpura-pura telah diculik dan disandera di sebuah hotel. Aku pun panik saat itu dan dengan susah payah aku berusaha mencari keberadaan Anda."

Tiffani maju selangkah, mendekatkan tubuhnya ke Rama, lalu ia mendongak agar dapat menatap wajah Rama. "Saat itu kamu panik, karena menjagaku adalah bagian dari pekerjaanmu. Kamu melakukannya karena itu sebuah kewajiban yang memang harus kamu lakukan. Tapi rasa khawatirku adalah sebuah ketulusan. Aku tidak mengkhawatirkan dirimu karena kewajiban. Kita sama-sama tahu bahwa aku tidak memiliki kewajiban apa pun padamu. Aku melakukannya karena aku peduli! Dan karena aku tidak ingin kamu mati."

Setelah mengatakan itu Tiffani langsung menyingkirkan tangan Rama dari pintu mobil, dan ia masuk ke dalam mobil dengan cepat sementara Rama hanya diam bagai patung.

"Jalan, Pak," titah Tiffani pada sopir yang telah duduk di balik kemudi.

"Tapi Mona dan bodyguard Anda belum masuk, Nona. Kita tidak bisa berangkat jika mereka tidak masuk."

"Jalan saja kubilang!" teriak Tiffani.

Si sopir yang terkejut langsung menginjak pedal gas sambil berucap, "Ba-baik, Non."

Sedan mewah yang Tiffani tumpangi kemudian meluncur dengan cepat meninggalkan halaman luar kediaman Richard Raendra.

"Wah, apa yang barusan itu. Apa artinya nona mengatakan cinta padamu, Ram?" celetuk Adam, membuat Rama terkejut.

Rama hanya menggeleng. Ia masih sangat terkejut dengan apa yang barusan Tiffani ucapkan. Tiffani khawatir padanya? Mana mungkin!

Mona memukul pundak Adam. "Apa maksud ucapanmu. Jangan sampai Tuan dengar, atau kita semua bisa dapat hukuman. Tiffani hanya baper kurasa. Cepat siapkan mobil, kita harus mengejar Tiffani sebelum dia kembali menghilang."

***

Mobil yang Tiffani tumpangi akhirnya tiba di kampus. Tiffani tidak langsung turun dari dalam mobil. Ia diam sejenak sambil bersandar dan memejamkan mata, berusaha menetralisir emosinya yang tidak stabil. wajar saja jika ia butuh waktu menangani perasaannya, karena ia tidak pernah merasakan rasa yang seperti ini. Emosi yang ia rasakan sangat tidak biasa baginya. Jantungnya masih berdetak dengan sangat cepat setelah ia mengungkapkan isi hatinya pada Rama, dan detaknya masih kacau bahkan setelah beberapa waktu berlalu.

"Sial sekali si Rama itu." Tiffani bergumam, lalu segera membuka pintu mobil.

Tiffani mengedarkan pandangan dan melihat beberapa pria berjaket hitam yang sedang berdiri di area parkir. Dan pria-pria itu ternyata sedang mengawal Sela.

"Sela dikawal. Tumben sekali." Tiffani kembali bergumam.

Tiffani baru akan melangkahkan kakinya ketika ia mendapati sesuatu yang tidak asing. Jaket yang pengawal-pengawal itu kenakan seperti pernah Tiffani lihat sebelumnya, tetapi ia tidak ingat persis di mana melihat jaket dengan bentuk dan motif yang sama.

Tiffani masih berdiri diam mematung, memperhatikan pria tinggi berjaket hitam yang jaraknya tidak terlalu jauh dari Tiffani. Pria itu bertugas untuk menjaga mobil Sela, sementara beberapa pengawal mengantar sela ke kelas.

Pria yang ditatap menyadari bahwa Tiffani sedang memperhatikannya. Si pria melangkah menghampiri Tiffani dan berhenti tepat di hadapan Tiffani. Pria yang memiliki wajah tampan itu langsung saja mengedipkan sebelah matanya ke Tiffani.

"Terpesona padaku?" tanya pria itu. "Aku Johan, dan kamu?" Johan mengulurkan tangan ke Tiffani.

Sebenarnya Tiffani tidak ingin berkenalan dengan pria itu, apalagi berjabat tangan. Ia tidak tertarik sama sekali, tetapi tepat saat Johan mengulurkan tangan, Tiffani melihat salah satu mobil ayahnya memasuki gerbang masuk universitas. Tiffani tahu siapa yang ada di dalam mobil tersebut, tidak lain dan tidak bukan pastilah Rama dan Mona. Maka mau tidak mau Tiffani menyambut uluran tangan Johan sambil tersenyum. Ia berharap Rama melihatnya.

"Aku Tiffani."

"Tiffani. Nama yang cantik, secantik orangnya."

Tiffani tersipu. Ia ingin melepas tangan Johan yang masih menggenggam tangannya, tetapi John malah meremas telapak tangannya.

"Senang berkenalan denganmu Tiffani, dan sepertinya kita akan sering bertemu." Johan mengecup punggung tangan Tiffani, membuat Tiffani terkejut bukan main.

Buk!

Ada yang menendang wajah Johan, karena baru saja Tiffani melihat kaki seseorang meluncur tepat di hadapannya.

"Siapa kamu? Dan siapa yang memberimu izin untuk mencium tangannya."

Tiffani menoleh ke samping dan mendapati Rama sedang menatap Johan dengan penuh kemarahan.

Johan menegakkan tubuhnya dan menatap Rama dengan penuh Amara. Ia mengusap darah yang mengalir dari hidungnya sambil tertawa sinis. "Siapa kamu,hah? Berani sekali kamu menendangku, apa kamu tidak tahu siapa aku?!" Bentak Johan, lalu mengeluarkan senjata api dari saku bagian dalam jaketnya dan mengarahkan senjata itu ke wajah Rama

Rama memutar bola matanya dengan malas, dan segera mengeluarkan senjata api miliknya juga dan mengarahkan senjata itu ke wajah Johan.

Mahasiswa yang sudah berada di kampus, sontak mengerumuni Tiffani, Rama, dan Johan. Mereka semua terlihat antusias, seolah sedang menonton pertunjukan seru.

"Wow, beginilah bagusnya jika di kampus kita terdapat anak seorang mafia, kita bisa melihat adegan yang jarang terjadi seperti ini."

"Benar. Ini sih persis seperti adegan di film-film Hollywood."

"Berharap saja semoga pelurunya tidak menyasar ke salah satu dari kita. Jujur saja, aku tidak ingin mati konyol hanya gara-gara anak seorang mafia."

Obrolan beberapa mahasiswa itu terdengar oleh Tiffani, membuatnya merasa malu dan tidak nyaman. Hanya karena dirinya, teman-temannya jadi berada dalam bahaya.

Tiffani menurunkan tangan Rama. "Sudahlah, tidak ada gunanya ribut-ribut seperti ini."

"Tapi dia yang duluan. Dia mencium tanganmu," ujar Rama.

Tiffani mendelik ke Rama. "Memangnya kenapa kalau dia mencium tanganku? Kamu jangan berlebihan," ucap Tiffani dengan kesal. Ia lalu menghampiri Johan dan berkata, "Dia hanya menjalankan tugas. Dia bodyguardku. Maafkan dia."

Johan mengangkat kedua bahunya, dan langsung mengantongi kembali senjata apinya. "Oke, demi dirimu, aku maafkan dia kalau begitu."

Tiffani tersenyum. "Aku pergi dulu."

"Hem, tunggu! Makan siang bersama nanti, bisa?"

Tiffani mengeluh di dalam hati. 'Ish, kepedean sekali pria ini.'

"Bagaimana?" tanya Johan lagi.

Tiffani melirik Rama sekilas, sebelum akhirnya ia mengangguk setuju. "Oke. Mari makan bersama nanti siang."

Setelah mengatakan itu, Tiffani segera berbalik pergi, diikuti oleh Rama yang masih menatap Johan dengan tatapan tidak suka.

Mona yang sejak tadi memperhatikan dari jauh segera menghampiri Tiffani dan Rama. "Siapa dia?" tanya Mona.

Hampir saja Tiffani menjawab 'orang gila,' tetapi ia teringat jika ada Rama di belakangnya, Tiffani justru mengatakan, "Dia pria macho dan tampan."

Mona menengok ke belakang, ke arah pria yang baru saja berkelahi dengan Rama.

"Ya, dia memang terlihat cool dan keren," komentar Mona.

Rama berdecak. "Keren apanya, dia terlihat seperti preman."

Tiffani berhenti mendadak dan langsung berbalik menghadap Rama. Rama menghentikan langkahnya tiba-tiba agar tidak menabrak Tiffani

"Ckckck, enak saja kamu mengomentari penampilan orang lain. Apa penampilanmu sendiri sudah oke, sudah keren?" ujar Tiffani, yang tiba-tiba saja menjadi pribadi yang sewot, padahal biasanya Tiffani tidak suka menanggapi ocehan seseorang, apalagi ocehan seorang bodyguard.

Rama berdeham, lalu merapikan rambut dan jas hitamnya. "Aku lebih rapi dari dia, dan juga lebih tampan. Kalau dia saja, sih, bukan tandinganku sama sekali."

Tiffani tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan Rama. "Dasar kepedean!"

Tiffani lalu berbalik dan meninggalkan Rama.

"Tenanglah, Rama, kamu adalah pria yang terbaik dari pria mana pun yang ada di dunia ini," celetuk Mona, sebelum menyusul Tiffani, dan meninggalkan Rama yang terlihat kesal.

***

"Bagaimana? Kamu melihat gadis itu? Dia tidak sekelas dengan putriku, tapi mereka satu fakultas."

Johan yang sedang berbicara dengan seorang pria di seberang panggilan mengangguk. "Saya langsung menemukan target. Dewi keberuntungan sepertinya sedang memihak kita, Tuan."

Terdengar suara tawa pria dari seberang panggilan. "Bagus, bagus. Jalankan rencana selanjutnya. Aku menunggu kabar baik darimu, Jo."

Johan kembali mengangguk, seolah pria di seberang panggilan dapat melihat gerakannya. "Baik, Tuan, perintah akan segera dilaksanakan."

Bersambung.

1
Fia Canti
anna ceroboh sekali, harusnya dia ga bnyk omong!
Fia Canti
sumpahh dahh Tiffani suka bgt berbuat tololll
Fia Canti
ikuttt kesell gue sama si Tiffani, tolol bgt sumpah
Tuder Hutapea
enak jadi rama
Peni Sayekti
kasian rama dan tiffani. biarkan sembuh dong tjor. biar mereka bisa bahagia lagi
Peni Sayekti
selain hamil,kenapa tiffani mudah pingsan ya
Novia Lestari: Tiffani itu mengidap suatu penyakit, Kak. nanti next episode akan ketahuan. Baca terus, Kak ☺☺💕💕
total 1 replies
Peni Sayekti
kenapa ya tiffani jadi aneh. aps krn banyak pikiran ya?
Novia Lestari: Iya, akak, bisa jadi juga karena dia kebanyakan beban pikiran. 🥲🥲
total 1 replies
Peni Sayekti
waduh nekat juga Ara ini. ternyata bukan gadis yg polos dia
Novia Lestari: bener, Kak, dia cuma tampangnya aja yang polos 🥲
total 1 replies
Fauzatul Azmi
sungguh karya yg luar biasa👍 cerita nya bagus banget waoww kerennn
Novia Lestari: Makasih banget atas bintangnya, Kak. syukurlah kalau cerita sederhana ini menghibur ☺☺
total 1 replies
Crystal
😅😂😂😂
Crystal
Astaga, apa pengasuhnya berpakaian mewah seperti nonanya. Sampe Rama ga bisa bedain🙄
Novia Lestari: pengasuhnya kebetulan sahabat Tiffani sendiri, dan seusia Tiffani. Jadi pengawal barunya nggak bisa bedain 🤣
total 1 replies
Peni Sayekti
kok tega ya damar,padahal tiffani sdh begitu baik. semiga damar sefera mendapat balasan
Novia Lestari: Iya, Kak, kasihan Tiffani jadi kecewa banget sama Damar.
total 1 replies
Peni Sayekti
baru ngeh tiffani sama damar
Novia Lestari: iya, Kak, akhirnya dia baru sadar kalau Damar berusaha untuk bodohin dia.
total 1 replies
Megabaiq
kurang jeli dan jenius pengawalnya..
Megabaiq
aku lbh suka visual org bulee gtu
Novia Lestari: Silakan, Kak, bisa ciptakan visual sendiri sesuai selera. Hihi, orang bule juga oke ☺
total 1 replies
Peni Sayekti
wah bisa perang dunia ketiga nih
Novia Lestari: haha, iya, Kak. Kalau sampai ketahuan sama Rama Squad, Damar lah yang berkhianat bisa perang dunia 😅
total 1 replies
Peni Sayekti
penasaran sama pemasoknya. kayaknya tuan damar deh?
Peni Sayekti
polos banget ternyata tiffani. krn percaya dg damar sampai tdj peka dan curiga dg dokumen2 penting
Novia Lestari: Iya, Kak, karena dia nggak nyangka kan kalau Damar akan jadi pengkhianat, saking si Damar ini udah lama banget kerja sama Richard. Padahal ternyata Damar jadi serakah setelah Richard pergi.
total 1 replies
Peni Sayekti
siapa wanita itu thor"
Peni Sayekti
ya thor dikit banget, oadahal nunggunya lama. semangat thor
Novia Lestari: hehehe, maaf, ya, Kak. Ntar nex dibanyakin episodenya 😁
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!