Warning!! Novel ini tidak ada pengajaran apapun, hanya murni pemikiran author. Yang nggak suka boleh skip!!
*****
Karena kecerobohanya, Luna kehilangan keperawanan di tangan bos nya sendiri yang bernama Gamma Emiliano Johnson.
Pria mapan yang digandrungi banyak kaum hawa itu mencoba bertanggung jawab atas perbuatannya kepada Luna, tapi wanita itu justru menolak mentah-mentah karena Gamma sudah memiliki istri.
"Kau tidak perlu tanggung jawab, itu hanya bagian tubuh yang tidak penting bagiku." ~ Aluna Olivia.
"Kalau begitu, kita lanjutkan saja apa yang sudah terjadi." ~ Gamma Emiliano.
Bukannya menghentikan kesalahan, mereka justru meneruskan hubungan terlarang itu. Dan dari situlah Skandal Cinta mereka dimulai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Virzha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Night Party.
Malam harinya, Arsen menjemput Luna tepat waktu. Wanita itu juga sudah siap menggunakan gaun malamnya yang berwarna hitam. Arsen bahkan sampai menelan ludahnya saat melihat penampilan Luna yang begitu cantik menggunakan gaun itu, apalagi memiliki belahan dikakinya sampai ke paha membuat Arsen semakin tertarik sekali dengan sekretaris cantik itu.
"Tuan, maaf sudah menunggu lama," ujar Luna ketika masuk kedalam mobil Arsen, ia mengulas senyum sungkannya karena sudah membuat Arsen menunggu.
"Menunggu untuk penampilan indah seperti ini, aku sama sekali tidak keberatan Luna. Kau sangat cantik," puji Arsen tidak bisa menyembunyikan wajahnya yang terpesona itu.
"Tuan bisa saja, ayo berangkat. Jangan buat kita terlambat hanya karena Tuan terus menatap saya," kata Luna tersenyum tipis, pria seperti Arsen ini memang mudah terpesona dengan kecantikan seorang wanita, terlalu terbiasa bagi Luna.
Melihat senyuman Luna, rasanya Arsen semakin meleleh. Luna itu menurutnya berbeda dengan perempuan lainnya, wanita itu seperti punya magnet tersendiri untuk menarik Arsen untuk selalu tertuju padanya. Dari gaya bicaranya, tatapan mata dan segala gerak geriknya sangatlah terukur. Benar-benar wanita yang sangat menarik.
*****
"Pesta pernikahan?" Luna mengernyit saat melihat papan bunga yang berjajar rapi didepan gedung hotel.
"Ya, aku tidak mau menjadi bulan-bulanan temanku karena tidak membawa pasangan sendiri." Arsen tertawa hambar menutupi mirisnya hidupnya.
"Jadi maksud Tuan ingin menjadikan saya pasangan pura-pura begitu?" Luna mencibir pelan, sudah tahu akan maksud Arsen mengajaknya datang ke pesta ini.
"Kalau beneran mau ya nggak masalah, aku malah senang," celetuk Arsen menggoda Luna.
"Tuan menembak saya?" Luna terkekeh-kekeh kecil mendengar ucapan Arsen itu.
"Kau bisa menganggapnya seperti itu, apa kau sudah punya pasangan?" Tanya Arsen memutar tubuhnya hingga berhadapan langsung dengan Luna.
Luna tersenyum tipis. "Saya belum punya pasangan, Tuan." Luna menjawab jujur membuat Arsen seperti mendapatkan angin segar. "Tapi saya memiliki seorang pria yang sangat marah jika tahu saya dekat dengan orang lain," sambung Luna kemudian.
Senyuman Arsen langsung pupus mendengar ucapan Luna itu. "Siapa? Calon suamimu?" Tanya Arsen lagi, rasanya ia semakin penasaran dengan Luna ini.
"Saya tidak wajib menjawabnya kan Tuan?" Ucap Luna tersenyum tipis.
Arsen terdiam, memang sikapnya ini cukup lancang jika menanyakan hal pribadi tentang Luna. "Tidak perlu, ayo kita masuk saja," ucap Arsen tidak ingin terlalu lama larut dengan perasaan itu.
Luna mengangguk, ia turun dari mobil Arsen lalu keduanya masuk kedalam hotel. Luna tanpa canggung langsung merangkul lengan Arsen, bukankah sekarang tugasnya menjadi pacar pura-pura pria itu?
Arsen tersenyum kecil, kini semua mata terlihat tertuju padanya. Bukan, bukan, lebih tepatnya kepada Luna yang malam itu sangat cantik dengan riasan minimalis yang elegan. Arsen sangat bangga karena dialah pria yang menggandeng wanita cantik ini.
"Arsen? Kurang ajar lu, gue kira siapa. Bravo." Rangga sang pemilik pesta sampai terkaget-kaget, melihat kedatangan Arsen dengan wanita cantik itu.
"Memangnya lu pikir siapa?" Arsen terkekeh-kekeh melihat ekspresi sahabatnya itu.
"Nggak nyangka aja, tumben bawa cewek. Baru?" Rangga balas tertawa seraya menatap Luna.
"Kenalin dah, dia Luna pacar baru gue." Arsen langsung meraih pinggang Luna agar wanita itu maju ke depan.
Luna sedikit terkejut tapi ia secepat mungkin menormalkan ekspresi wajahnya. Ia lalu mengulurkan tangannya pada Rangga.
"Luna." Luna tersenyum kecil lalu bergantian bersalaman dengan istri Rangga.
"Selamat atas pernikahannya ya, aku doakan selalu langgeng dan diberi kebahagiaan," ucap Luna masih dengan senyumannya yang indah.
"Terima kasih Luna, kau juga semoga cepat menyusul," sahut istri Rangga balas memberikan senyuman terbaiknya.
"Gampang itu, kita duluan ya." Arsen menanggapinya dengan santai, ia lalu berpamitan kepada Rangga dan berganti bergabung dengan teman-temannya yang lain.
Namun, siapa sangka saat mereka berdua turun dari pelaminan. Terlihat Gamma dan Carissa juga datang ke acara Rangga. Tentu saja, dulu temannya Arsen adalah teman Gamma juga mengingat mereka berdua adalah sepupu.
"Kak Gamma, Kak Risa? Wah, nggak nyangka banget bakalan ketemu disini. Kapan kalian pulang?" Arsen langsung menyapa dengan wajah kagetnya.
Mereka berdua pun kaget saat melihat Arsen dan Luna. Terutama Gamma yang langsung menajamkan pandangannya. Apalagi melihat bagaimana tangan Arsen melingkari pinggang Luna dengan posesif.
"Arsen, aku juga nggak nyangka ketemu disini. Iya, kami baru pulang, baru aja kemarin sore," jawab Clarissa diam-diam ikut memperhatikan Luna juga. "Kau datang bersama Luna?" Tanya Clarissa mengerutkan dahinya.
"Iya, Kak Gamma tidak masalah kan aku mengajak sekretaris mu pergi? Ini bukan waktunya dia bekerja," ucap Arsen saat melihat tatapan Gamma yang sangat tajam itu.
Gamma menipiskan bibirnya, ia tidak mungkin melarang Luna pergi bersama Arsen. Lagipula ini juga memang bukan jam kerjanya.
"Tuan Gamma pasti mengerti Arsen, lagipula ini memang bukan jam kerjaku," sahut Luna langsung menyela sebelum Gamma mengatakan apapun, ia tidak mau orang lain curiga karena melihat tatapan pria itu yang seolah ingin membunuhnya itu.
Gamma terdiam, tapi ia terus menatap Luna dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Hahaha, kau benar. By the way, selamat datang kembali Kak, semoga program kehamilannya Kak Risa lancar," ujar Arsen, kali ini ucapannya itu membuat Luna terkejut.
"Program hamil?" Ucap Luna menatap Gamma dan Clarissa bergantian.
"Iya Luna, aku dan suamiku memang sedang melakukan program hamil. Kami sudah berencana akan memiliki anak dalam waktu dekat ini, doakan yang terbaik ya?" Ucap Clarissa meraih lengan suaminya lalu menatap Gamma dengan pandangan penuh cinta. Sepertinya ia ingin menunjukkan pada Luna kalau hubungannya dengan Gamma sudah membaik.
"Pasti, saya pasti mendoakan yang terbaik untuk Anda. Semoga segera diberi momongan." Meksi Luna terkejut dan merasakan hatinya terluka, tapi ia berusaha tersenyum dihadapan Clarissa.
"Terima kasih, kalian juga semoga cepat menyusul. Sudah sejauh mana?" Tanya Clarissa mengerlingkan sebelah matanya pada Arsen dan Luna.
"Hahaha, belum sejauh itu Kak. Doakan saja yang terbaik, kita duluan ya." Arsen menanggapinya dengan tawa kecil, ia lalu menggandeng kembali pinggang kecil Luna beranjak pergi meninggalkan pasangan itu.
Luna tersenyum, ia sempat melirik Gamma saat ia melewati pria itu. Sekarang ia tahu kenapa Gamma pergi ke Jepang dan mengambil cuti selama dua Minggu. Ternyata pria itu sedang merencanakan keluarga kecilnya.
Luna tersenyum kecut, bukankah itu memang sudah seharusnya terjadi? Ia tidak boleh sedih, ia harus ingat kalau ia hanya sekedar partner ranjang Gamma, dan mungkin saja kini pria itu sudah melupakannya. Terbukti Gamma terlihat cuek saat Clarissa menggelayuti lengannya.
Happy Reading.
TBC.
eh awal bab so 🔥🔥🔥