Elena, ku mohon cepatlah sadar! Aku sangat merindukanmu!
Seorang Pria muda duduk di samping ranjang, menemani seorang wanita cantik yang baru saja kembali dari gerbang kematian.
Apa yang terjadi dengan wanita itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Win, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 12. Kembali ke Ibu Kota
"Tin! Tin!“
"Ga, yuk cepetan! Nanti ketinggalan pesawat kamu tuh." omel Elena sambil membunyikan klakson mobil.
“Iya sabar, masih lama lo waktunya.” sahut Ryuga dari dalam rumah.
“Memang masih lama, tapi kalau macet gimana? Ini Medan lho, jam segini biasanya suka macet."
“Bentar, aku pamitan dulu sama Mama Papa." jawab Ryuga.
"Oke."
"Ma, Pa, Ryuga balik ke Jakarta ya. Mama sama Papa jaga kesehatan ya. Papa jangan kecapean.”
“Iya nak, kamu harus sering-sering pulang . Tiap tahun baru harus pulang ya." pinta Mama Cintya.
“Iya, Ma. Tiap tahun Ryuga bakalan pulang kok. Ryuga pamit dulu ya Ma.”
Ryuga memeluk Papa dan Mama nya dengan erat, setelah itu Ryuga berjalan menuju mobil Elena dan memasukan koper ke dalan bagasi mobil.
“Dah Ma, Pa. Ryuga berangkat ya." ucap Ryuga sambil melambaikan tangan.
“Iya, hati hati ya. Kalau sudah sampai Jakarta, kabari ya nak.”
“iya Ma.”
“Tante, Om, Elena jalan dulu ya. Bye...”
“Iya Len, hati hati ya di jalan.”
Elena melambaikan tangan, dia lalu mulai melajukan mobilnya. Selama di perjalanan, Ryuga terus menerus memperhatikan layar ponsel. Wajahnya tampak serius memandangi ponsel di tangannya.
"Ga, lihat apa sih, serius banget." tanya Elena yang bosan karena keheningan di dalam mobil.
"Bukan apa-apa, cuma masalah pekerjaan." jawab Ryuga masih sambil menatap layar ponsel.
Elena berdecak kesal, dia merebut ponsel milik Ryuga lalu bertanya kepadanya. "Ponsel nya lebih cakep ya dari pada aku?"
"Apaan sih Len? Aku kan lagi kerja. Sini balikin handphone ku!" pinta Ryuga.
Laki-laki itu mendekatkan tubuhnya ke arah Elena, hendak mengambil ponselnya kembali dari tangan wanita itu. Elena memindahkan ponsel ke tangan kanan, membuat tubuh Ryuga lebih dekat lagi hingga wajah mereka berdua sangat dekat.
Melihat bibir merah Elena di depan matanya, Ryuga tanpa sadar mengecup bibir itu. Elena terperanjat kaget, dia langsung mengerem mobilnya secara mendadak.
"Ga, kamu nih makin lama makin terlalu ya!"
Elena mengomel karena laki-laki itu mencium bibirnya. Steven bahkan belum pernah mencium bibirnya meski mereka sudah bertunangan. Meskipun ciuman dari Ryuga ini bukanlah pertama kalinya, Elena merasa kesal karena merasa dirinya seolah di anggap wanita murahan oleh Ryuga.
Ryuga segera merebut ponsel miliknya, dia kembali menatap layar ponsel tanpa menghiraukan omelan dari Elena.
Ketiba di tiba bandara, Elena duduk diam di dalam mobil. Ryuga menurunkan koper dari belakang bagasi.
"Kamu kapan balik ke Jakarta?" tanya Ryuga yang kini berada di samping pintu mobil Elena.
Elena menurunkan kaca jendela, "Dua hari lagi. Kenapa tanya-tanya? Mau jemput?"
“Nanti saya jemput, tapi suruh supir. Aku kan sibuk, mana sempat jemput kamu.”
"Suruh supir pun jadilah, yang penting ada tumpangan gratis.” jawab Elena sambil menyengir.
“Ya udah, aku masuk dulu ya Len.” Ryuga merasa sedikit tidak rela berpisah dengan Elena. Namun pekerjaan membuatnya harus kembali hari ini juga.
“Iya, masuk sana. Aku langsung pulang aja ya. Sudah sampai Jakarta nanti ingat kasih kabar.” sahut Elena.
Ryuga menurunkan wajahnya ke jendela mobil Elena. Dia kembali mencium bibir wanita itu dan segera kabur dari sana.
"Ryuga, Awas kamu nanti yah!" teriak Elena kesal dengan Ryuga yang bertindak sesuka hatinya.
"Len, mulai sekarang, aku nggak akan pernah melepaskan kamu lagi." benak Ryuga.
Dua Hari Kemudian
“Ma, Elena berangkat ke bandara ya!”
“Tunggu bentar Len, bolu Meranti kamu sudah dibawa belum?” tanya Mama Raina.
“Sudah Ma, aman semuanya sudah Elena periksa dua kali.”
“Yang buat Ryuga sudah kamu bawa juga?”
“Sudah juga, Ma."
“Ini, mama buatin kamu roti, nanti makan di mobil ya.” ucap Mama Raina sambil menyerahkan satu bungkusan plastik.
“Iya, Elena berangkat sekarang ya Ma.”
“Iya, hati hati di jalan. Kalau sudah sampai Jakarta jangan lupa kabari Mama secepatnya ya."
Mama Raina memeluk Elena, putri semata wayangnya.
“Iya, Mama tenang aja. Elena kan bukan anak kecil lagi." sahut Elena sambil membalas pelukan Mama Raina.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kota Jakarta
Elena berdiri di depan pintu keluar. Dia melihat sekeliling untuk mencari keberadaan supir yang di tugaskan Ryuga untuk menjemputnya. Setelah beberapa saat, Elena masih belum menemukan wajah yang di carinya. Akhirnya dia mengambil ponsel dan menelepon Ryuga.
"Hallo, Ryuga! supir mu mana? Kok nggak kelihatan!”
“Posisi kamu sekarang di mana?" tanya Ryuga.
“Aku ada di depan McD sekarang. Udah keliling-keliling dua kali nyariin supir kamu.” keluh Elena.
"Oke, kamu tunggu bentar di sana ya.”
"Len!" Ryuga memanggil dari arah belakang.
Elena berbalik, mencari suara yang memanggil namanya. “Eh Ryuga, kok kamu? Bukannya kamu suruh supir ya?" tanya Elena.
“Iya, soalnya aku kasihan sama Pak Adi. Nanti pasti kamu suruh-suruh buat angkatin barang kamu yang banyak banget."
“Alasan deh kamu, ngaku aja kalau kamu tuh sudah kangen kan sama aku?” ledek Elena.
"Nah tuh kamu tau, pake nanya lagi." sahut Ryuga.
"Jantungku, kenapa jadi deg-degan gini? Padahal Ryuga juga cuma bercanda doang. Nggak mungkin lah dia kangen sama aku yang udah tumbuh besar bersama selama puluhan tahun. Sadar Len, sadar. Ryuga itu sahabat kamu, jangan sampai kamu punya perasaan lain buat dia." benak Elena.
Ryuga menarik koper Elena yang ukurannya lebih besar dari badan Elena sendiri. Dia juga membawa tas berukuran sedang dan dua kotak Bolu Meranti yang satunya untuk Ryuga.
"Kamu nih macam pindahan aja ya. Banyak banget sih barang bawaan!" keluh Ryuga yang hanya di balas senyuman oleh Elena.
Tiba di tempat parkir, Ryuga menaikkan semua barang Elena di belakang mobil. Elena berdiri diam menatap wajah seseorang yang dia kenal. Seorang wanita yang pernah menjadi teman sekaligus musuh Elena dulu di masa sekolah.
"Kok kebetulan banget bisa ketemu sama itu orang, bikin badmood aja." benak Elena.
"Len, kamu kenapa? Kok bete giti mukanya?" tanya Ryuga.
"Nggak pa pa kok, aku cuma sakit mata abis liatin kecoa." jawab Elena asal.
"Dih, masa liatin kecoa doang bisa sakit mata?"
"Yuk cepetan!" rengek Elena sambil memukul pelan pundak Ryuga.
Ryuga tertawa geli melihat wajah Elena memonyongkan bibirnya. Dia menundukkan wajahnya hingga sejajar dengan wajah Elena.
"Kamu minta di cium ya?" bisiknya sambil tersenyum.
"Kamu mau di gampar?" sahut Elena sambil mengangkat sebelah lengannya.
"Kalau demi nyium kamu sih aku rela di gampar." Ryuga dengan cepat memajukan kepalanya hingga kedua bibir mereka menempel.
Elena tertegun, matanya membesar. Dia membeku sesaat, membuat Ryuga dengan lancar menikmati bibir merahnya.
^^^BERSAMBUNG...^^^
nyatain ajj cwe suka kok sama cwo baik🤗