Seorang ibu yang mengandung, melahirkan, menyusui, mendidik dan membesarkan anak-anaknya adalah wanita yang hebat.
tapi tahukah kalian bahwa ada wanita yang jauh lebih hebat, yaitu wanita yang terus berjuang untuk menjadi seorang ibu, dia yng melakukan segala hal demi memperjuangkan garis dua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rahma khusnul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ulang Tahun Talita...
Happy Reading...⚘⚘⚘
Malam itu Bi Yati menginap di rumah Afifa, Waktu menunjukan pukul 8 malam, Afifa duduk disofa ruang keluarga memegang ponsel hendak meminta izin kepada kepala sekolahnya agar masa cutinya dipercepat, dia tidak mau aktivitasnya akan mengganggu kesehatan kandungannya, Bi Yati duduk disampingnya menyaksikan acara televisi favoritnya.
Sejak pulang dari dokter, rasa sakit di bagian bawah perut Afifa tidak datang lagi, dia bersyukur, meskipun ucapan dokter tadi siang terus saja menghantui fikirannya, bagaimana kalau tiba-tiba saja rasa sakit itu datang lagi dan dia terpaksa harus melahirkan dalam waktu dekat, sedangkan dia belum punya satupun peralatan bayi dirumahnya, akhirnya dia berinisiatif untuk membeli peralatan bayi lewat aplikasi online shof yang ada diponselnya.
Afifa terus menggeser-geser layar ponsel untuk memilih peralatan bayi, sampai dia merasa bingung menentukan pilihan pada beberapa keranjang bayi, karna saking banyaknya produc yang ditawarkan. Diapun melirik Bi Yati disampingnya.
"Bi..., lihat deh, bagus yang mana?" tanya Afifa sambil memperlihatkan gambar beberapa keranjang bayi di layar ponselnya.
"Bagus-bagus semuanya Neng, Hmmm...", Bi Yati nampak berfikir sebentar, "Neng Fifa mau belanja peralatan bayi sekarang?"
"Iya"
"Memangnya usia kandungannya berapa bulan?"
"Enam bulan Bi" Afifa tersenyum sambil mengusap perutnya.
"Jangan dulu Neng, kata Emak, dulu waktu Bibi hamil anak pertama, kalau usia kandungan belum 7 bulan jangan beli-beli peralatan bayi dulu, PAMALI!".
"Lo, emangnya kenapa?"
"Kata Emak sih....Bisi teu jadi..., gitu katanya..." Bi Yati menekankan dengan logat bahasa sundanya.
"Ah masa si bi? mitos itu mah", Afifa tersenyum dengan ucapan Bi Yati.
"Iya Neng, itu si kata Emak, Bibi gak tau juga kebenarannya hehe..., tapi bibi si suka cari aman aja".
"Hmmmm... gitu ya? ya udah nanti aja deh belanjanya kalau sudah tepat 7 bulan". Afifa tersenyum, meski sesungguhnya Afifa tidak meyakini ucapan Bi Yati, rasa khawatir dalam dirinya tentang keselamatan calon buah hatinya tetap saja ada.
*****
Pagi-pagi Afifa mendapat telphon dari suaminya, rupanya urusannya di kantor polisi belum juga selesai, apalagi Fauzi juga harus mengurus surat-surat kepindahan Nadia, karna rasa sakit di perut Afifa tidak datang lagi, akhirnya diapun memutuskan untuk tidak memberitahukan peristiwa jatuhnya 2 hari yang lalu, dia fikir itu hanya akan menambah beban fikiran suaminya saja, biarlah semua urusannya di Jakarta diselesaikan terlebih dahulu, agar suaminya tidak perlu bolak-balik lagi ke Jakarta dan dapat terus menemaninya di usia kandungannya yang semakin mendekati hari kelahirannya.
Afifa sudah mengantongi izin pengajuan masa cutinya, dia merasa lega karena bisa terus istirahat seharian, karna saat ini tidak ada lagi yang dia fikirkan kecuali kesehatan dirinya dan buah hati yang ada dalam kandungannya.
Fauzi sudah 3 hari berada di Jakarta, urusannya di kantor polisi ia serahkan sepenuhnya kepada kuasa hukumnya, asalkan Mulyana tidak lagi mengganggu kehidupan keponakannya, dan hari ini Fauzi akan langsung mengurus surat-surat kepindahan Nadia ke kampusnya, kalau hari ini selesai besok Fauzi sudah bisa pulang.
Afifa sedang bersantai diatas Gazebo di taman belakang rumahnya sambil melemparkan segenggam makanan ikan ke kolamnya, ikan warna-warninya menyembul ke permukaan, mulutnya yang lebar menimbulkan bunyi yang lucu saat berebut makanan, Afifa tersenyum, pemandangan itu memang selalu membuatnya terhibur saat merasa sepi dan sendiri dirumahnya.
Ponsel Afifa yang tergeletak disamping tempat duduknya bergetar, dia meliriknya, nampak profile Wulan bersama dengan Talita yang tersenyum manis disana, Afifa segera menggeser layar ponselnya.
"Assalamualaikum" sapa Afifa.
"Waalaikum salam, Bunda...!" Suara Talita disebrang sana.
"Eh sayang..., apa kabar? Bunda kangen, Talita kok gak pernah main lagi ke rumah Bunda Fifa?"
"Gak boleh sama Bunda", Suara Talita terdengar berbisik.
"Lo? kenapa?" tanya Afifa tak kalah berbisik mengikuti suara Talita.
"Karena sekarang ada Kakek disini, jadi kalau Bunda pergi, Talita dirumah bersama Kakek, padahal sebenarnya Talita pengen kerumah Bunda Fifa", terdengar nada kekesalan dari suara Talita.
"Hmmm...ya udah, nanti Bunda Fifa minta ijin sama Bunda kamu ya, biar kamu bisa main kesini".
"Oke Bunda"
"O ya, Talita tumben telphon sendiri? emang Bunda kamu kemana?"
"Ada, lagi bungkusin hadiah buat doorprize besok",
"Doorprize? buat acara apa?"
"O iya, Talita mau kasih tau Bunda Fifa, besok Talita ulang tahun, mau ada acara dirumah, Bunda Fifa bisa datang kan?"
"Wah...Talita besok ulang tahun ya...?duuuh...Bunda harus kasih hadiah dong, Talita mau hadiah apa?"
"Apa aja Bunda, yang penting besok Bunda bisa datang, jangan lupa ya!"
"Oke sayang..."
"Bunda Wulan mau bicara ni bun..." Talita memberikan ponsel kepada ibunya.
"Iya sayang"
"Assalamualaikum Afifa"
"Waalaikum salam Mbak"
"Maaf saya mengganggu, Talita terus merengek pingin ngundang kamu, apa besok kamu ada waktu?"
"Emmm..., insyaAlloh Mbak, akan saya usahakan untuk datang".
"Dan saya juga mau minta tolong"
"Minta tolong apa Mbak?"
"Sebenarnya besok acaranya sederhana, saya hanya mengundang teman sekelas Talita, tetangga dekat sama anak yatim piatu dari yayasan dekat rumah, saya mau kamu yang memimpin acara, hanya berdo'a dan ada sedikit doorprize untuk anak-anak, acaranya pukul 1 siang, apa kamu bisa? "
"Hmmm...begitu ya, insyaAlloh Mbak saya usahakan".
"Terimakasih sebelumnya ya Afifa"
"Sama-sama"
"Assalamualaikum".
"Waalaikum salam".
Afifa masih memegang ponselnya, sebenarnya dia merasa bingung, bukankah seharusnya dia istirahat total, tapi untuk acara ulang tahun Talita, masa iya dia tidak datang, lagi pula dia sangat merindukan anak itu, sudah lama dia tidak bertemu dengannya.
Akhirnya dia menentukan untuk datang, tentunya sesudah mengantongi izin dari suaminya.
*****
Pukul 10 pagi, Afifa meminta Mang Ujang untuk mengantarnya ke rumah Wulan, dia sengaja berangkat lebih pagi karena akan mampir terlebih dahulu ke toko souvenir membeli hadiah untuk Talita, sebuah boneka barby cantik dikemas dengan kertas kado lucu sudah ia dapatkan, diapun segera menuju rumah Wulan.
Setiba dirumah wulan Afifa disambut dengan riang oleh Talita, begitupun dengan Wulan, menyambutnya dengan sangat ramah. Mang Ujang sengaja diminta kembali pulang oleh Wulan, karna Afifa akan pulang diantar dengan mobil Wulan.
Dirumah itu suasana masih sepi, para tamu dan anak-anak belum ada yang datang karna memang masih pukul 12 siang, hanya ada Wulan dan Talita, juga para pekerja yang bertugas untuk memasak, dan satu lagi, ada seorang pria paruh baya yang hanya duduk diam diatas kursi goyang, dengan wajah dingin menatap kosong keluar jendela, Afifa sempat menyapanya, namun pria itu hanya menolehnya sekilas dengan tatapan tidak ramah.
Tangan Afifa langsung ditarik Wulan saat dia hendak mendekati pria itu, tersungging senyuman yang dipaksakan dari bibir wulan, sepertinya dia tidak mau Afifa mendekati pria itu.
Tak lama adzan dzuhur berkumandang, Afifa meminta izin untuk menunaikan kewajibannya, diapun dibawa ke kamar Wulan untuk sholat, kamar yang sangat nyaman dan rapi, tak ada foto pernikahan disana, hanya ada foto Wulan yang menggendong seorang bayi yang masih merah bersama seorang pria berseragam polisi.
Selesai dengan kewajibannya, dia sempat memperhatikan foto itu, ada yang aneh fikirnya. Apakah itu bayi Talita? kenapa mbak wulan menggendong bayi yang barusaja dilahirkan? bukankah mbak wulan bilang, baru bertemu dengan Talita setelah usianya 2 tahun?
Afifa terbangun dari lamunannya karena suara Wulan yang sedang melakukan panggilan telephon dengan seseorang sambil berjalan mendekati kamar tempat Afifa berada.
"Maaf sore ini saya tida bisa keluar, bagaimana kalau kamu datang saja ke rumah saya, kita bisa bicarakan semuanya dirumah saya, sekalian nanti kita lihat lokasi pembangunannya secara langsung, lokasinya hanya beberapa meter dari rumah saya" Ucap wulan pada orang di sebrang sana.
...
"Baiklah saya tunggu, terimakasih, Assalamualaikum".
Wulan mengulas senyum saat berpapasan dengan Afifa yang hendak keluar kamar, sebelum dia mengakhiri panggilannya dan menyimpan kembali ponselnya ke saku gamisnya.
Talita sudah berpakaian rapi dan cantik, duduk disofa besar tepat didepan kue ulang tahunnya yang bertuliskan Happy birthday Dzakia Talita Azzahra juga lilin berbentuk angka 8, wajahnya terus tersenyum menampakan rasa senang di hari jadinya ini.
"Bunda...! sini...!" Panggil Talita sambil menepuk-nepuk sofa kosong disampingnya.
Afifa tersenyum, lalu berjalan menghampiri anak itu, "Selamat ya sayang, semoga kamu menjadi anak yang soleh dan selalu menjadi kebanggaan orang tua", satu kecupan mendarat di kening Talita, diapun memberikan hadiah yang tadi sempat dibelinya, "Ini untukmu", senyuman tak lepas dari bibir Afifa.
"Terimakasih Bunda", Ucap Talita riang.
"Sama-sama" Afifa memeluk anak itu.
Terjadi perbincangan seru diantara mereka, sampai para tamu undangan dan anak-anak yang terdiri dari teman sekelas Talita dan juga anak-anak panti mulai berdatangan, rumah Wulan yang berada dilantai 2 pun penuh sesak dengan anak-anak, bahkan sebagian dari mereka ada yang terpaksa duduk dilantai bawah yang dijadikan butiknya Wulan.
Wulan berjalan ke arah Afifa dan putrinya, lalu diapun berbisik "Maaf ya rumahnya terlalu kecil, jadi sesak gini", seulas senyum tersungging dari bibirnya.
"Gak papa Mbak, sepertinya mereka sangat antusias, jadi semuanya datang memenuhi undangan Mbak Wulan", jawab Afifa.
"Nanti juga kita mau bikin rumah besar bunda Fifa, iya kan Bun?" Ucap Talita sambil menatap Afifa dan Wulan bergantian.
"InsyaAlloh, semoga semuanya lancar", jelas Wulan.
"Aamiin", Afifa mengamini.
"Sepertinya sudah datang semua, acaranya kita mulai saja ya Fa?" ucap Wulan.
Afifa mengangguk, diapun berdiri dan mulai berbicara di depan podium.
"Bismillahirrohmanirrohim, Assalamualaokum warohmatullohi wabarokaatuh", Ucap Afifa membuka pembicaraan dengan gaya salam ala anak-anak TK.
"Waalaikum salam warohmatullohi wabarokaatuh" Jawab anak-anak serempak dan antusias masih dengan jawaban salam ala anak TK.
"Anak-anak...! Apa kabar semuanya?"
"Baik bu..." jawab anak-anak serempak.
"Apa kalian bahagia hari ini?"
"Bahagia..." koor anak-anak memenuhi seluruh ruangan rumah Wulan.
"Alhamdulillah...., hari ini kita bisa berkumpul ditempat yang mulia ini untuk menghadiri undangan dari teman kita Talita dalam rangka merayakan hari ulang tahunnya yang ke 8, baiklah anak-anak kita akan mulai acaranya dengan berdo'a terlebih dahulu, mari kita do'akan semoga teman kita Talita selalu sehat dan soleh, memiliki masa depan yang cerah, panjang umur dan selalu bahagia baik didunia maupun di akhirat, Aamiin".
"Aamii.......n" Jawab anak-anak masih serempak.
"Teman kita ini nama lengkapnya Dzakiya Talita Azzahra putri dari ibu Wulan Mulyani dan Bapak...." Afifa menoleh kepada Wulan, karena memang dia tidak tahu nama dari ayah Talita, dan belum sempat bertanya juga.
Raut muka Wulan langsung berubah dan nampak kaget saat Afifa menatap kearahnya mengisyaratkan agar dia menyebut nama ayah Talita.
"Oh...ayahnya...Rahman, iya... Rahman" Ucapnya gelagapan.
Afifa yang menangkap perubahan dalam raut muka Wulan cukup merasa heran, tapi dia kembali melanjutkan acaranya, "Bapak... Rahman, hari ini Talita tepat berusia 8 tahun, mari kita membaca Fatihah dan beberapa surat pendek dan do'a-do'a untuk kebahagiaannya. Oke...ibu pimpin do'anya dan kalian mengamini dengan mengangkat kedua tangan dan menutup mata ya".
"Baik bu...."
Acara berdo'a pun berlangsung mulai dari bacaan Fatihah yang serempak dibaca anak-anak, suroh-suroh pendek dan do'a yang dipimpin oleh Afifa, semuanya hening, anak-anak nampak khusu mendengarkan setiap do'a yang diucapkan Afifa sambil terpejam.
ditengah keheningan dan kekhusuan itu, tiba-tiba saja Afifa samar-samar mendengar suara seorang pria sedang mengomel sendiri. "Kenapa tidak sebut saja nama lengkap dari laki-laki brengsek itu!, pake nama Rahman segala".
"Deg...!!!!" ada satu dentuman yang membentur keras ke jantung Afifa, mata Afifa terbuka, tapi tatapannya samar dan menguning, lalu perlahan gelap, gelap dan semakin gelap, suara hiruk pikuk anak-anak masih terdengar ditelinganya, meneriakan kekhawatiran kepada dirinya karena tiba-tiba saja tubuhnya oleng dari tempatnya berdiri dan ambruk jatuh ke lantai.
**************
Bersambung...❤❤❤
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Like dan komentarnya masih ditunggu...❤
By : @Rahma Husnul
Secara dia sudah berbuat salah ...ngasih obat perangsang
Sampai di sini kok dramanya datar2 aja ?
sukses
semangat
mksh
Laki macam apa sich, bejek² aja kak Owner 🤧🤧🤧
🤔🤔🤔
#ngarep