Apakah sesulit itu kau mencintai aku. Sehingga aku bagaikan bayangan dimatamu. Aku ingin kau melihat ku sekali saja, melihatku sebagai kekasihmu.sebelum aku mulai menyerah dan memilih pergi dengan sikap dingin mu itu. Kapan es itu mencair? Dan kapan senyum terbit di bibirmu? senyum untuk ku.
_Yuna Delisia Putri-
Aku tak menganggap mu sebagai kekasih ku, Walaupun kau adalah kekasih ku. Bahkan aku ingin kau pergi dari hidupku, Pergi jauh dari hidupku.
_Alfran Mahendra_
Apakah Yuna sanggup bertahan dengan Alfran yang tak menganggap ia sebagai kekasih. Dan apakah Alfran akan mencintai Yuna setelah Yuna ingin mulai menyerah dan melepaskan Afran?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syafitri wulandari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cemburu?
Happy reading
*******
Yuna menatap langit-langit kamar Alfran, ia menghembuskan nafasnya kasar. Sekarang ia sedang sendiri di kamar Alfran karena lelaki itu sedang berada di kamar mandi. Yuna menoleh ke samping kanan tepat berada di meja belajar Alfran, dengan perlahan ia bangkit dari tidurnya, berjalan dengan perlahan ke arah meja belajar Alfran. Yuna duduk di kursi tangan kanannya perlahan mengambil bingkai foto. Ia tersenyum miris menatap foto Alfran dengan Salsa yang terpajang sangat indah di meja belajar Alfran, bahkan beberapa di dinding kamar Alfran membuat Yuna merasa sesak di dadanya. Ia mengusap wajah Alfran yang berada di bingkai foto itu dengan perlahan. Alfran dan Salsa tampak bahagia sekali di foto itu, senyum keduanya mengembang dengan tangan Alfran yang merangkul pinggang Salsa.
"Sal, gue gak tau harus berterimakasih atau menyesali permintaan lo. Lo tau gue senang banget bisa menjadi bagian dari hidup Alfran, gue pikir setelah kepergian lo, gue bisa menggantikan posisi lo di hati Alfran, tapi gue salah, Alfran sama sekali tidak melihat gue, bahkan dia sangat membenci Gue, Alfran lebih bahagia kalau gue mati, apa gue harus menyerah sekarang Salsa?" Yuna memejamkan matanya hingga setetes air mata menjatuhi kedua pipinya yang tirus. Dengan cepat Yuna menyeka air matanya menatap kembali bingkai foto Alfran dan Salsa. Tidak ada foto kenangan dirinya dan Alfran satu pun di kamar pria itu. Membuat Yuna lagi dan lagi terhempas pada kenyataan bahwa memang dirinya tak berarti untuk Alfran. ketukan pintu menyadarkan Yuna dari lamunannya, ia meletakkan bingkai foto itu kembali di tempatnya, kemudian ia berjalan ke arah pintu dan membuka pintu kamar Alfran. Yuna tersenyum menatap seseorang yang berada di depannya.
"Alfran masih di kamar mandi," ucap Yuna sebelum lelaki itu menyuarakan suaranya. lelaki itu masih terpanah melihat wajah pucat Yuna tetapi masih terlihat sangat cantik itu.
"Gue gak cari Alfran, tapi gue ke sini bawa tas sama ponsel lo yang tertinggal di kampus tadi. Clara tidak bisa mengantarkan ini karena gadis itu sedang terburu-buru tadi, Clara cuma bilang akan ke rumah lo nanti karena dia sangat khawatir dengan keadaan lo," jelas Gibran tenang.
Yuna menerima tasnya yang berada di tangan Gibran, ia tau apa yang membuat sahabatnya itu terburu-buru. Yuna hanya bisa berdo'a untuk kebahagiaan sang sahabat. "Terimakasih," ucap Yuna pelan yang di angguki oleh Gibran.
"Gimana keadaan lo?" tanya Gibran yang masih mengamati wajah Yuna yang terlihat sangat pucat.
"Sudah mendingan kok, rencana gue mau pulang sekarang tapi Alfran masih di kamar mandi."
"Gue yang anter lo pulang, ya?"
"Tidak usah Gib, gue takut ngerepotin lo."
"Gue..."
Ucapan Gibran terhenti saat suara pintu kamar mandi terbuka, keduanya menoleh menatap Alfran yang sudah segar sesudah mandi.
"Ngapain lo ke sini?" tanya Alfran datar membuat Gibran mendengus mendengar nada bicara Alfran yang seperti biasa.
"Gue antar tas Yuna yang tertinggal di kampus," jawab Gibran. Alfran melirik tas yang di pegang Yuna sekilas.
"Al, aku mau pulang. Bisa antarkan aku pulang?"
Al melirik jam di dinding kamarnya. "Gue ada urusan di kantor ayah. Kalau mau pulang, pulang sendiri saja."
Gibran yang mendengarnya mengepalkan tangannya menahan emosi, ia ingin sekali menonjok wajah sok dingin Alfran sekarang juga tetapi ia tahan karena masih ada Yuna di dekat mereka. Ia melirik wajah sendu Yuna, mengapa melihat wajah sendu Yuna Gibran menjadi tak tega dan hatinya sangat sakit sekali?
"Gue yang akan mengantarkan lo pulang, gue juga mau pulang nih."
"Jangan banyak mikir ayo pulang," lanjut Gibran yang di angguki oleh Yuna. Sedangkan Alfran berpura-pura sibuk dengan berkas yang ada di meja belajarnya.
"Alfran?" panggil Yuna pelan.
"Hmmm."
"Aku pulang dulu ya, makasih karena kamu sudah merawat aku. Bilang sama Bunda juga, makasih sudah di buatkan bubur yang sangat enak," ucap Yuna lirih karena Alfran sama sekali tak menatapnya, pria itu sibuk dengan berkas yang baru saja ia baca. Bunda Rania berpamitan pada Yuna untuk pergi sebentar ke supermarket membuat Yuna merasa sendiri di kamar Alfran, walaupun ada Alfran, Yuna merasa sedang bersama patung.
"Iya." hanya jawaban singkat dari Alfran tetapi membuat Yuna tersenyum sebelum melangkah keluar dari kamar Alfran.
Setelah bunyi pintu tertutup Alfran membuang kasar berkas yang ia pegang, sedari tadi dirinya hanya berpura-pura sibuk dengan berkas kantor ayahnya, tetapi melihat kepergian Yuna dengan Gibran mengapa sebagian hatinya merasa tak rela? Alfran bangkit dari duduknya dan berjalan menuju jendela kamarnya, ia menyibak gorden jendelanya menatap tajam mobil Gibran yang sudah melaju dengan Yuna yang sudah berada di dalam mobil Gibran.
"Argghhh... Gue kenapa? Kenapa hati gue gak rela lihat Yuna pulang dengan Gibran?" tanya Alfran pada dirinya sendiri dan mengacak rambutnya kasar.
*****
Jangan lupa vote, komen dan like nya