"Maafkan ayah, Nak! Ayah tidak bisa berbuat apa-apa, dan kamu harus menanggung semua ini." Ucap pak Sulaiman kepada putrinya yang masih berusia 18 tahun yang bernama Gendis.
"Gendis tidak apa-apa, Yah! Gendis akan melakukan apapun untuk menolong ayah, meskipun Gendis harus menjadi pembantu di rumah Tuan Agam yang sombong itu, demi ayah Gendis rela. Gendis tidak ingin melihat ayah di dalam penjara." Seru Gendis Anindya, putri satu-satunya pak Sulaiman.
Karena sebuah hutang, pak Sulaiman terpaksa menggadaikan anak perempuannya untuk tinggal di rumah Agam Brandon yang terkenal dengan sifatnya yang dingin dan sombong. Seorang duda kaya raya yang memiliki kekayaan dan kekuasaan yang besar.
Bagaimanakah perjuangan Gendis menyelamatkan sang ayah dari jerat hutang kepada Agam? Dan apa jadinya jika sang majikan ternyata memendam perasaan kepada Gendis dan merasa jika gadis itu adalah pengobat sakit hatinya?
Novel ini mengikuti event Kekasih ideal, mohon dukungannya 🙏🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LichaLika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Naik pangkat
Setelah itu, Gendis pun meminta izin untuk pergi ke dapur, dan Agam pun tersenyum sembari menganggukkan kepalanya.
"Saya permisi, Tuan! Saya mau ke dapur, kalau Tuan butuh sesuatu, Tuan bisa panggil saya," ucap Gendis.
"Tentu saja, setiap hari aku pasti membutuhkanmu," jawaban sang majikan seketika membuat Gendis tersenyum paksa dan Ia pun segera pergi dari kamar sang majikan. Agam pun tersenyum tipis melihat ekspresi wajah Gendis yang selalu membuatnya ingin tertawa.
"Gendis! Andai saja kamu tahu, setidaknya aku harus mengambil hatimu secara perlahan, aku tidak mau mendapatkanmu secara paksa, karena aku tahu kamu sangat membenciku, dan aku bersumpah akan mendapatkan cinta darimu, karena kamu adalah wanita yang mampu membuat hati seorang Agam tunduk," ucap Agam lirih, pria yang sudah tiga tahun menduda itu rupanya sudah menemukan kembali kebahagiaannya saat melihat wajah seorang gadis polos dan belia yang masih berumur delapan belas tahun.
*
*
*
Malam harinya, entah kenapa Gendis tidak bisa tidur, setelah dirinya berbicara dengan sang ayah lewat telepon untuk mengetahui keadaan sang ibu. Meskipun ayahnya mengatakan jika sang ibu sudah baik dan bisa pulang dalam waktu dekat, tapi tetap saja Gendis tidak bisa tidur nyenyak, ia pun memutuskan untuk keluar dari kamar dan mencari udara segar diluar kamar.
Gendis tampak berjalan menuju ke arah teras rumah, keindahan malam itu cukup membuat Gendis merasa nyaman, angin yang tidak terlalu kencang meskipun baru saja turun hujan, tidak membuat Gendis kedinginan, sembari menatap pemandangan luar, entah kenapa ia merasa mulai betah berada di rumah Agam, padahal dia datang dengan paksaan, setelah tinggal beberapa hari di sana, Gendis mulai nyaman apalagi ia melihat perubahan sikap Agam yang mulai berubah.
Tiba-tiba saja Gendis dikejutkan dengan cicak yang tiba-tiba nemplok pada tangannya, spontan Gendis teriak dan berusaha untuk mengusir cicak itu, tapi sialnya saat Gendis sedang berusaha untuk mengusir cicak, justru dirinya tak sengaja menabrak seseorang yang ternyata itu adalah sanga majikan.
"Awwww aduh!" Gendis tampak terkejut dan spontan Agam menahan tubuh Gendis agar gadis itu tidak terjatuh.
"Tu-tuan! Ma-maaf saya tidak sengaja! Saya tidak tahu kalau ada Tuan di sini, itu tadi ada cicak nempel di tangan, hiii geli," ucap Gendis yang merasa jika dirinya telah menabrak Agam.
Agam pun melihat sekitar, dimana suasana sudah sepi mengingat hari sudah malam dan para pelayan pun sudah masuk ke kamar mereka masing-masing.
"Kenapa kamu belum tidur? Dan cicak, mana ada cicak?" tanya Agam sambil memperhatikan Gendis secara seksama.
" Tadi di sini, di tangan saya, Tuan! Sa-saya tidak bisa tidur, Tuan!" jawab Gendis.
"Kenapa tidak bisa tidur?" tanya Agam serius, dan itu membuat Gendis merasa tidak nyaman dengan pandangan mata sang majikan yang seolah-olah sedang tidak suka jika dirinya sedang berada di luar kamar.
"Aduhhh Tuan jangan lihat saya seperti itu, dong! Biasa aja kali, bikin gugup aja," ucap Gendis lirih dan salah tingkah.
"Oke, aku tidak akan melihatmu, dan sekarang kamu harus jawab, kenapa kamu tidak pergi tidur? Kamu tahu ini jam berapa? Kamu mau masuk angin gara-gara terkena angin malam? Apa kamu ingin kabur dari sini?" cecar Agam yang seketika membuat Gendis kesal.
"Ya kali Tuan satu-satu aja kalau tanya, gimana sih, iya iya saya nggak bisa tidur malam ini karena saya emang belum ngantuk, makanya saya keluar dari kamar, dan Tuan tidak perlu khawatir saya tidak akan kabur dari sini, karena saya mulai suka dengan pemandangan di sini, sangat indah!" ucap Gendis sembari melihat pemandangan sekitar yang tampak sejuk meskipun di malam hari. Agam pun tersenyum dan berkata, "Itu artinya kamu betah tinggal sebagai seorang pembantu? Bagaimana jika aku naikkan pangkat mu?"
Seketika pertanyaan Agam membuat Gendis membulatkan matanya, "Maksud Anda, Tuan?"
...BERSAMBUNG...