Popoy atau Tiara adalah gadis kampung yang sangat baik, cantik dan juga pintar. Dia lulus dengan meraih predikat terbaik di sekolahnya.
Tapi, modal itu saja tidaklah cukup untuk menjamin dirinya bisa mendapatkan pekerjaan yang mapan. Apalagi, Tiara hanya lulusan SMA.
Ekonomi keluarga yang pas-pasan dan incaran rentenir yang ingin memperistri Popoy, membuatnya nekad pergi ke kota. Popoy tidak mau terikat pernikahan dengan bandot tua yang selalu menjerat petani dengan hutang, hingga para orangtua terpaksa harus merelakan anak gadisnya untuk dipersunting demi melunasi hutang mereka.
Namun, Popoy tidak pernah menyangka jika di kota, dirinya malah terlibat banyak masalah. Bekalnya dirampok dan dia hampir saja diperkosa oleh para preman.
Popoy berhasil keluar dari mulut harimau tapi akhirnya masuk ke mulut buaya. Dia bersembunyi di bagasi mobil seorang Miliarder yang terkenal suka bergonti-ganti wanita.
Bagaimanakah nasib Popoy selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Julia Fajar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12. OMELAN POPOY
Popoy merasa heran, kenapa baru kemaren kejadian mereka tidur berdua berada dalam kamar hotel, tapi Alex sepertinya lupa dan tidak mengenal dirinya.
Dengan harap-harap cemas, Popoy menunggu perintah Alex selanjutnya.
"Kenapa berdiri saja! Apa kamu mau menjadi security? Duduk!"
"Baik Tuan," jawab Popoy. Kemudian dia menarik kursi yang ada di hadapan Alex, Popoy duduk dan tanpa berani memandang bos yang sedang duduk di hadapannya itu.
Alex bangkit dan memajukan wajahnya, hingga membuat Popoy reflek memundurkan tubuhnya.
"Kamu kenapa? Kamu pikir aku mau ngapain! Coba lihat! meja saya basah dan tidak kamu bersihkan!" ucap Alex sambil mencolek meja dengan jari telunjuknya.
"Iya maaf Tuan, tadi tidak tampak oleh Saya. Sebentar saya ambil kain lap untuk membersihkannya."
Popoy bangkit dari tempat duduknya, lalu pergi mengambil lap untuk membersihkan meja Alex yang tadi terkena cipratan air.
Saat Popoy membersihkan meja tersebut, Alex memandanginya dengan tajam, dia tersenyum licik sambil menjatuhkan pulpen dan kertas seolah-olah Popoy yang menyenggolnya.
Kertas-kertas itupun berserakan di lantai hingga membuat Popoy terkejut dan membulatkan mata.
"Belum selesai satu masalah, kamu buat masalah baru. Apa tidak bisa kerja dengan benar! Kenapa Baskoro merekomendasikanmu, jika pekerjaanmu satu saja tidak ada yang becus."
"Maaf Tuan! Tapi, bukan saya yang..."
"Apa, jadi kamu pikir itu semua karena kesalahan saya!"
"Tidak Tuan, biar saya bereskan semua."
Popoy pun jongkok dan mengambil satu persatu kertas yang berserakan, lalu ketika dia berdiri dan berbalik, hendak meletakkan kertas-kertas itu ke meja Alex, popoy sangat terkejut. Alex berdiri dihadapannya dan jarak mereka hanya beberapa senti saja.
Popoy mematung, karena Alex menyentuh rambut serta memajukan wajahnya, hingga wajah mereka hampir bersentuhan.
Aroma wangi Alex masih sama seperti malam kemaren hingga membuat Popoy seperti terhipnotis.
Popoy takut dengan tatapan Alex, lalu dia memejamkan mata agar terhindar dari pesona pria tampan yang sedang menatapnya itu.
Alex menyeringai, mencolek hidung Popoy dan berkata, "Hei, jangan kepedean ya!"
Popoy membuka mata dan dia malu saat melihat Alex sudah duduk di kursinya.
Untuk menutupi rasa malu, Popoy dengan gugup bertanya, "A-apa yang harus saya kerjakan lagi Tuan?"
"Pergilah, temui Rima staf pantry dan minta baju seragammu. Kamu lulus uji dan besok datang lebih awal. Awas, jika kamu sampai terlambat dan naik ke sini menggunakan lift pribadi ku, gajimu akan aku potong 10 persen, setiap kali keterlambatan."
"Terimakasih Tuan, saya janji tidak akan telat lagi."
"Heemm. Kenapa masih di situ, pergi dan tanyakan tugasmu selanjutnya kepada Rima."
"Ba-baik Tuan. Saya permisi!"
Popoy buru-buru keluar ruangan, lalu dia menarik nafas lega, akhirnya Bos menerima dirinya bekerja.
Jika tidak, Popoy tidak tahu, apa akan ada perusahaan yang mau mempekerjakan orang tanpa meminta ijazah.
Satu lagi yang membuat Popoy bersyukur, Alex tidak mengenalinya.
"Beruntung aku, mudah-mudahan selamanya, Bos mesum dan galak itu tidak akan mengenaliku!" monolog Popoy.
Popoy tidak sadar, jika ada seseorang berdiri di belakang mendengar ucapannya.
Deheman Baskoro, akhirnya membuat Popoy tersentak, dia langsung berdiri dan berbalik.
Popoy kaget dan menutup mulut dengan telapak tangan, dia takut jika Baskoro mendengar semua dumelannya.
Saking asyiknya memasang tali sepatu yang copot, sambil ngedumel, Popoy benar tidak menyadari, ternyata Baskoro sudah ada di sana sejak dirinya keluar dari ruangan Alex.
"Bagaimana Dek, apa Bos menerima kamu?"
"Eh, iya Pak. Alhamdulillah Bos menerima ku bekerja, meski..."
"Meski apa Dek?"
"Nggak Pak, meski nggak boleh terlambat!" ucap Popoy sambil tertawa kecil.
"Oh, saya pikir kenapa? Ya, kalau bekerja memang harus disiplin, ikut aturan perusahaan, terutama perintah Bos."
"Iya Pak. Terimakasih ya Pak, saya senang sekali bisa bekerja di sini, padahal tidak memiliki ijazah."
"Kamu mau kemana sekarang, apa tugas mu dari Bos sudah selesai?"
"Sudah Pak, Bos minta saya ke pantry untuk mengambil seragam dan menemui Mbak Rima."
"Bagus! ya sudah, semangat bekerja ya. Saya mau ke ruangan bos mesum dan galak itu," ucap Baskoro pelan, mengarahkan ucapan terakhirnya ke dekat telinga Popoy sambil tersenyum.
Popoy kaget dan tentunya takut serta malu, karena dumelannya tadi, ternyata di dengar oleh Baskoro.
"Jangan takut, aku sependapat dengan kamu mengenai Bos Alex," ucap Baskoro sambil berlalu meninggalkan Popoy yang masih berdiri mematung.
"Ternyata bukan aku saja Lex, yang mengatakan kamu itu mesum dan galak."
"Mudah-mudahan perkataan ku tidak di sampaikan ke Alex. Kalau sampai Pak Baskoro mengatakan semuanya, habislah aku! hari ini juga, aku pasti dipecat," monolog Popoy lagi.
Popoy pun bergegas menuju pantry, dia mencari staf yang bernama Bu Rima.
Ternyata Bu Rima orangnya sangat ramah dan juga baik, beliau memberi arahan kepada Popoy, apa saja yang akan menjadi tugasnya setiap hari.
Popoy kebagian tugas melayani permintaan Bos. Rima sendiri heran dan tidak menyangka, jika Bosnya menaruh perhatian kepada anak baru, dengan meneleponnya secara pribadi meminta hal itu kepada Rima.
Setelah Rima memberikan baju seragam, Popoy pun bergegas ke toilet untuk mengganti pakaiannya.
Namun, sebelum dirinya sampai ke pintu keluar, Rima berkata dan mengingatkan, "Ingat Poy, jangan gunakan lift pribadi Bos! Dia paling tidak suka area privasinya digunakan oleh para karyawan, kecuali atas permintaannya sendiri.
"Baik Bu, akan saya ingat," ucap Popoy sambil mengacungkan tanda oke dengan jarinya.
Popoy mengganti pakaiannya dengan pakaian seragam, lalu dia berputar sejenak di kaca.
Meskipun hanya menjadi seorang OG, tapi Popoy sangat merasa senang.
Bulan depan Popoy sudah bisa mengirimkan sebagian penghasilannya untuk mencicil hutang kedua orangtuanya.
Sambil bernyanyi-nyanyi kecil, Popoy keluar dari toilet, berjalan di lorong menuju pantry untuk melanjutkan tugasnya.
Tapi langkah Popoy terhenti, saat dua gadis yang berseragam hampir sama dengannya, menghalangi jalan.
Popoy pun lalu berkata, "Maaf ya Mbak, tolong dong, saya mau lewat," pinta Popoy dengan suara lembut.
"Lewat saja!" ucap salah satunya tapi tidak mau bergeser ke pinggir.
"Tapi Mbak, alat-alat pembersih dan tubuh Mbak berdua menghalangi jalan, bagaimana saya bisa lewat?"
"Geserlah alat-alat itu, kamu yang mau lewat kenapa harus kami yang menggesernya!"
"Oh, baiklah Mbak."
Popoy pun menggeser alat pel, vacum cleaner serta sapu yang menghalangi jalannya.
Namun, saat dia sudah berhasil menggeser, kedua temannya itu malah berpindah, berdiri tegak di depan jalannya.
"Popoy mulai kesal, lalu diapun berkata, "Apa sebenarnya maksud kalian, aku sudah memenuhi permintaan kalian, kenapa jalanku masih juga dihambat! Tolong aku mau lewat!"
Keduanya malah tertawa mengejek, hingga membuat Popoy hilang kesabaran. Popoy tidak ingin kena marah oleh Bu Rima karena telat kembali ke pantry.
smg sukses kedepannya ya author........ 🙏🙏
baru kali ini baca novel ngak di skip2
keren tetap berkarya semogga sukses selalu