Seorang gadis bernama Vanya Audelia, kini usianya menginjak 18 tahun, yang mana dirinya harus menerima takdir yang tak terduga dari sang aunty nya. apakah itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sherda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kecyduk
Vanya kembali ke rumah setelah kegiatan nya selesai dari bar tersebut, wajah nya tak luput memasang wajah kusam dan pikiran nya saat ini masih kacau balau entah kenapa. Tampak dirinya sudah mulai pasrah dengan aktifitas nya dalam dunia gelap.
Cek-lek...
Kebiasaan Vanya memang tidak diketuk sebelum mengucap salam, dirinya langsung terobos begitu saja tanpa mengeluarkan kata sepatah pun.
Kakak-kakaknya dan juga teman lainnya tengah asik makan bersama di ruangan tengah. Cukup kaget melihat kedatangan dari arah ruangan depan.
"Vanya, kamu udah pulang" ucap Larenz basa basi.
Vanya hanya terdiam saja tanpa berekspresi sama sekali, rasanya ia ingin merebahkan tubuhnya seharian akibat melayani pria-pria asing dalam sekian kalinya.
"Kamu mandi dulu ya, udah onty siapin air hangat di kamar kamu, terus abis itu jangan lupa ke bawah lagi buat makan sama kita" ucap Larenz.
"Iya... Onty." ucap nya singkat.
20 menit kemudian... setelah badan nya terasa refresh namun masih merasakan letih pada dirinya, Vanya sejenak merebahkan tubuhnya ke atas ranjang.
Tliiing...
Bunyi pesan masuk membuat Vanya bersegera bangkit dan mengecek pesan baru saja masuk.
Nomor tak dikenal : "Hai manis, besok malam kita ketemu di apartemen ya, see u baby ♥"
"Huh, rasanya gue pengen pindah ke mars saja" gumam Vanya. Karna akhir-akhir ini, Vanya cukup lelah melayani banyak pria yang ia tanggung selama bekerja, hingga sampai dirinya tak bisa berjalan akibat kecerobohan klien nya cukup liar.
Tak lama itu, Larenz datang dan membuka itu dengan membawakan nampan berisi nasi goreng serta susu putih di sana.
"Vanya, kamu makan dulu sebelum tidur, pasti kamu belum makan kan" ucap Larenz.
Vanya mengangguk pelan saja dan seraya bangkit dari ranjang nya.
"Udah berapa penghasilan kamu bulan ini?" ucap Larenz, membuka obrolan.
"Dua lima juta" singkat Vanya.
"Wah, bagus! dengan begitu kamu bisa beli kendaraan atau rumah untuk kamu"
"Kenapa harus beli kendaraan, Nty? kan udah ada kendaraan Onty dan juga kak Celva dan kakak-kakak lainnya. dan rumah ya ku rasa gak perlu" titah nya.
Seketika Larenz terdiam, ia cukup heran dengan responan anak bungsu nya itu. yang mana dulu nya Vanya suka menabung untuk membelikan sesuatu yang berbobot hingga sekarang berubah draktis, mungkin karna ajaran nya begitu melesat dari Larenz.
"Memang nya kamu gak ke pengen buat rumah sendiri? sama seperti anak onty di bar itu loh nak" ucap Larenz.
"Enggak, uang itu kan harus dibelanjakan apa yang aku mau kan, Onty? jadi aku pengen nya beli barang-barang aja" ucap Vanya sedikit tersenyum.
"Ya udah terserah kamu aja, kalau begitu Onty mau istirahat"
"Iya"
Setelah Onty nya pergi, Vanya mengambil nampan itu dan memakan nya dengan lahap.
Keesokan harinya, Vanya terbangun pada jam 06:30 wib, ia pun mengerutkan dahinya karna cukup kesiangan bangun tidur nya akibat kelelahan semalaman yang cukup nyenyak bagi Vanya.
Setelah dirinya membersihkan diri, Vanya hendak keluar kamar untuk mengecek apakah ornag-orang telah bangun apa belum.
Tepat di jalan tangga, Vanya berpapasan dengan Celva yang hendak naik dari bawah.
"Eh, kakak, udah bangun ya?" sapa Vanya.
"Udah kok, kamu mau ke bawah?"
"Iya, mau lihat ke dapur juga"
"Ohh, udah di sajikan kok sama Bi Uti, kamu tinggal makan aja"
"Oke"
Vanya berlalu melewati Celva, sementara dirinya masih terkaku sebentar melihat adiknya yang masih tak terbayang dengan nasip adiknya.
Tak lama itu, Celva lanjut menaiki tangga dan menuju ke kamar nya.
....
"Wah, Non Vanya udah bangun toh, sini makan dulu, Non!" ujar Bi Uti.
Vanya sekilas tersenyum dan bersegera duduk di kursi. "Wah, banyak juga bibi masak. dari jam berapa sih bibi bangun?" tanya Vanya dengan wajah ceria.
"Ohh, gak usah tanya bibi bangun jam berapa, disini kan bibi sebagai asisten jadi wajar lah bibi bangun lebih awal, Non, heheh" terkekeh Bi Uti.
"Gapapa bibi, lain hari kan aku bisa bantu bibi masak sambil belajar gitu" ucap Vanya.
"Ooh Non Vanya mau belajar masak? ya udah Non, siang atau sore kan bisa bibi ajarin, kalau pagi-pagi begini nantinya Non kurang tidur" ucap Bi Uti.
"Boleh deh Bi, hehehe."
"Ya udah Non, bibi mau ke belakang dulu yo, kalau ada bantuan panggil aja bibi jangan sungkan" ucap Bibi tersenyum renyah.
"Oke, Bi"
"Enak juga masakan Bi Uti, baru lamar disini udah enak aja masak nya" batin Vanya.
Tak lama itu, Via muncul di dapur dan melihat adiknya tengah menikmati sarapan pagi sendirian di meja nya.
"Wih, Vanya, udah sarapan duluan aja nih" usul Via.
"Eh kamu, udah bangun, kak?"
"Udah dong, malah daritadi, tapi keluarnya baru sekarang" ucap Via.
"Ya udah sini makan bareng!"
Di tengah menikmati sarapan, di antara nya cukup hening dan diam. Hal itu Via membuka obrolan dengan adik angkat nya, untuk mengetahui pribadi nya sedikit demi sedikit.
"Oh ya, Van. malam ini kamu ada job lagi?" tanya Via.
"Ada kak, tapi pelanggan satu ini dia mau nya di fasilitas apartemen"
"Wah, bagus dong itu, pasti dia orang kaya raya, deh" ujar Via.
"Emm, seperti nya sih, kak. tapi..."
"Tapi apa, Vanya?" tanya Via heran.
"Aku kok ragu ya, sama pelanggan itu?"
Via sembari mengambil sendok, sontak melirik ke arah adik nya dengan mengernyitkan dahinya.
...
"Hahahaha, dengan adanya dia, bisnis kita makin besar dan sukses, memang ter-the best kamu, Larenz! "
Larenz tersenyum mendengar responan atasan nya yang sangat bangga dengan jasa nya, hal itu penghasilannya tidak main-main, di tambah tiga kali lipat karna telah berhasil perusahaan itu maju dan berjaya.
"Larenz, thankyou so much for you. karna jasa mu, perusahaan kita semakin berkembang dan lancar jaya dengan pelayan dari kamu itu"
"Gak perlu sungkan, bos. itu sudah prinsip saya yang akan membangun institusi ini semakin laku" ucap Larenz, tersenyum tipis.
Di sisi lain, Setelah jadwal subuh berlalu 1 jam, Cici masih setia di dalam musholla untuk melakukan aktivitas pagi nya diawali dengan baca Alqur'an sekaligus buku Zikir kebiasaan Cici selama di pondok pesantren.
Setelah aktifitas nya selesai, ia sesekali melirik shaf depan untuk memastikan apakah sosok ikhwan itu ada apa tidak.
Masih tidak menemukan wujud nya dari jauh, Cici semakin melirik terus ke arah depan dengan fokus.
Kaila sang ukhti alias kakak kelas nya yang baru saja tiba di sana, cukup heran dengan tingkah Cici.
"Cici, astagfirullah, kamu lihat apa ke depan sampai begitu nya?" tegur Kaila.
Cici terkaget ketika kakak kelas nya muncul dan tercyduk dengan tingkah nya itu.
"Eeh, e-enggak kok kak, ana tadi mau baca di sana"
"Masa?" ucap Kaila, dengan wajah ngeledek.
"Ya ampun kak, ya sudah kalau tidak percaya, ana mau ke asrama dulu, Assalamu'alaikum" tergesa-gesa, Cici.
Cici bersegera pergi dari sana, agar kakak kelas nya tidak meledek dirinya dan ketahuan apa yang ia lihat daritadi.
Dosenku Adalah Suamiku
Assalamu'alaikum Suamiku
My Handsome Husband
Perjuangan Cinta Aurelia
dan masih ada yang lainnya 😁🤗