Novel berseason
Season 1
1. Terpaksa menikah dengan duda muda
menceritakan kisah lala, anak sma yang harus menggantikan kakak sepupunya untuk menikahi suami dan juga merawat anaknya. Awalnya Dimas tak mencintai Lala, tapi seiring berjalanannya waktu dia mulai khawatir dan mencintai lala.
2. Ara-Alex Version.
Season 2 dari kisah ini menceritakan Ara, anak sulung Dimas yang terpaksa menikah dengan Alex. Duda beranak satu, Ali. Cek buku di diprofil ya guys.
3. My Baby.
Versi Lia dan Ali. Lia adalah kembaran Lio, anak Ara dan Alex yang awalanya dipaksa menikah dengan Nathan, yang tak lain adalah Ali yang mengalami kecelakaan pesawat bertahun-tahun silam. Ali ingin membalas dendam tapi dia malah jatuh hati pada Lia. Cek lebih lengkap diprofil guy.
Ada juga kisah cinta Bastian. Mantannya Lala dan kisah seru lainnya. Langsung cek diprofil aku aja ya guys.
Sekian dan terimakasih. Semoga kalian suka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon karmela, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CAFE
Dimas dan Lala sudah ada di cafe. Mereka sudah memesan beberapa makanan, juga makanan untuk Ara. Untungnya ada pudding di menu cafenya. Ara masih ada dipangkuan Dimas, Dimas sedang bermain dengannya sambil menunggu makanan datang. Tak lama pelayan datang dengan membawa makanan yang mereka pesan.
"Permisi mbak, mas." Salah seorang pelayan menaruh makananannya satu-satu diatas meja.
"Makasih mbak." Lala kembali berterimakasih.
Para pelayan itu pamit pergi. Lala menaruh makanan yang Dimas pesan didepan Dimas.
"Mas Dimas, makan dulu. Aranya biar sama aku." Lala menghampiri Dimas ingin mengambil Ara.
"Kamu makan dulu aja ra. Kamu kan selalu repot kalau makan, kali ini aku yang pegang Ara." Dimas menyuruh Lala makan dulu.
"Gak papa mas, Mas Dimas aja yang makan dulu. Aku mau suapin Ara. Takut Ara udah laper."
Lala gak mau menyerah, dia harus mendulukan suami kan. Dia mengambil Ara dari Dimas, memanggku Ara dan menyuapi Ara dengan puding yang sudah dia pesan. Sementara Dimas terpaksa makan dulu, nanti mau gantian pegang Ara biar Lala bisa makan.
Disisi lain cafe itu, dua teman cewek Lala, sahabat Lala di sekolah, Fitri dan Pipit baru saja masuk dengan kekasih mereka masing-masing. Tino dan Rio, mereka bergelayutan ditangan kekasih masing-masing dan masuk kedalam cafe.
"Yank, kita mau duduk dimana?" Tanya Pipit yang bergelayutan ditangan Rio. Rio mengedarkan pandangannya ke dalam cafe.
"Sana aja!" Tino menunjuk salah satu sudut.
Sementara Fitri yang dari tadi bergelayutan dilengan Tino, seperti melihat seseorang yang tak asing, yang duduk di satu meja di cafe itu. Lala? Fitri yakin dia Lala? Fitir menajamkan penglihatannya.
"Pit? itu lala bukan sih?" Tanya Fitri pada Pipit. Tino langsung menoleh melihat Lala, seseorang yang berarti baginya, dulu dan sekarang masih membekas.
-
Flashback
Fitri dan Lala bersahabat. Mereka menyukai pria yang sama. Tino si ketua basket yanh digilai banyak orang. Tino menyatakan cintanya pada Lala. Tapi Lala tak bisa menerimanya karena Fitri sudah curhat duluan ke Lala kalau dia itu sukaa banget sama Tino.
"Yo, sorry gue gak suka sama lo." Lala terpaksa berbohong dan menolak Tino. Tino kini jadian sama Fitri, yang nembak Tino duluan.
-
"Eh, kita kesana yuk!" Fitri menarik Tino ke meja Lala. Pipit pun mengikuti Fitri, menarik Rio berjalan ke meja Lala.
Dimas sudah selesai makan. Dimas meminta Ara agar Lala bisa makan. Lala pun menyerahkan Ara pada Dimas. Dimas sedang menggantikan Lala menyuapi pudingnya. Giliran Lala yang makan. Ketika Lala sedang menikmati makanannya, tiba-tiba ada suara yang memanggilnya. Suara yanh tak asing.
"La," Seseorang memanggil Lala dari belakang.
Lala tau banget suara itu. Suara sahabatnya. Lala langsung menoleh dan kaget melihat Pipit dan Fitri yang ada dibelakangnya.
"Pipit, Fitri.. ngapain disini?" Tanya Lala terkenut dan takut liat mereka. Gimana kalau ketahuan dia sama Dimas?
"Mau makan lah La." Jawab Pipit singkat. Emang mah makan kan?! Di cafe.
"Lo ngapain?" Fitri bertanya melirik Dimas yang ada didepannya yang sebenarnya mau maksudnya mau tanya, cowok depan lo siapa?
"Siapa La?" Imbuh Pipit melirik Lala, seakan bertanya orang didepannya.
"Saya, Dimas. Kakak sepupunya Lala."
Hah. Lala kaget mendengar jawaban dari Dimas.
"Kalian mau ngobrol ya sama Lala. Ngobrol aja saya tinggal." Dimas menggendong Ara dan pergi dari sana. Lala jadi gak enak sama Dimas. Dimas mengambil pudingnya dan pindah tempat duduk, kursi yang cukup jauh dari Lala. Lala menatap mereka seakan gak rela.
"La, kakak sepupu lo?" Fitri melanjutkan rasa penasarannya dan bertanya lagi.
"Iya. Kalian pesan deh. Mau makan kan tadi." Lala mencoba mengalihkan pembicaraan.
Fitri duduk disamping Lala, Lala disampingnya Tino. Pipit ada disisi Lala yang lain dan disampingnya Rio. Mereka pun memesan makanan.
"La, kok bisa sama kakak sepupu lo sih?" Pipit, lagi. Masih minta dibahas saja.
"emm... " Lala bingung mau jawab apa.
Untung ada pelayan yang datang membawa makanan. Mereka sibuk mengambil makanan masing-masing dan menghabiskan makanan mereka. Setidaknya Lala punya waktu untuk memikirkan jawabannya. Sesekali Lala melihat Dimas yang ada didepan sana, didepan meja sana. Lala tak makin tak tega melihatnya.
Didepan sana Dimas mulai kewalahan menangani Ara, Ara seakan tak mau duduk disana. Dari tadi Ara melonjak dari pangkuan Dimas. Ara juga dari tadi menoleh ke arah Lala.
'Araa..' batin Lala yang terus mengawasi Dimas dan Ara.
"La, besok udah masukan?" Tanya Rio, yang baru selesai makan.
"Iya." Singkat Lala sambil matanya melihat kearah Ara dan Dimas.
"Oleh-olehnya la?" Pipit menagih oleh-olehnya.
"Gak ada, sorryy... gue traktir deh hari ini." Lala menjawabnya, tapi matanya terus mengarah pada Ara dan Dimas.
Ara mulai menangis, dia terus berbalik menatap ke meja Ara. Tapi Dimas mencoba menenangkannya. Bahkan Dimas mulai menggendongnya dan mah keluar.
"Bener ya?" Fitri. Sementara tanpa yang lain sadari Tino dari tadi menatap Lala. Lala keliatan banget natap kearah Dimas terus.
Ara benar-benar menangis. Semua orang di cafe melihat ke arah Dimas. Dimas bukannya memberikan Ara ke Lala, Dia malah menggendongnya pergi.
"Bentar, gue pinjem uang sama Mas Dimas dulu ya?" Lala langsung pergi mengejar Dimas.
Dimas baru keluar dari cafe gak enak ganggu pelanggan di cafe karena tangisan Ara. Tapi walau sudah diajak keluar Ara tak berhenti menangis.
"Sayang jangan nangis yaaa.." Dimas mencoba menenangka Ara, tapi tak bisa.
"Mas Dimas." Lala ada dibelakang dimas dan memanggilnya. Dia beralih ke samping Dimas dan meminta Dimas memberikan Ara padanya.
"La, kok keluar. temen-temen kamu?" Dimas balik bertanya, dia gak mau kasih ara ke Lala.
"Mas Dimas. Aranya nangis. Siniin biar aku gendong." Lala sedikit menekan ucapannya. Dia sudah tak tahan dengan Ara yang tak henti menangis.
Sementara didalam cafe, teman-teman Lala terus mengamatinya. Mereka menatap Lala aneh.
"Mereka keliatan kayak pasangan suami istri gak sih, sama anaknya." Rio asal bicara.
"Keluarga kecil yang serasi, ya nggak?" Imbuh Pipit.
"Iya sihh." Fitri ragu.
Tapi kalau gak tau, Lala dan Dimas kakak sepupu, pasti mereka juga mengira kalau Lala dan Dimas itu suami istri satu anak.
"Mas Dimas, Araa.." Lala tak henti meminta Ara pada Dimas. Dimas yang kasihan melihat Ara yang terus menangis akhirnya memberikan Ara keLlala.
"Sayangg.... maafin mama yaaa." Lala mengusap air mata Ara yang kini ada digendongannya.
Perlahan isak tangis Ara berhenti. Dimas lega melihatnya. Lala mengusap punggung Ara untuk menenangkan Ara.
"Mas Dimas, Lala boleh pinjem uang gak?"
"Lala udah janji mau traktir mereka."
Sebenarnya gak enak sih minta uang ke Dimas. Akhirnya Lala bilangnya pinjam. Lala mengodorkan tangannya seperti anak kecil yang minta uang. Dimas tersenyum melihat ekspresi Ara, benar-benar seperti anak kecil. Dimas mengeluarkan dompetnya dan memberikan beberapa lembar uang untuknya. Lala langsung mengambil uangnya dan kembali kedalam.
"Sorry ya lama." Lala kembali masuk dengan menggendong Ara. Lala duduk ditemptanya tadi.
"La, lo sama kakak sepupu lo, kayak suami istri tau nggak. Ini anak lo sama dia." Ujar Pipit yang mencubit pipi tembem Ara dipangkuan Lala.
"Hah." Lala binging mau jawab apa.
"Manis banget tau gak La kita liat kalian bertiga tadi." Imbuh Fitri, yang ikut melihat Ara dan mencubit gemas pipinya.
"Kakak sepupu lo, bukannya cewek ya la?" Timpal Tino.
"Terus dia?" Tanya Rio yang bingung.
Tino yang suka sama Lala, hampir semua tau lah tentang Lala. Tino pernah mencaritau semua hal tentang Lala.
"Iya La, Kak Tania kan?" Fitri.
"Kak Tania kan udah gak ada. Kemarin pas kecelakaan, yang lo bilang kan?"
Aduhhh..
Lala bingung mau jawab gimana?
"Lo gak jadi ganti kakak sepupu lo kan La, buat jadi istri dan ibunya anak ini?" Rio yang makin ngaco ngomongnya.
lala merasa tidak enak pada bastian tapi lala sama sekali tidak peduli sama perasaan suaminya
hebat pemikiran mu Thor, hebat sekali
dari sini bisa disimpulkan Thor pola pikir mu kau lebih mementingkan perasaan pria lain dari pada perasaan suami mu
pola pikir kayak gini kau bawa kedalam novel, dan kau bangga
miris
Nunggu 40 hari aja dah jumpalitan lha ini 1 atau 2 th.
Ga kuku😂😂😂