Tidak pernah terbayang kan jika wanita yang beberapa hari ini aku kenal dan aku suka adalah sosok hantu yang gentayangan.
Bagaimana akhir hidupnya dulu, hingga ia menjadi sesosok hantu yang bergentayangan?
Warning!
Isi nya hanya ke haluan dari author gabut 😊 no komen julid nyelekit 😊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mahlina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kekasih hantu (Masa lalu)
...👻👻👻...
"Apa kau mau menjadi kekasih ku, Melati?" Tanya Bimo.
Melati tidak pernah menyangka jika manusia yang di awal menolak untuk menjadi kekasihnya kini pria itu yang memintanya untuk menjadikan Melati kekasihnya.
"Kenapa kau diam saja Melati? Apa kau tidak mau menjadi kekasih ku?" Tanya Bimo dengan keningnya yang mengkerut.
"A- aku hanya tidak menyangka, jika bang Bimo akan meminta ku untuk menjadi kekasih mu bang!" Seru Melati.
Grap.
Bimo membawa Melati dalam dekapannya, "Ada juga aku yang tidak menyangka akan menjadi kekasih hantu!" Bimo menarik sudut bibirnya ke atas, ku pikir hati ku tidak akan terbuka lagi setelah penghianatan yang di lakukan Oktavia dan Irfan, tapi ternyata aku salah, hantu wanita seperti mu yang ternyata mampu mengetuk hati ku, kau hantu wanita yang membuat hati ku porak poranda.
Melati menjawab apa kata hati Bimo, "Kau juga bang, manusia yang berbeda, tidak seperti manusia yang aku temui sebelumnya."
Bimo menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "Bagai mana kau tahu apa kata hati ku?"
Melati menarik tangan Bimo dan melingkarkan ke dua tangannya pada leher Bimo, dengan mendongakkan wajahnya ke atas, ke dua mata Melati menatap mata Bimo dengan intens, "Sudah tidak usah di bahas bang, jika bang Bimo menjadi kekasih hantu, aku jadi kekasih manusia?"
Ke dua tangan Bimo menyentuh pinggang ramping Melati, "Yah, kau benar Melati... kekasih manusia. Apa kau akan ikut ke mana pun aku berada?" Tanya Bimo dengan satu tangannya menahan dagu Melati, bibir Melati ranum sekali.
"Aku akan ikut ke mana pun bang Bimo pergi." Ujar Melati, "Apa bang Bimo tergoda dengan bibir ku?" Tanya Melati dengan polosnya.
"Jangan memancing ku, Melati!"
Melati memainkan bibirnya dengan gerakan yang menggoda.
"Kau yang memaksaaa ku, hantu nakalll!"
Bimo membenankann bibirnya pada bibir Melati.
Tanpa terasa malam sudah gelap. Hawa dingin menyeruak menusuk tulang, tidak ada lagi pencahayaan selain terang bulan, desa seakan berubah menjadi mencekam.
Bimo tidur satu ranjang dengan di temani Melati yang berada dekat dengan Bimo.
Melati menjadikan lengan kekar Bimo sebagai bantalan untuk kepalanya, satu tangan Melati bermain main pada dada bidang Bimo yang mengenakan kaos yang pas di badannya hingga terpampang nyata bagai mana indahnya tubuh sispeck Bimo.
"Apa ada yang ingin kau katakan pada ku, Melati?" Tanya Bimo.
"Apa ya, emmm aku bingung mau mengatakannya dari mana, bang!"
"Bagai mana dengan masa lalu mu di saat diri mu masih hidup, hingga kau jadi seperti ini." Terang Bimo dengan santainya memankan rambut Melati dengan jarinya.
"Aku hanya gadis biasa, gadis yang terlahir dari keluarga miskin, namun keadaan keuangan dan hidup ku berubah saat seorang pemuda dari kota datang dan merubah hidup ku."
"Lalu apa lagi? Apa kau menikah dengan pria yang berasal dari kota itu?" Tanya Bimo penasaran dengan kisah hidupnya Melati.
"Iya, aku memang menikah dengannya namun karenanya pula aku jadi seperti ini." Melati memejamkan matanya, bagai mana dulu saat hidup begitu pahit hingga harus melarikan diri di saat sedang hamil.
"Apa maksud mu, Melati?" Tanya Bimo yang kurang mengerti perkataan Melati.
"Dulu aku..."
Melati menceritakan kisah hidupnya pada Bimo.
# Flashback on.
Melati yang kala itu baru menginjak usia 16 tahun, dengan postur tubuhnya yang padat berisi, tidak tinggi dan tidak pendek pula, dengan rambut hitam yang panjang menjuntai. Menyusuri jalan setelah mencari kayu bakar di dalam hutan.
Jangan tanya pendidikannya, karena sangat miskin, Melati hanya sampai sekolah menengah pertama.
Tiiiii tiiiin.
Suara klakson mobil membuat Melati yang kala itu tengah menyusuri jalan di desa berjingkat kaget di buatnya.
Mobil itu berhenti di depan Melati, kaca mobil di turunkan merendah nampak pria gagah dengan kaca mata hitam yang menutupi matanya tengah tersenyum pada Melati, pria itu melambaikan tangan kanannya pada Melati.
Melati menoleh ke kiri dan ke kanan, tapi saat itu hanya ada dirinya seorang yang sedang membawa kayu bakar.
"Aku memanggil mu, dasarr gadis bodoh!" Seru pria itu dengan mengumpat Melati.
Melati menggelengkan kepalanya setelah mendengar umpatan pria itu, dasarrr pria kota, tampang saja yang cakep, mobil keren, dari bibirnya kurang sopan saat bicara.
"Hai, berhenti! Aku memanggil mu... apa kau tuliii hah!" Dengan suara yang ketus pria itu mengikuti Melati dengan mobilnya yang berjalan beriringan dengan Melati.
Melati terus melangkah tanpa memperdulikan pria itu yang tengah mengoceh.
Pria itu turun dari mobil karena melihat Melati yang enggan untuk menghampirinya dan malah terus melangkah.
Gap.
Pria itu mencengkrammm pergelangan tangan Melati, "Dasarrr gadis bodoh! Aku memanggil mu dari tadi, apa kau tuliii?"
Melati berusaha melepaskan tangannya dari cengkramannn pria yang tengah menggenggammm pergelangan tangannya, "Tuan, apa apaan , lepasss! Lepaskannn tangan saya!" Seru Melati dengan rasa takut yang menyeruak di hatinya, menoleh kiri dan kanan namun hasilnya tidak ada seorang pun yang dapat di mintainya pertolongan.
"Ikut aku!" Pria itu menyerettt Melati dengan paksaaa, kayu bakar yang Melati bawa jatuh berserakan di aspal.
"Tidak, aku tidak mau ikut dengan Tuan... lepaskannn tangan Tuan dari tangan ku! Lepassss!" Melati merontaaa rontaaa dengan mencoba melepaskannn tangannya yang di genggammm erat.
Pria itu menghentikan langkahnya, "Susah sekali sih membuat mu menurut dengan ku!"
Hap.
Dengan sekali tarikan Melati ada di atas bahunya, pria itu memanggull Melati dan membawanya masuk ke dalam mobil.
"Aku tidak mau ikut dengan Tuan, lepaskannn aku!" Teriak Melati.
Pria itu mendudukkan Melati di sebelah kursi kemudi dengan memasangkannn sabuk pengaman pada tubuhnya.
Bugh bugh bugh.
Melati memukul punggung pria itu dengan kepalan tangannya, "Aku tidak ingin ikut dengan Tuan, aku mau turun!" Melati terisak.
"Diam, aku bilang diam! Atau kau mau mempertaruhkan nyawa orang tua mu?" Dengan suara yang dingin pria itu mengancam Melati.
Melati diam seketika dengan sesenggukan.
Pria itu melajukan mobilnya kembali, sesekali menoleh pada Melati.
Tangannya terulur mengambil beberapa helai tisu dan menyapu air mata di pipi Melati.
Melati menepis tangan pria itu.
"Kau harus bersikap baik pada calon suami mu, ingat itu Melati!"
Melati menoleh dan bertanya dengan tatapan mata yang bingung, "A- apa? Calon suami? Siapa? Aku tidak mengerti perkataan mu!"
Pria itu menyeringai, "Aku Baskoro, aku putra dari juragan Raskoro."
Melati sangat mengenal Raskoro itu siapa, juragan yang terkenal dengan beberapa istri sirihnya, orang terkaya di desanya, memiliki banyak sawah dan ladang, juragan yang terkenal memaksa jika sudah ada maunya.
"Lalu apa hubungannya dengan ku? Aku tidak mengenal dengan Tuan!"
bersambung...
...🍀🍀🍀🍀🍀...
Jangan lupa jempol nya ya 🤭
Janga lupa komentarnya buat pemasukan ide untuk author gabut 🤭
-Traces Of The Sun