NovelToon NovelToon
Akupun Menyerah

Akupun Menyerah

Status: tamat
Genre:Perjodohan / Poligami / Tamat
Popularitas:501.6k
Nilai: 4.9
Nama Author: parida hakim

Nayara syila, aku adalah seorang istri dari laki-laki yang bernama Sebastian Aydan. Tiga bulan yang lalu kami menikah karena perjodohan yang di lakukan oleh kedua orang tua kami.

Selama tiga bulan pernikahan kami berlangsung, Mas Tian tidak pernah menganggap aku sebagai istrinya sama sekali.

Hingga suatu hari, aku begitu terkejut, jantungku seakan berhenti berdetak, dan hatiku hancur berkeping-keping saat mengetahui tentang sebuah kebenaran. Kebenaran kalau ternyata suamiku telah menikahi wanita lain selain aku.

Seorang wanita yang menjadi kekasihnya sebelum kami menikah.

Lalu, disisa kesabaranku yang tinggal sedikit, maka Akupun Menyerah dan memilih untuk melepaskannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon parida hakim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Maaf

"Pak ... sepertinya itu Ibu Nayara."

Tian yang sedang berbalas pesan dengan Tari pun seketika menoleh, ia mengikuti kemana mata Rama mengarah. Dan benar saja, Tian melihat Nayara. Istrinya itu sedang jalan bersama dengan dua orang lainnya

Siapa wanita dan laki-laki yang bersama Naya itu?

Tian melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya itu, sudah pukul sembilan malam dan Nayara masih berkeliaran di luar seperti ini.

Apa kerja itu hanya sebagai alasannya saja?

"Apa Pak Tian mau mengajaknya pulang sekalian?" Tanya Rama. Pemuda itu menoleh, menatap Tian yang duduk di sampingnya.

"Tidak usah." Tukasnya sedikit kesal. "Biarkan saja dia." Lalu, Tian menatap ke arah dimana Nayara sedang tertawa lepas di salah satu kafe yang terletak di pinggiran jalan.

"Baik, Pak." Rama yang melihat Tian kesal pun akhirnya memilih untuk diam. Ia kembali melanjutkan perjalanannya setelah lampu merah di depan sana berubah menjadi hijau.

Di dalam perjalanan menuju pulang, Tian lebih banyak diam. Lelaki itu menutup matanya rapat-rapat sembari menyandarkan kepalanya pada punggung kursi. Sejak tadi sore, mendadak kepalanya terasa sedikit pusing. Tian ingin segera sampai rumah, agar ia bisa beristirahat disana tanpa ada seorang pun yang mengganggu. Dan ia berharap agar rasa nyeri di kepalanya itu akan segera hilang.

Begitu mobil itu tiba di halaman rumahnya, ia pun segera masuk ke dalam rumah setelah Rama berpamitan untuk pulang. Tanpa menjawab pertanyaan dari Mbok Iyam, lelaki itu langsung duduk di sofa sambil menyandarkan kepalanya pada punggung sofa. Tian memijit pelipisnya untuk mengurangi rasa pusing yang kian terasa pada kepalanya itu.

"Pak ... kenapa?" Tanya Mbok Iyam khawatir. Lelaki itu terlihat sangat pucat. "Pak Tian, sakit?"

"Cuma pusing, Mbok."

"Bapak mau saya ambilkan obat?" Tawar wanita paruh baya itu.

Tian menggeleng, ia meminta Mbok Iyam untuk kembali beristirahat saja karena ini sudah malam. Tian hanya ingin memejamkan matanya sebentar disini.

Mbok Iyam yang mendapat perintah pun segera kembali ke kamarnya setelah ia menyodorkan segelas air hangat untuk majikannya itu.

Tian meminum air putih itu sedikit, lalu kembali menyandarkan kepalanya sambil memejamkan mata. Setelah lima belas menit berlalu, Tian yang merasa sudah lebih baik pun memutuskan untuk segera masuk ke dalam kamarnya.

Sebelum membuka pintu kamar, Tian kembali menatap jam yang melingkari tangannya itu. Hampir jam sepuluh malam dan Nayara belum juga kembali.

Kemana perginya gadis itu?

******

Jam sepuluh malam lewat dua puluh menit aku baru saja tiba di rumahnya Tian. Begitu turun dari mobilnya Raya, aku melihat mobil Tian sudah terparkir cantik disana. Aku kira Tian tidak akan pulang malam ini seperti malam sebelumnya, tapi ternyata lelaki itu sudah lebih dulu ada di dalam rumah sebelum aku.

Begitu masuk ke dalam, rumah terlihat sudah sepi. Mungkin Tian dan Mbok Iyam sudah tidur di jam seperti ini. Aku naik ke atas, ingin segera masuk ke dalam kamar. Aku ingin mandi lalu setelah itu tidur. Tapi, saat aku hendak membuka pintu kamar, tiba-tiba ...

"Dari mana saja kamu?" Aku sedikit terkejut saat mendengar suara parau milik lelaki itu terdengar. Siapa lagi kalau bukan Tian.

Aku menoleh, menatap Tian yang sedang berdiri di belakang punggungku itu sambil menatapku tajam. "Kerja." Lalu, pandangan kami berdua bertemu.

"Kerja?" Tanyanya sembari menyipit. "Kerja apa jam segini baru pulang?" sinisnya.

"Mas, kamu kenapa sih?" Tanyaku merasa aneh, karena tidak bisanya lelaki itu peduli padaku.

"Aku lihat kamu tadi keluyuran di jalan, apa itu sebagian dari pekerjaan kamu?"

Keluyuran? apa tadi Tian melihat aku?

"Aku tadi habis jalan sama teman aku, kok." Balasku tak terima.

"Baru sehari kerja udah punya banyak teman rupanya?" Tanyanya tak suka padaku.

"Kamu kenapa sih, Mas? tumben banget perhatiin aku?"

Aku melihat lelaki itu menarik napas dalam-dalam seraya mengusap wajahnya gusar. Tapi ada sesuatu yang menarik perhatianku saat ini, wajah lelaki itu berpeluh dan terlihat sedikit pucat. Entah kenapa aku seperti mendapat dorongan untuk mendekat, meski aku tahu Tian tak akan suka. Dan benar saja, sebelum aku benar-benar mendekatinya, Tian lebih dulu melontarkan sesuatu yang membuatku sampai menutup mata. Merasa sakit hati karena kata-katanya yang begitu menyakitkan.

"Jangan mentang-mentang kamu istri aku, bisa berbuat seenaknya di rumah ini. Kamu harus tahu diri, kamu itu siapa disini?"

Tahu diri?

Ya Tuhan ... apa salah aku? kenapa lagi dan lagi lelaki itu menorehkan luka?

Marah? tentu saja aku marah, karena suamiku sendiri yang mengatakan aku tak tahu diri. Aku memang sering menerima kata-kata pedas darinya, tapi untuk kali aku tak terima saat lelaki itu mengatakan sesuatu yang membuat aku merasa menjadi manusia paling rendah di dunia ini.

Ku pejamkan mata kembali untuk menetralisir hawa panas yang menyelusup ke dada. Tanpa Tian mengatakannya pun aku tahu dan aku sadar dengan siapa aku disini.

"Maaf ... kalau selama ini aku tak tahu diri, Mas." Aku sadari bibirku bergetar. "Aku juga tahu siapa aku. Aku memang istri kamu, Mas. Tapi aku bukan siapa-siapa untuk kamu. Aku hanya orang lain yang sedang menumpang hidup di rumah kamu." Pada akhirnya, buliran bening yang sejak tadi ku tahan pun jatuh juga. "Kamu ---" Tak ku teruskan kalimatku karena hatiku terlalu sakit.

Tian terdiam. Mematung dengan wajah yang tak bisa ku tebak. Pandangan yang semula menatapku tajam kini berubah menjadi sendu.

"Naya, aku ...!"

Kuseka air mataku kasar, tanpa mendengar apa yang akan lelaki itu katakan. Aku telah lebih dulu meninggalkannya, berlari menuju kamar, lalu menangis sepuasnya disana.

Ini terlalu sakit, sakit sekali.

******

"Maafkan aku."

Aku yang masih menangis sambil memeluk kedua lutut di atas lantai pun seketika menoleh. Buru-buru aku mengusap cairan bening itu dari mataku ketika Tian duduk di sampingku.

"Maaf, aku tidak bermaksud mengatakan itu." Ujarnya lagi. Entah ini mimpi atau bukan, seorang lelaki dingin seperti Tian mau meminta maaf.

Aku memalingkan muka saat Tian menatapku, untuk saat ini aku tak ingin melihat wajah lelaki yang sering memberiku luka itu. Bukan hanya sekali, tapi sudah berkali-kali lelaki itu selalu membuatku menangis.

"Naya ..." Ujarnya lirih.

Aku menghindar saat Tian ingin menyentuhku. Kehadirannya saat ini justru membuat aku semakin menyembunyikan wajah di antara kedua lututku. Tubuhku bergetar, dan aku kembali menangis.

Aku Nayara,

Untuk kali pertama selama tiga bulan pernikahan kami berlangsung, baru kali ini aku merasakan sesuatu yang sulit untuk aku tebak sendiri. Tubuhku yang semula bergetar hebat karena menangis, kini merasakan sebuah kenyamanan saat wajahku sudah tenggelam di dalam dadanya.

Tian menarik tubuhku, lalu memelukku dengan sangat erat. Aku menolak, aku memberontak, tapi kekuatanku tak sebanding dengan kekuatan laki-laki menyebalkan ini.

"Maafkan aku."

Entah sudah keberapa kali lelaki itu mengatakan permintaan maafnya. Aku yang semula merasa ragu, kini seperti tersentuh saat Tian kembali mengatakannya dengan tulus.

Untuk saat ini aku biarkan wajahku bersembunyi di dadanya, aku tak peduli meskipun cairan bening yang keluar dari mataku itu membuat kaos yang di kenakannya menjadi basah ataupun kotor. Aku hanya ingin menangis, melampiaskan semua kekesalanku padanya dengan cara menangis seperti ini.

Setelah merasa lebih baik, aku yang masih betah berada di pelukan Tian seketika menyadari sesuatu. Ku sentuh keningku sendiri, lalu berpindah pada bagian leher, tapi aku baik-baik saja. Lalu ...

"Mas ... kamu ---?" Aku baru tahu kalau ternyata tubuh Tian sangat panas. "Kamu sakit?" Tanyaku kembali seraya mengurai pelukannya.

"Nggak." Jawabnya. "Aku hanya sedikit pusing."

"Tapi badan kamu panas, Mas. Dan wajah kamu juga pucat." Aku berdiri, pun dengan Tian yang ikut berdiri setelah lama kami berdua duduk di atas lantai.

Untuk beberapa detik, kami berdua hanya diam dengan mata saling memandang. Aku menatap wajah tampan yang sekarang terlihat pucat itu, pun dengan Tian yang sepertinya memperhatikan wajahku, wajah yang kini terlihat berantakan karena terlalu lama menangis.

"Maafkan aku.!"

...****************...

1
Heryta Herman
masih bnyknpria baik yg bisa terima naya apa adanya...
Heryta Herman
peraaanmu pun masih abu abu,labil...untuk apa mengejar nayara lagi,tian...biarkan nayara bahagia dgn pilihannya sendiri...
Heryta Herman
masih bnyk pria yg lbh baik di kuar sana...kenapa harus tian yg kembali...
Heryta Herman
ha ngaruh tian..
jngn percaya omongan tian,naya...
naya berhak bahagia dgn orang lain..siapapun itu...kecuali dgn tian..
Heryta Herman
jngn GR tian..itu semua masa lalu...naya juga jngn malu...masa lalu biar berlalu..skrng cari kebahagiaanmu sendiri...yg penting bukan dgn tian
Heryta Herman
bsdh baca pun tdk apa...tdk ada pengaruhnya..semua sdh berlalu...
Heryta Herman
karma di bayar tunai,tian..
Heryta Herman
hahaha..suka suka naya lah..mau dia seksi mau kerja club mlm...ga ada hubungannya ama kamu tian...kamu cuma masa lalu...rasain lu tian...emang enak di cuekin...
karma tian,karma...
Heryta Herman
kenapa tdk kem ali saja dgn arga...lelaki itu lbh baik dari tian...dan dia juga mencintai nayara..tdk sprti bastian.. dia tdk mencintai nayara dari awal...
seharusnya nayar untuk arga...apalagi arga juga cinta pertama nya nayara...aneh aja,kenapa jadi bastian yg dptkan nayara...
tapi balik lagi...ini kan dunia halu..terserah authornya mau bikin cerita kayak gini juga
Heryta Herman
baca dari awal sekilas,slps bnykkan skip...perasaan nyesek...wanita baik" kenapa harus di bikin sprti wanita murahan...
lelaki egois dan mau menang sendiri itu ga ada tmpt di hati wanita baik"...yg ada dgn wanita br****ek...ga ada akhlak...
kenapa juga akhirnya mau balikan sama mantan...
Ika
untung bacanya lngsung lompat ending jd gak nyesel baca krn endingya gak sesuai mlhn balikan lagi
Ika
apapun alasannya yang namanya nikah diam2 tetap saja salah. semoga maya gak kembali sama tian
Mira Nio
kenapa sih thor cinta itu kembali lagi apa tidak ada cinta yg lain saja
Sefri Purnamasari Manan
endingnya nggak enak,kok jd ma tian,bodoh banget mau balikkan,kasian raffi
Susanna Nancy Macpal
thor,aku kok kecewa ya kalau Nara jadian lg ama Tian
Berlin Pasalli
Ais
Berlin Pasalli
Thor janganlah di jodohkan sama Tian lagi ! kasi ke' laki yg lebih baik biarlah TDK kaya yg penting lebih baik dari tian
Niken Lestari
aku gak rela tian am naya
Yunerty Blessa
Makasih kak thor buat karya yang indah ini.. sungguh mantap sekali 👍👍
teruslah berkarya dan sehat selalu
Yunerty Blessa: Sama juga kak thor..
Okey 👍👍
total 2 replies
Yunerty Blessa
sudah tamat.. sungguh terharu,,tapi apa pun Tian kembali bersama Naya..makasih kak thor 👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!