NovelToon NovelToon
Cinta Dua Batas

Cinta Dua Batas

Status: tamat
Genre:Romantis / Perjodohan / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:62.4k
Nilai: 5
Nama Author: Linda sagita

Kejadian malam itu, sungguh mimpi buruk bagi Ais. Bagaimana tidak, ia terpaksa menerima tawaran untuk dinikahi secara siri oleh laki-laki beristri.

Pernikahan itu tak lebih hanya sebatas pertanggung jawaban atas kesalahan satu malam.

Hal yang lebih menyakitkan selama pernikahan ia di batasi dengan SURAT PERJANJIAN.

Perlakuan yang selalu menyakitkan dirinya, membuat Ais bangkit dari keterpurukan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Linda sagita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab#12

poV Ais

*

*

*

Beberapa menit yang lalu, kami baru selesai santap siang. Ada dua tamu sekaligus yang ikut bergabung siang ini, yaitu Hafiz dan Reza.

"Ais tolong buatin kopi untuk ayah dan tamu ya...., ibuk mau nyuci piring!" perintah ibu padaku yang sedang sibuk membersihkan meja makan.

"Ia buk" aku mencuci tangan selanjutnya kuambil teko dan tiga gelas dari dalam lemari.

"Pakek kopi yang ini ya buk?" tanyaku sambil mengeluarkan sebungkus kopi dari dalam kantong hitam.

Dengan tangan sambil terus mencuci piring di wastafel, Ibuk memandang ke arah kopi yang kubuka dari dalam kantong, "ia, gunakan yang itu saja, soalnya kopi yang lama udah nggak bagus. Sekalian di bawa ke depan ya kopinya!

"Ia buk". Kuambil tiga sendok makan kopi, dan menuangkannya ke dalam teko. Selanjutnya kuberi 5 sendok makan gula pasir dan terahir kusiram dengan air panas dari termos seukuran tiga gelas. Selesai kuaduk rata, kucicipi rasa kopinya. Setelah kurasa pas, aku tersenyum puas dan langsung ku bawa keruang tamu.

Disana aku dapat mendengar sepotong pembicaraan antara ayah, kak Reza dan Hafiz.

"Reza ini juga tinggal di Malaysia, bersama kedua orang tuanya. Ia pulang ke Indonesia hanya untuk melihat kebun sawit yang dikerjakan oleh beberapa karyawan, lebih tepatnya panen uang, ha....ha..." terdengar tawa ayah, dan Reza, juga Hafiz.

"Sedang di Malaysia mereka membuka usaha konveksi dan restoran khas masakan Padang. Mereka terbilang keluarga yang sukses.

Ayahnya dulu teman pak cik semasa kuliah" tutur ayah pada Hafiz dengan bangganya menceritakan kesuksesan keluarga Reza. Hafiz mengangguk-angguk menyimak cerita ayah.

"Om bisa aja, masih dalam proses om, malah tanpa bantuan om mungkin kita nggak seperti sekarang" Balas Reza sambil tersenyum malu, penuh kerendahan hati.

Obrolan mereka terhenti saat aku datang menyodorkan kopi. Tanpa bicara kutuang air kopi kedalam satu per satu gelas, sampai ketiga gelas terisi penuh.

Belum sempat aku berdiri untuk pergi dari ruangan itu, tuan Hafiz menahanku, "Ais... dudok dulu di sini!" pintanya padaku.

Kupandang wajah Ayah, ia pun mengedipkan mata, mengisyaratkan ia. Aku pun mendudukkan diri tepat disamping ayah dengan berhadapan dengan tuan Hafiz.

Hafiz tampak menatapku, selanjutnya Ayah dan melihat sekilas pada Reza.

"Pak cik..., ada yang ingin saye sampaikan, mengenai saye dan Ais" Hafiz menghentikan kata-katanya dan menatap diriku, seolah meminta kebenaran untuk melanjutkan cerita.

Deg.....

Jantungku kembali melakukan senaman, jangan sampai tuan Hafiz mengatakan keinginannya di depan Reza. Aku hanya mampu tertunduk lesu sambil meremas kedua jari tangan sebagai penghangat diri, karena tangan dan kakiku tiba-tiba menjadi dingin.

Ayah dan Reza sepertinya antusias ingin menyimak apa yang akan di sampaikan tuan Hafiz.

"Sebenarnye, kedatangan saye kesini untok..." tuan Hafiz menjeda kalimatnya dan lagi-lagi menatap ke arahku sejenak yang sedang tertunduk pasrah.

"menyampaikan hajat saye" ucap tuan Hafiz percaya diri sambil menatap ayah.

"Hajat? maksud nak Hafiz, hajat apa ya?" ayah masih bingung dengan narasi yang di bangun tuan Hafiz.

Sedang aku semakin tak karuan, keringat dingin mulai bercucuran di kening, rasanya ruangan ini penuh dengan malaikat pencabut nyawa.

Reza juga tak kalah terkejut mendengar kata hajat, matanya membulat menuntut tuan Hafiz untuk secepatnya menyelesaikan kalimat yang terkesan belum sempurna.

"Hajat...saye, adalah ingin meminta ijin ke pade pak cik" waw ....rasanya dalam hitungan ke tiga jantungku akan lepas dari tempatnya, ya Allah ingin rasanya aku mencari lubang cacing, atau lubang tikus juga gak masalah, asal bisa bersembunyi masuk kesana biar aku tak menghadapi ini semua.

Ternyata tak hanya wajahku yang menegang, Ayah dan kak Reza juga sama, mata mereka semua menyorot tajam ke arah tuan Hafiz.

"Saye berniat ingin melanjutkan study Ais di Malaysia, jadi semue biaya saye dan keluarge yang support" tuan Hafiz mengakhiri ucapannya dengan senyum kecil di wajah berharap agar ayah mengijinkan.

"Alhamdulillah...." serempak ayah dan Reza mengucap syukur.

"Alhamdulillah" ucapku pelan, sedikit merasa lega setidaknya jantungku tak jadi lepas dalam hitungan ke tiga. Tuan Hafiz terlihat tersenyum ke arahku.

Aku tersenyum kecil namun membuang pandangan ke arah kak Reza.

"Selamat Ais! jadi setelah ini kita akan menjadi..." Ucapan kak Reza terputus saat hp disaku celananya berdering.

Tut....tut....Tut....

"Halo....., ia...saya sendiri...

Ok..., saya langsung kesana" kak Reza mengakhiri obrolannya.

"Om, Ais, tuan Hafiz, saya pamit duluan ya, lagi ditunggu" jelasnya sambil menyeruput kopi.

"Ia, hati-hati ya, jangan lupa sampaikan salam om untuk keluarga di sana" ucap ayah yang turut bangkit dari duduknya.

Kak Reza pamit bersalaman dengan tuan Hafiz, ayah dan kemudian aku, " sampai ketemu di sana ya" kak Reza mengedipkan mata ke padaku. Dan tentunya di lihat oleh ayah dan tuan Hafiz.

"Tante, Reza pamit ya" ucapnya sambil mendekat ke arah Ibuk yang juga sedang berjalan ke arah ruang tamu.

" Cepat amat?

Udah ditunggu te

Kapan-kapan, jangan sungkan mampir ke gubuk Tante dan om" pinta ibuk sambil menepuk bahu Reza.

"Insyaallah Tante, om, Ais, aku pamit ya, Assalamualaikum..." Kak Reza melangkah keluar rumah.

"Walaikumsalam..." jawab kami berbarengan.

Kubuntuti kak Reza hingga ke teras, sebenarnya ada rasa tak ingin melepas ia pergi. Tapi entahlah, rasa apa ini aku juga tak tau, yang jelas aku merasa nyaman saat bersama kak Reza.

Kak Reza masuk kedalam mobil, menghidupkan mesin, dan membiarkan kaca di sampingnya tetap terbuka.

Tet...tet...

Bunyi klakson mobil, sambil ia melambaikan tangan ke arah ku.

Sedih....itu yang kurasa saat pandanganku digiring menyaksikan kepergian kak Reza.

Kini mobil Civic merah itu sudah menghilang dari pandanganku, dan aku pun memalingkan tubuh untuk kembali duduk di samping ayah.

"Oye...pak cik, sebenarnya saye ada hajad yang lebih besar dari yang saye sampaikan tadi" tiba-tiba tuan Hafiz kembali memulai pembicaraannya.

"Hajat apa lagi ni Hafiz? he...he..." ayah terkekeh merasa hari ini Hafiz sudah berhasil membuat impiannya yang sempat tertunda, yaitu menguliahkan aku.

"Saye ingin menikahi Ais" ucap tuan Hafiz to the points.

Sejenak suasana menjadi hening, tak ada suara, hanya bola mata ayah dan ibu yang saling tatap.

"Maksud nak Hafiz?" Ayah bertanya seolah tak mengerti dengan ucapan tuan Hafiz.

"Saya ingin Ais jadi istri saye, dan saye akan menguliahkan Ais seperti janji saye tadi" jelas tuan Hafiz dengan nada percaya diri sambil menatap ibu dan ayah.

Aku tertunduk takut, takut pada ayah dan ibu.

"Gimana ya?, nak Hafiz sendiri juga tau, Ais masih terlalu muda untuk menjadi seorang istri" ucapan ayah terhenti saat ibuk mencubit lengan ayah.

"Saye tau pak cik, tapi pak cik sendiri juge tau, dirumah saye ade due laki-laki, sementare mama sibuk, jarang ade dirumah. Jadi untuk menghindari pitnah alangkah baeknye saye menikahi Ais.Keluarge saye juge sangat menginginkan Ais untuk jadi menantu mereke" Jelas tuan Hafiz pada kedua orang tuaku.

" Nak Hafiz, kita beda negara, jadi banyak administrasi negara yang harus dibuat untuk bisa menikah secara resmi" Ayah masih mencari alasan ingin menolak secara halus.

"Pak cik jangan khawatir, selesai urusan kuliah Ais, saye akan mendaftarkan pernikahan kami secare negare, sekarang yang terpenting sah secara ugame dulu"

Ibuk dan diriku hanya menyimak pembicaraan dua laki-laki beda generasi, yang sama-sama ingin menentukan masa depanku.

"Jadi, jike pak cik merestui, secepatnya kite akan melangsungkan pernikahan ini, soal biaye semue saye yang tanggung" kembali tuan Hafiz memaparkan keinginannya.

Ayah terdiam dalam, ditatapnya wajahku sendu, seperti masih tak rela.

1
Maizaton Othman
hek elehhh,hello kitty la sgt ye hafiz...
Maizaton Othman
Yesss..jangan sesekali tertipu dgn kata2 lelaki itu ice..
Maizaton Othman
aduhh hafiz..malu lah akak ni,orang Malaysia perangai spt awak..
Maizaton Othman
Sarawak...ku kira semenanjung,..tapi yelah,Malaysia jugak..cuma mungkin bhsa agak berbeza,tak pasti...
Maizaton Othman
ye,betul,jika siri pun susah juga tu,didenda dgn kadar yg mahal
Maizaton Othman
Saya dr Malaysia ya author,
nikmati aje jalan ceritanya..ttg bhsa Bm..tentu susah jika author hendak perbetulkan 100%,takpe..apapun,saya faham.
Maizaton Othman
Macam dah biasa guna BM je
Nenieedesu
semangat terus kak, segini dulu iyh nanti mampir lagi
Nenieedesu
jangan banget Fiiz
Nenieedesu
sudah aq favoritkan kak jangan lupa mampir dan tinggalkan jejak dinovel aq kak dear Handana
Mom Dee🥰🥰
sampe sini ceritanya aku suka bangetttt, Vote untukmu thor 🤗🤗
Mom Dee🥰🥰
ceritanya bagus banget
Mom Dee🥰🥰
keren gak tuh 😁 asal gak hamil aja ye kaaan 🤭
Mom Dee🥰🥰
bacanya dlm hati jadi serasa ikutan berbahasa melayu 🤭
Mom Dee🥰🥰
mampir disini lagi 🤗🤗
auliasiamatir
semoga di lancarkan ya ais
auliasiamatir
serba salh jd ais
auliasiamatir
kasian adam deh thor
auliasiamatir
ja tuhan nahay banget kamu hafis..
auliasiamatir
kira kura hafis atau adam yah,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!