Pandji dilahirkan pada hari yang orang Jawa kuno sebut sebagai hari kejayaan setan, yaitu pada tengah malam saat cuaca sangat tidak bersahabat dan badai angin melanda wilayahnya. Dengan demikian dia memiliki sifat 'lakuning geni' atau berperilaku layaknya api.
Pandji dikaruniai bakat bawaan dari kedua orang tuanya berupa kekuatan supranatural. Bakat istimewa yang dianugerahkan oleh Sang Pencipta untuk menjalani takdirnya sebagai ksatria.
Pandji yang konon adalah 'anak dalam ramalan' hanyalah pemuda biasa. Pemuda berambut hitam bermata tajam dan berkulit putih halus layaknya wanita. Tampan adalah ciri utama yang melekat pada dirinya.
Bagaimana Pandji menjadi seorang pelindung keluarga dan perjalanannya sebagai Ksatria Terakhir yang penuh darah dan cinta?
Bisa dibaca kisahnya dalam SATRIO PAMUNGKAS.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Al Orchida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CH 12
Setelah makan malam Pandji menyendiri di dalam kamar, sementara seluruh keluarga sedang berkumpul di pendopo depan.
Malam begitu dingin, tapi langit cerah bertabur bintang. Pandji sedang membaca buku pelajarannya ketika mendengar suara ketukan pada pintu kamarnya.
Dengan wajah malas Pandji membuka pintu dan bertanya pada Atika dengan nada datar, "Apa?"
"Eyang dan Ibunda menunggu kedatangan Mas Pandji di pendopo depan, ada hal penting yang ingin dibicarakan!" jawab Atika sopan.
"Apa Mika ada di sana?"
Atika menggeleng pelan, "Mbak Mika sedang keluar, tadi dijemput temannya."
Pandji mengangkat alis sedikit, "Perempuan?"
"Laki-laki."
"Baiklah, sampaikan pada Ibunda aku sebentar lagi ke sana!"
"Iya, Mas." Atika mengangguk, berjalan meninggalkan kamar Pandji tanpa berani melihat.
Memangnya ada yang salah dengan wajahku sampai dia harus menunduk jika bicara?
Menutup pintu kamar, Pandji mengikuti langkah Atika yang mulai menjauh. Pandangannya tak lepas dari bagian belakang abdi dalem usia muda itu.
Pandji menggaruk kepalanya yang tak gatal, akhir-akhir ini pikirannya mudah rumit hanya karena hal sepele seperti itu.
Tiba di pendopo, Pandji duduk di sebelah Eyangnya, mengambil tangan keriput milik wanita sepuh yang sangat dicintainya itu lalu memberikan pijatan ringan. “Eyang ada perlu sama Pandji ya?”
Dengan senyum lembut Eyang buyut Pandji mengangguk, “Mas Pandji sudah dewasa, mau hadiah apa untuk ulang tahun nanti?”
“Pandji nggak mau apa-apa, Pandji bisa membeli hadiah sendiri kalau ingin sesuatu." Pandji menolak halus pemberian Eyang buyut yang kadang berlebihan di hari ulang tahunnya. Lagian dia bukan lagi anak-anak yang harus selalu diberi kado saat hari lahirnya tiba.
"Tapi Eyang ingin memberikan hadiah, Mas! Sudah jadi rutinitas tiap tahun, jadi Mas Pandji tidak boleh menolak!"
"Baiklah, terserah Eyang." Pandji menjawab tak acuh meskipun dengan penuh tata krama kesopanan.
Pandji tiba-tiba merasa khawatir dengan ucapan Eyangnya, hal itu karena Ibunda juga ikut tersenyum aneh ketika dia sama sekali tidak menolak. "Apa semua baik-baik saja, Ibunda?"
Ibunda Pandji tersenyum lembut, "Tentu saja, Mas Pandji akan segera dewasa dan memiliki tanggung jawab lebih besar dari biasanya."
“Pandji tidak mengerti, Ibunda. Apa Ibunda dan juga Yangyut merencanakan sesuatu? Pandji merasa ada tempe mendoan dibalik percakapan ini,” ujar Pandji menyeringai lucu.
Suara tawa terdengar keras, “Kamu akan diberi hadiah sangat spesial tahun ini." Ayahnya masih tergelak walaupun sudah selesai berkata-kata.
Ini pasti jebakan!
Pandji menyesal karena menerima begitu saja hadiah yang belum diketahuinya, ini mirip dengan membeli mumi dalam peti.
“Jadi apa hadiahnya, Eyang?”
Wanita sepuh itu berdehem sebelum menjawab pertanyaan Pandji, "Mas Pandji mau Eyang kenalin sama cucunya temen Eyang dari Solo."
"Eh … maksudnya?"
"Cucu teman Eyang itu anaknya ayu banget, sopan dan lembut. Eyang kok suka sama dia, kayaknya lumayan cocok sama Mas Pandji. Eyang sudah mengundang mereka untuk datang pada acara ulang tahunmu!"
Pandji menghentikan pijatan pada tangan rapuh Eyang buyutnya, "Cuma kenalan kan Eyang?"
Lebih baik pura-pura tidak tahu daripada terjebak untuk yang kedua kali. Maksud Eyang pasti menjodohkan dia dengan gadis yang belum pernah ditemuinya itu.
"Ya kalau Mas Pandji setuju bisa langsung diatur acara pertunangan sekalian, biar Cah ayu itu tidak dipinang orang. Sing penting itu ikatan dulu, soal menikahnya nanti kalau Mas Pandji sudah siap," terang Eyangnya dengan senyum yang menurut Pandji menjengkelkan.
Pandji mengeluh sendiri, merasa jadi anak tiri karena Ayah dan Ibunda bahkan hanya senyum-senyum melihat wajah pias setengah marahnya.
Tolonglah … aku bahkan baru berumur 17 tahun dan belum pernah punya pacar! Aku sama sekali tidak tertarik punya tunangan sekarang!
***
Kekurangannya adalah tidak ada unsur2 islami dlm tokoh2mya