NOVEL DEWASA 21+ TIDAK SUKA CUKUP SKIP!!!
A SECRET AFFAIR
Ben Antonio Haghwer 28 tahun. Pria tampan yang juga penguasa dunia bisnis ia memiliki sifat dingin serta kejam namun hatinya tiba-tiba hangat ketika cinta datang menyapa.
Namun cintanya ternyata jatuh pada sang kekasih kecilnya Daisy yang telah lama menghilang.
Daisy telah di jual untuk melunasi hutang orang yang bahkan tidak memiliki ikatan keluarga dengannya.
Di lain sisi pernikahan Daisy tidak pernah bahagia, karena ia tak pernah menginginkannya.
Dan benih-benih perselingkuhan pun terjadi.
Siapa kah yang akan berselingkuh? Silahkan cari tahu jawabannya di kisah berikut ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Club Destroy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 12
"Apa aku tersesat, astaga aku sudah tidak tahan." Kata Daisy sembari menahan keinginannya ingin buang air kecil.
Daisy kemudian melenguh lega, ketika ia melihat ruangan yang sepertinya itu adalah toilet. Mansion sangat besar sedangkan Daisy memakai heels yang cukup tinggi membuat nya cukup kwalahan
"Akhirnya aku menemukannya." Kata Daisy mendongak melihat tanda toilet pengunjung dan bergegas menuntaskannya.
Setelah Daisy selesai, gadis itu memandangi dirinya melalui pantulan kaca yang cukup besar.
"Lega sekali."
Dalam pantulan kaca itu, Daisy meyakinkan semuanya akan baik-baik saja. Ben tidak akan kembali merayu nya, banyak orang di sini dan di acara ini.
Daisy begitu cemas jika Ben akan kembali nekat menarik tangannya seperti kemarin ketika ia menunggu Casey yang sedang rapat.
"Wuuhh.." Daisy membuang nafas nya agar gumpalan di dalam hatinya pun ikut terbuang, ia sangat gugup.
Gadis itu kemudian keluar dari toilet kembali menelusuri lorong panjang dan akan kembali ke dalam ruang acara.
Namun tiba-tiba tangan yang kuat dan cukup besar menutup mulutnya dari belakang sembari memeluknya, kemudian menyeret tubuh Daisy memasuki ruangan VVIP yang cukup gelap.
Daisy berteriak dan memberontak namun nihil, ruangan itu gelap dan sepertinya kedap suara.
Setelah di tinggalkan begitu saja, Daisy hanya berdiri dan merentangkan tangan, ia tidak bisa melihat apapun karena ruangan itu cukup gelap, hanya sinar lampu dari luar yang menerobos masuk dari sela-sela tirai yang tidak tertutup sempurna.
Tak berapa lama, kemudian terlihat tubuh seorang pria yang tidak nampak wajahnya berjalan untuk menyalakan lampu.
Daisy ketakutan siapa pria iti, namun wajahnya terkejut, kembali jantung yang beberapa hari ini kerap berdesir karena keadaan yang membuatnya panik seketika ingin terlepas dari tubuhnya, kaki nya sudah terasa sangat lemas.
"Kau terlihat cukup terkejut Daisy... Kita bertemu lagi." Sapa Ben Antonio Haghwer.
"Cepat sekali kau melupakanku, apa kau menikmati acara malam ini, sehingga kalian saling berbisik mesra." Kata Ben terlihat cukup cemburu, pria itu memiliki suara berat yang khas.
Kemudian Ben mendekati Daisy dengan melangkahkan kakinya pelan.
"Ben..." Kata Daisy lirih hampir tenggelam di dalam kerongkongannya. Daisy hanya berdiri kaku.
"Ya... Aku menunggumu di bandara Daisy." Kata Ben.
"Aku... Aku sudah mencoba Ben."
"Aku tahu... Kau sudah mencobanya." Kata Ben dan semakin mendekat.
"Ben, aku mohon ini adalah kesalahan, aku sudah menikah dan bersumpah dengan Dereck."
"Apa kau sudah melihat para boneka itu?" Kata Ben.
"Boneka?"
"Ya, para boneka barbie yang di pajang di kediaman Waldorf, mereka semua adalah istri Dereck." Sahut Ben.
"Ya... Aku sudah di kenalkan pada mereka semua."
Ben kemudian menyeringai.
"Apa menyenangkan perkenalan kalian?"
"Sudahlah Ben, aku harus kembali, Dereck akan mencariku, aku tidak mau kita tersandung masalah, dan membuat semuanya menjadi ribut."
"Kau tidak berharga baginya Daisy, dengarkan aku, kau menjadi istri ke lima pria itu, apa yang kau harapkan dari pernikahan palsu dan pernikahan mainan itu, bahkan janji yang pria itu ucapkan juga palsu, aku jauh lebih kenal bagaimana Dereck, jika kau mau tahu, aku akan memberitahumu bagaimana mengerikannya pria itu."
"Salah satu istri Dereck bilang padaku, bahwa mereka tidak pernah di sentuh oleh Dereck."
"Dan kau percaya!" Suara Ben meninggi.
Seketika suara tinggi Ben membuat Daisy terperanjak.
"Baiklah Daisy, anggap saja perkataan itu benar, Dereck tidak pernah menyentuh istri-istrinya. Lalu, apa kau akan selamanya menjadi perawan dan melewatkan sesuatu yang menyenangkan?" Tanya Ben mendekati Daisy, dengan suara yang melemah.
"Ap... Apa maksudmu Ben?" Daisy tergagap.
"Sesuatu yang sangat menyenangkan dan membuat kita gila." Sahut Ben.
"A... Aku tidak mengerti."
"Kau mengerti Daisy, getaran itu, dan hasrat itu, hari ini aku melihat kau datang dengan Dereck dan aku percaya dengan mata kepala ku sendiri, bagaimana pria itu mencumbu leher mu. Mencuri sebuah ciuman di lehermu. Bagaimana mungkin Dereck tidak akan menyentuhmu."
Ben maju dan mendesakkan tubuhnya pada Daisy, membuat Daisy terdorong mundur dan menyangga tubuhnya menggunakan kedua tangan di atas meja.
"Saat kita masih bersama, kau berjanji akan menjaganya untukku, dan akan memberikannya padaku." Tagih Ben.
Sikap Ben sangat dingin dan tenang bahkan tatapannya seolah mengisyaratkan tanpa ampunan sedikitpun, dengan gerakan lembut pria itu menyibak gaun Daisy naik hingga membuat paha mulus itu terekspose.
Ben mendorong tubuhnya pada tubuh Daisy sehingga membuat Daisy sedikit tertidur di atas meja.
Ben membelai paha mulus Daisy membuat gadis itu menggit bibir bawahnya.
"Ben... Ku mohon jangan..." Pinta Daisy ingin memberontak dan mendorong tubuh Ben dengan kedua sikunya.
"Benarkah jangan... Setelah ini aku ingin melihat apa kau akan tetap mempertahankan pernikahan palsu itu." Ben mulai mencium leher Daisy dengan lembuta.
Daisy mendongak kan kepalanya sedikit dan mendesis.
Tangan kanan Ben bergerilya bebas membelai paha mulus itu dan kemudian semakin naik dan menyapu seluruh bagian sensitif milik Daisy.
"Apa benar, kau rela tanpa sentuhan dan menjadi perawan selamanya di bawah sumpah dan janji palsu pernikahan dengan Dereck." Suara Ben serak dan parau, pria itu berbisik di telinga Daisy sesekali menggigit kecil leher dan cuping milik Daisy.
Kembali lagi Daisy selalu ingin memberontak dan kedua tangan kecilnya mencoba mendorong tubuh Ben yang besar dan berotot namun tenaganya tidak cukup kuat.
Gadis itu pun ingin berteriak bahwa ia tidak mau dan tidak ingin Ben melakukan itu padanya.
Namun yang keluar dari mulut Daisy justru suara yang berbeda.
Ben menyeringaikan bibirnya, tersenyum penuh kepuasan, jarinya makin liar menyapu dan mengusap serta bermain dengan gerakan cepat.
"Lihatlah, kau menikmatinya Daisy. Aku merindukanmu, kau pasti juga merindukanku."
Daisy menjadi gila, gadis itu ingin berteriak memaki pada Ben namun lagi-lagi suaranya berlainan.
"Benn... Ku mohon... Aku sudah menikah. Hentikan ini..." Kata Daisy terbata antara ingin menahan dan ingin melepaskan segala rasa itu.
Desahannya semakin kuat ketika Ben menyelinap masuk ke dalam underwear dan memasukkan jarinya pada bagian sensitif milik Daisy.
"Suaramu, wajahmu, tubuhmu, bahkan semua yang ada dalam dirimu adalah keindahan Daisy. Aku mencarimu sekian lama ini. Aku merindukanmu." Bisik Ben di telinga Daisy, kemudian ia mencium leher Daisy penuh kelembutan.
"Aku gila karenamu." Sahut Ben lagi.
"Berteriaklah dan nikmati ini Daisy, lepaskan semuanya, jangan menahan dan menolak perasaan itu." Kata Ben menciumi leher Daisy, jari nya masih bermain di bawah sana.
Tak berapa lama kemudian tubuh mungil Daisy menegang dan semakin panas, gadis itu mengeluarkan suara yang indah di telinga Ben, kedua tangannya merengkuh bahu Ben dan melingkarkanya di sana.
Ben masih melajutkan permainannya. Daisy menjadi gila, tubuh dan hasratnya berlainan dengan hati nuraninya, ia membenci dirinya sendiri dan mengutuki tubuhnya, dahinya di penuhi keringat dan akhirnya sesuatu tumpah di bagian sensitifnya.
Tubuh Daisy seperti tersetrum dan tertarik, lalu ia mengejang, kenikmatan luar biasa yang belum pernah ia rasakan.
Ben tersenyum penuh kemenangan dan kepuasan, pria itu menarik jarinya, dan kemudian menjilatnya.
"Aku memberikan gambaran kenikmatan itu padamu Daisy." Kata Ben mencium kening Daisy yang berkeringat.
Daisy lemah, matanya sayu, dan dadanya naik turun dengan cepat.
Daisy merasakan malu serta keputusasaan, namun juga merasakan kenikmatan aneh yang belum pernah ia rasakan.
"Ben... Kau... Kenapa... Kenapa kau lakukan ini padaku." Kata Daisy lemah dan masih melingkarkan kedua tangan kecilnya di leher Ben.
"Karena aku sangat mencintaimu, dan sangat merindukanmu, kau juga merasakannya Daisy, jujurlah padaku."
"Aku sudah menikah dan terikat sumpah serta janji sehidup semati di bawah salip dan pendeta." Kata Daisy menitikkan air mata.
"Cinta tidak pernah berdosa, takdir lah yang membuatnya sengsara. Aku mati jika tidak bersamamu Daisy." Kata Ben menghapus setitik air mata milik Daisy dan kemudian memeluk Daisy dengan erat.
bersambung
bpanya Dereck ngamuk😄😄😄