"Mungkin aku memang pemain wanita, tapi aku tidak akan menelantarkanmu karena kamu sedang mengandung anakku." Adrian.
"Jika aku tidak mengandung anakmu, apakah kamu tetap akan bertanggung jawab padaku?" Amira.
Sebuah kecerobohan yang dilakukan Amira membuatnya harus kehilangan kesuciannya dan mengandung benih dari Adrian, pria yang terkenal dengan julukan casanova. Amira harus menjadi selir rahasia dari Adrian sampai ia melahirkan bayinya.
Follow ig : Siran_rhmwtii6
facebook : Siran Ran
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irma Rahmawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kunjungan Mendadak
"Kau pulang dari kantor tanpa seizinku?!" Adrian mulai menginterogasi Mira, tentunya dengan nada suara dingin dan tatapan yang sangat tak bersahabat. Begitu tajam, lebih dingin dari nada suaranya juga.
Seakan-akan Adrian sedang mengawasi mangsa yang berada tak jauh dari hadapannya.
"Maaf, Pak. Aku merasa kepalaku pusing, jadi aku pulang lebih awal. Tapi, Siska sudah memberikan surat izin di meja anda." Jelas Mira dengan suara lemah karena ia tak memiliki tenaga sama sekali setelah mengeluarkan seluruh isi perutnya.
Adrian sedikit terenyuh melihat keadaan Mira yang terlihat sangat pucat, ia khawatir pada kandungan Mira.
"Kau harus ke dokter!" Perintah Adrian sambil menarik tangan Mira.
"Tidak perlu, Pak. Aku baik-baik saja." Tegas Mira sambil menepis tangan Adrian. Namun Adrian kembali menarik tangan Mira.
"Ya, tapi tetap saja aku khawatir pada kandunganmu. Jika terjadi hal yang tidak diinginkan, maka kau juga yang akan merasa rugi."
Ucapan Adrian telah berhasil memporak-porandakan hati Mira. Mira sendiri merasa bodoh, karena ia beranggapan Adrian mengkhawatirkan dirinya.
Tentunya tidak, kini yang membuat Adrian punya perhatian padanya adalah karena bayi yang bersemayam di rahim Mira. Jika tidak, mana mungkin Adrian peduli.
Apa yang kamu lakukan, Mira? Ini sebuah karena bayinya!
Mira terus merutuki dirinya di dalam hati. Jika diingat, tentu saja Mira merasa malu karena terlalu percaya diri Adrian sedang mengkhawatirkannya.
Sepanjang perjalanan tidak ada pembicaraan, hanya ada suara deru mesin mobil. Hingga sampai di rumah sakitpun, masih tidak ada percakapan. Bahkan kini keduanya sudah duduk berhadapan dengan seorang dokter spesialis kandungan.
"Periksa dia, jika ada masalah, beri penanganan terbaik! Jangan sampai aku melihatnya mengeluh!" Perintah Adrian pada dokter yang sepertinya sudah sangat takluk oleh dirinya tersebut.
"Apa keluhan anda, Bu?" Dokter itu beralih menatap Mira.
"Mmm... Saya hanya merasa pusing dan mual, Dok." Ungkap Mira jujur, karena hanya itu yang ia rasakan tadi saat berada di kantor.
"Baik, berbaringlah disana! Aku akan memeriksamu." Ucap dokter itu sambil menunjuk brankar yang kosong.
Mira menurut, kemudian segera berbaring disana sesuai perintah dokter. Dokter segera melakukan pemeriksaan dengan teliti.
"Tidak ada masalah apapun yang serius pada kandungan anda, Bu. Bayi anda sangat sehat dan normal sesuai dengan usia kandungan anda, 4 minggu. Untuk pusing dan mual, seringkali terjadi pada wanita yang mengandung di usia kandungan trimester pertama. Itu seringkali disebut dengan morning sickness." Jelas dokter itu. Membuat Adrian bernapas lega, begitu juga dengan wajahnya yang sudah terlihat tenang.
Setelah selesai pemeriksaan, Adrian memutuskan untuk mengantar Mira pulang ke rumah sewanya yang kecil. Sebenarnya Adrian enggan, jika saja tidak mengingat Mira yang mengandung benihnya.
Sampai di depan rumah sewa, Adrian menahan Mira yang akan masuk ke dalam.
"Jangan sampai ada yang tahu, bahwa kamu sedang mengandung bayiku! Ingat, setiap pagi aku akan mengirimimu makanan, sampai siang dan malam, makananmu sudah di atur!" Sesuatu yang sangat membuat Mira malas, ia tidak suka diatur dalam hal makan. Akan tetapi mau tak mau kali ini ia harus menurut.
"Baik, Pak." Mira mengangguk patuh.
Adrian membalikan tubuhnya, hendak melangkah. Namun ia mengurungkannya dan kembali menghadapa Mira sambil merogoh dompet dalam sakunya dan mengeluarkan sebuah kartu berwarna hitam.
Adrian memberikannya pada Mira, namun Mira tidak segera mengambilnya.
"Apa ini?"
"Ini uang!" Ucap Adrian kesal.
"Ambilah!" ia meraih tangan Mira, menyerahkannya dengan kasar. "Besok aku akan mengurus surat pengunduran dirimu. Tidak perlu bekerja lagi sampai anakku lahir, semua kebutuhanmu setiap bulannya akan aku kirim ke kartu itu. Setiap bulan juga aku akan mengecek kandunganmu ke dokter yang sama. Jangan pernah menolak saat aku mengunjungimu!" Tanpa menunggu Mira berkata dan menjawab, Adrian segera berlalu dari hadapan Mira.
Mira menatap punggung Adrian hingga menghilang. Kemudian memandang kartu itu dengan pandangan bingung.
"Berapa isi kartu ini? Eh, berapa pinnya?!" Mira menepuk keningnya, ia begitu bodoh karena tidak menanyakannya tadi.
Namun semua tak berlangsung lama, karena ponselnya berdering pendek. Menandakan pesan masuk. Pesan itu dari orang yang saat ini begitu mengganggunya.
Ini pinnya!
Begitulah bunyi pesan itu, disusul dengan 6 angka unik berupa pin untuk kartu yang diberikan Adrian.
...****************...
Pagi hari yang cerah, Mira masih tertidur di atas ranjang. Ia sudah tak perlu khawatir dengan hidupnya, akan tetapi sebuah hal memaksanya untuk bangun.
Bunyi ketukan pintu tak henti-hentinya terdengar. Tak lupa teriakan dengan suara yang sangat familiar di telinga Mira
Mira segera membukanya, tanpa dipersilahkan masuk. Sosok yang berteriak itu sudah menyelonong masuk.
"Mir, jahat banget kamu! Udah enggak pernah berkunjung ke rumahku!" Vika, sosok sahabat sejati Mira sudah memarahi Mira di pagi hari yang cerah ini.
Bukan hanya itu, ia juga mengerucutkan bibirnya seperti bentuk cangkang keong racun, ups, seperti corong.
Mira tertawa renyah melihat tingkah Vika, pagi hari ia akhirnya merasa bahagia dengan kehadiran Vika. Di tengah-tengah canda tawa itu, kembali terdengar ketukan pintu pelan dari luar.
Mira segera membukanya, kali ini seorang pria dengan sebuah kotak kardus di tangannya yang datang.
"Ini kiriman dari Pak Adrian untuk anda, apa mulai besok kami boleh mengirim di jam yang sama?" Vika mengernyitkan dahinya ketika mendengar nama Adrian dan kata besok mengirim di jam yang sama.
Sementara Mira mengangguk sambil menerima kotak berisi nasi tersebut.
Vika memandangi kotak yang dibuka Mira, ia kemudian mengambil tutup yang terdapat stempelnya dan membaca tulisan yang tertera.
"Cattering ibu hamil? Kamu hamil, Mir?!" Tuduh Vika dengan nada suara dan raut wajah curiga.
Mira membelalakan matanya, ia bingung untuk menjelaskan semuanya.
"Emm.... Bukan!" Bohong Mira dengan terpaksa. "Jadi atasanku di kantor itu pemilik cattering makanan ibu hamil, dia selalu kirim semua karyawannya sarapan dari perusahaan catteringnya!" Mira menjawab dengan nada gugup.
Vika hanya beroh saja, begitu mudahnya ia percaya pada penjelasan Mira.
"Kamu gak kerja, Mir? Jam segini aku datang masih ada di rumah. Tadinya aku hanya ingin memeriksa, takut kamu sudah jadi bangkai disini!" Vika mencairkan suasananya dengan gurauan yang langsung mengundang gelak tawa Mira.
Siangnya, kedua sahabat tersebut masih bersama. Keduanya menghabiskan waktu dengan berbagai hal, mulai dari menonton bersama di laptop milik Mira, hingga bercerita. Tentunya mereka merasa sedikit bodan, hingga terbesit ide gila di dalam pikiran Vika.
"Mir, belanja, Yuk! Aku yang bayar!"
Mira menganggukan kepalanya, ia juga merasa jenuh dan ingin sedikit menghirup udara segar di luar.
Keduanya sudah berada dalam mobil Vika, dengan supir yang mengendarainya.
Tujuannya adalah sebuah mall besar di pusat perbelanjaan kota besar tersebut. Mira merasa begitu segar berada di sana. Sesekali ia menunjuk toko untuk hanya sekedar memilih-milih saja.
"Kamu ini, Mir! Jangan milih aja, tapi ambil dan bungkus, biar aku yang bayar!" Gerutu Vika setelah kesekian kalinya Mira kembali hanya memilih saja.
Hingga Mira teringat dengan sesuatu yang ia miliki. Mira membuka dompetnya, mengeluarkan kartu berwarna hitam. Ia berencana belanja dengan kartu itu, namun tentunya akan bertanya terlebih dahulu pada Adrian.
Apa aku bisa berbelanja apa yang aku mau dengan kartu ini? Begitulah pesan yang tertulis untuk Adrian, hingga beberapa menit kemudian mendapat balasan.
Ya, itu milikmu sampai kau melahirkan anakku nanti.
Mira tak membalas lagi pesannya, ia menyusul Vika yang sudah memasuki toko pakaian bermerk di sampingnya.
"Aku yang bayar!" Sahut Mira saat Vika membawa sebuah pakaian ke kasir.
Vika mengerutkan keningnya, ia tahu seperti apa kondisi Mira saat ini. Namun ia ragu, bagaimana bisa dengan kondisinya yang begitu, Mira ingin membayarkan belanjaannya.
Vika bertambah penasaran, saat Mira menyerahkan kartu berwarna hitam itu pada kasir butik tersebut.
"Kartu itu..."
Mira membuang wajah sebelum menjawab, ia kemudian memikirkan jawaban untuk pertanyaan Vika.
"Milik ayahku, satu-satunya yang berhasil aku bawa saat diusir."
Maafin aku, Vik. Aku terpaksa bohong. Aku gak mau kamu sedih dengan keadaanku yang sebenarnya. Biar semua ini jadi rahasia antara aku, Adrian, dan Tuhan sendiri.
Vika kembali percaya pada kebohongan Mira.
Setelah selesai berbelanja, Mira dan Vika memutuskan untuk pulang ke runah sewa milik Mira terlebih dahulu. Sesuatu yang sangat mengejutkan menyambut mereka, disana, di depan pintu sudah berdiri seorang pria berjas warna navy dengan wajah tampan dan wangi khasnya yang bisa tercium dari jarak 2 meter.
"Siapa itu, Mir?" Vika menyenggol lengan Mira yang masih ragu untuk mendekat ke arah Adrian, ya, Adrian berada disana sejak Mira mengirim pesan.
"Akhirnya kau pulang. Bagaimana bisa kau pergi tanpa izin dariku, bukankah sudah tertulis bahwa-"
"Anda disini, Pak? Maaf, saya bukannya sudah izin tidak bekerja untuk hari ini? Saya ada keperluan berbelanja kebutuhan bersama teman saya." Pungkas Mira.
Vika segera mengerti dan tahu bahwa pria itu adalah atasan tempat Mira bekerja.
"Mir, aku pamit dulu ya!" Vika segera masuk mobil setelah berpamitan. Meninggalkan Mira dan Adrian berdua disana.
Di hati Vika sudah bertambah rasa curiga.
"Maaf, Pak. Saya lupa." Mira menunduk sambil berjalan mendekati Adrian.
"Masuklah, aku akan memberimu pekerjaan! Anggap sebagai hukuman!" Adrian menyeringai, kemudian mengambil kunci rumah di tangan Mira.
Keduanya sudah berada di dalam, Mira merasa suasana mencekam. Adrian mengunci pintu rumah Mira. Membuat Mira semakin merasa takut.
"Kamu ingat apa saja perjanjian di dalam surat itu?" Mira mengangguk.
"Kalau begitu, kamu harus melaksanakan salah satunya sekarang. Aku meminta hakku! Laksanakan kewajibanmu sebagai seorang istri yang baik dan patuh pada suaminya!"
Mata Mira membelalak, ia sangat terkejut.
"Tapi, Pak!"
"Jangan membantah!"
"Tapi-"
-
-
Bersambung....
apa bedanya dengan Adrian yang celup sana sini, alias Casanova 🤦🏻♀️
g punya kaca X Adrian 🤣🤣🤣🤣
mira.....liat apa an?????