NovelToon NovelToon
Midori High School

Midori High School

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Tamat
Popularitas:15.5k
Nilai: 4.8
Nama Author: Yoru Akira

Dear,
Diriku yang kelak berusia 27 tahun.

Aku tak tahu akan jadi apa engkau kelak. Tapi aku akan mempersiapkan engkau menjadi perempuan tangguh yang memperjuangkan cita-citanya. Bukankah engkau masih ingin menjadi seperti Najwa Shihab - salah satu perempuan hebat yang dimiliki negeri ini?

Jika memang itu keinginanmu, maka hal pertama yang harus kulakukan adalah berhasil lulus tes dan bergabung dalam Midori Magz. Engkau tahu 'kan, majalah sekolah itu memiliki banyak penggemar. Bukan hanya dari kalangan Midori High School saja, melainkan menjadi idola anak muda seantero kota ini.

Hei diriku yang kelak akan berusia 27 tahun, kau harus tahu bagaimana perjuanganku untuk mewujudkan mimpimu, mimpiku, mimpi kita.

Salam sayang,
Darimu yang berusia 16 tahun

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yoru Akira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 12 : Keluarga

Semesta Ayyara

Bunda masih sibuk menyiapkan sarapan saat aku menuju dapur. Aroma tumis kacang panjang bercampur tempe menguar memenuhi rongga hidungku. Sedangkan aroma nasi bercampur pandan yang baru turun dari kompor berhasil menggugah nafsu makan. Mbak Rati yang membantu bunda di dapur menyendokkan satu centong nasi ke piring dan memberikannya padaku.

“Ini Mbak Ayyara. Lauknya nunggu Bunda selesai masak ya.”

“Beres, Ndan,” kelekarku membuat Bunda berdecak.

Kuperhatikan punggung bunda yang kian hari terlihat makin kurus. Beliau memang wanita tangguh. Setelah ayah meninggal perannya sebagai orang tua ganda tertumpu padanya. Bunda menjadi ibu sekaligus ayah bagi kami. Mungkin bagiku dan Mas Rama bisa mencari sosok ayah dengan kehadiran Mas Aditya. Namun kedua Masakku yang lain benar-benar kehilangan sosok yang selama ini membimbing mereka. Sosok yang menguatkan ketika rapuh dan terjatuh.

Terlebih bagi bunda. Sejak ayah meninggal tak ada niat sedikit pun untuk mencari suami baru. Katanya, tak ada orang yang bisa menggantikan posisi ayah. Seandainya pun bunda mencari pengganti ayah, aku tak apa. Toh, bayangan tentang ayah sama sekali samar di benakku. Karena ayah sudah meninggal saat aku berumur lima tahun.

Jadilah bunda sampai saat ini menanggung semuanya sendiri. Sebelum berangkat mengajar, setiap hari bunda mesti bangun pagi dan menyiapkan sarapan buat anak-anaknya. Terlebih saat Mas Aditya belum sukses dan mencarikan pembantu rumah tangga. Bunda juga yang mengerjakan pekerjaan rumah lainnya seperti mencuci, menyapu, mengepel hingga menyetrika baju seluruh penghuni rumah

Sejak ada Mbak Rati pekerjaan bunda berkurang, meski beliau tak bisa meninggalkan aktivitas memasaknya di pagi hari. Selain itu, beliau belum sepenuhnya mempercayai masakan Mbak Rati. Kurang bumbu, kurang asin, kurang apalah itu. Pokoknya masakan Mbak Rati belum menyentuh angka sempurna di lidah bunda. Meski menurutku sudah enak, tapi tidak buat bunda.

“Sekolah kamu baik-baik aja, Ra?” tanya Bunda masih sibuk dengan tumis kacang panjangnya.

“Baik dong Bun. Oh ya Bun, besok Sabtu aku diminta sama ketua ekskul ngeliput kegiatannya Arata. Yang dulu aku sempat bilang sama Bunda. Ingat?”

“Bukan alasan kamu aja ‘kan supaya bisa ikut Arata?” Bunda memindahkan tumis dari penggoreng ke piring bermotif ikan koi dan meletakkannya di depanku. Wanita yang lebih dari setangah abad itu tersenyum saat melihatku cemberut.

“Bunda ih gitu. Ada surat izinnya buat orang tua Bunda, jangan khawatir. Kan Mas Aditya juga ikut ngisi materinya. Jadi pasti aman dong.”

“Iya, nanti letakkan di meja kamar Bunda ya. Biar Bunda tanda tangani. Udah nih, sarapan dulu.”

“Eh Ayyara minta tanda tangannya sekarang Bunda. Nih udah Ayyara bawa ke sini kok.”

Aku menyerahkan selembar kertas setelah beliau selesai menuang masakan ke piring saji. Tampak wajahnya mencermati baik-baik surat izin kegiatan yang harus ditandatangani.

“Mana bolpoinnya,” pinta Bunda setelah membaca surat izin yang kuberikan. Beliau tersenyum sebelum kembali ke dapur.

“Oh iya, siapkan bekal buat Ayyara ya, Bunda,” kataku saat bunda kembali sibuk di dapur. Wanita itu hanya berdehem dan terdengar menggoreng sesuatu di dapur. Dari aromanya aku bisa menebak bunda sedang membuat telur plus terong bumbu balado kesukaanku.

“Cerah amat senyumnya, Neng.”

Mas Rama baru keluar dari kamar saat aku hampir selesai sarapan. Dia sudah berpakaian rapi layaknya pegawai kantoran pada umumnya. Tapi jangan tanya, ketika ada peristiwa – entah itu kebakaran, banjir, maupun orang hilang – siap-siap baju rapi itu berubah dengan baju lapangan yang bahkan sudah tidak jelas warna aslinya.

“Bunda masak balado tuh, buat bekal makan siangku.”

“Dih kamu sih bekal makan siang juga bakal dimakan kalau lapar sekalipun belum siang,” cibir Mas Rama sambil menyendok nasi ke piringnya. Aku hanya menjulurkan lidah menanggapi pernyataan Mas Rama. Di saat yang sama Mbak Rati menuang jus jeruk ke gelasku yang sudah kosong. “Sekalian punyaku dong Mbak.”

“Penuh atau separuh nih Mas Rama?” canda Mbak Rati saat menuang jus jeruk ke gelas Mas Rama.

“Setetes aja kalau dia, Mbak. Jangan dikasih banyak-banyak ntar nggak kuat lari waktu fisik,” kelekarku menanggapi candaan Mbak Rati. Perempuan seumuran Masak pertamaku itu tertawa. “Mas Rama dropping air bersih lagi?”

“Iya, musim kemarau ini luasan kekeringannya meluas. Udah ada 16 desa yang mulai kekeringan.”

Aku manggut-manggut mendengar jawaban Mas Rama. Memang kotaku daerah pesisir yang di kelilingi pegunungan kapur. Seharusnya sumber air melimpah jikalau pepohonan di hutan-hutan itu tidak gundul. Alhasil saat musim kemarau ada beberapa daerah yang kekeringan. Sekalipun memang ada juga daerah yang benar-benar jauh dari sumber air. Mas Rama dan teman-temannya deh yang turun tangan menangani bencana musiman itu.

“Eh, Kak Haru tumben jemput Mbak Ayyara?” seru Mbak Rati saat melihat Arata berdiri di pintu pembatas ruang makan dengan ruang keluarga. Aku menoleh dan melihat cowok itu tersenyum mendengar pertanyaan Mbak Rati.

“Sarapan sekalian yuk, Arata-chan,” ajak Bunda saat wanita itu memberikan kotak bekalku dan melihat Arata berdiri canggung.

“Tidak Bunda, Arata sudah sarapan sama Obaa-chan,” balasnya sambil tersenyum Masu.

Berbeda denganku yang bisa keluar masuk rumah Nenek Lastri tanpa sungkan, Arata masih merasa canggung jika main ke rumah. Terlebih saat suasana ramai seperti sekarang. Biasanya Mas Aditya yang bisa memahami keinginan cowok itu karena memiliki kesukaan yang sama. Sayang, Mas Aditya baru akan bangun setelah alarm jam 08.00-nya berbunyi.

Aku berjalan ke arah Arata dan menarik tangan cowok itu agar ikut bergabung di meja makan. “Duduk dulu, bentar lagi selesai kok.”

“Jangan percaya, bilang sebentar kalau nasi masih segitu banyak bakal nunggu 30 menit lagi,” kata Mas Rama mulai berulah.

“Ish, diem kenapa sih, bawel.”

“Rama, Ayyara, udah cepet makannya. Telat tahu rasa kalian.”

“Ya kalau Rama telat, Bunda juga bakal telat dong. Kan berangkatnya sama aku,” canda Mas Rama membuat bunda memukul pelan kepala kakak ketigaku itu. Aku terbahak melihatnya meringis menahan sakit. Walau aku yakin tak akan sesakit itu rasanya. Dia saja yang berlebihan.

Melihat kerusuhan kami di meja makan membuat Arata tertawa simpul. Cowok itu memang tidak pernah berlebihan saat menanggapi suatu hal. Meski dalam hati aku tahu dia sedang meredam rasa sakit.

Aku tahu, karena aku mengenalnya seperti mengenal diriku sendiri. Begitu juga sebaliknya. Dia menjadi teman baruku di sekolah dasar setelah sebelumnya aku pernah mengagetkannya saat memotret capung. Bahasa kami yang berbeda membuatnya sulit berbaur. Kami berkomunikasi menggunakan bahasa isyarat. Tidak jarang juga menggunakan bahasa diam. Diam yang berbicara. Lewat sorot mata, gerakan angin, bahkan juga getaran tanah. Terlebih Arata memiliki trauma pada sebuah kisah yang tak akan kuceritakan sekarang.

Haruto Arata, lahir di negeri Sakura dari seorang ayah berdarah Jepang-Jawa dan ibu berdarah Jepang-Jerman.

Kakeknya Haruto Nakashima, dahulu seorang tentara Jepang yang memilih menetap setelah kemerdekaan. Nenek Lastri seorang Jawa tulen. Sayangnya perempuan itu memiliki nasib yang tak baik. Dia dipaksa menjadi jugun ianfu saat berusia 12 tahun.

Mulanya aku tak pernah tahu apa arti jugun ianfu yang diceritakan Nenek Lastri, tapi beliau memberiku penjelasan secara halus agar bocah sepertiku memahaminya tanpa beranggapan jijik. Bagaimanapun hal itu menjadi bagian dari sejarah negeri ini.

Mereka bertemu di barak yang disediakan koloni di suatu pedalaman Kalimantan. Saat itu Nenek Lastri ditemukan Kakek Haruto dalam keadaan menyedihkan. Tubuhnya penuh lebam. Bekas sodetan api pun merusak hampir separuh punggungnya. Hal itu membuat Kakek Haruto tersentuh dan mengeluarkan Nenek Lastri dari tempat terkutuk itu, lantas menikahinya.

Aku menangis saat Nenek Lastri bercerita kepadaku. Jauh sebelum Arata pindah ke rumahnya.

Berbeda dengan Haruto Ueda, ayah Arata. Semasa muda, lelaki yang mewariskan mata serta hidung mancungnya kepada Arata itu, sempat merasa malu lahir dari rahim seorang perempuan Jawa. Bekas Jugun Ianfu. Pada usianya ke-17, ia melarikan diri ke negeri ayahnya berasal. Di sana ia mulai menekuni hobinya memotret, hingga diterima bekerja di salah satu perusahaan media dan menjadi jurnalis foto.

Suatu ketika ia jatuh cinta pada seorang pekerja pabrik yang melakukan demonstrasi menuntut perlakuan manusiawi kepada buruh. Ayah Arata menangkap momen ketika ibunya - Yasano Miyuki gadis keturunan dari ayah berdarah Jepang dan ibu berdarah Jerman, menaiki gerbang pabrik dan membentangkan spanduk berisi protes kepada pemilik pabrik. Peristiwa itu mendekatkan mereka dan memutuskan untuk menikah.

Saat Arata berusia delapan tahun mereka harus berat hati meninggalkan Jepang. Paman Haruto dipindahtugaskan dari kantornya menjadi kontributor di Indonesia. Karena Nenek Lastri tinggal sendirian sejak kematian suaminya, mereka memutuskan untuk tinggal bersama. Tak ada lagi dendam anak kepada ibunya.

Satu hal yang tak bisa diterima Arata, saat kepindahan mereka ke negara tropis ini. Dia sering ditinggalkan oleh sang ayah karena harus mengejar peristiwa di ibu kota. Atau kadang harus ke daerah lain jika memang tenaganya diperlukan. Kalaupun pulang tidak lebih dari tiga hari. Itu pun Arata jarang sekali melihatnya ketika lelaki itu keluar rumah untuk kembali bekerja.

Sementara ibunya mencoba peruntungan melamar pekerjaan di salah satu bank negara dan diterima. Lengkap sudah. Kedua orang tuanya sibuk bekerja dan dia tumbuh tanpa dampingan mereka sepenuhnya.

Hari-hari yang dilewatkan Arata lebih banyak bersama Nenek Lastri. Makanya terkadang muncul sifat Arata yang ingin membangkang. Apalagi saat dia merasa tertekan dan merindukan sosok orang tuanya yang jarang peduli dengan keadaannya.

Berbeda denganku, meski tanpa kehadiran ayah kami masih saling melengkapi dengan saling mengisi kekosongan satu sama lain. Itu juga yang membuat Arata merasa tak nyaman. Dia tidak terbiasa tumbuh dalam keluarga yang penuh warna dan canda tawa.

“Tuh ‘kan, suka ngelamun nih anak. Untung ‘kan nggak ada mahkluk-mahkluk halus semacam debu yang keluyuran.”

“Hushh, jaga bicaranya dong Mas.”

“Maaf Bun, dia sukanya begitu sih. Bengong kayak kambing ompong.”

Aku memberengut saat menyadari menjadi bahan perbincangan mereka. Dengan sebal aku membawa piring kotor ke dapur dan mencucinya. Meski sudah ada Mbak Rati, bunda selalu mengajarkan kami untuk tetap mandari. Meski itu hal kecil, setidaknya bisa membantu meringankan pekerjaan Mbak Rati.

“Nah ‘kan dianya ngambek. Eh Haru, kalau dia kayak gitu di sekolah jitak aja kepalanya. Bagaimanapun dia harus pandai kalau mau kuliah di tempat yang bagus kelak.”

“Ih, Mas Rama. Bawel deh, baru juga masuk MHS udah ngomongin kuliah. Liat tuh Bunda, nyebelin banget ‘kan Mas Rama.”

“Sssttt… udah, sana berangkat. Keburu telat ntar. Arata sudah nunggu dari tadi loh.”

Mas Rama terbahak begitu bunda tidak menunjukkan keberpihakannya. Aku menjulurkan lidah setelah mencubit pelan pinggang Mas Rama dan berlari keluar rumah tanpa berpamitan sama bunda. Kudengar wanita itu menggerutu menghadapi kelakuan kami yang tak juga membaik kian hari.

“Bunda marah sama kamu karena tidak pamit,” komentar Arata saat berjalan menyusulku yang sudah sampai depan gerbang. Aku hanya meringis menanggapi pernyataan cowok itu.

“Nanti aku minta maaf. Yuk berangkat. Eh tapi, list tempatnya udah kamu pilih belum?”

Tak ada jawaban. Arata mengayuh sepedanya tanpa menungguku. Huuffttt… hari yang cukup berat. Karena selebihnya aku yakin tak akan ada banyak komentar dari Arata dalam hal apa pun itu selama entah berapa jam ke depan.

1
Icha Akim
kapan dilanjut lagi
Keisya ayu wandira
g sabar nunggu lanjutannya..ganbatte kudasai kak yoru
Jasmine
asiiiikkkkk up ny stlh sekian purnama.
semangaaattttt
Icha Akim
😍😍💐💐💐💐💐💐💐
Icha Akim
alhamdulillah ....semoga sehat terus biar bisa lanjutin MHS dan PULANG💪💪💪💪
Jasmine
ceritany kerreeennn.
dtunggu up ny thor.
semangatttt
Zullya dewi Suryani
tulisan Yoru tu keren2 tp knp yg like sedikit
Zullya dewi Suryani
aku selalu suka tulisan Yoru
Sri Dinar
setia menantimu thor
Icha Akim
masih sabar menunggu
Icha Akim
kapan up lagi thor
rayya oey
like
cinta sejati tidak akan pernah pudar hanya karena terhalang oleh jarak dan waktu.tapi cinta sejati itu akan bersemi karena rasa saling percaya dan kesetiaan
Araya n Ayyara...Miss you all...
cinta sejati tidak akan pernah pudar hanya karena terhalang oleh jarak dan waktu.tapi cinta sejati itu akan bersemi karena rasa saling percaya dan kesetiaan
kpn up LG kak Yoru??aq tungguin....
Ari Eka
semangat up nya thor
bagus cerita2 nya
Jingege54
humm mantap thor 😆 lanjut terooosss jangan patah semangat 💙💪 kutunggu terus kelanjutannya thor 😉 up up up lagi crasy up!

feedback ya thor ke novelku Pendekar Wanita Dari Masa Depan 💙 gege tunggu di sana😆
rayya oey
like
writer in box
salam dari iya dia istriku kisah ketulusan seorang suami yang merawat istrinya yang menderita ganguan jiwa/skizofrenia. Boom like dari iya dia Iya dia istriku💪💪🥰🥰🥰
Rindu F.
jadi inget masa SMA thor. aktif kegiatan ini itu. 😢
Sivia
Thor, Ayyara gak mungkin sama Jo, kan? Duh, plis Thor biarin Ayyara sama Arata aja deh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!